Bagian 11
Keadaan ruangan sementara senyap kecuali desing AC yang terdengar pelan. Telinga Jason terasa dingin ketika ayahnya menghabiskan ceritanya dengan tuntas, kini Jason sudah tahu kebenarannya. Kebenaran kenapa Black Dragon sangat membenci ayahnya.
"Dan dirinya tidak hanya kembali dengan kekuasaan tetapi kekuatan yang berada di luar nalar manusia, aku tidak menyangka dia berubah." kata dokter Tom sambil mengusap wajahnya yang berkeringat padahal AC cukup dingin untuk mendinginkan seluruh ruangan.
"Apa yang kita lakukan?" tanya Jason pelan.
Dokter Tom menatap anaknya dan tersenyum. "Panggilkan 7 ksatria, sekarang." perintahnya dengan suara pelan.
Jason berdiri dan segera keluar dari ruangan tersebut. Dokter Tom menghela napasnya, ia teringat kepada Renard.
Jason membuka pintu berseru panik ketika sebuah panah melayang ke arahnya, beruntung ia menunduk kalau tidak habis riwayatnya. "Kalian!" marah Jason membuat semua orang yang berada di ruangan itu terdiam.
Karin baru saja menembak panah yang berada di sasaran pintu, Jian jahil memindahkannya tanpa sepengetahuan orang lain. Anak panah sempurna tertancap di dinding walau akhirnya jatuh lagi ke lantai. Karin meneguk ludah ketika melihat wajah Jason.
"Kemari!" Jason merampas busur dari tangan Karin.
Karin menggelembungkan wajahnya layaknya anak kecil yang tidak dibelikan permen. Nih, orang sok bos, coba saja kalau aku tidak memahami makna sabar, tuh kepala udah terpisah dengan badannya.
"Kalian dipanggil oleh dokter Tom, situasi darurat." kata Jason pelan dan ia menatap tajam Karin. "Dan kau kuharap menjadi pemimpin yang baik bukan menjadi seorang anak kecil yang gegabah dalam situasi." Karin kali tidak bisa menahan diri lagi, tetapi Rizwan dengan cepat menahan mereka berdua.
"You two like cat and mouse, always figthing!" kesalnya.
Jason dan Karin saling tatap benci dari kejauhan. Sedangkan Jian berusaha menahan tawanya agar tidak meledak. Seluruh orang yang masuk dalam anggota 7 ksatria mengikuti langkah Jason, Jian mengeluh dalam hati ketika Jason menyuruh mereka naik tangga karena kapasitas lift hanya muat 7 orang, kalau dipaksakan akan berbahaya.
Eva memelototkan matanya ketika pintu ruangan dokter Tom dibuka, terlihat beberapa perancang busana serta ilmuwan bekerja di ruangan itu, sedang memperbaiki sedikit baju yang mereka kerjakan sedangkan Tim sedangkan berbicara dengan dokter Tom. Tangannya memegang tablet besar, sebesar nampan.
"Paman!" seru Eva,
Tim tersenyum senang dengan kedatangan Eva, "Biar dia yang mencoba duluan." kata Tim kepada dokter Tom.
Dokter Tom hanya mengangguk, tersenyum sopan kepada Eva yang kini bingung ditarik oleh perancang busana. Tim menyentuh layar tabletnya, sebuah baju berwarna cokelat keluar, beberapa perancang busana membawa baju itu dengan hati-hati dan memberikannya kepada Eva.
Eva sedikit bingung, tetapi Tim tersenyum menatap keponakannya. "Kau bilang ingin mencobanya, kan?" senyum Tim.
Eva berlari senang ke ruang ganti, memakainya dengan cepat. Baju pertama yang ia pakai adalah kaos ketat berwarna hitam lalu legging berwarna sama. Dilanjutkan dengan baju hasil rancangan Tim yang seperti mantel berwarna cokelat, ternyata perancang busana telah menyiapkan sepatu bot ala koboi di ujung ruang ganti. Eva mencoba memakainya, nyaman tidak seperti sepatu yang ia pakai saat pergi ke bandara.
Ia tersenyum senang, mematut-matut sepatu bot itu. Bergaya dan terlihat kasual, nyaman juga dipakai. Ia berasa seperti sheriff kobi yang menjaga desa serta perternakan dengan menaiki kuda gagah. Eva memegang lencana yang berada di baju itu, tepat di dadanya. Ia merasa seperti... pahlawan.
"Ini keren sekali paman!" Eva menghambur ke pelukan Tim, membuat lelaki itu sesak napas. "Benar-benar keren!" kata Eva sambil merentangkan tangannya, membuat anggota 7 ksatria lainnya terpesona melihat baju rancangan Tim.
"Bagus..." bisik dokter Tom pelan. "Bisakah kau menunjukkan keahlian baju ini, Tim?" tanyanya, kembali serius.
Tim gelagapan, tangannya berkeringat karena gugup. Ia membuka kembali layar ponselnya, "Ehm, sepertinya kita harus berada di ruangan cukup luas untuk menguji coba." katanya.
"Baju ini bagaimana?" tanya seorang ilmuwan muda.
"Anggota 7 ksatria segera berganti baju." perintah Jason, Tim mengetuk-ngetuk layar ponsel dengan cepat.
Karin mendapatkan baju yang hampir sama dengan Eva hanya saja ia mendapat topeng Karnaval berwarna ungu dari seorang ilmuwan. Jian berseru senang ketika mendapat baju layaknya salah satu tokoh film big hero 6, ia mendapat helm serta sepatu roda. Bajunya terbuat dari logam ringan dan ada logo cheetah di dadanya.
Rizwan mendapat baju sama seperti yang ia pakai saat Tim menguji coba kepadanya, Matsu mendapatkan baju merah seperti samurai modern dan ada topi yang terbuat dari besi tetapi tidak terlihat karena bentuknya sama seperti topi yang biasa dipakai petani, Sarah mendapatkan baju serta sebuah hijab berwarna putih, entah darimana dokter Tom mendapatkannya tetapi ada sebuah kacamata yang dipakai oleh para pendaki gunung bersalju.
Vierra memakai pakaian layaknya anak lelaki, cukup baju warna hijau ketat serta lengan panjang berwarna hitam. Celana sampai lutut berwarna hijau tetapi selanjutnya berwarna hitam. Ia tidak memakai aksesoris apa-apa menampakkan rambutnya yang panjang dan lebat.
"Ayo!" semangat Tim, Eva sedikit malu melihat tingkah pamannya yang kekanakan. Mereka menuruni tangga tetapi Karin sedikit terkejut ketika dokter Tom menggenggam tangannya dengan kuat.
"Tunggu dulu, harus ada yang kita selesaikan." senyum dokter Tom yang penuh misteri, Karin mengangguk menatap teman-temannya yang kini sudah keluar ruangan kecuali dirinya dan dokter Tom. "Nanti kita bertemu di ruangan ini kembali selesai latihan." katanya sambil melepaskan genggamannya dan menyusul yang lainnya.
Karin sedikit bingung mendengar ucapan dokter Tom, tadi disuruh tunggu sekarang di suruh ngikutin, mana yang betul?.
"Ini bukankah ruangan senjata, paman?" tanya Eva.
"Memang tetapi ini sepertinya luas untuk percobaan pada baju kalian." kata Tim sambil menjelaskan, tangannya tidak berhenti menyentuh layar ponsel.
"Memang apa yang terjadi dengan baju kami?" tanya Eva antusias. Tim tersenyum melihat keponakannya yang sangat bersemangat itu.
"Nanti kau akan tahu sendiri, Eva." Eva ber-puh sebal, menatap pamannya yang kini santai melewatinya.
"Keren sekali." Vierra bersalto dan melewati Eva. "Kau lihat kekuatanku seolah-olah berlipat ganda dengan baju ini." serunya sambil mengepalkan tangan lalu dia melompat dan mengeluarkan tendangannya.
Eva menatap Vierra yang kini sepuluh kali lebih hebat daripada yang sebelumnya. Sarah menatap aksi Vierra yang begitu hebat baginya.
"Sepertinya baju ini bisa melipat gandakan kekuatan kita. Apakah itu benar paman?" tanya Eva riang.
Tim mengangguk. "Tetapi tetap saja itu kekuatan berasal dari baju kalian, kekuatan yang sebenarnya sudah ada di dalam diri kalian masing-masing." jelasnya.
"Astaga, mengerikan sekali. Kekuatanmu begitu besar akan jadi semakin besar, Rizwan." bisik Matsu takut, Jian menggeleng setuju dan membetulkan posisi helm-nya yang sedikit miring. Rizwan hanya tertawa kecil mendengar kelakar Matsu.
"Kau terlalu takut, Matsu. Ingat, aku memakainya secara bijak, B-I-J-A-K." jelasnya dalam bahasa Jepang. Jian mengeryitkan dahi tidak mengerti dengan ucapan yang dikeluarkan Rizwan.
Matsu tersenyum dan mengacak rambut Rizwan tetapi Rizwan berkelit menghindar. "Kau membuat rambutku berantakan." kesalnya.
Matsu mengejar Rizwan dengan jahilnya, Rizwan berlari. Jian tertawa malah juga ikut-ikut Matsu menjahili Rizwan, ia berlari. Tetapi seluruh ruangan itu tercengang, Rizwan memberhentikan larinya, Matsu menabraknya hingga mereka berdua terjatuh. Apa yang terjadi barusan?.
Jian tidak mengerti kini dirinya sudah menabrak dinding, tunggu bukankah larinya pelan saja, apa yang terjadi?. Semua orang disana mengangga, sedangkan Tim seolah-olah memasang wajah sombong. Jian menatap sepatu roda barunya, ia tadi berlari kencang. Secepat kereta maglev, menurut Jian.
“Wauw, kerja sepatu roda itu berhasil. Aku perancang busana masa depan!” sorak Tim sambil merentangkan tangannya, Karin mengucek matanya berusaha untuk tidak salah lihat. “Berhasil, berhasil, HORE!!!” Tim berjoget-joget layaknya Dora yang baru saja menyelesaikan misinya.
“Doctor, are you see that?!” senangnya.
Dokter Tom tersenyum tipis dan mengangguk, dirinya juga terkejut sekali. Sungguh, ia tidak rugi merekrut Tim. “Apa kemampuanku paman?!” Eva menarik kerah baju Tim, mendekatkan wajahnya yang begitu semangat, lupa kalau dihadapannya usianya lebih tua daripada dirinya.
“Kamu bisa terbang.” kata Tim datar, berbeda dengan reaksi Eva selanjutnya.
Eva menutup mulutnya dengan tangan, ia merasakan jantungnya berdegup kencang. Terbang, impiannya sejak kecil terkabul. “Benarkah, ajari aku bagaimana caranya?” mohon Eva sambil berharap.
Tim tersenyum penuh rahasia, sejenak ia berpikir membuat Eva semakin gemas saja. “Tidak tahu suatu saat kamu yang berkuasa penuh atas baju itu dan mempelajarinya lebih baik.” jelas Tim dengan senyum jahilnya, Eva berseru kecewa. Ditekuknya bibir layaknya anak kecil.
Vierra berusaha menahan tawa ketika Eva meminta pamannya untuk mengajarinya terbang, layaknya pengemis yang memaksa meminta duit.Karin menatap Rizwan yang kini juga menatapnya. Mereka berdua bertatapan begitu lama, Karin berkedip dan memalingkan mukanya. Pipinya bersemu merah, astaga perasaan itu kembali ada, lupakan Karin jangan peduli dengan perasaan itu.
Matsu menatap Jian yang kini melesat ke arahnya dan berputar-putar dengan cepat. “Hahaha, you see that?!” senangnya.
“Stop running Jian you made me dizzy (berhenti berlari Jian kau membuatku pusing).” keluh Matsu. Jian berhenti berlari dan menatap Matsu yang cemberut.
“Sekarang aku bisa menjahilimu, dan kau tidak bisa mengejarku lagi.” ejek Jian. Matsu mengepalkan tangan dan menghembuskan napas pelan, berusaha tidak termakan ejekan ‘orang bodoh’ dihadapannya.
Jian berkacak pinggang ketika Matsu melewatinya begitu saja. “Aku tidak mau berurusan dengan anak kecil.” bisik Matsu kepada Rizwan, Rizwan mengangguk mengerti tetapi matanya terus menatap Jason yang kini entah kenapa bertengkar dengan Karin.
“Kita punya pemimpin yang seperti anak-anak.” senyum Rizwan tipis sambil menunjuk Karin, kening Matsu berkerut dan menatap Karin yang kini menjambak rambut Jason, dokter Tom geleng-geleng kepala di hadapan mereka.
“Bukankah kau juga seperti anak kecil?” tanyanya pelan. Rizwan melotot kepada Matsu tidak terima dikatakan anak kecil.
“HENTIKAN!” Jason menolak Karin.
“Tidak kuhentikan kalau kau tidak mengucapkan maaf!” seru Karin sambil menunjuk Jason. Dokter Tom menepuk dahi dan menatap Rizwan, meminta pertolongan lewat tatapan.
“Kau memang pemimpin yang bodoh!” bentak Jason.
“Apa?!” Karin tidak terima, meloncat dan memiting Jason. Rizwan mendekati mereka dan memisahkan kedua orang yang bertengkar di hadapannya.
“Apa-apaan ini? Karin kau adalah pemimpin, kenapa kau bertingkah seperti ini?!” tatap Rizwan kepada Karin dengan tajam. Karin cemberut tetapi matanya melotot ke arah Jason yang berada di belakang Rizwan. Tetapi dirinya segera menatap Rizwan yang menatapnya.
“Salah sendiri kenapa kalian memilihku sebagai pemimpin, aku sudah katakan untuk memegang hak ini kepadamu, justru kamu sendiri yang menolak jadi ini akibatnya. Aku tidak cocok menjadi pemimpin. Justru diriku yang kena marah selalu.” Karin membelakangi Rizwan, sadar kalau dirinya banyak dilihat oleh orang-orang disana. Untung saja Karin memakai bahasa Melayu, bahasa yang hanya dimengerti olehnya dan Rizwan.
Rizwan menatap tajam Karin yang kini ditarik Sarah supaya tidak mengganggu lagi. “Sudah kamu membuat keributan saja.” bisik Sarah pelan. Karin menarik napas dan menggangguk, membuang napasnya dengan pelan.
“Jangan ganggu perempuan itu, nanti kau bisa dipatahkan lengannya. Jika suka bilang saja.” bisik Dokter Tom setengah menggoda, Jason segera bergidik jijik. Sampai kapanpun ia tidak akan mengawini seorang wanita yang seperti Karin. “Kamu itu mantan polisi militer jadi jangan suka dikalahkan oleh wanita.” bisik dokter Tom sekali lagi, Jason menatap ayahnya yang kali ini benar-benar menggodanya.
“Wanita seperti itu cocok dengan...” mata Jason memberikan kode kepada Rizwan. Dokter Tom terkekeh ketika Rizwan menatap mereka, tidak tahu apa yang mereka bicarakan.
“Kamu cemburu?” tanya Dokter Tom mengedipkan mata, Jason menyerah memilih untuk menjauhi ayahnya.
Karin menatap Matsu yang melepar topinya, topi yang terlihat biasa itu mengagumkan semua mata orang yang melihat, melesat kencang dan memutus kepala boneka kayu yang begitu keras. Topi itu memiliki sisi yang begitu tajam. Topi itu berputar lalu berbalik kepada Matsu dan Matsu mengambilnya kembali dan memakainya.
Tim dan Eva bertepuk tangan, mereka adalah paman dan keponakan yang memiliki sifat sama. “Keren, tetapi kuharap kamu jangan menerbangkannya kesini, bisa-bisa putus kepalaku.” kata Jian sambil menepuk pundak Matsu. Matsu melotot kearahnya membuat tawa Jian terhenti.
Rizwan kembali ke rombongannya, mengawasi Karin dari kejauhan yang kini terduduk di kursi sambil ditenangkan oleh Sarah. “Aku heran kenapa dokter Tom memilih pemimpin seperti dia.” bisiknya kepada Matsu.
“Bukankah kita semua setuju ketika dirinya menjadi pemimpin, lagipula kenapa tidak kamu terima saja tawarannya, tentu aku senang sekali ketika temanku menjadi seorang bos.” senyum Matsu. Rizwan nyengir, kenapa percakapan Matsu sama seperti perkataan Karin, pikirnya semrawut.
Matsu membuka topinya. “Kau tahu, satu kata untuk benda ini, keren.”
“Yeah, cool rigth?” kata Rizwan sambil menepuk-nepuk pundak Matsu. “Kau tahu sobat, aku bahkan tidak tahu kegunaan baju ini kecuali menyesuaikan bentuknya dengan tubuh.” kata Rizwan sambil menarik kerahnya. “Apakah disini sedikit panas?” tanya Rizwan.
“Maybe...” kata Matsu sambil melempar topinya dan berputar keliling ruangan dan kembali lagi ditangan Matsu. “Mungkin untuk sementara, pikiranku memaksa diriku untuk ingin terus disini.” senyum Matsu kepada Rizwan.
Rizwan menghela napas. “Hanya soal waktu, setelah misi dan tujuan selesai aku akan pergi.” katanya pelan.
“Kau gila, ini adalah pekerjaan terhebat yang pernah kau dapatkan dan kau ingin pergi begitu saja!” seru Matsu. Jian mengangguk setuju dan menatap tajam Rizwan yang menunduk. “Kau selalu mempunyai sifat bosan, dan kau tahu, kadang bosan itu bisa jadi membuahkan rasa penyesalan bagimu karena menolak pekerjaan ini.” kata Matsu.
“Aku bukan menolak, Matsu. Hanya pergi sementara, mencari hal baru. Jika aku bosan diluar sana, aku bisa kembali lagi kesini.” jelas Rizwan.
“Terserah.” Matsu menyerah untuk berbicara dan menatap Karin yang sekarang di dekati oleh dokter Tom dan beberapa partnernya. “Menurutmu, apa yang mereka lakukan?” tanya Matsu kepada Jian yang juga sedang mengamati.
“Entahlah, tetapi ayo kita mendekat.” setelah berkata seperti itu Jian melesat menghilang, berada di dekat Sarah dan melambaikan tangan kepada Matsu.
Karin mengeryitkan dahi ketika seseorang membawa sebuah kotak panjang, membukanya dengan hati-hati dan berlutut di depan Karin. Sarah memeluk lengan Karin dengan erat ketika matanya melihat isi kotak itu, sebuah pedang hitam yang begitu panjang dan terlihat indah namun sebenarnya berbahaya.
Di pinggirnya terlihat tajam dengan warna besi mengkilat. “Untuk anda, nona Karin.” kata partner dokter Tom bergetar. Karin melihat Jian dan Sarah yang terpaku, melihat ke arah Matsu yang mendekat. Perlahan-lahan tangannya menyentuh bagian tengah pedang yang berwarna hitam dengan tulisan yang rumit, seperti aksara Jepang.
“Sang wanita panther.” Matsu membaca pelan tulisan aksara itu. Karin mengankat pedang itu, tangannya menyentuh pinggiran pedang yang tajam. “Itukah artinya?” tanya Matsu kepada dokter Tom yang langsung dibalas anggukan pelan.
“Untukku mana?!” tanya Jian tidak sopan, Matsu memukul bahu Jian pelan. Dokter Tom tertawa pelan.
“Untukmu kedepannya.” jelasnya sambil menggosok hidung dengan punggung tangan. “Dan yang ini bukan untukmu melainkan untuk Miss Sarah.” kali ini dokter Tom memberi isyarat anggukan kepada salah satu partnernya.
Sarah berdiri ketika sebuah tabung diberikan kepadanya, disana terdapat logo beruang kutub yang bercahaya biru di setiap garisnya. Begitu Sarah menyentuhnya, tabung mulai bereaksi dan membuka, memperlihatkan anak panah yang begitu banyak. Diujungnya terdapat cahaya biru. “Ini serius untukku?” tanya Sarah gemetar ketika ia mengambil sebuah busur yang berada di dalam tabung, menyentuhnya dengan pelan.
“Tentu saja untukmu, kamu adalah pemanah terbaik di 7 ksatria.” senyum Karin sambil menyarungkan pedangnya. “Terimakasih, akan kusimpan, dan kurawat baik-baik.” senyum Karin tulus, tiba-tiba matanya menangkap sosok Jason yang terlihat iri. Dokter Tom hanya tertawa kecil.
Sedangkan Jian mulai meminta Sarah untuk mencoba memegang anak panahnya, Sarah memberikan tetapi Matsu berkali-kali bilang bahwa itu tidak sopan.