bagian 12

2342 Kata
Bagian 12 Rizwan menggaruk kepalanya yang tidak gatal ketika melihat anggota 7 ksatria diberikan senjata sedangkan dirinya tidak. Matsu juga mengeluh kecewa karena tidak mendapat senjata, padahal di kamarnya sudah banyak senjata miliknya. Katana, kunai, shuriken, kusarigma, apa kurangnya coba?. “Hehehe, lihat keren, kan.” kata Jian sambil memamerkan senjatanya yang berbentuk lingkaran tipis yang melekat di kedua tangannya. Matsu berkacak pinggang. “Itu sama saja dengan topiku, sekali lempar putus kepala orang. Ini ngikutin modifikasi.” kata Matsu sambil memalingkan muka. Jian nyengir, memang kegunaan senjatanya mirip seperti topi Matsu, tetapi kata Tim itu juga bisa melindungi diri dan membesar, seperti tameng. Rizwan melihat Vierra yang memutar senjatanya, sebuah rantai yang pinggirnya begitu banyak duri tajam yang terbuat dari logam. Jika digunakan untuk bertarung, rantai itu bisa memanjang sendiri. Kalau ada yang terkena rantai Vierra yang begitu cepat, orang itu pasti tidak memiliki jasad. Eva masih merajuk karena tidak tahu cara terbang, tetapi setidaknya ia sedikit terobati ketika dirinya menerima sebuah pistol sejenis revolver yang berwarna cokelat kehitaman. Eva memang seorang penembak dan sniper di Rusia. “Ini lemah sekali, pelurunya bisa habis dengan cepat.” keluh Eva, Tim memukul kepalanya dengan pelan. Membuatnya mengaduh dan melotot. “Kau ini bisakah kau mengerti makna bersyukut?” Tim balas melotot. “Ini sebabnya aku tidak ingin di Rusia bersama ayahmu karena kalian berdua sama-sama cerewet, bawel.” kata Tim sambil mengetuk-ngetuk tabletnya. Eva terdiam ketika Tim mengunkit-ngunkit ayahnya, sang kakak pamannya. Seketika Tim berhenti mengetuk tabletnya, sadar kalau Eva mengubah raut wajahnya. “Aku tidak bermaksud membuat sedih?” helanya. “Tidak apa-apa.” Eva menatap teman-temannya. Rizwan yang sedang protes, Jian yang memamerkan senjatanya kepada Matsu dan Eva yang sibuk berputar-putar dengan rantainya. Ia teringat ayahnya, satu-satunya single parent yang menjaganya ketika ibunya meminta cerai dengan lelaki lain sejak dirinya berusia 2 tahun. Lelaki yang menjaganya dan merawatnya sepenuh hati di Rusia, satu-satunya lelaki penting dalam hidupnya. Tidak terasa matanya sedikit berair, Tim menghiburnya. Meminta maaf karena salah mengucapkan kalimat. “Kau tahu Eva, pistol yang berada ditanganmu adalah senjata istimewa.” hibur Tim pelan, Eva masih terdiam. “Revolver itu adalah milik ayahmu saat dirinya masih muda, ditemukan di sebuah gudang dan melindungi paman ketika kami sama-sama mengenal jalanan. Ayahmu adalah orang hebat, ketika dirinya menikah ia mengizinkanku pergi ke Amerika. Mencari peluang yang besar, meskipun harus kuakui ia cerewet saat kepergianku.” Tim tertawa kecil, membuat Eva sedikit tersenyum. “Ia bilang jaga kesehatan, masalah baju bahkan masalah untuk mencari istri. Harus kau tahu bahkan paman belum menikah sejak sekarang, dan aku tidak menyangka ia begitu cepat meninggalkan dunia, meninggalkan seorang gadis berusia 17 tahun di dunia. Dan tidak kusangka, waktu begitu cepat berlalu dan kau sudah menjadi dewasa. Evalina yang cantik.” Tim merangkul pundak Eva dengan pelan. “Evalina yang berusia 24 tahun, hidup sebagai penembak ulung. Karena itu aku menghadiahkan ini kepadamu, semoga kamu tidak marah karena pistol ini sedikit di upgrade. Pistol ini tidak akan pernah habis pelurunya, ada atom dan zat kimia yang menyusun peluru baru dengan cepat. Kau tahu, peluru di pistol ini tidak akan habis.” Tim menunjuk Revolver yang berada ditangan Eva. “Karena itu paman kesal, karena kamu suka bertanya-tanya. Sejak kecil kamu selalu begitu, selalu.” tawa Tim, Eva tersenyum dan menyadarkan kepalanya di bahu sang paman. Lelaki kedua yang begitu penting setelah ayahnya. “Harus ku ketahui, pemimpinmu adalah wanita yang kuat. Ia layak menjadi pemimpin hanya saja ia belum tahu kenapa ia layak menjadi seorang pemimpin. Tetapi ingatlah, Evalina. Semakin kau merakit persahabatan dan membantunya, ia akan tahu. Suatu hari...” senyum Tim ketika Karin bertengkar dengan Jason kembali. “Kau tentu penasaran kenapa aku tidak membuatkan senjata untuk lelaki itu, karena dirinya adalah senjata yang terhebat.” kata Tim sambil menunjuk Rizwan yang kali ini melerai pertengkaran Jason dan Karin. Sarah mulai menarik tali busur dan memincingkan mata, fokus kepada satu titik. Tangannya melepas busur dengan anggun, anak panah itu melesat kencang. Tim berseru tetapi terlambat, panah itu kini menancap ke dinding tetapi keanehan terjadi, terdengar suara dan BOOM!. Tim dan Eva menunduk, sedangkan seorang ilmuwan dan 3 tentara terpental. Debu-debu mengotori lantai, dan Sarah terlihat pucat. Ia tidak menyangka kalau anak panahnya memiliki bom tersembunyi. “Bawa mereka, segera sembuhkan!” panik dokter Tom. Beberapa dokter dan perawat datang dengan sebuah tandu, membawa mereka ke ruang sakit yang telah di sediakan di markas. Beberapa tentara mengaduh tetapi seorang ilmuwan tidak menampakkan gerakan sedikitpun. Jason dan Karin yang sedang bertengkar terdiam ketika orang-orang itu dibawa ke ruangan khusus, menatap Sarah yang kini berdiri gemetar. “Aku jujur, i don’t think this happen!” seru Sarah kepada dokter Tom. “Salah kami juga terlambat mengatakannya.” kata dokter Tom. “Ingat nak, itu bukan panah biasa. Satu panah berbeda kegunaannya, oleh karena itu biarkan kamu mempelajarinya dengan Tim.” kata Tom sambil membuka kacamatanya, ia juga terlihat shock. “Semoga keempat orang itu baik-baik saja” cemasnya. Sarah menunduk, memandangi busur panahnya yang kini tergenggam kuat. Ia melihat kearah panahnya yang ia tembakkan tadi, dan betapa terkejutnya ia. Panah itu masih baik-baik saja. *** Karin menyentuh bajunya yang kini sudah tergantung rapi di lemari, matanya juga menangkap pedangnya di atas meja, terlihat indah di terpa sinar lampu meja. Ia mengusap matanya dengan ujung kaos yang ia pakai. Karin baru saja selesai mandi, dirinya harus segera pergi ke ruangan dokter Tom karena ada urusan. Ia segera membetulkan hijabnya yang berantakan, memakai jaket dan segera keluar kamar. Hampir saja menabrak Rizwan yang kebetulan melintas. “Oh, maaf...” kata Karin lalu berlalu, tetapi Rizwan berseru membuat langkah Karin terhenti, seketika ia menoleh ke arahnya. “Ehm, pengajian malam ini kutunda, apakah kamu merasa...” “Tidak apa-apa, lagipula aku juga sedang ingin keluar malam ini.” senyum Karin. “Wah, apakah kamu ingin ikut aku. Aku juga akan keluar malam ini, mempunyai beberapa urusan.” kata Rizwan, matanya menatap Karin. Karin tersenyum lebar, dan mengangguk setuju. “Tentu saja, guru.” katanya lalu pergi ke arah lift. Rizwan tersenyum, melihat lift turun. Ia segera tersadar, masuk kedalam kamarnya. Karin menatap ruang senjata, dinding di sudutnya hancur tetapi pekerja dengan cepat memperbaikinya dengan semen. Desing AC terdengar pelan, menyejukkan kulit Karin yang berkeringat. Lift berdenting dan membuka pintunya dengan pelan, dirinya segera menuju ruangan dokter Tom. Tangan Karin diletakkan di saku jaket. “Karin!” seru dokter Tom senang. Kini dirinya mengganti baju ilmuwannya menjadi baju santai, sebuah kemeja lengan panjang. Tetapi wibawanya masih terlihat di mata Karin. Tidak ada Jason diruangan itu, syukurlah, pikir Karin tenang. Setidaknya tidak ada orang yang mengajaknya bertengkar. “Ada apa?” tanya Karin, ia menarik kursi dan duduk diatasnya, menatap dokter Tom yang sibuk mengambil jarum suntik. Firasatnya menjadi tidak enak ketika dokter Tom mengambil sebuah koper hitam di lemari. “Dokter...” napas Karin tercekat. Dokter Tom menatap Karin yang kini menggenggam kursi dengan erat dan ia tersenyum, mengerti perasaan Karin. “Tidak apa-apa, tidak akan berbahaya.” senyumnya lalu membuka koper hitam dengan mengetikkan kode. Menampakkan sebuah sampel berwarna merah dan sampel berwarna biru. “Ini adalah darah panther, darah seekor panther hitam. Kami mendapatkannya di hutan Sri lanka, mengambil sedikit sampelnya untuk percobaan...” “Maksudmu, aku jadi kelinci percobaan!” seru Karin sambil berdiri dari tempat duduknya, wajahnya kini menampakkan amarah dan keterkejutan. “Duduk dahulu, kamu salah paham...” kata dokter Tom dengan tenang, mengambil sebuah cawan di koper dan meletakkannya di atas meja. Karin kembali menghempaskan pantatnya di kursi, menatap dokter Tom yang mengambil kedua sampel. “Ayahmu dan aku sudah lama berteman, ia mengatakan ada genetika unik di dirimu sejak kecil, DNA istimewa yang membuat seluruh jaringan tubuh bertranformasi jika diberikan darah hewan. Kamu mungkin akan tersinggung ketika aku mengatakan ini, kami akan menyuntikkan darah ini ke tubuhmu.” kata dokter Tom pelan. Karin mengepalkan tangannya yang entah kenapa berkeringat, urat pelipisnya kelihatan. “Aku memiliki genetika unik?” tanyanya dengan suara mengeras. Dokter Tom mengangguk, mencampurkan sampel darah panther dengan sampel berwarna biru. “Ini adalah zat kimia, jika dicampurkan ke darah panther dan dimasukkan di dalam tubuhmu akan menciptakan sel-sel baru, membawanya ke jaringan neuron. Kamu memang memiliki kekuatan itu sejak kecil, kekuatan panther.” dokter Tom mulai mengambil sampel yang sudah tercampur ke dalam suntikan. “Kuharap kamu tidak akan memberontak.” ia menekan sebuah tombol di meja, terdengar suara KLIK!. Kedua tangan dan kaki Karin sempurna terkunci di kursi oleh logam. Mata Karin menatap dingin dokter Tom. “Apa yang kau lakukan?” tanyanya. “Tidak ada, tidak sakit. Aku takut kamu menolak.” sesudah berkata seperti itu dokter Tom segera menyuntikkan sampel itu ke lengan Karin. Urat-urat biru Karin kelihatan, membuat wanita itu menjerit, sayangnya ruangan itu kedap suara. Wajahnya berwarna biru dan perlahan-lahan menghilang. Sebelah matanya bersinar ungu, genetikanya mulai berkerja menerima sampel. Mengalirkan sel-sel baru ke seluruh tubuh, jaringan tubuh Karin mulai bertransformasi dengan sampel yang disuntikkan. Jantung Karin berdetak kencang mulai memompa darah, aliran darah yang mulai tercampur dengan sampel dengan cepat membawanya ke otak. Karin menutup matanya, tangannya mengepal, rasa berdenyut terasa di kepalanya. Dokter Tom menatap Karin, wajahnya menampakkan raut cemas. Wajah Karin perlahan-lahan pucat, sinar birunya perlahan-lahan menghilang. Karin menunduk, membuka matanya dan menatap lemah dokter Tom yang menyentuh tombol di meja. Terdengar suara KLIK, logam-logam yang mengunci tangan Karin terlepas. Membuat wanita itu terjatuh dari kursi tetapi dokter Tom menahannya, menatap Karin yang kini bernapas pelan, seolah-olah sesak. “Aku tidak apa-apa.” Karin mendorong tubuh dokter Tom, tangannya bertumpu di meja kerja dokter Tom. Menatap ke jendela yang memantulkan wajahnya, betapa terkejutnya Karin. Mata sebelah kanannya berwarna ungu, sementara sebelahnya lagi tetap seperti sedia kala. “Apa yang terjadi?” tanyanya pelan. “Tubuhmu menerima sampel, genetika dan DNA-mu kini sudah bertransformasi dengan itu.” kata dokter Tom pelan. Karin terkejut, kekuatannya datang tiba-tiba. Karin menerjang dokter Tom, tangannya mencengkram kerah baju dengan cepat. “APA?!” katanya dengan suara marah. Dokter Tom merasa seperti tercekik, matanya menatap Karin dengan takut. “JANGAN SAKITI AYAHKU!” terdengar seruan, Karin merasakan dorongan luar biasa ditubuhnya. Jason baru saja menyerangnya seperti seekor banteng, kepalanya terkena pinggang Karin. Membuat gadis itu melepas cengkramannya dan merasakan nyeri di bagian pinggang. “Jika ingin menyakitinya, lewati aku!” tangan Jason mengepal, memasang kuda-kuda. Dibelakangnya dokter Tom mengelus lehernya yang berwarna merah, mulai bernapas normal, tetapi matanya masih menatap Karin yang kini menampakkan reaksi aneh. Mata Karin berkilat mengerikan, membuat Jason sedikit jeri. Tangan Karin mengeluarkan bulu berwarna hitam, giginya mulai memanjang seperti taring harimau, sementara kukunya mulai tajam. “Ia sudah berubah...” bisik dokter Tom tercekat. Jason menatap ayahnya yang kini menariknya untuk lari. Karin berubah menjadi seekor panther, ia melompat hendak menerkam 2 manusia di hadapannya. Jason mendorong ayahnya dengan cepat, ia menatap Karin yang berubah menjadi mengerikan. Ia terjatuh, menatap wajah Karin yang seperti singa betina dari dekat, napas Jason seolah-olah seperti ditarik malaikat maut. Mulut Karin terbuka, menampakkan gigi-gigi taringnya yang siap mencabik-cabik tubuh Jason. Dokter Tom berseru, mengambil sesuatu di sakunya. Sebuah pistol bius dan tanpa buang-buanga waktu Tom segera menarik pelatuknya mengenai badan Panther. Karin meraung kesakitan, ia ambruk di sebelah Jason. Tubuhnya kembali seperti semula, perlahan-lahan kesadarannya menipis. Jason menatap ayahnya yang kini mengelap peluh di dahi, itu tadi mengerikan. *** “Tangkap anak itu!” terdengar seruan juga langkah-langkah yang menginjak dedaunan. Seorang wanita muda berlari, napasnya memburu. Di pikirannya adalah, jangan sampai tertangkap. Ia melihat orang-orang yang berada di belakangnya yang kini sudah menembakkan peluru, membuatnya berlari zig zag supaya tidak terkena. Peluru-peluru itu mengenai tanah dan batang pohon, berdesing dan bersahutan di atas kepala wanita itu. Ia berseru senang di dalam hati, ada cahaya disana. Tetapi kesenangan itu tidak lama. ia begitu terkejut ketika sebuah jurang siap menyambutnya, kakinya menginjak pinggiran jurang. Menjatuhkan serpihan tanah yang kini menghilang di kegelapan. Ia berbalik, jaraknya sudah begitu dekat dengan orang-orang yang ingin memburunya, ini waktu yang begitu buruk baginya. “Kumohon, menjauhlah!” seru wanita itu serak. Orang-orang disana menyeringai, menatap wanita malang di hadapan mereka. Tangan mereka memegang pistol, sementara jari mereka siap menarik pelatuk. “Kau kini tidak akan bisa lari, nak. Berikan berkas itu jika ingin selamat.” kata seorang lelaki yang lebih tua diantara mereka, tersenyum licik. Wanita itu menggeleng, ia mundur tetapi tertahan ketika tidak ada lagi jalan baginya. Di sekelilingnya terasa hawa dingin, rasa maut yang menerkam dirinya. Wanita itu menggeleng, dan ia berbalik ke jurang, melompat dengan berani. Biarlah ia mati, tetapi jangan sampai benda yang ia bawa jatuh ke tangan yang salah, dirinya terjun di jurang yang begitu dalam. Semua orang-orang yang memburunya berseru tertahan, ingin mengejar wanita itu.Tetapi yang dilihat mereka hanya gelap, gelap, benar-benar kegelapan yang dilihatnya. *** “Karin!” seru Eva sambil menepuk-nepuk pipinya. Karin membuka matanya pelan, menangkap bayangan yang melingkarinya, hingga dirinya menangkap wajah dokter Tom dan Jason yang sama cemasnya, tidak ada dendam. Meskipun ia hampir membunuh mereka. Sarah menggenggam tangannya, wajahnya sama dengan mereka. “Kenapa dengan matamu, sayang?” tanya Sarah pelan, membantu Karin untuk duduk. Karin menggeleng, “Ini memang mataku yang sebenarnya.” katanya lirih. Suara mesin detak jantung berbunyi bip pelan, ia memeluk lututnya. Ia barusan bermimpi buruk, bahkan dirinya baru saja mengalami kejadiaan yang buruk. Ia mempunyai kekuatan panther, karena itulah hanya dokter Tom menyuntikkan sampel itu kepadanya. Karena tubuhnya memang memiliki genetika dan DNA unik untuk menerima sampel itu, sampel yang membuatnya memiliki kekuatan kembali. “Apakah diluar sana sudah malam?” tanya Karin. “Ingin terbenam, sayang. Sebentar lagi maghrib.” kata Sarah lembut, mengambil bubur di meja. Menyuapi Karin seperti anak bayi. “Aku bisa makan sendiri.” kata Karin sambil mengambil mangkuk bubur. Membuat Sarah tersenyum lembut ketika Karin memakan bubur itu hingga tandas. “Lihat aku bukan anak kecil yang bisa disuapi, aku sudah besar.” senyum Karin, memamerkan mangkuknya yang telah kosong. “ Sudah waktunya shalat.” kata Sarah dan melihat semua orang yang berada di sana. “Tinggalkan kami disini.” perintahnya. Semua orang mengangguk, Eva mengecup pipi Karin dengan lembut. “Semoga cepat sembuh.” senyumnya lalu riang meninggalkan ruangan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN