Bagian 17
Karin ditarik keluar oleh wanita yang tadi menyekapnya, ia memberontak tetapi akhirnya mata terpesona. Gedung baja dimana-mana, dan banyak sekali tentara yang memakai seragam hitam hijau berlalu lalang, ada juga beberapa orang yang memakai baju ketat berwarna hitam, menampakkan lekak-lekuk tubuh mereka.
“Dimana aku?” Karin bertanya-tanya dalam hati.
Terlihat beberapa orang yang terkejut melihat wajah Karin. “Hei, kenapa matanya seperti itu?” bisik seorang perempuan. “Entahlah, mungkin bos merekrutnya sebagai anggota baru.” perempuan itu mengankat bahu, memutar tongkat besi ditangannya.
“Hei, kau tahu. Sebagai perempuan yang nekat, yang satu ini jangan berbuat hal-hal seperti itu. Atau kau akan menyesal.” wanita itu mendesis di telinga Karin, tangannya menggenggam kuat siku Karin sehingga Karin meringis pelan.
“Kau pikir kau siapa?” tanya Karin kasar, meskipun ia menjaga inotasi suaranya dengan tidak terlalu keras. Wanita itu tersenyum meremehkan, mereka memasuki gedung baja berbentuk segitiga, seperti hotel berhantu di Korea.
“Kau juga akan tahu.” katanya sambil menarik kasar lengan Karin. Mereka berhenti di tengah-tengah ruangan. Tidak ada ruangan lain kecuali orang-orang berlalu lalang, tetapi anehnya gedung ini memiliki ruang bertingkat-tingkat.
“Tunggu, tidak ada lift, bagaimana kita bisa... waw!!!” Karin hampir terjatuh, untung saja wanita disampingnya mencengkram lengannya. Lantai yang mereka pijak melayang dan bergerak naik.
“Kau tahu, gadis nekat. Kau berada di tempat yang tidak di ketahui orang lain, dan kau jaga ucapanmu, hidup dan matimu di tangannya.” kata wanita itu sambil menatap dingin Karin, Karin menelan ludahnya sendiri.
Lantai melayang sampai menuju puncak segitiga, seluruh ruangan itu berwarna biru gelap. Tidak banyak properti diruangan ini kecuali TV model terbaru yang diletakkan langsung di dindingnya, dan senjata-senjata sebagai pelengkap properti.
Mata Karin hampir meloncat keluar ketika dirinya melihat 5 sosok yang menunggunya mungkin juga wanita disampingnya. Ia seolah melihat hantu masa lalu, sedangkan wanita yang berselendang yang dahulu bertarung dengan Karin tersenyum kecut. Pendekar yang melihat kedatangan Karin mengucek matanya, mengira ia salah lihat. Sedangkan Black Dragon melangkah tenang ke arah Karin dan berhenti ketika mereka berjarak 2 langkah lagi, menatap dingin Karin.
“Kau bisa melepasnya, Mata Hijau.” perintah Black Dragon.
Wanita yang diberi nama aneh itu mengangguk, melepaskan ikatan ditangan. “Tetap menunduk dan jawablah apa yang ia tanyakan.” bisik Mata Hijau di telinga Karin.
Karin terdiam ketika Mata Hijau menjauhinya, bergabung dengan kelompoknya. Sama-sama mengamati apa yang dilakukan bos mereka terhadap Karin. “Jadi, aku tidak suka berbasa-basi. Katakan dimana tempatnya...” Black Dragon berdesis.
“Apa masudmu?” tanya Karin bergetar.
“Menurutmu aku seperti anak kecil, bodoh, dan tak punya otak. Biar aku tanya sesuatu, apa yang kau lakukan sampai tidak menghormatiku, nona manis?”
Karin memundurkan kepalanya ketika Black Dragon mendekatkan wajahnya. “Wanita yang membawamu kemari, ia tahu kau adalah gadis pintar untuk merubah percakapan. Jadi jangan membohongiku, atau kita akan berdansa.” Black Dragon menyentuh dagu Karin dengan wajah kekarnya.
“Itu... itu...” Karin berpaling, terlihat dari wajahnya bulir-bulir keringat berjatuhan deras ketika berada di dekat orang yang dihadapannya.
Black Dragon tersenyum, sedangkan 5 orang yang berada di belakang memasang wajah tegang. “Aku tidak bisa menjawabnya.”
“Jawaban yang salah... jawablah, ini kesempatan terakhirmu untuk hidup.” wajah Black Dragon mengeras, kini ia mulai serius.
Karin menatap Mata Hijau dengan wajah memelas. Ia mengepalkan tangannya tetapi akhirnya ia menggeleng. “Aku tidak ingin mengatakannya!” suara Karin terdengar seperti berseru pelan.
“Apa?” Black Dragon menyipitkan mata.
“AKU TIDAK AKAN MENGATAKANNYA, BODOH!” Karin membentaknya, membuat 5 orang dihadapannya saling memasang wajah terkejut, memandang yang berada di sampingnya.
“Percuma kau menyembunyikan dimana tempatnya, waktu akan merubahnya, suatu saat aku akan mengetahuinya.” Black Dragon berdiri, merapikan lengan jasnya, Karin menutup matanya. “Selamat tinggal, nona manis.” telapak tangannya terbuka.
Karin membuka matanya cepat, matanya bersinar ungu. Dan dari tangannya muncul sebuah pedang, dengan cepat ia berdiri lalu mengiris telapak tangan Black Dragon, membuat pemuda yang hampir membunuhnya itu berteriak kencang sambil memegangi telapak tangannya yang berdarah, menetes dan mengotori lantai.
Karin berlari, ia tahu kini 1 detik sangat berharga baginya. Black Dragon berdesis sambil menunjuk Karin yang kini sudah memutar kakinya di lantai dan turun. “Tangkap dia!”
Karin melompat, bahkan sebelum lantai yang ia naiki mendarat. Tubuhnya melayang bebas lalu mendarat mulus, membuat orang-orang yang berada di dekatnya menghindar. Baju yang dikenakan Kari mengeluarkan selarik cahaya dan dalam sekejap bajunya berubah menjadi baju mantel berwarna hitam.
Dari belakang ia melihat Hannah yang menyerangnya menggunakan selendang, Karin bersalto dan berkelit. Menebas selendang Hannah dengan pedangnya, dari sampingnya melesat sebuah tombok tetapi Karin melompat dan berjalan tepat di atas tombak itu dan melompat keatas gedung.
Sepatunya yang berwarna hitam kini menjadi sepatu bot, membuatnya bisa melompat tinggi. Mata Hijau dengan cepat merayap di gedung, mengejar Karin. Sedangkan Hannah mulai melesatkan selendangnya, Pendekar dan Andrew berdecak kesal. Segera pergi ke dalam gedung untuk menaiki lift.
Seorang yang memakai baju hitam menatap ke-empat temannya dan juga Karin yang berada di atas. Dari tangannya muncul jarum-jarum, dengan cepat ia melemparnya dengan kecepatan kilat. Karin berseru, dari tangannya keluar tameng berwarna biru. Memantulkan jarum-jarum dan mengenai leher Mata Hijau.
Wanita itu berteriak dan seketika terjatuh dari gedung. Karin yang kini berada di atas atap bisa melihat wanita itu sekarat, merintih pelan seolah-olah membawa kesakitan yang amat sangat. Kesakitan yag belum pernah ia rasakan. Jarum itu memiliki racun dan dalam beberapa menit Mata Hijau sudah pergi ke dunia lain.
“SCORPION, BERHATI-HATILAH!” jerit Hannah. Lelaki yang dipanggil Scorpion itu hanya menatap dingin mayat Mata Hijau di depannya lantas menatap Karin yang terpojok karena kemunculan Andrew dan pendekar yang keluar dari pintu darurat, ia berbalik tetapi Hannah juga sudah berada di depannya. Ia terpojok, Karin memutar pedangnya. Memasang wajah waspada.
Pendekar mulai mengeluarkan 2 tombak di tangan kanan dan kirinya, sedangkan Andrew mengeluarkan pedang, dan Hannah memutar selendangnya. “Lebih baik jangan menyerangku atau kalian membuat kesalahan besar?”
“I guest...” Hannah tersenyum, lantas menyerangnya dengan selendang. Pendekar melempar tombaknya sedangkan Andrew berlari menyerangnya. Karin bersalto menghindari tombak Pendekar, menebas selendang Hannah dan menahan serangan Andrew dengan tameng.
Ia mulai menyerang Andrew dengan pedangnya sehingga beradu, bunyi besi terdengar keras. Dari bawah Scorpion memunculkan anak panah dari tangannya, mengambil busur silang yang berada di balik punggungnya. Ia menyipitkan mata, mulai memasang wajah fokus lantas membidik Karin bahkan tanpa Karin ketahui karena ia sibuk dengan 3 orang yang menyerangnya.
Panah itu dengan cepat berada di dekat Karin.
Karin berseru perlahan tetapi ia merasakan sebuah tangan mendorongnya hingga panah itu tidak mengenainya. Ia menatap orang yang kini berdiri tegap di hadapannya, memegang anak panah yang hampir membunuhnya.
“Guru...” Karin berseru tertahan. Rizwan melompat dan menendang anak panah hingga melesat menuju Scorpion, Scorpion memiringkan kepalanya, anak panah itu meleset hanya 2 senti darinya. Mata Rizwan dan pendekar beradu, saling menebar kebencian. Belum sempat mereka menyadarinya, Rizwan menarik tangan Karin dan melompat keluar gedung, meluncur turun.
Pendekar dan Hannah berseru, segera mengejar tetapi dengan cepat mereka menemukan kekosongan, tidak ada tanda-tanda pergerakan. “Anak muda yang hebat....” geram pendekar.
“Oh, where are they?” tanya Hannah sambil mencengkram pembatas gedung.
“There gone...” lirih Andrew.
“There gone and we dead....” pendekar membalikkan badannya ke pintu darurar diikuti Andrew, Hannah masih menatap tajam ke jalanan dan menghembuskan napas kesal, sepertinya 2 orang itu benar-benar menghilang.
***
Sebuah Jeap melaju kencang di daerah Savana. Eva fokus menyetirnya, menginjak gas dalam kecepatan penuh sedangkan disampingnya Jason terdiam. Rizwan mengambil tisu basah. “Bersihkan wajahmu...”
Karin mengelap mukanya yang kotor. Keringatnya bermunculan, menyadarkan punggungnya ke sandaran. Rizwan meminum air mineral lantas memberikan kepada Karin. “Minumlah, setidaknya membuat tenang untuk sementara.” senyumnya. Karin mengangguk pelan.
“Aku tidak menyangka ada kota di tengah-tengah gurun kering. Bahkan tempat itu tidak bernama dan tidak terlihat oleh satelit, seolah-olah ada bayangan yang melindunginya sehingga setiap negara tidak mengenal mereka,” Jason menyentuh tabletnya. “Luar biasa, bukan?” tanyanya ke arah Eva.
“Itu berada di luar nalar manusia, Jason. Seolah-olah kota itu dibuat untuk sesuatu...” Eva tetap fokus menyetir. “Tetapi kau tahulah, aku sangat menyukai film-film mafia, aksi, laga atau sebagainya. Membaca novel misteri. Dan aku yakin kota itu dibuat dengan sengaja untuk melakukan sesuatu sehingga jauh dari negara lain....”
“Tunggu ulangi perkataanmu, Eva.” Jason menatap Eva serius.
“Aku kata, kota itu dibuat dengan sengaja untuk melakukan sesuatu sehingga jauh dari negara lain kota itu dibuat dengan sengaja untuk melakukan sesuatu sehingga jauh dari negara lain.” kesal Eva.
“Apakah sesuatu itu?” Rizwan mulai berpikir sedangkan Jason pucat.
“Pasti untuk percobaan itu, THE SUN GUN!” Jason meremas rambutnya.
***
Black Dragon menatap bekas luka di tangannya. “So, she run and you lose them?” ia bertanya dingin.
Tidak ada jawaban, keadaan senyap. Bahkan suara angin pun tidak terdengar. Black Dragon berdiri lantas mengambil sebuah vas dan menghancurkan dengan tangan kosong sehinggapecahan-pecahan kaca itu berhamburan dilantai dan melukai tangannya. “Dan kalian bahkan membunuh Mata Hijau.”
Scorpion hanya diam, wajahnya tidak menampakkan ketakutan tetapi kedinginan yang luar biasa. Ia menatap tangannya yang terluka lantas mengepalkannya, darah-darah yang mengotori tangannya menghilang begitu juga dengan bekas lukanya. “Mereka tidak tahu berhadapan dengan siapa.”
Ia berjalan ke arah Hannah yang menggendong mayat Mata Hijau. Ia berjongkok dan menatap Mata Hijau lantas mengusap wajahnya. “Kembalilah, gadis malang.”
Hannah menatap jeri temannya yang diselimuti asap lantas, temannya yang seharusnya berada di dunia lain kembali hidup. Matanya gelap, Black Dragon mengelus pipi Mata Hijau. Lantas menatap Scorpion. “Katakan dimana mereka?”
Bagian 18
Eva adalah perempuan aneh, dilain sisi ia begitu gila, tetapi di sisi lain. Sisi yang tidak ada dalam cerita, ia menjadi sosok yang tegas, menjadi serius kalau waktunya benar-benar tepat. Pamannya mengatakan dirinya sebagai pemboros, wanita nakal tetapi lihatlah, mata Eva yang dulunya mengerjap-ngerjap bagai mata gazelle sudah menjadi tatapan Elang.
“Kita sudah sampai!”
Karin menatap camp yang berada di depannya, ada mobil jeep dan mobil kontainer khusus tentara. “Kita harus pergi!” Jason turun dari Jeep, meneriaki anggotanya di Camp. Tentara-tentara yang sibuk minum,mengobrol, main kartu dan mengelap senjata, segera berdiri dengan cepat mendengar perintah itu.
“Siap!” semuanya melompat ke jeep dan kontainer, langkah mereka cepat. Dalam sekejap tenda darurat itu tidak ada di pandangan Karin lagi, jejak-jejak, bekas minuman, sampah semuanya dibersihkan seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Jeep yang dikendarai tentara Rusia berjalan paling depan, disusul dengan kontainer. Jeep yang dikendarai Eva berada di tengah-tengah, dibelakang mereka juga ada kontainer dan 2 jeep. Iringan mobil itu berjalan tangguh di padang savana.
Eva menatap waspada dari belakang, Jason mengelap senjata revolvernya lantas mengeluarkan sesuatu dari koper yang berada dibawah kakinya. Lantas mengambil pistol colt dan mengisi peluru.
“Kau tahu, kali ini jangan berbuat gegabah atau hal yang berbahaya akan terjadi.” Jason melempar pistol colt itu ke belakang, Karin meraihnya dan menatap Jason dengan kesal.
Belum sempat ia membicarakan kekesalannya, jeep yang berjalan paling depan meledak, orang yang didalamnya tewas seketika. Eva menginjak rem, kepala Karin dengan keras menabrak kursi Jason.
“Turun!” seorang tentara yang mengemudia kontainer dengan cepat turun dengan senjatanya, seluruh tentara melakukan hal yang sama, tiarap dibawah mobil sambil memegangi senjata.
“Ambil AK-47, Jason!” bentak Eva, perempuan yang biasanya jahil menjadi seperti Elang yang ganas setelah turun dari Jeep, mereka semua tiarap. Entah darimana asalnya ada yang menembaki mereka dari kejauhan.
“Sniper...” desis Rizwan sambil menatap teropong yang entah darimana ia mendapatkannya. Jason buru-buru menaiki mobil jeep dengan hati-hati sedangkan peluru mulai berdesing diatas kepalanya.
Ia mengambil kopernya dan melemparkannya kepada Eva, Eva dengan gesit mengisi peluru dan membidik salah satu sniper dengan cepat dan akurat. “We are attack!” desisnya.
“Aku akan memanggil bala bantuan.” Jason meraih walkie talkie dari sakunya. “Check, kami diserang. Check, check kalian dengar kami diserang kirimkan bala bantuan, ganti.”
“Kami akan segera kesana, ganti!”
“Hurry, Jason out!” Jason mengembalikan