Bagian 13
“KAMU GILA?!” seru Sarah, yang membuat perawat disana mulai menghentikan kegiatannya, menatap Karin yang melambaikan tangan dengan santai.
“Lantas kenapa?” tanya Karin menantang, ia mencabut jarum impus yang melekat ditangannya, membuat jarum itu menetesi tempat tidur dengan cairan. Tangan Karin mengeluarkan sedikit darah, wanita itu tidak peduli mengambil jaket yang berada di meja dan memakainya.
Selesai shalat, Karin mulai meminta perawat untuk melepaskan jarum dan keluar dari ruangan. Tentu saja perawat itu menolak, mau bagaimanapun Karin masih dalam keadaan sakit. Tetapi Karin tetap pada pendiriannya, mecabut paksa jarum ditangannya. Sarah geleng-geleng kepala dan menyusul Karin.
“Kamu masih sakit.” kata Sarah sambil menahan langkah Karin.
“Kalau aku sakit aku tidak bisa berjalan.” wanita itu enteng menjawabnya, melewati Sarah dengan tenang. Sarah menarik tangan Karin, berusaha menahannya tetapi Karin menepisnya. Memperlihatkan matanya yang kini bersinar aneh.
“Aku ingin menghirup udara segar.” senyumnya sambil menepuk pundak Sarah. “Aku akan kembali sebelum kakak mengetahuinya.” setelah berkata itu Karin menuju lift, meninggalkan Sarah yang kini terpaku di lantai ruangan.
Di antara anggota 7 ksatria, umur Sarah yang paling tua, umurnya sudah 30 tahun dan masih kuat memegang kesendirian. Ia belum pernah bertunangan apalagi menikah, pernah ia merasakan yang namanya cinta, tetapi hanya sementara. Ia masih seorang guru pemanah yang belum memiliki keluarga, hidup Sarah sebatang kara. Perlahan-lahan wanita itu terduduk di lantai, kini ia tahu. The secret basecamp akan menjadi keluarganya.
“Guru!” Karin berseru serak ketika lift berdenting dan membuka pintu pelan, menampakkan sosok Rizwan yang santai masuk ke dalam lift.
“Kupikir kamu sakit.” katanya enteng. “Sepertinya aku salah dan mempunyai murid yang kuat. Atau jangan-jangan kamu memaksakan dirimu untuk menepati janji, jalan-jalan keluar bersamaku?” Rizwan menatap Karin.
“Itu... aku tidak...” Karin kebingungan memilih kata-kata, saat ia ingin berbohong tetapi ada benarnya juga, saat ia ingin jujur takut mendapat malu nantinya. Perasaan itu kembali muncul. Jantungnya berdegup kencang ketika Rizwan mendekati wajahnya, matanya bertatapan dengannya.
“Matamu berwarna ungu...” ucapan Rizwan terputus dirinya begitu terpana, kagum lebih tepatnya. “Bagaimana bisa terjadi?” kata Rizwan sambil menunjuk-nunjuk mata Karin. Membuat wanita itu tersenyum geli melihat tingkah Rizwan yang kekanakan.
“Aku tidak bisa menjelaskannya...” Karin menunduk tetapi Rizwan berdecak, menggelengkan kepalanya. Lift berdenting, membuka pintunya dengan pelan. Menampakkan ruangan gelap dan begitu banyak kardus. Di sudut-sudut ruangan terlihat sarang laba-laba.
“Jadi disini ruang lift rahasia lainnya, aku tersanjung kenapa dokter Tom membuat markas ini tanpa di ketahui oleh negara. Kamu tahu, seluruh orang di dunia tidak tahu rahasia markas ini bahkan google juga. Kecuali layar hologram di kamar kita yang menampilkan informasi tentang markas.” Rizwan berjalan tenang melewati kardus, membuka pintu yang sudah tua dan dimakan rayap.
Karin melihat bulan di langit, sepatunya menginjak rerumputan yang meninggi. Terdengar suara mobil di kejauhan, terdengar samar. Pasti tempat ini agak jauh dari keramaian. Rizwan menepuk bahu Karin, menunjuk sebuah gedung yang tinggi.
“Itu adalah kantor kejaksaan, keren bukan?” tanyanya.
Karin mengangguk, tangan Rizwan menariknya untuk keluar dari sana. Melewati rerumputan yang tinggi, hingga mereka berada di gang. Kucing-kucing yang tadinya bertengkar makanan segera lari bersembunyi ketika melihat mereka yang muncul tiba-tiba. Mata Karin melihat lampu-lampu dari kejauhan.
“Kemana kita pergi?” tanya Karin, menatap Rizwan yang kini berjalan tenang.
“Kita akan pergi ke tempat yang... rahasia.” Rizwan tersenyum jahil kepada Karin, bukan senyum itu, senyum yang menyembunyikan sesuatu lebih tepatnya. “Pokoknya, kamu ikuti saja diriku, kamu akan menyukainya.” mereka berdua keluar dari gang, menampakkan jalanan yang lumayan ramai, mereka mulai berjalan di trotoar.
“Kita akan pergi ke restoran?” tanya Karin, mengira Rizwan akan mentraktirnya. “Atau ke bar?” tanyanya kepo.
“Aku tidak membawa uang banyak, Karin. Kau pikir aku ini pengusaha, orang terkenal atau orang kaya?” tanya Rizwan mendelik kepadanya. “Sudah kukatakan ini rahasia, kamu lihat saja.” ia tersenyum kepada seorang wanita yang menatapnya terpesona. Salah tingkah ketika ketahuan menatapnya.
“Kau tahu, aku selalu ingin berkelana. Ini sudah kedua kalinya aku kembali ke sini, ke New York yang ramai, aku sudah melihat presiden Obama dari kejauhan. Tidak menyapanya, tetapi mataku kagum melihat wibawanya. Semua orang mengelukannya.” Rizwan mulai bernostalgia.
“Aku pertama kali disini saat berusia 21 tahun, 3 tahun yang dulu. Berkenalan dengan lingkungan New York yang ramai, bekerja sebagai orang kantoran dengan gaji honorer yang tinggi. Hingga 5 bulan kemudia aku memutuskan pergi, karena aku bosan. Memutuskan berkelana.” ujarnya sambil melihat 2 pemuda yang berjalan berlawanan arah, saling melempar senyum meskipun mata mereka menatap aneh Karin yang berhijab.
“Bukankah kamu akan mengalami kerugian?” tanya Karin. Pertanyaan yang membuat Rizwan terkekeh kecil, mereka berhenti berjalan, lampu untuk pejalan kaki berwarna merah. Mobil taksi, mobil truk, mobil pos dan mobil lainnya tenang melewati mereka.
“Aku tidak tahu Karin, hatiku terus memaksa aku berkelana hingga aku berhasil mencapai tujuanku yang belum jelas. Tujuan yang memaksaku untuk terus mencari jawaban, mencari seseorang.” Rizwan berjalan tenang, mulai menyebrang di zebra cross ketika lampu merubah warnanya berwarna hijau.
“Oh ya, siapa seseorang itu?” Karin berusaha mencari tahu, mukanya menyiratkan rasa penasaran yang teramat jelas. Muka Rizwan sedikit tersipu, meskipun gelapnya malam berusaha menyembunyikan rasa itu, tetap saja Karin bisa mengetahui besarnya perasaan itu.
“Oh, ia sepertinya spesial...” senyum Karin, menatap jalanan yang sibuk.
“Sangat spesial.” lirih Rizwan. “Tetapi ia nomor 2 setelah seorang wanita yang selama ini sangat kucintai.” tiba-tiba Rizwan menghentikan taksi.
“Dasar playboy.” Karin berkacak pinggang. “Cepat sekali kamu melupakan seorang wanita yang kau anggap sangat spesial itu.” Karin masuk ke dalam mobil, tetapi Rizwan memilih untuk duduk di samping supir taksi, ia tetap berjaga agar tidak berdekatan dengan yang bukan muhrimnya.
“Bawa kami ke pelabuhan.” perintah Rizwan kepada supir taksi dalam bahasa Inggris, membuat Karin tahu kemana mereka akan pergi. Taksi berjalan pelan tetapi Rizwan tertawa pelan dan menoleh kebelakang, menatap Karin. “Wanita yang kumaksudkan adalah nenekku, orang yang mengambilku dari jalanan, ia sudah lebih dari sangat spesial.” senyumnya.
Karin membeku, ia salah mengira. Sedangkan Rizwan tertawa terbahak-bahak ketika melihat Karin salah tingkah. “Eh, kamu ngomong pun gimana... aku jadi salah sangka... ih malu-maluin....” kesal Karin.
“Loh, malu sendiri, akak ni pun macam mana?” senyum Rizwan, ia jelas-jelas ingin mengganggu Karin.
Karin memalingkan mukanya ke jendela, malas berbicara. Satu karena salah mengira, satu lagi soal dipanggil akak yang artinya Kakak, mau bagaimanapun ia lebih muda dari Rizwan. Sedangkan supir taksi sibuk menyetir, dahinya mengeryit mendengar pembicaraan mereka, bahasa yang aneh. “Darimana asal kalian, sepertinya kalian bukan orang disini?” tanya supir itu.
“Oh, itu bahasa Melayu. Kami dari Malaysia.” jawab Rizwan santai, kini sibuk berbincang dengan supir.
“Apakah kalian pasangan?” tanya supir sambil membelokkan setir ke kiri.
“NO!!!” seru Rizwan dan Karin serempak, membuat supir kaget dan membuat mobil taksi membuat gerakan zig zag, mobil di belakang mereka mulai mengeluarkan suara klakson dengan keras. Supir taksi segera fokus ke setirnya, untung saja tidak ada apa-apa.
“I’am sorry.” lirih Rizwan pelan.
“No problem.” senyum supir taksi. Kini mereka tidak lagi berbicara, fokus pada pikiran masing-masing. Hening, hanya suara keriuhan jalanan yang terdengar pelan. Karin menoleh ke jendela. Melihat pengamen yang memetik gitar, membentuk kerumunan orang di depannya.
Pikiran Karin berkecamuk, ternyata Rizwan sudah memiliki rasa itu lebih dulu. Hatinya sudah dimiliki orang lain, dan Karin terlambat. Kalau dirinya sempat memiliki rasa itu, tidak ada orang lain yang mengusik hati Rizwan. Jika hati Rizwan adalah batu dan Karin adalah air. Tetap saja ia tidak dapat menetesi hati yang kokoh itu, karena jelas Rizwan tidak mau ditetesi olehnya. Uh, malangnya...
Karin menyembunyikan mukanya di balik tangan, meskipun matanya mengintip jalanan. Ia hanya ingin menyembunyikan matanya yang sudah berkaca-kaca. Ia sudah mencintai seseorang yang bukan miliknya, Karin berharap perasaan itu cepat hilang. Seperti dahulu ia mencintai seseorang, melupakannya dengan perlahan.
“Kita sudah sampai!” seru supir taksi, membuat lamunan Karin pecah seketika. Buru-buru menghapus air matanya sedangkan Rizwan mulai memberikan sejumlah uang. “Kembaliannya, sir?” tanya supir ketika Rizwan mulai membuka pintu mobil.
“Anggap saja itu tip.” senyumnya, membuat wajah supir menjadi cerah seketika.
Karin ikut keluar, menyusul Rizwan menatap taksi yang meninggalkan pelabuhan. “Indah sekali!” takjubnya, menatap beberapa kapal yang sedang merapat. Nahkoda-nahkoda yang berbincang, kelasi yang beristirahat.
Lampu-lampu kapal dari kejauhan juga tampak, tetapi aneh Rizwan meloncat ke sebuah perahu motor. Mengeluarkan sebuah kunci di sakunya dan menghidupkan kapal. “Ayo!” serunya. Karin benar-benar memaku, dimana Rizwan mendapatkan kunci itu.
“Nanti kamu akan tahu.” seolah-olah tahu pikiran Karin, Rizwan tersenyum menghidupkan mesin motor kapal, membuat gelembung-gelembung air di p****t kapal. “Kau ikut tidak?” seruan itu membuat Karin terhenyak, ia segera melompat ke kapal. Membuat kapal motor kecil itu bergoyang, Rizwan dengan gagah memegang setir.
Baling-baling kapal berputar kencang, meninggalkan pelabuhan dengan sisa riak-riak air yang perlahan-lahan menghilang. Rizwan membawa mereka agak jauh dari pelabuhan, menatap indahnya kota New York.
“Mau kopi?” tanya Rizwan sambil mengambil termos di bawah kemudi kapal, entah kenapa termos bisa berada di situ. Malah ada cangkirnya lagi.
“Terimakasih.” senyum Karin kikuk ketika menerima secangkir kopi, duduk menatap lampu-lampu kota dan patung Liberty yang berdiri gagah, beberapa kapal melintas kelaut atau ke pelabuhan. Disesapnya sedikit kopi, membuat wanita itu berdecak keenakan, rasa hangat melewati kerongkongannya.
“Aku ingin tahu, siapa wanita yang kau sebut spesial itu?” tanya Karin.
“Nenekku, kan?” jawab Rizwan sambil menaikkan alis, menuangkan kopi ke cangkirnya sendiri.
“Itu tidak lucu lagi.” Karin menatap Rizwan dengan memelototkan matanya, membuat pemuda itu tertawa terbahak-bahak, duduk di samping Karin. Berusaha menjaga jarak dengan Karin.
“Baik akan kuceritakan, nama perempuan itu Azizah Ulfa.” senyum Rizwan, melambaikan tangannya kepada perahu nelayan yang kebetulan lewat. “Ia sangat istimewa, meskiput sedikit menyebalkan sejak SMP kami bertemu. Dahulu aku telat sekolah saat usiaku berumur 10 tahun aku barus masuk kelas 2 SD. Kami saat itu sekelas dan aku yang paling tua disana. Seharusnya aku sudah SMA.” Rizwan terkekeh.
“Banyak wanita yang menyukaiku tetapi justru Azizah Ulfa yang menarik perhatianku.” Rizwan tertawa kecil, menyesap kopinya. Kopinya agak terasa pahit walaupun memiliki sedikit kemanisan.
“Dan ia adalah wanita yang paling membuatku tergila-gila. Kami dulu bertemu, saat wanita terpesona denganku, justru Azizah memanjat pohon yang tinggi mengambil layangan yang dimiliki oleh satu anak kampung, mengembalikannya. Wajahnya sedikit kotor meskipun begitu ia tidak peduli, tersenyum bahagia ketika melihat anak-anak yang senang layangannya kembali.”
“Sering aku dibuat mengangga olehnya, ia berani. Bahkan ia dengan usilnya mengambil cicak di dinding lalu melemparnya ke salah satu temannya, membuat seluruh kelas dipenuhi oleh jeritan panik perempuan.” Rizwan tertawa dan mulai berdiri.
“Ia suka memancing dan menantangku. Siapa yang paling banyak mendapat ikan dialah yang menang.” Rizwan tersenyum, menambah kopi di cangkirnya yang sudah tandas.
“Dan sungguh sulit kuduga, hasilnya seri. Tetapi saat aku membawa pulang ikan-ikan itu, dirinya sempat memberikan setengah untuk anak-anak yang kebetulan lewat disana. Membawa ikan yang tersisa. Kami juga pernah berkelahi.”
“KAU BERKELAHI DENGAN ANAK PEREMPUAN?!” Karin berseru membuat setengah isi kopi tumpah ke laut, untung saja cangkirnya tidak jatuh. “Betapa pengecutnya.”
“DENGARKAN DULU!” kesal Rizwan.
Karin terdiam dan mengangguk mendengarkan, Rizwan melanjutkan ceritanya. “Ia kesal karena aku membelanya, gila sungguh gila. Ia ingin melawan anak lelaki yang mengganggu mereka, justru kedatanganku membuatnya jengkel luar biasa. Lupa kalau aku menyelamatkannya. Ia bahkan bilang kalau ia bisa mengalahkanku, awalnya aku menolak tetapi Azizah jelas-jelas menantang, tidak ada yang mengetahui.”
“Lalu?” Karin berseru tidak sabaran. Menyesap kopinya hingga habis dan menambahkannya lagi hingga termos benar-benar tidak berisi.
“Hasilnya, aku pulang dengan wajah memar dan tangan terkilir. Azizah Ulfa pulang dengan luka di dahi, ia sungguh pandai menipu orang tuanya. Bilang kalau ia jatuh di sepeda dan dahinya tergores kerikil. Nenekku mana percaya, apalagi aku bekas orang jalanan. Tahu sekali aku gemar berkelahi, memarahiku karena berkelahi di sekolah. Untung saja ia tidak bertanya siapa yang berkelahi. Kalau tidak, keadaan kami berdua sama. Sama-sama tidur di luar rumah.”
“Kalau aku nyatakan dengan jujur, ia tidak sekadar wanita. Ia adalah harimau betina, indah tapi berbahaya. Hingga aku tidak bertemu dengannya lagi, ketika aku ke rumahnya justru aku bertemu 2 jasad busuk, darah dimana-mana. Aku tahu itu adalah orang tuanya Azizah ulfa, aku panik mencarinya. Berharap tidak terjadi apa-apa. Aku tidak menemukan jasadnya, justru menemukan sebuah surat.”
“Apa isi surat itu?” tanya Karin.
“Entahlah, surat itu bertuliskan ancaman pemerintah. Ayah Azizah Ulfa adalah teroris tapi aku tidak percaya, tidak cukup sampai disana nenekku meninggal saat aku berkuliah. Hingga aku memutuskan berkelana, kepintaranku cukup melebihi dosen manapun. Itu sudah lebih dari cukup, tetapi aku tidak menyerah untuk menemukan Azizah Ulfa.” Rizwan mengeluarkan sesuatu dari sakunya memberikannya ke Karin.
Karin melihat wajah wanita yang dimaksudkan Rizwan. Wanita itu bergelantungan di pohon, tertawa senang dan wajahnya biasa-biasa saja tetapi bersih. Sepertinya Rizwan diam-diam mem-fotonya.
Tunggu, wanita ini...sepertinya ia tahu. Tapi sayangnya Karin tidak bisa mengingat dengan jelas. Makin diingat, makin pusing saja dirinya.
“Darimana kopi bisa disini? Dan kenapa kamu bisa mempunyai kunci kapal? Milik siapakah kapal ini?” Karin mengalihkan pembicaraan.
“Harus kau tahu, saat kalian tidur aku dan Jason sering kesini. Minum kopi hangat yang dibuat olehnya dari the Secret Basecamp, membawa jauh-jauh ke kapal ini. Jadi, kau tahu kapal ini milik Jason.” senyum Rizwan sambil menopang tangan di kemudi, menyesap kopinya pelan-pelan karena masih agak panas.
Karin kehilangan selera untuk kembali meminum kopi itu, semakin diminum semakin manis, hanya karena mendengar nama Jason di sebut ia merasa ingin memuntahkan kopi itu ke laut. Sayangnya, mereka tidak tahu ada yang mengamati.
***
“Pendekar, benarkah itu mereka?” tanya seorang wanita yang memakai topi turis, sebenarnya ia menyamar menjadi turis di sebuah kapal Feri.
“Tentu saja, bos kita tidak pernah salah.” balas seorang lelaki yang memegang cangkir teh, tangannya mengeras saat memegang gagang cangkir.
“Apakah kita akan menyerang mereka?!” tanya seorang lelaki yang lebih muda yang berada di tengah mereka, suaranya yang keras menarik perhatian orang-orang lain yang berada di kapal. Lelaki yang memegang cangkir teh melambaikan tangan kepada penumpang, tidak ada apa-apa.
“Berbicaralah dengan pelan.” kata lelaki itu sambil menekan kepala sahabatnya ke bawah.
“Aku hanya histeris, pendekar. Bukan maksudku begitu, bukankah kita harus menghancurkan mereka seperti kata bos?” tanya lelaki muda itu menyangkal.
“Bos bukan menyuruh kita menghancurkan, tetapi mencari informasi. Ikuti orang-orang yang sempat dilihat Renard, dan kau lihat pemuda itu. Aku tahu ia bukan pemuda biasa, ia adalah pemuda yang berbakat, ia adalah pemuda yang ahli...” wanita itu kembali mengamati dengan teropong yang ia bawa.
“Kemarikan!” seru lelaki yang memegang cangkir teh, di berikannya teh itu kepada lelaki muda dengan kasar. Membuat lelaki itu mengaduh dan berseru protes.
“Rizwan....” lelaki itu nampak tidak percaya, mencubit pipinya yang begitu keras. Ini tidak mimpi, pipinya terasa sakit. “Kupikir dia menghilang, mati atau sebagainya. Kini ia kembali layaknya hantu.” lelaki itu kembali melihat di teropong melihat dan mengamati ketika Rizwan mengemudikan kapal motor menuju pelabuhan.
“Siapa wanita bersamanya, pendekar?” tanya wanita bertopi turis.
“Entahlah, Hannah. Aku juga baru pertama kali melihatnya.” kata lelaki tua itu sambil menggeleng, menatap perahu motor yang mulai mendekati pelabuhan. “Andrew, bisakah kamu membawa kami kesana?” tanya lelaki tua itu.
“Aye-aye pendekar!” kata Andrew sambil membuat posisi hormat, ketiga orang itu buru-buru turun ke geladak kapal. Masuk ke sebuah tempat sepi. Lelaki muda yang bernama Andrew itu fokus, tangannya mengepal, dan kakinya mengeluarkan cahaya yang kini bersinar dan meledak menjadi asap.
Perlahan-lahan ketiga orang itu menghilang dari sana, yang tersisa hanyalah bulu burung yang berasal dari topi Hannah.
***
“Cepat sekali!” protes Karin, ia memasang wajah cemberut ketika Rizwan mematikan mesin kapal, lompat dan mendarat di pelabuhan.
“Cepat? Hei sudah larut malam, bisakah kau mengatakan yang namanya Thank You...” kesal Rizwan sambil menunjuk Karin dan berjalan menuju sebuah taksi yang kebetulan lewat di pelabuhan.
“Ini sudah jam 1 dini hari, jangan suka keluar malam jadi cewek.” sungut Rizwan. Ia menarik tangan Karin menuju taksi. “Lagipula dokter Tom mencemaskan kita...” Rizwan mendorong Karin hingga ia jatuh terduduk di kursi taksi.
“Bawa kami kembali ke kota!” seru Rizwan galak. Supir taksi tergagap-gagap, segera tancap gas. Awalnya perjalanan ke kota tenang, tetapi supir taksi mengerem mendadak, membuat dahi Karin mengenai jok mobil, mengaduh. Suara berdecit terdengar.
“What’s happening?” tanya Karin sambil mengusap dahi. Tegang, tidak ada suara. Suara supir mencicit ketakutan, melihat tiga orang aneh yang menghadang jalan mereka.Perasaan Rizwan tidak enak di perjalanan. Ia merasakahn hal yang aneh, sesuatu tentang...kegelapan.