bagian 20

1686 Kata
Bagian 20 “Astaga, kenapa kau tidak menjaganya, Franklin. Dia adalah ayahku!” Jason berseru histeris. Orang-orang disana diam, mata mereka menatap Franklin yang tertunduk. “Aku tidak tahu apa-apa, tuan. Kejadian itu cepat sekali, bahkan aku tidak menyadarinya saat ia mengeluarkan suara orang tercekik. Aku baru sadar ketika terdengar suara keras di kamar mandi.” katanya terbata-bata. “Astaga, kali ini dia sudah kelewatan!” Jason memukul meja dengan keras, Eva yang biasanya sok berani kini mencicit. Rizwan hanya berkacak pinggang mendengarkan, Karin yang masih memakai piyama dan mengantuk kini melek. “Tuan, ada komunikasi dari gedung kementerian. Penuduhan bahwa kita melakukan pembunuhan kepada Jagger, menteri keamanan yang baru saja memberi kita izin untuk menggagalkan rencana. Ia ditemukan hangus di dalam mobil, seseorang telah meletakkan bom di mobilnya.” Jason menjadi pucat. “Tunggu, itu kabar tidak benar.” “Memang, aku juga sudah memberikan begitu banyak penolakan atas tuduhan itu, tetapi mereka menemukan bukti, bom itu mempunyai sidik jari dokter Tom dan kamera pelabuhan jelas merekam bahwa yang terakhir kali berbincang dengan Jagger adalah dokter Tom.” jelas Eric sambil mengetuk tabletnya. “Kini publik sudah memuat begitu banyak kabar hoax.” geram Matsu. “Baka!” kini dia mengeluarkan serapahnya. Rizwan menepuk pundak Jason lantas mengambil tablet di tangan Eric. Ia menyusuri seluruh kabar-kabar yang memuat berita. “Sang mantan teroris, Tom Holland dipercaya membunuh menteri keamanan, Jagger.” “Sang Residivis dituduh melakukan pembunuhan.” “Seorang Teroris, Tom Holland sempat meminta bantuan kepada Jagger untuk menggagalkan sebuah perencanaan, kini dituduh sebagai pembunuh.” Begitu banyak judul artikel yang dimuat di berita, menjadi berita teratas google. “Matsu benar, kabar ini hoax. Seolah-olah nyata, padahal hanya penipuan. Seolah-olah ada seseorang yang membuat penipuan semacam ini. Aku yakin ada seseorang dibalik semua ini, tetapi siapa?” “SIAPA LAGI, PASTI BLACK DRAGON!” Jason kali ini benar-benar muntab. *** “Aku benar-benar kecewa padamu, Liu.” suara dokter Tom bergetar, tangannya di cengkram kuat oleh pendekar dan Scorpion. Wajahnya babak belur, jidatnya terlihat membiru, bekas terkena pinggiran wastafel. “Oh ya, lantas siapa yang lebih kecewa atas pengkhianatan itu, teman?” Black Dragon terlihat tenang, berjalan di depan dokter Tom. Dokter Tom menggeram ketika Black Dragon membalikkan badannya. “Kau salah, aku justru muak denganmu yang begitu berambisi membuat yang menghancurkan dunia.” kesalnya. Black Dragon hanya menyengir lantas kembali berjalan menuju ruangan yang luas. “Seharusnya kamu tidak berbicara begitu padaku, teman.” ia menekan dinding sehingga dinding terbuka menuju ke ruangan yang lebih gelap dan masuk dengan tenang, diikuti oleh pendekar dan scorpion yang terus menyeret dokter Tom. “Kau tahu Renard, Tom?” tanyanya dingin. Dokter Tom hanya menggeram, “Kali ini dia tidak seperti kamu, mati ditanganku. Terbakar menjadi abu yang tidak berguna dan menyedihkan.” ia kali ini tersenyum lebih lebar ketika dihadapannya dokter Tom memberontak, melawan. “KAU APAKAN DIA?!” ia berseru. Pendekar dan Scorpion mengencangkan pegangan. Dokter Tom berseru di hadapan Black Dragon. “Kau bunuh Renard!” “Lantas kenapa, kehidupan terakhirnya justru memang kubuat miris, ia mati dalam kesengsaraan.. Kali ini kau tidak mati ditanganku, pilihlah Tom. Mau mati atau berikan rancangan itu.” ia menatap dokter Tom dingin, mereka seperti bukan kawan lama melainkan musuh bebuyutan. “Tidak kau jahat, rancangan itu sudah kubakar dengar, RANCANGAN ITU SUDAH KUBAKAR!!!!” kali ini teriakan dokter Tom memenuhi ruangan. Black Dragon gantian menggeram pelan, wajahnya mengeras. “Sudah tidak ada lagi rancangan itu,Liu. Sudah kubakar, aku tidak mempunyainya lagi!” doker Tom berseru di wajah Black Dragon. Wajah Black Dragon kali ini mengeras, ia lantas mencekik dokter Tom sekuat tenaga. “Dasar, kau pikir dengan terbakarnya rancangan itu kau juga berhasil membantu dunia.” ia meninju wajah dokter Tom hingga pria tua itu terbatuk-batuk mengeluarkan darah di mulutnya. “Seret dia menuju ruangan belalai biru!” Pendekar dan Scorpion mengangguk, lalu mereka berjalan di depan Black Dragon, menyusur loroong gelap dengan banyak sekali pintu. Lantas di salah satu pintu pendekar balik kanan dan membukanya, begitu banyak kabel panjang yang bergerak. Seolah-olah tenggelam di lautan. Black Dragon mengankat tangannya, kabel-kabel itu bergerak seperti ular merayap. Naik ke atas tubuh dokter Tom. “Apa yang kau lakukan?” tanya dokter Tom. Black Dragon tetap diam, kabel biru sudah sampai ke leher dokter Tom. “Apa yang kau lakukan, Liu.” “Tidak ada yang bernama Liu disini kecuali Black Dragon.” Black Dragon pergi disusul pendekar dan Scorpion. Dokter Tom berusaha mengejar tetapi kabel-kabel itu bergerak cepat melilit kaki dan tangan dokter Tom, satu kabel mengeluarkan cahaya dan masuk kedalam liang telinga dengan cepat. *** “Malam yang indah bukan?” pertanyaan pelan dengan suara serak itu membuat Karin tersadar dari lamunannya, ia menoleh ke belakang. Mendapati Jason, astaga pria menyebalkan ini mau apa lagi, pikirnya sinis. “Bolehkah aku berdiri di sampingmu...” suara Jason yang meminta semakin serak, Karin mengangguk pelan. Terlihat mata Jason sembap seperti habis menangis, merah berkaca-kaca. Ia ikut memandangi bintang bersama Karin. Hanya diam kecuali suara gelombang laut yang terkena dinding kapal, mengeluarkan suara deburan. “Are you okay?” Karin kini memutuskan bertanya, Jason hanya menatapnya dengan mata sayu. “Aku takut, Karin. Dulu aku kehilangan ibu seperti dirinya, diculik. Kini aku tidak ingin kehilangan ayahku.” ia meringkuk seperti anak kecil. “Mereka semua seperti pergi, meninggalkanku sendiri.” “You not alone, Jason!” Karin berseru pelan. Jason memandangnya, memandang Karin yang mendekatinya. “Kamu punya teman, punya markas yang anggotanya membuatmu bahagia, ada orang diluar sana yang menyayangimu Jason, kamu jangan lupa, ada dunia yang membuatmu hidup.” Jason tersenyum tipis mendengarkan kalimat yang dikeluarkan Karin. Menatapnya dengan tulus, tidak menatapnya lagi penuh kenakalan. “Terimakasih telah menghiburku....” “Setidaknya aku membantu, aku kali ini tidak menyebalkan bukan?” tanyanya Karin sambil menyombongkan diri, berkacak pinggang di depan Jason. Jason hanya tersenyum geli. “Jangan sedih lagi Jason, ada kami.” kali ini Karin tersenyum. Jason mengangguk dan menatap ke atas. “Lihat begitu banyak bintang di arah Utara.” Karin berbalik badan, ingin melihat bintang-bintang itu tapi justru yang ia rasakan adalah kecupan yang mendarat di pipinya. Karin membeku, menatap Jason yang tersenyum, meninggalkannya sendirian di atas. Karin memegangi pipinya, bekas kecupan itu seolah-olah masih ada. Ia tersipu sambil memandangi langit dan lautan, ujung hijabnya berkibar dengan pelan. Jason hanya tersenyum, baru pertama kali ia memberanikan diri mengecup seorang gadis. Ia tahu perasaan itu telah tumbuh dengan indah dihatinya.... ia telah jatuh cinta kepada gadis menyebalkan itu, Karin Kernizer. “Attention, sebentar lagi ada badai. Suruh awak kapal beristirahat di dalam kabin dengan nyaman, dan yang diluar harap mohon masuk!” terdengar suara menggema. Karin melihat sisi Barat, memang langit disana terlihat lebih gelap dan seperti ada selarik cahaya kecil disana, itu kilat. Ujung hijabnya kini berkibar lebih cepat. Ia turun dari tangga, menuju kabin dan menutup pintu. “DARI MANA SAJA KAMU?!” pertanyaan itu mengggelegar, tetapi raut Karin biasa. Ia melepas hijabnya, menguap sambil melewati Sarah yang berseru tadi. “Aku telah mencarimu dimana-mana, kamu kemana?” tanyanya sambil melotot. “Aku ngantuk, kak.” Karin balas melotot. “Hei, jawab dulu pertanyaanku. Kamu begitu tidak sopan.” “Aku diluar kak, melihat pemandangan.” “Astaga, kenapa kau tidak mendengar pengumuman tadi. Sebentar lagi ada badai!” Sarah mencubit bahu Karin dengan geram. “Tapi aku masuk tepat waktu kak, aku tidak berlama-lama.” Karin membalas, raut wajahnya menjadi kesal. Sarah mengomel dan Karin berbaring, menutup kepalanya dengan bantal memilih tidak mendengarkan omelan Sarah. *** “Sudah tenang hatimu?” pertanyaan tegas itu pula yang menyambut Jason. Jason hanya tersenyum malu, ia meletakkan cangkir kosong di meja kecil dan membaringkan diri menutup wajahnya dengan bantal. “Hei, kenapa kamu ini?” Rizwan terkekeh, mendekati Jason lantas melepaskan bantalnya. “Berjanjilah kau tidak akan mengatakannya.” Jason mendekati telinga Rizwan dan membisikkan sesuatu. Rizwan hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum, menatap jendela kabin. Diluar sana terlihat laut bergejolak, berbeda dengan yang tadi. Laut yang tenang sudah mengamuk tanpa diduga, diluar sana badai menerpa. “Cinta memang begitu kawan, aku mengerti aku pernah merasakannya.” senyum Rizwan. Jason menunduk ketika Rizwan mengucapkan kata-kata cinta. “Tidak ku sangka, pemuda yang telah lama membenci temannya sendiri ternyata jatuh cinta, benci menjadi benar-benar cinta.” ia menyenandungkan lagu. “Hentikan, jangan sampai awak kapal tahu.” Jason melempar bantal. “Jika kalian menikah, undang aku. Jangan sampai lupa dengan kawan karna bahagia.” Rizwan benar-benar meledek Jason. Wajah Jason semakin memerah ketika Rizwan mengejeknya lagi. “Bukankah Karin itu paling kau benci, paling suka kau ganggu, kenapa jatuh cinta dengannya, ganti saja yang lain.” ia tertawa sambil menepuk pundak Jason. “Aku tidur sajalah tidak enak berbicara denganmu.” Jason merebahkan badannya ke ranjang, tidak berminat mendengarkan gangguan Rizwan. “Hei, hei ceritakan bagaimana wajahnya ketika berhasil kau cium?” Rizwan berusaha membangunkan Jason. Tetapi Jason memilih untuk tidur, terlihat tidak ingin lagi melanjutkan obrolan, Rizwan justru terkekeh dan menekan bantal di atas kepala Jason. *** “Astaga, kau dicium. Itu bukan muhrimmu, kenapa kau tidak menahannya?” pertanyaan ini membuat Karin kesal. “Aku tidak melihatnya, kak. Ia langsung menciumku disaat aku lengah, cepat sekali kejadiaannya.” “Ckckck, dasar Jason. Kamu menyukainya?” tanya Sarah lembut. Karin menunduk, menatap lautan yang mengganas. Sarah dengan setia menunggu jawabannya. “Entahlah...” *** “Kita sudah dapatkan rancangannya, bos.” Hannah menatap Black Dragon. “Ingatannya akan rancangan itu masih utuh. Kita tinggal menyalin rancangan itu melalui data sistem komputer kita. Dengan begini setengah rancangan anda buat bisa diselesaikan dengan cepat karna potongannya sudah lengkap.” jelas Hannah. “Bagus, Salin sekarang Hannah. Ia sungguh tak menyangka aku bisa melengkapkan rancangan itu dan menjadi nyata, meskipun kertas rancangan itu terbakar dan hilang tapi ingatannya tak kan pernah hilang,” Up loading.... tulisan itu muncul di komputer hologram Hannah. Black Dragon menuju sebuah lorong di ikuti oleh partnernya yang lain. Lalu ia masuk ke sebuah ruangan yang begitu luas, disana terlihat ilmuwan-ilmuwan yang bekerja dan di tengah-tengah ruanga itu terlihat sebuah sirkuit dengan kabel yang begitu banyak. “Kehancuran dunia akan dimulai hingga detik ini....”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN