Bagian 15
“ASTAGA!!!” seruan itu yang pertama kali disambut oleh Rizwan dan Karin, yang paling panik tentu saja dokter Tom. Jason dan para tentara yang sedang bermain bola voli di ruangan olahraga terkejut. Seorang tentara Amerika yang hendak men-servis bola melihat mereka, membuat bola voli terlempar hingga ke luar garis.
“OUT!” seru tentara tertua yang menjadi wasit, tetapi orang-orang disana tidak peduli, perhatian mereka sempurna teralihkan dengan kedatangan Rizwan dan Karin yang acak-acakan.
“Apa yang terjadi?” tanya Sarah khawatir, menyentuh dagu Karin yang sedikit legam, ada bekas darah yang mengering di ujung bibir Karin. “Jangan katakann kau berkelahi lagi, diluar.” lirihnya.
Karin menggeleng, menepis pelan tangan Sarah agar tidak menyentuh dagunya. Jason kembali dengan kotak p3k, menaruh alkohol di kapas dan menaruhnya di dagu Karin. Rizwan baik-baik saja, ia hanya sedikit kotor tetapi sama sekali tidak ada luka di tubuhnya. Karin yang meninggalkan bekas memar di punggungnya ternyata membuat lambungnya sedikit bermasalah, membuatnya tidak enak makan berminggu-minggu ke depan.
Rizwan termangu, ia memikirkan orang yang dipanggil pendekar. Ia mengenal wajah itu, wajah yang seharusnya hilang di memorinya kini kembali muncul. Membuat Rizwan menggaruk rambutnya hingga acak-acakan, Matsu mendekat.
“Ada apa?” tanyanya sambil menyerahkan sebotol air mineral. Menatap Rizwan yang meneguk air itu hingga tinggal sepertiga saja.
“Aku tidak menyangka... ia masih hidup.” Rizwan menatap Matsu, matanya sedikit merah, perih dengan sendirinya. Tetapi hatinya lebih sakit, pikirannya lebih banyak bingung dan marah.
“Siapa?” tanya Jason.
“Kami bertemu 3 orang di perjalanan, orang-orang aneh. Dua lelaki satu lagi perempuan. Dua lelaki itu bisa bertarung dan mempunyai senjata kecuali satu orang yang dinamakan Andrew, satu lagi yang tertua mungkin pemimpin mereka, ia dipanggil pendekar. Dan perempuan yang dinamakan Hannah, ia mempunyai senjata yang berupa selendang yang bisa memanjang sendiri.” Rizwan meneguk air sekali lagi hingga habis tidak bersisa.
“Hannah berhasil melukai Karin, dan mereka mengepung kami. Hingga aku menggunakan salah satu jurus, membuat orang yang dipanggil pendekar mengenai tombaknya sendiri, senjatanya sendiri, menggores pipinya dan membuat kain penutup wajah yang ia kenakan terlepas. Dan aku menyadari sesuatu...”
“Sesuatu apa?!” kebiasaan Eva muncul lagi, memotong pembicaraan yang belum selesai. Vierra menyikut Eva, semua orang disana menampakkan raut kesal. “Eh... maaf.” Eva menundukkan kepalanya, malu sendiri.
“Ia adalah... senior.”
Matsu sempurna melongo, bingung lebih tepatnya. Semua orang disana melihat Rizwan yang menghela napas dan menyandarkan kepalanya di dinding. “Sebelum aku diasuh oleh nenekku, ia yang merawatku, dijalanan. Berbaur dengan orang-orang keras, membuatku dibawah kendalinya. Ia adalah pendekar jalanan, tidak ada yang tahu nama aslinya. Kami memanggilnya senior sedangkan masyarakat memanggilnya sampah, dan dirinya sendiri menyebut pendekar. Usia kami selisih 12 tahun, ia adalah orang tertua yang memimpin jalanan. Ia yang mengajari kami bertahan hidup dengan cara yang hina”
“Ia mengajariku mencopet di bus, berlari sekencang mungkin ketika ketahuan polisi jalanan, mencuri, memukul...” Rizwan tercekat, ia menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangan. “Saat nenek mengambilku, senior menampakkan wajah benci. Ia sama sekali tidak menyapaku sejak saat itu, dan ia menghilang. Kutanya kepada teman-teman semasa di jalanan, mereka malah menjauhiku, bilang senior sudah lama pergi.”
“Aku sebenarnya sudah melupakannya, hingga ia kembali tepat dihadapanku. Meskipun wajahnya lebih tua dari sebelumnya aku masih mengenalinya...” Rizwan berdiri dan menatap dokter Tom. “Aku bersalah dokter Tom, ini pertarunganku. Sudah seharusnya pertempuran milikku dan.... kalian, kumohon jangan masuk kedalam pertarungan ini, aku tidak ingin melihat orang baik mati karena membelaku.”
“APA APAAN KAU INI?!” Karin kalap, berdiri tiba-tiba tetapi ia terjatuh, tangannya menopang lantai. Sarah berteriak histeris membantu Karin berdiri, tetapi yang ia rasakan berat. Karin pingsan, belum sempat mengutarakan argumen kontra-nya itu.
“Bawa ia ke UKS!” perintah dokter Tom.
Eva dan Sarah merangkul Karin menuju lift dan segera ke lantai atas. Ruang olahraga senyap, Rizwan menatap lift yang menghilang dari pandangan, sebelumnya ia melihat wajah pucat Karin. Ia hanya terdiam, menunduk membiarkan senyap yang menyelimuti ruangan olahraga.
“Kau berada dalam masalah anak muda, tetapi ini memang pertarungan kita semua, orang yang sebut senior itu sebenarnya adalah suruhan Black Dragon. Kau tidak tahu anak muda, tetapi aku bisa merasakan kejahatannya mulai mendekat.” tangan keriput dokter Tom menyentuh pundak Rizwan, tangannya yang hangat menetramkam itu sudah menghilang digantikan dengan dinginnya ketakutan.
Ruangan semakin senyap sementara dari kejauhan tepatnya diatas gedung yang tinggi, pendekar memapah Andrew, selendang Hannah berkibar pelan, mata mereka menatap tajam pada satu titik.
“Kini kita tidak tahu dimana tempatnya karena anak itu... aku tidak menyangka ia akan menjadi hebat sekali...” pendekar itu tersenyum tipis dan getir. “Aku yakin bos tidak akan menyukai ini tetapi kita harus segera memberitahunya.” selesai berkata seperti itu pendekar melesat menghilang.
Hannah menatap kesibukan kota New york, lalu ia mengayunkan selendangnya, melesat menghilang menyusul pendekar. Sementara itu matahari terbit, menyinari kota New york dengan pelan.
***
Gelap, gelap dan terombang-ambing. Tabrakan hebat membuat wanita itu sadar sepenuhnya. Matanya hanya menangkap gelombang hebat yang menerpanya, membawanya ke suatu tempat yang berlika-liku penuh dengan bebatuan. Tangannya terikat dengan sulur pohon, wanita itu tidak bisa bergerak. Ia merasakan sendi-sendinya patah, pasrah dengan kehidupannya yang akan berakhir.
Cahaya matahari perlahan-lahan menerpa tubuh indahnya yang malang, wanita itu menyipitkan mata karena merasa sedikit silau. Ia bergerak, tetapi tangannya terlepas dari sulur, ia kembali terombang-ambing dan punggungnya menabrak bebatuan. Sakit... perih.... tidak bisa dikatakan.
“Pegang tanganku!” terdengar suara yang menyadarkannya tetapi mana kuasa ia mengankat tangan, wanita itu merasa lemah. Tubuhnya timbul tenggelam tetapi seketika tangannya merasakan ditarik seseorang.
Orang yang menolongnya segera menariknya ke tepi sungai dan wanita itu merasakan pasir-pasir halus yang lengket di tubuhnya, dan lengannya yang basah.
“Bertahanlah, aku akan mencari bantuan.” orang itu berlari meninggalkannya, wanita itu merasakan harapan akan kembali itu, tetapi itu adalah harapan yang menyakitkan. Hidup sendirian tanpa orangtua, padahal ia sudah pasrah sekali dipeluk kematian.
“Astaga, siapa anak ini?!” terdengar suara serak yang mulai mendekatinya, disusul dengan langkah kaki yang begitu ramai.
“Bawa ia ke rumah sakit!” seru seorang wanita paruh baya yang memekik panik. “Bawa anak ini ke meja, lukanya begitu banyak!” perintah wanita itu.
“Dari manakah asalnya?” terdengar suara berat. Wanita itu berusaha bangun tetapi segera di tahan.
“Beristirahatlah, tubuhmu sedang sekarat.” terdengar suara orang yang menolongnya, wanita itu berusaha menatap siapakah yang menolongnya dari kematian. Wajah remaja lelaki itu terlihat samar di matanya, tetapi kemudian gelap.
***
“Sudah sadar, sekarang jika aku melarangmu keluar maka jangan keluar tetapi jika kamu melarangnya....” baru saja Karin membuka mata, suara Sarah menggelegar. Bukannya ditenangkan tetapi dimarahi supaya jera.
“Kak, hentikan!” terdengar Eva yang menahan mulut Sarah yang cerewet. “Kenapa memarahinya, ia sakit tidakkah kakak melihatnya.” Eva menunjuk Karin yang kin terduduk.
“Sakit gila.” berani sekali Sarah mendesiskan 2 kata itu kepadanya. Karin memegang kepalanya yang terasa pusing, entah kenapa sekitar ruangan seperti berputar pelan. “Kau seminggu ini istirahat, jangan keluar. Aku akan menjagamu!” marah Sarah sambil menunjuk-nunjuk wajah Karin, Eva diam-diam mundur, membiarkan Sarah memarahi Karin.
Perawat yang berlalu-lalang membawa sarapan meringis takut melihat ke-murkaan Sarah. “KAU DENGAR ITU?!” suara Sarah menggelegar dan Karin hanya mengangguk lemas, ia merasa di depannya adalah naga bukan manusia, siap menyemburkan api amarah kepadanya jika ia melawan.
***
“Ini benar-benar gawat.” dokter Tom meremas kepalanya, di depannya berserakan kertas-kertas lusuh yang ia ambil dari tas Karin, berkas-berkas yang memuat rancangan Sun Gun yang berbahaya.
“Ia jelas-jelas telah mendekati kota ini, apa yang harus kita lakukan?” tanya Jason yang membuat ayahnya semakin kalut.
Dokter Tom berdiri, tidak ada cara lain kecuali membakar kertas-kertas yang dihadapannya itu atau tidak kiamat besar akan menimpa dunia. Segera dikumpulkannya berkas-berkas itu dan di berikannya kepada Jason. “Bakar segera, Jason. Bakar!” perintah dokter Tom terdengar bergetar ketika menyerahkan kertas itu kepada Jason.
Jason menelan ludahnya, menatap ayahnya yang berkeringat dingin. “Kita tidak akan membakar kertas ini ayah. Lebih baik kita serahkan kepada pihak yang berwajib.” Jason menatap ayahnya dengan berkas di tangannya.
“Tidak, jangan diberikan mau bagaimanapun. Ia sanggup menyuap pihak-pihak yang kau sebutkan itu. Jangan, itu membuat urusan semakin runyam. Cepat kau bakar!” dokter Tom mendorong Jason ke lift dan mereka menuju ruang dapur.
“BAKAR SEGERA!” bentak dokter Tom ketika menghidupkan api kompor. Jason menelan ludah, belum sempat ia menaruhnya. Tangannya merasa ditarik, tergangga dirinya ketika melihat dokter Tom merobek kertas-kertas durjana itu dan dilemparnya ke api kompor membuat api menjalari ruang dapur untung saja seorang koki memadamkannya dengan alat pemadam yang berada di sudut dapur.
Dokter Tom mengelap peluhnya, menghembuskan napas lega tetapi sayangnya adayang melihat perbuatannya, matanya menatap nanar benda yang sudah dibakar itu, tangannya yang membawa segelas air putih bergetar, seharusnya ia berada di ruang UKS. Tetapi mungkin takdir, ia merasa haus dan tidak ada Sarah disampingnya karena ingin mandi, terpaksa ia menuju dapur sendirian, karena perawat pun tidak ada.
“KALIAN APAKAN KERTAS-KERTAS MILIKKU?!” suara itu menggema, koki hampir menjatuhkan alat pemadam sedangkan dokter Tom dan Jason membeku. Tidak ada yang berani bersuara, lalu terdengar tangisan dan suara besi jatuh.
***
Black Dragon tersenyum, ia melangkah tenang melewati Pendekar, Hannah dan Andrew yang membungkuk hormat. Melihat kesibukan kota lewat dinding kaca. “Aku tidak menyangka bahwa dokter Tom mempunyai anggota yang hebat. Bahkan ia hampir saja menghabisi ksatria berbaju besi.”
Andrew mengeluarkan keringat dingin, ksatria berbaju besi adalah julukannya. “Maafkan aku, dia terlalu kuat, tuan.” katanya dengan suara lemah dan bergetar.
“Ya, ya, ya, aku tahu. Sepertinya kau lebih tahu pendekar, tentang anak muda yang melawan kalian, benarkah itu?” Black Dragon membalikkan badannya, mendekati pendekar yang kini menatapnya jeri.
“Ia adalah temanku, teman di jalanan.” katanya terbata-bata. Black Dragon tersenyum sinis ketika mendengar perkataan itu.
“Dari teman jadi lawan.” ejeknya sambil mengankat dagu pendekar. “Tapi sebaik-baiknya teman adalah mengetahui kelebihan dan... kekurangannya.” usai berkata seperti itu, jari telunjuk Black Dragon menyentuh pundak pendekar, menatap telunjuknya itu dengan seksama dan menciumnya.
“Jackpot.” ia tersenyum senang. “Setidaknya ada harapan.” ia menepuk-nepuk pundak pendekar.
“Suruh Scorpion untuk menyembuhkan Andrew, dan bisakah kau lepas mantelmu. Aku akan membawanya ke Mata hijau siapa tahu kita mendapatkan tempat itu...” senyum Black Dragon. Mau tidak mau pendekar melepas mantel gelapnya itu.
Black Dragon berjalan tenang menuju lift sambil membawa mantelnya. Pendekar menelan ludah, aura Black Dragon masih tersisa pekat di ruangan, aura kegelapan. Sebuah tangan lembut menyentuh pipinya, Pendekar menoleh. Menatap Hannah dan matanya yang berkilat-kilat.
“Ia melukaimu...” lirihnya, Pendekar tersenyum getir, tangan kekarnya menggenggam kuat tangan Hannah.
“Kita akan membalasnya...” hibur Pendekar, Hannah tersenyum tipis. Bibirnya mencium lembut pipi Pendekar yang terdapat bekas luka.