bagian 19

2128 Kata
Bagian 19 “Hati-hati!” Rizwan berseru ketika Eva melompat dari helikopter bahkan sebelum helikopter mendarat. Tetapi wanita muda itu hanya tertawa meremehkan, Vierra menyusul Eva. Membuat Rizwan berkacak pinggang. “Mereka gila.” kekeh Matsu. Karin menatap Jason dan Jian yang bermain batu gunting kertas tetapi selalu saja Jason kalah. “Kenapa sih kamu selalu menang?” tanya Jason kesal sambil menepis tangan Jian, tetapi Jian dengan cepat berkelit. “Baik, karena tanganmu itu selalu bergerak lambat. Jadi aku tahu kamu akan membuat batu, gunting atau kertas.” ia dengan tenang menjawabnya. “Curang, menggunakan kekuatan untuk menang.” Jason menangkap Jian tetapi Jian dengan mudahnya lalu melarikan diri dari helikopter yang baru mendarat. Jason yang tidak memperhatikan keadaan segera terjatuh, untung saja helikopter sudah mendarat dan hanya telapak tangan Jason yang lecet. “Tuh, kan apa kubilang?” Rizwan membantu Jason berdiri. Sementara Matsu mengepalkan tangannya kepada Jian yang tertawa terbahak-bahak melihat Jason terjatuh. “Masuk, komandan masuk.” terdengar suara serak di balik saku Jason. “AYAH!” Jason berseru riang. “Tidak ada waktu bercanda, Jason. Sekarang bawa semua tentara keluar dari markas dan temui kami di pelabuhan militer luar kota, kosongkan markas. Bantu Eric, Jason. Kita berhasil mendapat perhatian dari keamanan negara!” seruan itu mengagetkan Jason. “Baik, akan kutaati ayah.” Suara itu menghilang. Jason mengepalkan tangan, usahanya untuk membujuk ayahnya meminta bantuan kepada menteri keamanan berhasil. Awalnya ayah ragu-ragu karena dia bekas seorang teroris, ternyata setelah Jason memaksakannya untuk mencoba akhirnya ayahnya berhasil. “Kita harus bersiap untuk ke markas!” Jason berseru, membuat Jian yang mengejek Matsu berhenti, Vierra yang sedang memakai lipstik menoleh. Rizwan menyikut bahu Jason. “Aku ikut denganmu.” senyumnya. Jason mengangguk, sementara Karin menatap heran Rizwan. Apa yang terjadi barusan sehingga Jason berteriak?. “Eva, kau antar yang kami dengan truk kontainer pribadi milik pamanmu.” perintah Rizwan. “Baik!” ia melompat senang, selama ini tidak ada menyuruhnya membawa mobil pamannya, ditambah pamannya sendiri juga melarang. Tetapi, setidaknya ia mempunyai alasan untuk menyalahkan orang yang memberinya perintah membawa mobil. “Oh my gosh...” Vierra hanya merutuk dalam hati. Mobil kontainer putih itu melesat kencnag di jalanan, Eva dengan gesit memutar setir, menyalip satu dua kendaraan, membuat pengemudi mobilnya mengeluarkan sumpah serapah. “DAMN YOU!!!” teriak seorang lelaki sambil mengeluarkan kepalanya di jendela mobil, mengepalkan tangannya. Sementara penumpang Eva terlihat terlempar kesana kemari, bahkan Karin tidak sengaja menabrak d**a Jason, Rizwan berkali-kali menyesal karna telah menyuruh Eva mengendarai mobil. “Jangan sengaja!” marah Jason ketika Karin menabrak dirinya. “Kau tak lihat yang nyetir bagaimana... aduh!” Karin tercampak ke kanan dan menabrak Vierra yang sibuk memoles lipstiknya membuat lipstik yang ia pakai tergores sampai ke pipi. “EVALINA!” Vierra berseru, membuat Eva nyegir. Ia memelankan laju truk lalu memasuki gang sepi, ia berhenti ketika mendapat jalan buntu. Secara ajaib truk itu turun kebawah, yang tadinya menampakkan gedung tua kini digantikan ruangan yang penuh dengan pesawat. “Kau naik mobil itu?!” suara Tim terdengar menggelegar. “Bukankah sudah berkali aku katakan untuk tidak menyentuhnya, astaga kau membuat depannya penyok apa yang kau tabrak, hah!” Tim melotot ke arah Eva. “Bukan salahku paman, Rizwan menyuruhku menyetir.” Eva dengan kesal menunjuk Rizwan yang sempoyongan turun dari mobil. “Itu hanya alasanmu saja, kan. Kau seperti ayahmu, memiliki segudang alasan untuk menyalahkan orang lain.” Tim dengan cepat membuat Eva tak berkutik, Eva menekuk bibirnya begitu Tim berlalu dari hadapannya. Jason dengan cepat menjitak kepala Karin, balasan karena ia sudah berkali-kali ‘ditabrak’ Karin di mobil. Karin hanya mengomel, untungnya ia tidak ‘mematahkan’ lengan Jason. Tim lalu mendekati Rizwan. “Pakai baju ini, berikan ini juga ke Eva. Aku malas memberikannya, bisa rusak mood-ku melihat wajahnya yang menyebalkan itu.” perintah Tim bersungut-sungut, Rizwan yang memandangnya hanya nyegir sedangkan Eva tersenyum kecut ketika Rizwan memberikan baju miliknya. Rizwan menatap Jason yang membantu Eric untuk memindahkan tentara, terlihat tentara-tentara yang biasanya memakai kaos ketat kini memakai baju seragamnya lengkap dengan senjata mereka. Bahkan para pilot yang biasanya ‘pengangguran’ mulai mengecek mesin pesawat. “Bisakah kau buka dinding pelindung, pesawat akan langsung lepas landas di lautan.” kata Jason, Eric mengangguk dan mulai menuju sebuah tuas yang terletak di dinding. Ia menarik tuas itu, lampu ruangan berkedip-kedip lalu dinding yang selama ini hanya kamuflase mulai membuka lantas menunjukkan sebuah jalan aspal dengan lorong yang begitu besar dan lebar. “Cool...” Vierra menatap kejadian itu dengan terpesona. Rizwan mematut dirinya, lantas menatap Karin. “Bagaimana keren, kan?” tanyanya. Karin mengancungkan 2 jempolnya, Rizwan memakai sarung tangan hitamnya dan menatap Eva yang membuka jaket kulitnya. Menampakkan dirinya memakai kaos oblong hitam lengan pendek lalu ia memakai baju rancangan Tim. Celananya yang selama ini berwarna hitam sudah diganti dengan celana koboi lantas Eva memasukkan pistolnya di balik celana itu dan memakai sepatu bot. “Vierra apakah kau punya ikat rambut?” tanyanya. Vierra mengangguk dan merogoh tas kecil yang berada dibalik celananya. Semuanya berisi make up serta alat kecantikan milik Vierra. Vierra melemparkan ikat rambut kepada Eva, dengan cepat Eva mengikatnya dengan ketat. Membuat rambut panjangnya terasa pendek, kini Eva terlihat seperti wanita tomboy. “Kita kekurangan 1 pilot, Jason.” kata Eric cemas. “Eva, kau bawa pesawat nomor 6,” Jason berseru memerintah Eva. Tim yang kebetulan mendengarkannya terlihat terkejut, tetapi tidak bisa merubah perintah. Eva berseru sambil mengepalkan tangannya. “Tapi, kali ini jangan main-main seperti yang kau lakukan di truk kontainer milik pamanmu!” seruan terakhir Jason membuat Eva mengeluarkan kata yah kecewa. Eric memberikan helm kepada Eva lantas memeriksa mesin pesawat dan memberikan acungan jempol, artinya pesawat itu aman dibawa. Jason menekan tombol berwarna merah yang berada di dekat meja. Membuat lorong yang dihadapan mereka mulai menyalakan lampu, menampakkan lintasan panjang. “Pesawat-pesawat bersiap-siap , kita akan lepas landas.” terdengar suara yang menggema di seluruh ruangan. Eva meloncat masuk kedalam pesawat, mulai menghidupkan mesin pesawat dengan lincah. “I can’t believe it...” lirih Tim di dekat Rizwan, membuat pemuda itu menoleh. “Menurutmu, apakah ia bisa membawanya?” tanya Tim memelas. Rizwan tersenyum, memandang pesawat yang mulai menyala. “Well, kita percayakan saja ia bisa membawanya.” ia menepuk pundak Tim. Tim hanya bisa mendengus dan menatap tajam Eva. Awas saja kalau macam-macam. Seorang poiter yang memegang ligth stick, memandu pesawat menuju lintasan. Eva mulai fokus memegang setir, ia menahan napasnya ketika piter itu mengancungkan stick-nya ke lintasan, pesawat yang dikendarai Eva melaju cepat ke lintasan. Suaranya mendesing, lantas pesawat lain mulai mengikutinya. Rizwan menatap Vierra yang bertepuk tangan. Pesawat-pesawat yang tadinya mengisi ruangan kini sudah tidak nampak lagi. *** Jagger menatap pesawat-pesawat yang entah kenapa muncul begitu saja dibawah pelabuhan lantas melaju kencang di langit New York. Menuju sebuah kapal induk skuadron 9 yang sudah di tengah lautan. Dokter Tom dan Franklin menunggu disana, Jagger tersenyum dan menelpon dokter Tom. “Negara Rusia dan federasi 9 negara eropa dan Asia sepakat untuk membantumu, jangan kecewakan mereka, Tom. Aku harus peringatkan dirimu, ingat sekali misi itu selesai tidak ada lagi rahasia.” “Ok...” dokter Tom menjawab pendek. Jagger mematikan teleponnya dan pergi memasuki mobil mewahnya yang terparkir di pelabuhan. Ia memakai kacamata hitamnya dan mulai memegang setir. Berjalan tenang melewati jalanan New York. *** Eva melepaskan helmnya, melompat dan menatap lautan. Beberapa tentara yang tidak ia kenali mendekat, dari atas terdengar deru helikopter Apache. Karin turun dari sana dibantu dengan Sarah. Salah satu helikopter model apache mendarat lagi, kali ini dikendarai oleh Eric. Jason melompat turun dan memeluk ayahnya. “You get it, dad!” ia berseru, saling memberi tos layaknya sahabat bukan sebagai anak dan ayah. Dokter Tom hanya terkekeh sambil mengusap rambutnya yang lumayan beruban. “Wah, keren sekali!” Vierra merentangkan tangannya, menghirup udara yang terasa sedikit asin. Ia lalu bersalto, berlari-lari mengelilingi beberapa pesawat. Tentara-tentara yang baru mengenal Vierra mengeryitkan dahi, siapa anak aneh ini?. Tim keluar dari helikopter dan menunjuk Eva. “Setidaknya kamu bersikap baik selama ini, jangan berbuat nekat lagi paham. Atau ganti rugi mobil milik paman!” ujarnya ketus. Eva hanya cemberut mendengarkannya. Jian yang melihatnya hanya bisa menutup mulut, menahan tawa tetapi ia balik kanan ketika melihat Eva melotot kearahnya. Seorang pemuda memakai seragam putih mendekat ke arah dokter Tom. “Sesuai perintah Jagger, tuan. Kami telah menyiapkan kabin, tidak mewah tetapi setidaknya nyaman dan luas untuk 2 orang.” jelasnya sambil tersenyum, memamerkan barisan gigi putihnya. Dokter Tom mengangguk. “Bagus, setidaknya ada cara untuk melepas lelah, aku mengantuk sekali.” Sarah merenggangkan badannya sambil menguap. “Karin kita sekamar, sudah tanggung jawabku untuk menjagamu agar tidak berbuat nekat!” kali ini Sarah berkacak pinggang ketika Karin berdiri disampingnya. Karin cemberut, kenapa ia berdiri disini?. “Aku sepertinya ingin sekamar denganmu.” Jason menyikut lengan Rizwan. Matsu menggeleng. “Tetapi aku sudah merencanakannya, aku harus tidur dengannya!” Matsu menunjuk Rizwan. “No, no, no. Kamu baru merencanakannya, sedangkan aku sudah mengatakan duluan, dia harus tidur denganku. Kamu tidur saja dengan Jian.” nyengir Jason sambil menarik tangan Rizwan dan membelakanginya. Pernyataan Jason membuat Matsu mengangga, mau tidak mau ia harus tidur dengan anak muda yang menyebalkan itu, bukan teman sekamar yang menyenangkan. Ia yakin malam ini, di kabinnya penuh dengan kegaduhan, dengan sebal ia menatap diam-diam Jian yang sibuk menjahili seorang tentara dengan mengambil topinya. Tentara itu ingin membalas tetapi sayangnya Jian berlari cepat sambil melambaikan topi milik tentara. Matsu ingin berteriak menolak tetapi ia hanya bisa pasrah menatap Jason yang menarik tangan Rizwan menuju kabin. Karin kali ini hanya menghembuskan napas, ia sebenarnya tidak ingin sekamar dengan siapapun, ia menyukai kesendirian sayangnya ia malah sekamar dengan Sarah. Tetapi setidaknya itu lebih baik daripada sekamar dengan Eva dan Vierra yang selalu ribut. Karin melihat Sarah yang kini memanggilnya untuk masuk, ia berjalan cepat menyusul Sarah. Kapten kapal membuka topi nahkodanya. “Semoga misi kita berhasil, tuan. Sungguh jika rancangan itu di dapatkan, maka kiamat bumi akan terjadi. Sun Gun memang mengerikan, Adolf Hitler memang sangat berambisi untuk membuatnya. Untung saja sekutu telah berhasil mengalahkannya, tetapi aku juga tidak menyangka rancangan itu dilanjutkan. Apakah yang membuat rancangan itu keturunan NAZI?” pertanyaan itu membuat dokter Tom terlonjak. “Tunggu ulangi sekali lagi, Hounten.” *** “Mereka menyiapkan armada besar, tuan. Apakah kita perlu rudal untuk menghancurkan seluruh kapal itu?” tanya Hannah sambil mengetik komputer hologramnya. “Tidak usah, itu tidak penting. Mereka mempunyai radar untuk melacak sistem p*********n kita. Tetapi aku tahu apa yang paling penting disana, kita hanya perlu menculiknya.” Black Dragon tersenyum, rencana jahat mulai muncul di pikirannya. *** “Menurut data, Liu merupakan keturunan dari salah satu tentara NAZI. Ayahnya memang mengikuti konferensi untuk membuat perencanaan itu, pak. Lalu konferensi itu dibatalkan karena adanya serangan dari FBI, Liu kembali membuat perencanaan itu.” Franklin mengetuk tabletnya. Dokter Tom juga tak kalah sibuk, tangannya mengecek arsip yang baru keluar dari printer. “Konferensi perencanaan senjata NAZI, di dapatkan dari arsip Archimedes tersusun dari partikel-partikel, jutaan ton metallic sodium bahan yang sama seperti menciptakan energi tata surya tetapi sifatnya menyerap dan memantul dengan cepat jika diperlukan, seperti transformator.” dokter Tom membaca cepat arsip ditangannya. “Rencana GAGAL , pasukan FBI mengepung gedung konferensi di Jerman. Proyek Sun Gun dibatalkan.” Franklin berseru sambil membaca kalimat di artikel berita lama. “Kakekku dulunya tentara Amerika, dan kakek Liu adalah tentara NAZI. Jadi wajar ayahku membenci Liu, astaga kini aku tahu apa maksudnya. Dasara, menggunting dalam lipatan.” dokter Tom meremas arsip ditangannya. Membuat Franklin terpaku, ia hanya bisa mengusap matanya, tepat di bekas luka. “Kau urus yang lainnya Franklin, usahakan agar kau mendapatkan informasi sebanyak mungkin, aku hendak gosok gigi dulu. Mulutku terasa pahit.” dokter Tom segera menuju kamar mandi yang disediakan di kabin. Dokter Tom menggosok gigi dan mencuci muka, mengelapnya. Dokter Tom menyandarkan tangannya di wastafel, menatap wajahnya di cermin. Tetapi sesaat dahinya mengeryit, ada bayangan di balik tirai. Apa itu?, wajah dokter Tom berkeringat dingin. Bayangan itu seperti manusia, bergerak di balik tirai. Dokter Tom meguatkan tekad. Tangannyanya menyibak tirai, sebelum ia tahu apa yang terjadi ia berseru tetapi suaranya tercekik, tangan kekar dengan cepat menyambut lehernya. “Lama tak bertemu kawan.” “Liu...” suara dokter Tom tercekat. Black Dragon tersenyum, sebelum dokter Tom menyadarinya, kepalanya lebih dulu menghantam wastafel hingga wastafel itu retak dan miring. Mengeluarkan suara keras, bayangan mulai menyelimuti dokter Tom dan Black Dragon. “SIAPA KAMU?!” Franklin berseru di pintu kamar mandi. Black dragon tersenyum, dan secercah cahaya gelap menyelimuti kamar mandi hingga lampu kabin berkedip-kedip. Franklin meraih dokter Tom, tetapi tangannya meraih angin. Seruan membahana di kapal, membuat seisi awak kabin berseru riuh, menuju kabin dokter Tom tetapi hanya menemukan Franklin yang duduk termangu di depan kamar mandi. “DOKTER TOM DI CULIK!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN