bagian 18

1493 Kata
Eva adalah perempuan aneh, dilain sisi ia begitu gila, tetapi di sisi lain. Sisi yang tidak ada dalam cerita, ia menjadi sosok yang tegas, menjadi serius kalau waktunya benar-benar tepat. Pamannya mengatakan dirinya sebagai pemboros, wanita nakal tetapi lihatlah, mata Eva yang dulunya mengerjap-ngerjap bagai mata gazelle sudah menjadi tatapan Elang. “Kita sudah sampai!” Karin menatap camp yang berada di depannya, ada mobil jeep dan mobil kontainer khusus tentara. “Kita harus pergi!” Jason turun dari Jeep, meneriaki anggotanya di Camp. Tentara-tentara yang sibuk minum,mengobrol, main kartu dan mengelap senjata, segera berdiri dengan cepat mendengar perintah itu. “Siap!” semuanya melompat ke jeep dan kontainer, langkah mereka cepat. Dalam sekejap tenda darurat itu tidak ada di pandangan Karin lagi, jejak-jejak, bekas minuman, sampah semuanya dibersihkan seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Jeep yang dikendarai tentara Rusia berjalan paling depan, disusul dengan kontainer. Jeep yang dikendarai Eva berada di tengah-tengah, dibelakang mereka juga ada kontainer dan 2 jeep. Iringan mobil itu berjalan tangguh di padang savana. Eva menatap waspada dari belakang, Jason mengelap senjata revolvernya lantas mengeluarkan sesuatu dari koper yang berada dibawah kakinya. Lantas mengambil pistol colt dan mengisi peluru. “Kau tahu, kali ini jangan berbuat gegabah atau hal yang berbahaya akan terjadi.” Jason melempar pistol colt itu ke belakang, Karin meraihnya dan menatap Jason dengan kesal. Belum sempat ia membicarakan kekesalannya, jeep yang berjalan paling depan meledak, orang yang didalamnya tewas seketika. Eva menginjak rem, kepala Karin dengan keras menabrak kursi Jason. “Turun!” seorang tentara yang mengemudia kontainer dengan cepat turun dengan senjatanya, seluruh tentara melakukan hal yang sama, tiarap dibawah mobil sambil memegangi senjata. “Ambil AK-47, Jason!” bentak Eva, perempuan yang biasanya jahil menjadi seperti Elang yang ganas setelah turun dari Jeep, mereka semua tiarap. Entah darimana asalnya ada yang menembaki mereka dari kejauhan. “Sniper...” desis Rizwan sambil menatap teropong yang entah darimana ia mendapatkannya. Jason buru-buru menaiki mobil jeep dengan hati-hati sedangkan peluru mulai berdesing diatas kepalanya. Ia mengambil kopernya dan melemparkannya kepada Eva, Eva dengan gesit mengisi peluru dan membidik salah satu sniper dengan cepat dan akurat. “We are attack!” desisnya. “Aku akan memanggil bala bantuan.” Jason meraih walkie talkie dari sakunya. “Check, kami diserang. Check, check kalian dengar kami diserang kirimkan bala bantuan, ganti.” “Kami akan segera kesana, ganti!” “Hurry, Jason out!” Jason mengembalikan walkie talkie kedalam saku. “Mereka mendekat, Jas.” Eva terus menembak, tentara-tentara yang terkena tembakan berguguran. Jason bergumam, berdiri dengan cepat dan segera memuntahkan peluru revolvernya lalu kembali tiarap. “Sialan mereka banyak sekali!” Karin melepas tembakkan, wajahnya kembali berkeringat dan kotor. “Kenapa mereka mengetahui dimana kita berada?” geramnya. “Apakah ada pelacak pada tubuhmu Karin?” tanya Rizwan tercekat. Karin dan Jason saling memandang, sampai akhirnya ia mengankat bahunya. “Mustahil mereka mengetahui dimana kita berada kecuali ada benda itu ditubuhmu.” Jason dengan menyebalkannya menarik kerah baju Karin, lantas membuka mantelnya. Mencoba mencari dimana pelacak, sedangkan Rizwan mulai memeriksa leher, tangan, perut dan kaki Karin dengan meraba-rabanya. “Tidak ada, Jason!” Rizwan berseru di tengah-tengah kancah ‘peperangan’. “Sial!” Jason melempar mantel ke arah Karin dan menembakkan peluru revolvernya. “Aku kehabisan peluru!” ia kembali tiarap. “Aku juga, Jas!” Eva berdesis sambil membidik. Walkie Talkie Jason berkedip merah. “Jason, kami kehilangan kontak dengan 3 pasukan penyelamat. Sepertinya mereka diserang di tengah perjalanan. Kecuali kontak dengan pasukan penyelamat terakhir, berdoalah kepada tuhan agar mereka sampai!” Wajah Jason menjadi pucat. Eva melindungi kepalanya sambil membuang senjatanya. “Gila, peluruku sudah habis Jason, banyak tentara yang tewas.” Eva berseru, ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Jason berdecak, pelurunya sudah habis begitu juga dengan Karin yang meninju seorang lawan lalu mematahkan lehernya tanpa ampun. “Ayolah!” Jason berseru dalam hati. Entah darimana asalnya lagu Rock membahana disekitar mereka, terdengar keras di antara suara desingan peluru, lawan mereka menghentikan kegiatannya melihat keatas. Sebuah helikopter melaju melewati mereka, menerbangkan debu yang pekat. Lagu gitar mulai terdengar, dan senjata mereka menghilang seolah ada yang menariknya. Seseorang melompat dari helikopter sambil membawa sesuatu yang panjang. Eva mengetahui irama cepat lagu itu, lagu Faith yang dinyanyikan oleh Stevie wonder itu berdentam keras, membahana. Eva berseru senang sambil mengepalkan tangannya, Jason menatap Eva tidak mengerti. Karin menyipitkan matanya, kepulan debu seolah-olah menghilang cepat ketika helikopter melayang diatas kepala, debunya malah masuk mata Jason. Vierra yang kini memakai baju hijaunya meliuk-liuk sambil memutar rantainya. Melemparkan senjata lawan lantas menyerangnya, Rizwan meringis ngeri ketika korban yang mengenai rantai tajam Vierra hancur tubuhnya. Ada yang terlepas kepala dari tubuhnya, kehilangan 2 kaki dan usus terburai dari perutnya. Yang masih mempunyai senjata mulai menembak kearah Vierra. Tetapi hanya ada suara tercekik lantas beberapa orang berguguran. Temannya menatap heran tetapi akhirnya tergeletak di tanah ketika benda tajam menusuk lehernya, sebuah shuriken. “I GOT FAITH!” lagu Faith membahana disertai dengan kemunculan seseorang yang melompat dari helikopter. Siapa lagi kalau bukan Matsu yang melemparkan shuriken. Kemunculannya diiringi dengan anak-anak panah yang langsung menancap di leher lawan. Sarah tersenyum di dalam helikopter, matanya terus dengan tajam melihat sasaranya lantas membidik anak panahnya, anak panah yang hebat itu berhasil mengenai leher orang tetapi akhirnya berkedip dan meledak, mengenai 4 orang. Orang-orang yang berseru tertahan ketika mendapat serangan tak terduga menembak helikopter yang dinaiki Sarah, Sarah tiarap dan berlindung dibalik dinding Helikopter. Yang menembak berseru tertahan ketika senjata ditangannya menghilang. “Looking for this, guys?!” suara itu membuat lawan menoleh, menatap bingung Jian yang menunjukkan senjata mereka. Tunggu, sejak kapan ada anak muda itu, pikir mereka bertanya-tanya hingga pertanyaan itu hanya dijawab dengan sebuah piringan dari kedua tangan Jian meluncur ke leher mereka sehingga mereka mati dengan membawa pertanyaan. “Kita harus segera pergi!” seru Vierra sambil memutar rantainya, menghancurkan tubuh lawan yang tersisa. Yang lainnya pergi melarikan diri walaupun mobilnya meledak ditembak oleh peluru helikopter. Eva mengangguk, helikopter mendarat dengan perlahan. Tentara yang masih selamat segera naik ke helikopter. Eva dan Vierra saling ber-tos ria. “You so amazing!” puji Jason. “Oh ya, liat dulu orangnya!” kata Vierra sambil membusungkan d**a, menyombongkan dirinya. “Lain kali jangan berbuat nekat!” Sarah menunjuk Karin dengan geramnya, ia terlihat cantik dengan bajunya yang berwarna biru putih miliknya. Karin menunduk, kali ini ia pasrah dimarahi Sarah. Sedangkan helikopter menderu meninggalkan lokasi, meninggalkan sisa-sisa mayat yang berada disana dan mobil-mobil jeep yang teronggok bisu. *** “Kumohon, Jagger dengan aku. Ini demi negara kita, demi dunia!” dokter Tom merapikan berkas-berkasnya. Sementara seseorang yang sesusia dengannya mendengus. “Yang kau lakukan ilegal, Tom. Menyembunyikan markas rahasia, bahkan tidak diketahui oleh negara manapun. Tidak ada yang bisa kubantu, Tom. Ulahmu hampir membahayakan dunia.” Jagger membuka pintu, melewati kerumuman orang yang mengadu di kantor menteri keamanan, dialah menteri itu. “Dengarkan aku, apakah kau tahu tentang rencana NAZI, the sun gun?” Tom berhenti, tangannya memeluk berkas-berkas yang ia bawa, lupa koper khusus berkasnya tertinggal karena mengejar Jagger. Langkah Jagger terhenti dan menatap dokter Tom dengan wajah sedikit terkejut. “Bukankah itu rencana yang sama seperti rencana Archimedes, memantulkan cahaya matahari. Hanya saja dalam skala besar. Seseorang pernah mencuri berkas kuno, ditangkap dan dibunuh oleh pemerintah karena membahayakan negara.” “Ya, karena itu aku mengunjungimu. Kini rancangan itu benar-benar akan dibuat. Kumohon Jagger, kali ini dengarkan aku sekali saja,” dokter Tom menatap harap Jagger yang kini berdiri diam di hadapannya. “Seluruh umat manusia membutuhkan kita.” Jagger dan dokter Tom saling diam, mata mereka beradu pandang. Sedangkan yang bekerja melewati mereka. “Kau tahu, awalnya aku tidak ingin mendengarkan seorang narapidana, karna kau tahu apa untungnya seorang menteri keamanan berbicara dengan teroris.” dokter Tom menunduk ketika Jagger menatap tajam dirinya. “Tetapi tidak ada salahnya bukan, kalau begitu akan kuberikan kapal induk. Taruh pesawatmu disana sementara aku akan memberitahukan secepatnya kepada pihak NASA. Bukankah senjata itu diluar angkasa. Semoga beruntung, Tom. Seluruh dunia berpihak padamu.” Jagger menepuk pundak dokter Tom lalu menaiki mobil yang terparkir rapi. Franklin berlari mendekati dokter Tom dan menyerahkan koper berkas kepadanya. “Apakah berhasil?” tanyanya cemas. “Siapkan bala tentara, Franklin. Telpon Eric dan suruh semua anggota the Secret Basecamp bersiap!” seru dokter Tom. Franklin mengangguk dan segera mengambil gagdet tercanggihnya. *** “Lagi-lagi mereka berhasil kabur, sungguh serangan yang tak terduga. Bukankah sudah kukatakan untuk menyerang pasukan bantuan dari mereka?!” murka Black Dragon. “Entahlah, bos. Yang ini sungguh tidak terduga, mereka seolah menghilang dari radar pengawasan kita. Dan berhasil menghabisi sebagian besar pasukan.” kata seorang tentara yang memakai baju hitam merah dengan terbata-bata. “Cukup, sudah cukup. Kini waktunya serius, Scorpion dimana pelacak itu berada?” tanya Black Dragon. Scorpion mengangguk dan mengetuk tabletnya, mengaktifkan hologram berbentuk bumi. Sebuah titik merah di ujung Amerika terlihat. “Mereka tidak tahu, pelacak itu berada di tangan seseorang...” senyum Black Dragon. “Kita serang tempat itu secara diam-diam tanpa diketahui publik.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN