bagian 14

1457 Kata
Bagian 14 Suasana diluar sepi begitu juga di dalam mobil taksi, tegang. Supir sampai mengeluarkan keringat dingin, suasana kota New York juga sepi. Entah kemana para pemabuk dan orang-orang lainnya, kabut tipis yang entah dimana asalnya mulai menyelimuti jalanan. Tangan supir bergetar, Karin memandang heran ketiga orang itu, berbeda dengan Rizwan yang mulai menatap tajam memasang wajah serius. “GET OUT!” seru seorang lelaki muda. Rizwan memberikan sejumlah uang kepada supir taksi, malah memberikan banyak. “Bawa ia pergi dari sini.” perintahnya lalu dengan tenang keluar dari taksi. “TUNGGU!” Karin menolak tetapi supir taksi telah menggeber gasnya kencang-kencang, meninggalkan Rizwan dan ketiga orang aneh itu. Percuma Karin berseru pasti, supir memasang sikap, bodo amat. “Kejar dia!” perintah seorang lelaki paling tua, menunjuk taksi yang kini mulai meninggalkan mereka. Wanita muda yang memakai topi turis yang tak lain adalah Hannah mulai mengejar taksi, tetapi Rizwan segera menahannya. Tetapi lelaki tua yang dipanggil pendekar itu mulai menahannya, tombak logam yang entah dari mana asalnya mulai melesat menyerang Rizwan, untung saja sempat menghindar. Kedua lelaki itu entah kenapa mulai berubah, satu memakai baju serba gelap mulai mengambil tombaknya sedangkan Andrew menyerang Rizwan, bajunya berganti seperti baju besi yang dipakai ksatria. Hannah berlari kencang, baju putihnya berkelebat, wajahnya tertutup kecuali mata layaknya ninja, sedangkan bajunya mulai berubah menjadi warna putih, selendang panjang yang entah darimana kini melingkarinya. Rizwan sekarang sibuk menghindar serangan dari pendekar serta Andrew, Hannah melihat taksi yang kini sudah berada di dekat jangkauannya. Tangannya mengepal dan mulai melesatkan pukulan jarak jauh. Angin berdesing dan BUM!. Jalanan merekah dan membuat taksi terpental, Karin menarik tangan supir yang berteriak. Ia melompat dan menendang pintu taksi hingga terbuka. Ia mendarat sedangkan supir taksi terduduk, wajahnya pucat. Hannah tidak buang-buang waktu, ia mulai membuka telapak tangannya. Selendangnya memanjang dan mengincar tubuh Karin, Karin dengan lincah menghindar. Sedangkan supir taksi terkencing-kencing, ketakutan di trotoar. Karin bersalto dan mulai melancarkan serangan. Hannah berkelit, selendangnya menangkap Karin tetapi Karin menebasnya dengan tangan kosong. Matanya bersinar ungu, sekejap Karin menjadi seekor panther. Gemetar supir melihatnya, kakinya sulit diajak berlari. Hannah menatap terkejut Karin yang menerkamnya, tetapi ia segera membuka telapak tangannya ke atas. Selendangnya melilit tiang lampu, wanita itu segera mencengkramnya kencang layaknya tarzan. Berdiri tenang di atas tiang lampu, sementara Karin hanya menangkap udara kosong. Hannah tersenyum licik dan melompat, selendangnya mulai berlipat ganda, ia melancarkan pukulan angin. Saat Karin sibuk menghindari sabetan selendang Hannah, pukulan Hannah cukup mengenainya dengan mudah. Karin terpental, punggungnya terkena di dinding bangunan, retak. Karin memuncratkan darah segar di mulutnya, memegang perutnya yang memar akibat pukulan Hannah. Supir taksi kini berlari terbirit-b***t, meninggalkan genangan air kencingnya di trotoar. Tubuh Karin kembali seperti asalnya, hanya saja gigi taringnya masih terlihat. Matanya menatap tajam Hannah yang turun dari tiang listrik, mendarat tenang di jalanan. Suara sepatu hak tingginya menggema di telinga Karin. “Kau sama sekali bukan lawanku.” kata Hannah tenang, tetapi langkahnya tidak berhenti mendekati Karin yang menatapnya lemah, mata ungunya berpendar lemah. *** SAP! Rizwan menangkis tombak logam yang melesat cepat, memberi serangan pukulan jauh berkali-kali tetapi orang yang berbaju sama sekali bukan orang sembarang. Andrew sudah berkali-kali kena pukulan Rizwan, darah segar mengalir di ujung bibirnya. Rizwan menatap sekeliling, sepi. Sejauh memandang hanya kabut terlihat. Ia mengepalkan tangannya, saatnya serius sungguh tadi itu hanya main-main saja. *** Hannah mencekik Karin, mengankatnya ke udara seolah tubuh Karin layaknya boneka, ringan saja. “Apakah kamu siap untuk mati?” senyum Hannah licik, selendangnya memendek, berkibar anggun. “Aku harap aku bisa mendengarmu menjerit kesakitan, memohon ampun...” “TIDAK!” kaki Karin menendang Hannah tepat di tulang rusuknya, membuat wanita itu melepaskan cengkramannya. Karin membuka telapak tangannya, entah darimana asalnya. Pedangnya yang seharusnya berada di secret basecamp muncul begitu saja di tangannya, membuat Hannah berteriak. Teriakannya membuat jalanan merekah membuat rusak jalanan, batu-batu aspal mulai terlihat, terbang. Hannah memukul batu itu dengan tangannya, tenaganya kuat sekali. Cukup membuat batu itu melesat kencang ke arah Karin tetapi entah apa yang terjadi, Karin menyambut serangan itu. Membuat batu itu hancur seketika, batu-batu kecil berjatuhan disertai dengan kepulan debu. Tinju Karin dengan telak mengenai dagu Hannah, membuat wanita itu berteriak pilu. Serangan itu, ia sama sekali tidak menyangkanya. “Kamu salah, nona.” Karin mengelap darah di ujung bibirnya dengan punggung tangan, pedang Karin berkilat-kilat. Hannah menatap Karin yang kini berdiri tegak di hadapannya. “Justru kamulah yang harus siap mati.” usai berkata seperti itu Karin menyerang Hannah dengan pedangnya. Hannah bersalto, selendangnya memanjang. Membuat Karin hanya menebas selendangnya tetapi Hannah juga menyerang, selendangnya tidak hanya mengincar tubuh Karin. Tetapi juga mengambil tiang lampu dan batu-batu di jalanan. Kini selendang itu berusaha menghancurkan tubuh Karin dengan memakai tiang listrik. Hannah memukul batu-batu, membuat kini melesat ke arah Karin. Karin menutup matanya, sementara batu-batu besar mulai dekat sekali dengannya. Mata Karin terbuka, kini matanya benar-benar bercahaya, keduanya. Begitu juga dengan pedangnya yang kini diselimuti cahaya ungu. BUM! Pedang itu menebas batu, tiang lisrik dan selendang Hannah. Memunculkan kepulan debu yang pekat, Hannah menyipitkan matanya. Perlahan-lahan debu itu menghilang, Karin lenyap. *** Rizwan menatap tenang dua orang di hadapannya, berdiri dengan gagah. Kini tombak sudah melesat kembali ke pemiliknya. “Kita habisi pemuda biadab ini pendekar!” marah Andrew sambil menunjuk Rizwan yang berdiri tenang, pendekar sama sekali tidak berkata apa-apa. Matanya kini beradu dengan tatapan Rizwan. “Kami tidak akan menghabisi jika kamu memberikan rahasia tentang the secret basecamp, katakan dimana tempatnya.” tegas pendekar. “Lalu apa untungnya bagiku?” senyum Rizwan meremehkan. “Aku tidak akan memberitahunya.” final sudah jawabannya, pendekar menggertakkan giginya. Tangannya mengepal, semakin kuat menggenggam tombaknya. “PERSETAN!” pendekar segera melempar tombakknya dalam kecepatan tinggi, Rizwan menutup matanya. Telapak tangannya terbuka dan terdengar suara keras, seperti suara besi beradu. Begitu keras sehingga Andrew menutup telinganya. Pendekar kini mengangga, tombaknya menjadi abu dengan begitu mudah. Andrew mengucek matanya, mengira sedang bermimpi, jelas yang berada di hadapan mereka bukan orang sembarangan. “Itu... tidak mungkin.” suara pendekar tercekat. Menatap takut Rizwan yang kini menepuki ujung bajunya, kotor karena debu bekas tombak milik pendekar. Pendekar mengepalkan tangannya, muncul tombak baru dibalik jubahnya. Rizwan hanya memincingkan mata, mengajak berkelahi. Pendekar kini melemparnya, tetapi keajaiban terjadi. Tombak itu membelah diri, satu menjadi dua, dua menjadi 4 dan 4 menjadi 8. Tombak itu bergerak sendiri, memantul dan menyerang Rizwan dari segala arah. Belakang, depan, kanan, kiri dan atas. Rizwan merentangkan tangannya, angin kuat keluar dari tubuhnya membuat tombak terpental. Entah darimana asalnya selendang putih mengikat kedua tangan Rizwan dengan kuat, disusul dengan kakinya. Rizwan tidak bisa bergerak menatap Hannah yang kini melompat dan mendarat di samping pendekar. Mencengkram selendang dengan kuat supaya tidak terlepas. Rizwan masih menatap tenang, tidak tahu kondisinya yang terjepit. Andrew kini mulai melancarkan serangannya tetapi sekelabat cahaya ungu menabraknya, membuat punggungnya menabrak tiang lampu hingga bengkok, Andrew merasa tulangnya remuk. Rizwan menatap Karin yang berdiri gagah di hadapannya. “KARIN ITU BUKAN LAWANMU!” seru Rizwan, berusaha melepas lilitan selendang tetapi Hannah semakin kuat mengikatnya hingga jatuh terduduk. Karin menatap tajam pendekar, Andrew sudah ambruk dari tadi, Hannah mengencangkan ikatan selendang. Pendekar tertawa meremehkan, mulai melemparkan tombak ke arah Karin. Karin menepisnya dengan pedangnya, suara besi yang beradu berdecit keras. Tombak itu kini terpental kuat, menancap di jalanan hampir saja mengenai Andrew. Rizwan mengepalkan tangannya, mulai mengirimkan tenaga dalam dan ia menarik selendang itu, membuat selendang yang mengikatnya robek. Hannah terlihat terkejut dan menatap jeri mereka berdua. Punggung Rizwan dan punggung Karin bersatu, masing-masing mulai memasang sikap waspada. Andrew berdiri dengan lemah, bibirnya jelas mengeluarkan banyak darah segar. Sepertinya gigi Andrew rontok lima buah atau lebih dari itu. Rizwan mengepalkan tangannya, sedangkan Karin mulai mengacungkan pedangnya. Matanya semakin bersinar, giginya semakin taring saja. Pendekar mulai menyerang mereka dengan begitu banyak tombak sedangkan selendang Hannah mulai melilit mereka. Rizwan mulai menangkis tombak dan melancarkan pukulan jarak jauh, pedang Karin berputar-putar, menyabet dan memotong selendang Hannah. Rizwan menendang tombak dan melesat ke arah pendekar, melesat cepat seperti kilat. Pendekar terlambat menghindar, kini tombak itu berhasil menyobek penutup wajahnya dan pipinya. Memandang marah Rizwan, Rizwan gantian terkejut tetapi ia tetap memasang sikap waspada tinggi. Mengepalkan tangan dan memasang kuda-kuda. Pendekar mendengus dan mulai melompat menerjang Rizwan, Rizwan membalikkan badan, telapak tangannya terbuka dan memukulnya tepat di pundak pendekar hingga pendekar jatuh terseret di samping Hannah. Pendekar berdiri tidak percaya, tangannya memegang pundaknya yang terasa perih. Hannah dan pendekar saling pandang, apalagi melihat kondisi Andrew. Hannah mengankat tangannya, selendangnya menyelimuti tubuhnya, lalu pendekar dan Andrew. Memunculkan asap yang pekat, dan perlahan-lahan menghilang. Ketiga orang itu lenyap, kabut pun menyusul. Menampakkan sisa perkelahian. Tiang lampu bengkok, jalanan hancur dan dinding bangunan yang retak. Rizwan dan Karin saling pandang. Mereka berdua melenting cepat, meninggalkan sisa perkelahian. Sementara kota New York sudah disinari matahari yang kini menampakkan dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN