bagian 16

1466 Kata
“Kau membuat kesalahan fatal, Karin.” suara Jason tercekat sambil menahan langkah Karin, tangannya terentang. Mata Karin sembab, sudah berkali-kali ia menangis, kenapa hari ini dia cengeng sekali. “Untukmu...” Karin berdesis, mendorong Jason agar membuka jalan. Tetapi Jason malah mencengkram tangannya, berusaha menahannya pergi. Wajah dokter Tom pucat, seluruh anggota 7 ksatria hanya terdiam melihat adegan di depan mereka, Rizwan bersedekap tangan, menatap perih Karin yang terisak. “Aku tidak akan membiarkanmu pergi, Karin. Tidak akan, kenapa ayahku membakar kertas-kertas itu, ini bukan untukku, bukan untuk keselamatan markas the Secret Basecamp tetapi juga untuk dunia. Kumohon, mengertilah Karin, niat ayahku tidak seburuk itu.” Jason berlutut, matanya berkaca-kaca, Rizwan berdecak bersama Matsu yang menggeleng, mereka seperti menonton sinetron saja. “Aku harus pergi...” lirih Karin sambil melepas genggaman Jason. Karin terdiam, tetapi Jason bisa merasakan tangannya mengeras. Karin melepaskan tangan Jason, matanya menatap nanar, beginikah seorang pemimpin. “Maafkan aku...” Karin berjalan terseok-seok menuju lift, menatap dokter Tom yang hanya bisa menunduk, anggota 7 Ksatria yang menatapnya sedih, para tentara yang wajahnya mengeras dan Jason yang terduduk. Lift bergerak naik, menghalangi pandangan Karin. Karin bersandar di dinding lift, ia tersedu sedan. Tangannya menggenggam kuat tas ranselnya, ranselnya yang ringan karena sudah tidak ada lagi barang disana kecuali uang lusuh. Ia telah kehilangan benda yang dijaga, ia merasa seperti tak kuat menjaga amanah saja, menjaga dunia dari bahaya, seperti kata ibunya. *** “Kau gile ke.” Rizwan menatap nanar Jason yang menunduk. “Kertas yang ayah kau bakar tu, bisa membuat markas dan dunia ni celaka, tak kah kau pikir tu, boi.” Rizwan mengacak rambutnya sendiri, pusing benar ia. Jason menunduk tak mampu berkata-kata. “Macam mana ni, Rizwan. Memang salah aku tak tahan ayahku, tapi cuma itu satu-satunya harapan tuk selamatkan dunia ni.” Jason berkata lirih, mendekati Rizwan yang mengurut d**a. “Kau tolong lah aku, macam mana nak balik semua ni?” Jason menggoyangkan lengan Rizwan. Rizwan menatap Jason yang memelas, Matsu yang dari tadi duduk di kursi hanya bisa menatap ‘drama’ di depannya. “KITA HARUS MENYUSUL KARIN, SEKARANG!” Rizwan mencengkram tangan Jason, entah kenapa ia merasakan firasat buruk yang akan terjadi pada Karin. *** Karin hanya menatap kota New york untuk terakhir kalinya, bus antar kota melaju pelan ke arah bandara. Ada yang tengah membaca koran, mendengarkan musik lewat headset-nya, berbicara dengan orang yang disampingnya, tetapi Karin justru sibuk dengan kesendiriannya, beragumen dengan hatinya. “Kau benar-benar bodoh, Karin. Itu adalah benda berhargamu, sekarang apa yang kau dapat dari mereka, tidak ada. Bawa dendammu!” separuh hatinya membentak Karin. Mengeluarkan sumpah serapah kepada dokter Tom, Jason, kalau perlu seluruh anggota the secret basecamp. “Tidak, mereka menahanmu. Kau akan membuat masalah semakin rumit Karin!. Jason mungkin benar, kenapa pula kau harus menangisi selembar kertas yang membahayakan dunia, bukankah kamu dulu juga pernah membaca rancangan itu. Rancangan yang justru membuatmu mati-matian lari dari semuanya, mereka menyelamatkanmu juga dunia.” separuh hatinya yang berlagak malaikat juga menyalahkannya, k*****t dengan semua itu. Karin membatu. Bus berjalan tenang melewati kota, kabut tipis mulai turun, Karin tersadar akan sesuatu. Supir yang asyik bersiul tersentak kaget ketika seorang lelaki bertopeng layaknya Batman berdiri di tengah jalan, seolah muncul tiba-tiba. Supir menginjak rem, membuat ban berdecit. Beberapa penumpang berteriak kaget, kepala Karin menabrak bangku di depannya. Belum sempat mereka menenangkan diri, bus terpental. Orang yang menghalangi jalan mereka meninju bus dengan tangan kosong. Karin terguling-guling sambil memeluk tasnya, semuanya gelap. *** “Rizwan, apa kau yakin?” Jason memegang bahu Rizwan kuat-kuat. Rizwan menyipitkan mata, tangannya memegang setang, matanya fokus menatap ke depan. Ia menggeber gas kencang-kencang, honda Harley Davidson melesat kencang di tengah-tengah kota New York. “Jangan sampai kau merusaknya!” “Pegang erat-erat!” Jason memeluk Rizwan dan mereka berdua menunduk, mereka melesat bagai kecepatan peluru yang ditembakkan, rambut Jason sedikit menegang, kulit pipinya bergoyang sedangkan Rizwan fokus menyetir. Harley Davidson yang tangguh itu keluar dari kota New York, Rizwan menatap bingung. Asap-asap bertebaran, garis polisi dimana-mana, hei apa yang terjadi?. Rizwan memelankan motor Harley milik Jason, turun dengan raut wajah tidak percaya. Mobil-mobil polisi terparkir di sembarang tempat, suara sirine ambulan menyemarakkan suasana, tandu-tandu di turunkan. Begitu banyak korban bergelimpangan, ada yang merintih, ada yang terluka parah, ada yang tidak bergerak sama sekali. Ada juga yang selamat dan mengalami luka ringan, berusaha memberikan informasi yang cukup bagi polisi untuk menemukan bukti-bukti. “Aku tidak tahu apa-apa, ma’am. Bus terpelanting begitu saja, aku benar-benar shock mengalaminya. Ada orang, bertopeng, berbaju seperti hijau zamrud, memukul bus dengan tangan kosong.” ucap sang korban dengan bergetar. Polisi wanita yang mendengar hal itu segera mencatatnya di buku notes. “Dia pasti disini...” Rizwan berlari, menembus garis polisi menatap korban-korban yang bergelimpangan, tetapi tak ada Karin. Ia melihat Jason yang bertanya-tanya keberadaan Karin, tetapi para polisi menggeleng. “Tidak ada korban wanita yang berhijab, nak.” lirih seorang polisi, “Kami bahkan begitu terkejut mendapat kejadian seperti ini, seluruh arat perekam mati total saat kejadian, begitu juga CCTV, tidak berguna sama sekali. Semuanya gelap total, dan kembali hidup ketika keadaan sudah hancur seperti ini. Dan kami benar-benar tidak tahu siapa pelakunya.” Jason menggaruk kepalanya yang tidak gatal, urusan semakin runyam. Sementara Rizwan masuk ke dalam bus yang terbalik, ia menatap tajam sekeliling dan berhenti di salah satu bangku baris ketiga, ia berjongkok. Menatap sesuatu, perlahan-lahan tangannya menyapu bangku itu. Darah berwarna merah ungu. Ia menoleh ke belakang, jejek sepatu Karin membekas. Dan ada ransel tergeletak di luar bus, tas ransel milik Karin. Segera ia minta seorang perawat untuk meminta suntikan, ia mengambil sampel darah berwarna sedikit ungu merah itu. “MARI JASON, KITA BAWA KE DOKTER TOM!” seru Rizwan sambil berlari. Harley Davidson meraung kencang meninggalkan tempat kejadian. Para polisi dan perawat saling pandang, siapa kedua pemuda itu?. *** Karin terbangun, kepalanya nyeri. Tetapi dimanakah ini? Gelap, ia menyadari bahwa tangannya diikat, mulutnya tertutup begitu juga dengan matanya, gelap. Ia merintih, napasnya sesak apalagi plesternya yang membekap mulutnya juga menutupi hidungnya. Terdengar langkah pelan, gerakan merintih Karin terdiam. “Halo gadis manis,” terdengar suara wanita, tetapi siapakah itu. “Kau terlihat sangat menderita, benar sekali bukan?” suara itu menjadi berat. Karin merintih pelan, plester yang membekap mulutnya di buka cepat, meninggalkan bekas kemerahan. “What do you want?” desisnya ketika tangan itu membuka plester menutup matanya. Menatap jelas wanita yang bermata Hijau di depannya. “Kau tahu, brave girl. Aku tidak menginginkan apapun darimu kecuali informasi. Katakan, dimana the Secret Basecamp?” wanita bermata hijau itu mendesis. Karin bungkam, tangannya mengeras, giginya beradu. “Kau marah, Brave girl?” tanya wanita itu meremehkan. “Harus kuakui kamu lebih dari sekedar berani, kamu gadis yang nekat dan ceroboh. Tiada guna.” wanita itu berdiri, berkacak pinggang di hadapan Karin. “Well, nikmati tempat barumu!” ia tersenyum, membuka penutup jendela, cahaya matahari masuk kesana. “Selamat datang, di kota tuhan...” wanita itu meninggalkan Karin begitu saja, mengunci pintu baja, menyekap Karin di dalam sana. “WAIT!” Karin berteriak histeris, ia berdiri (kakinya tidak terikat) dan mendobrak pintu baja itu, tetapi percuma karena pintu baja yang sangat keras, bahunya sampai sakit. Dengan langkah tertatih-tatih Karin mendekati jendela, matanya menatap kota dihadapannya. Gedung-gedung pencakar langit menjulang. Karin merintih di dalam hati, di manakah ia berada?. Sementara pesawat yang ia tumpangi mulai mencari pendaratan. *** “Ya, memang benar Karin, darahnya telah tercampur dengan sampel, membuat sel baru dan gen baru sehingga darahnya berwarna seperti itu...” dokter Tom melepas kacamatanya. “Ini buruk, ia diculik...” “Yang benar saja, bisakah kau melacaknya?” tanya Rizwan. Dokter Tom berpikir lalu menggeleng. “Pelacaknya sudah berada di ransel, dan aku tidak tahu kalau benda itu akan tertinggal disana. Ia raib begitu saja. Tetapi ada peluang untuk tahu dimana ia berada....” dokter Tom kembali ke komputernya, tangannya lincah mengetik sesuatu. Jason dan Rizwan mendekat agar bisa menatap layar. “Sampel yang aku suntikkan membuat sel baru pada tubuh Karin. Ia seolah-olah berubah... oleh karena itu tubuhnya mampu membuat senjata yang Tim buat kembali kepadanya. Saat ia marah Adrenalinnya terpacu dan gen-gennya bertransformasi sehingga ia menjadi senjata yang kuat. Dan aku tahu busana Tim dan senjatanya memiliki pelacak. Dan saat adrenalinnya terpacu maka...” “Pelacaknya aktif, oleh sebab itu pedang yang seharusnya berada di Secret Basecamp berada di tangannya. Insting petarungnya aktif...” jelas Rizwan melanjutkan. “Ya, luar biasa kan. Aku sendiri tidak menyangkanya.” dokter Tom berseru senang. “Aku yakin jika ada bahaya di sana, maka Karin mengeluarkan insting petarungnya, memompa adrenalin sehingga senjatanya ke tempatnya. Dan pelacaknya hidup... and we can’t find them!” “Yeah, brilian!” Jason berseru sambil mengepalkan tangannya. “Untuk sementara, kamu menjadi pemimpin untuk 7 ksatria.” dokter Tom menunjuk Rizwan, Rizwan mengangguk tidak membantah seperti Karin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN