Malam yang mencekam

2481 Kata
Selesai makan malam. Pak Ardi menyerahkan kunci mobilnya pada Ryan. "Saya titip taxi saya dan tolong jagain Mbak Puri. Awas kalau macam-macam." Gumam Pak Ardi. "Iya Pak. Tenang aja." Jawab Ryan. "Hati-hati ya." Ucap Ibu Ryan. "Kami permisi sebentar Pak, Buk." Puri bersalaman pada keduanya. Ryan semakin kagum melihat sopan santun dari Puri. Sewaktu masuk ke dalam taxi, Puri hendak duduk di belakang. "Loh kok di belakang. Ini kan saya nolongin kamu, bukan minta bayaran." Tetapi Ryan melarangnya. Puripun menurut dan duduk di depan. Seketika dia merasa ada hawa yang aneh. "Kenapa?" Tanya Ryan. Puripun menggeleng. Puri sudah duduk di atas bayangan hitam tadi. Ryanpun mengemudi dengan perasaan senang. "Kamu tidak takut pergi ke Kota sendirian dan bahkan pergi dengan orang asing seperti aku?" Ryan mengajak Puri mengobrol. Puripun tersenyum, senyumannya sangat aneh. "Kamu juga tidak takut mengantarkan seseorang yang belum kamu kenal." Balas Puri. Ryan malah tertawa. "Kamu benar juga. Tapi aku ini kan laki-laki, sedangkan kamu perempuan." Lanjut Ryan. Kini wajah Puri nampak marah. "Memangnya kenapa kalau aku ini perempuan? Kamu pikir semua perempuan itu lemah?" Bahkan suaranya sedikit berubah. Ryan sampai takut mendengarnya. "Maaf, maaf, aku cuma bercanda. Aku bukan orang jahat kok. Aku hanya khawatir kalau kamu seperti ini kamu akan mudah diperdaya orang lain." Gumam Ryan. Setelah itu Ryan memilih diam hingga mereka tiba di mall tersebut. Mata Ryan terbelalak. "Perasaan baru 1 minggu yang lalu aku lewat sini, gedungnya masih dalam tahap renovasi, kenapa sekarang sudah selesai?" Ryan bertanya-tanya di dalam hati. "Kamu tidak mau ikut turun?" Tanya Puri. "Iya. Ayo." Jawab Ryan. Ryan meninggalkan taxi itu di area parkir mall lalu menyusul Puri masuk ke dalam mall. Security membukakan pintu mall dan menyambut mereka datang. "Selamat datang kembali." Kalimat security terasa rancu. "Kembali?" Ryan merasa bingung. "Kamu pernah ke sini sebelumnya?" Tanya Ryan pada Puri yang terus berjalan sambil memegang kertas bertuliskan Galery shoes. "Iya, aku baru saja datang tadi sore, tas Ibuku tertinggal di toko ini. Ada di lantai 3." Kalimat yang diucapkan Puri persis seperti yang diucapkan wanita di dalam kereta api. Ryan dan Puri masuk ke dalam lift dan Ryan menekan tombol 3. "Kamu ini aneh, bisa-,bisa tas tertinggal. Pasti banyak barang berharga di sana kan?" Gumam Ryan. Puri hanya diam tanpa ekspresi apapun. Ryan merasa takut melihatnya. Pintu lift terbuka, kini mereka ada di lantai 3. Ada beberapa pengunjung mall yang sedang berbelanja di sana. "Wah..." Ryan takjub melihat suasana mall yang luas dan megah. "Dimana tokonya?" Puri terdengar seperti berbisik pada seseorang yang ada di sisi kirinya. "Kenapa?" Ryan mengira Puri bertanya padanya, padahal Puri bertanya pada sosok wanita yang ada di kereta tadi. Wanita itu menggelengkan kepalanya dengan tatapan sedih. "Kamu tau dimana tokonya?" Tanya Puri pada Ryan. Ryan menggaruk kepalanya. "Aku belum pernah ke sini, jadi aku tak tau. Tapi, bagaimana kalau kita berpencar, kamu ke sana dan aku ke sana." Usulnya. "Baiklah." Puripun setuju. Di depan pintu lift itu mereka berpisah. Puri pergi bersama wanita yang ditemuinya di kereta tanpa menyadari kalau itu adalah sosok astral yang pernah hadir dalam mimpi buruknya. Ryan menuju ke arah berlawanan seorang diri. "Dimana tokonya? Kenapa tidak ada?" Meski sudah teliti membaca setiap nama toko di sana, Ryan tak juga menemukan toko yang dicari Puri. "Mohon perhatian kepada seluruh pengunjung mall, sebentar lagi kami akan menutup toko, harap segera meninggalkan area mall." Hingga terdengarlah suara pengumuman tersebut dari pengeras suara di dalam mall. "Apa, udah mau tutup? Tapi ini kan baru jam..." Ryan melirik jam tangannya. "Jam 11 malam?" Dia benar-benar tak menyangka kalau waktu akan berlalu secepat itu. Ryan melihat ke sekelilingnya, suasanya kembali sepi, gelap dan menyeramkan. "Gadis itu?" Dia teringat kepada Puri. "s**l, aku bahkan tak tau namanya!" Ryan memaki di dalam hati. Ryan segera berlari kembali ke lift temoat dia naik bersama Puri tadi. Entah kenapa jaraknya terasa sangat jauh. Ryan tidak bisa menuju ke pintu lift tersebuh meski dia sudah berlari dengan kencang. "Kenapa ini? Kenapa tidak sampai-sampai?" Ryan merasa kelelahan. Lalu dia melihat pintu lift terbuka, anehnya lampu hanya menyorot mereka berlima bak sebuah panggung teater yang hanya akan menyoroti pemerannya saja. "Hei, tunggu!" Ryan berteriak memanggil mereka. 5 orang pemuda itu bernama Bastian, Derren, Fathur, Galih dan Isman. "Sebentar lagi mallnya tutup, bukannya keluar, Kakak malah ajak kami ke atas." Kata Fathur. "Justru itu, ketika semua orang keluar, kita bebas berbelanja." Jawab Kakaknya yaitu Isman. Ketiga temannyapun tertawa. "Maksud Kakak mencuri? Jangan Kak, itu tidak baik. Lagipula kita mampu untuk membayar." Protes Fathur. Isman merasa kesal mendengar ocehan adiknya yang masih remaja itu. "Kita bukan mencuri, kita cuma pinjam beberapa barang, besoknya kita kembalikan lagi." Jelas Isman. "Hei, anak kecil. Diam aja." Derren malah mendorong kepala Fathur. "Aku heran, kenapa kamu ajak adik tirimu ini sih?" Protes Derren. "Hei, jangan pernah bilang kami saudara tiri, dia adik aku." Isman menarik kerah baju Derren. Sorot matanya penuh amarah. Ryan masih melihat adegan itu dari kejauhan. "Mereka berkelahi?" Tanyanya. Puri dan sosok astral itu tiba di depan toko yang dicari. "Untung tokonya masih buka." Puri merasa lega. "Permisi Mbak." Puri menghampiri salah satu pramuniaga di sana. "Ada yang bisa saya bantu?" Tanya pramuniaga yang bernama Stella itu. "Tadi sore teman saya berbelanja di sini bersama orang tuanya, tas Ibunya tertinggal di sini. Bisa tolong bantu kami?" Puri menceritakannya. "Tas?" Pramuniaga merasa heran. "Iya. Tasnya seperti apa?" Puri menoleh ke belakang tetapi wanita itu menghilang lagi. "Sebentar ya, saya tanyakan pada teman saya." Puri keluar dari toko tersebut dan mencari Puri. "Mbak, permisi..." Dia memanggil sosok itu lagi. Puri berjalan hingga dia menemukan tangga darurat. Terdengar isak tangis dari tangga tersebut. "Siapa di sana?" Tanya Puri. Puri melihat seseorang duduk di tangga sambil menutupi kedua wajahnya. Dari belakang, dress yang digunakan wanita itu mirip dengan sosok yang bersamanya tadi, tetapi wanita ini rambutnya berantakan. "Kamu Mbak yang tadi kan?" Tanya Puri. Wanita itu berhenti menangis lalu perlahan lehernya berputar 360 derjat ke arah Puri. Nafas Puri seakan berhenti. Denyut jantungnya bertambah cepat. Wajah wanita itu begitu menyeramkan, pucat pasi dan maskaranya luntur karena habis menangis. Puri sangat ketakutan, dia ingin menggerakkan kakinya dan pergi dari sana, tetapi kakinya tak busa bergerak. "Mereka pelakunya, mereka harus mati!" Tiba-tiba wanita itu mendekat dan berteriak di depan wajah Puri. Puripun jatuh pingsan. Galih mencoba memisahkan Isman dari Derren. "Man, udah Man. Nanti security datang." Bisik Galih. "Cam kan itu!" Isman menegaskan sekali lagi. "Ayo." Isman mengajak Fathur pergi meninggalkan ketiga temannya tadi. "Isman udah keterlaluan. Kita harus kasih dia pelajaran." Bastian memanas-manasi Derren. Ryan merasa senang karena Isman dan Fathur menuju ke arahnya. "Tunggu!" Ryan berdiri di hadapan mereka untuk menghentikan mereka, bukannya berhenti, sosok Isman dan Fathur malah menembus badan Ryan. "Kita minum dulu." Kata Isman pada Fathur. Ryan semakin heran dengan kejanggalan itu. "Apa aku sudah mati?" Dia melihat kedua tangannya. Isman dan Fathur menuju ke atap dan Isman minum bir di sana. "Kak, sudah. Nanti Kakak mabuk." Fathur menasehati Kakaknya. "Biar saja, biarkan aku mabuk, supaya aku tidak sakit hati dengan hinaan mereka padamu." Isman masih saja terus minum. "Kak, Fathur tidak pernah sakit hati dengan itu semua. Kalau memang Fathur anak dari laki-laki lain, memangnya kenapa, Fathur masih saudara Kakak kan?" Fathur menjadi sentimentil. Mata Isman berkaca-kaca. Dia memeluk adiknya. Ryan masih bingung dengan apa yang terjadi, dia lalu menemui ketiga teman Isman. "Tunggu!" Dia berlari menuju ke sana. Tetapi ketiga pemuda itu seperti tidak mendengarkan suaranya. Mereka masuk ke area mall lalu mencoba beberapa pakaian bahkan jam tangan. Saat itu Wati, sosok makhluk astral tadi melintas di depan mereka. "Dimana toko itu?" Dia hanya fokus pada secarik kertas itu saja. "Ada cewek tuh." Bastian memberitahukannya pada Galih dan Derren. "Astaga... Cantik dan seksi." Derren memperhatikan lekuk tubuh Wati yang indah. "Ayo kita ajak kenalan." Galih memberanikan diri maju terlebih dulu. "Permisi Nona cantik, ada yang bisa dibantu?" Galih menyapa Wati. Wati malah mengabaikannya. Dia terus berjalan. "Ha, ha, ha..." Derren dan Bastian menertawakannya. "Bukan begitu cara merayu gadis. Lihat ini." Giliran Bastian yang maju. "Maafkan temanku tadi, dia tidak tau cara memperlakukan seorang wanita dengan baik." Bastian berjalan beriringan dengan Wati. Wati menghentikan langkahnya. "Sepertinya berhasil." Kata Galih pada Derren. "Bisa beri saya jalan. Saya mau ke sana." Ternyata Wati akan pergi ke arah lain. Dari kejauhan Ryan melihatnya. "Siapa perempuan itu, kenapa dia bisa ada di dalam mall jam segini?" Ryanpun mendekat lagi ke sana. "Dasar sombong." Bastian merasa kesal. Kini kedua temannya menertawai Bastian. "Sepertinya dia susah untuk ditaklukan." Ujar Derren. "Tapi tempat dan suasananya sangat mendukung." Gumam Bastian sambil tersenyum. "Maksud kamu?" Tanya Galih. "Mall sudah tutup kan?" Tanya Bastian. "Iya, aku lihat tadi securitynya sudah turun ke lantai 1." Jawab Galih. "Apa yang mereka rencanakan?" Ryan yang mengintip dari balik rak pakaian merasa penasaran. "Kalian tau apa yang aku pikirkan?" Tanya Bastian. Kedua temannya melihat ke arahnya. "Dasar." Derrenpun tertawa. Watipun tiba di depan toko sepatu itu. "Sudah tutup?" Dia merasa kecewa. "Bagaimana ini, Ibu pasti marah kalau aku tidak menemukan tasnya." Wati merasa sedih. Ryan juga merasa kasihan melihatnya. Ryan berjalan hendak menghampiri gadis itu, tetapi dia melihat Puri pingsan di dekat tangga. "Mbak, bangun." Maka dia memilih menolong Puri terlebih dahulu. "Mbak." Ryan mencoba membangunkannya. "Tolong!" Ryan berteriak minta tolong. Dia melihat ke sekeliling, tempat itu kembali gelap gulita, tak ada siapapun di sana. Ryan merasa ketakutan dan dia hampir menangis. Ryan mengangkat tubuh Puri menuju ke pintu Lift. Namun dia tak busa menekan tombol buka karena tangannya sedang menampung tubuh Puri. "Tangga darurat." Ryanpun teringat tangga tadi dan dia kembali ke sana. Ryan kembali melihat Wati berjalan menuju arah tangga darurat, Wati tak tau kalau ketiga pemuda tadi bersembunyi di kegelapan lorong tangga yang tidak tersinari lampu. "Pulangnya lewat mana ya?" Karena kebingungan, dia tidak menyadari kalau Galih muncul di belakangnya. "Awas!" Ryan berteriak dengan keras. Galih menarik Wati menuruni anak tangga. Ryan yang panik segera membawa Puri ke sana. Lagi-lagi terjadi keanehan, di hadapan Ryan bukanlah sebuah tangga melainkan tembok. "Tangganya menghilang?" Sungguh di luar logika. Ryan meletakkan Puri kembali di lantai. Untung saja saat itu Puri sadarkan diri. "Ryan?" Dia melihat Ryan ada di depannya. "Mbak sudah sadar. Mbak, kita harus pergi dari sini." Ajak Ryan. "Tapi tas itu?" Puri masih belum menyadari apa yang terjadi. "Tas apa Mbak. Lupakan tas itu, kita pergi sekarang!" Tegas Ryan. "Aku harus menemukan tas itu, aku yakin itu adalah petunjuk dari Wati." Puri bersikeras. "Wati? Siapa lagi Wati Mbak?" Ryan semakin dibuat pusing. Wati ditarik ke bawah tangga. "Ikat mulutnya." Perintah Bastian. Derren mengikat mulut Wati dengan sapu tangan. Kedua tangannya dipegang oleh Galih dan Bastian. Wati yang bertubuh kurus tak bisa melawan mereka. Mereka memaksa Wati tidur di lantai lalu melepas celana dalamnya. Wati begitu panik dan ketakutan, dia menggelengkan kepalanya berharap Derren tidak melakukan hal buruk padanya. Derren malah melepas celananya lalu memperkosa Wati. Tak ada orang yang tau dan tak ada yang menolong Wati, dia telah diperkosa oleh 3 orang pria tak dikenalnya secara bergiliran. "Ini hasil kesombongan kamu!" Bastian memegang wajah Wati. Tak disangka tiba-tiba Fathur muncul di sana. "Apa yang kalian lakukan?!" Dia kaget melihat perlakuan ketiga teman Kakaknya pada wanita itu. "Wah... Sepertinya ada yang ketinggalan pesta. Silahkan!" Tutur Derren. "Keterlaluan kalian. Apa yang kalian lakukan ini salah! Aku akan laporkan kalian." Fathur hendak pergi dari sana tetapi Derren mengejarnya dan menarik kaki Fathur. Fathur menendang wajah Derren. Melihat Derren dalam kesulitan, Bastian melepas tangan Wati lalu dia membantu Derren. Terjadi perkelahian antar mereka bertiga. Sayangnya Fathur kalah, dia dihajar hingga babak belur oleh Derren dan Bastian. Isman merasa gundah karena adiknya tak kunjung kembali, dia menyusul turun ke bawah lewat tangga yang menuju ke tempat kejadian tadi. Fathur di lempar ke hadapan Wati. Wati terlihat ketakutan. Galih melepaskan tangan Wati lalu pergi bersama Derren dan Bastian. Setengah sadar, Isman melihat ketiga temannya itu pergi dari sana. "Bastian, Galih, Derren?" Dia tidak salah lihat, itu memang benar mereka, seperti orang yang ketakutan dikejar setan, mereka masuk ke dalam lift. Wati membuka ikatan di mulutnya, rambutnya berantakan dan dia hanya bisa menangis. Fathur tak berdaya di hadapannya. Isman melihat adiknya dengan kondisi yang mengenaskan. "Fathur?!" Dia menghampiri adiknya. "Fathur bangun." Dia meletakkan kepala Fathur di dalam pangkuannya. "Siapa yang melakukan ini?" Isman menangis. Wati hanya terdiam sambil terus meneteskan air mata di sudut ruangan yang gelap itu. Isman melihat ke arahnya. "Apa yang kamu lakukan?" Dia membentak Wati. "Aaa..." Wati yang masih syok berat ketakutan dan berteriak. Security sudah menutup semua pintu di area mall, dia menekan tombol lift dan akan naik ke lantai atas lagi. Saat pintu lift terbuka, dia berpapasan dengan 3 pemuda itu. "Kenapa kalian ada di sini?" Tanya Security. Ketiganyapun nampak ketakutan. "Kalian mau mencuri ya?" Tuduh Security. "Bukan Pak. Untuk apa kami mencuri di mall milik sendiri." Derren mengangkat kedua tangannya. "Tadi kami melihat sepasang anak muda masuk ke mall saat orang-orang sedang keluar dari mall. Mereka mencurigakan sekali Pak." Derrenpun menciptakan kebohongan yang didukung oleh kedua rekannya. "Betul Pak, mereka di lantai atas, di atap mereka minum-minum." Tambah Bastian. Security itu teringat pada suatu malam saat dia sedang berpatroli di atap, dia menemukan beberapa botol minuman keras. "Dimana mereka?" Tanya Security itu. "Gawat, kalau sampai perempuan itu menceritakan semuanya." Bastian merasa cemas. Kekhawatiran yang sama juga dirasakan Derren. "Mereka berbuat m***m Pak. Di tangga darurat." Kemudian terpikirlah ide tersebut. "Apa?" Security kaget mendengarnya. "Ayo kita ke sana." Ajak Security itu. Terpaksa ketiganya naik lagi ke lantai 3 lewat tangga darurat yang dikhususkan bagi petugas keamanan mall saja. Isman melihat c*****************a itu di lantai. "Tidak, jangan bilang..." Dia ketakutan. "Pergi, pergi!" Wati semakin ketakutan, dia menutupi wajahnya dan mengusir Isman. "Dengarkan aku, apa yang terjadi, tolong ceritakan semuanya." Bujuk Isman. "Jangan mendekat!" Teriakan Wati semakin keras. "Aku akan menolongmu." Isman berusaha mendekati Wati. Saat itulah Security muncul bersama Derren, Bastian dan Galih. "Apa yang kalian lakukan?!" Dia mengira Isman akan melecehkan Wati. Wati lalu melihat kedatangan mereka, dia bertmbah takut saat melihat orang-orang yang sudah memperkosanya itu. "Jangan, jangan! Lepaskan aku. Biarkan aku pergi." Wati berdiri lalu menyatukan kedua tangannya di depan mereka. Bastian melirik Derren sambil tersenyum. "Dia pasti memperkosa wanita itu Pak!" Lalu Bastian malah menuduh Isman. Isman terkejut mendengarnya. "Bukan Pak, saya melihat adik saya di sini bersama wanita ini. Saya mau menolong adik saya." Isman menjelaskannya. Security itu menjadi bingung. Tetapi dia melihat barang bukti ada di sana, belum lagi tercium aroma alkohol dari tubuh Isman. "Pasti kamu pelakunya. Mengaku sajalah." Dia tetap menuduh Isman. "Tangkap saja Pak." Usul Derren. "Iya Pak." Kedua temannya ikut setuju. "Tunggu dulu!" Dia memerintahkan semua orang untuk diam. Wati masih ketakutan setengah mati berada di tengah-tengah para pria asing itu. "Kecuali kamu mau berbagi dengan saya." Tak disangka Security itu malah berniat buruk juga terhadap Wati. Wati terkejut mendengarnya begitupun dengan Isman. "Biadab!" Teriak Wati. Dia pun berlari naik ke atas. "Kalian mau ikut tidak?" Tanya Security pada Bastian dan kedua temannya. "I, iya." Terpaksa mereka berbohong lagi. "Jangan ada yang menyusul dia!" Isman menghalangi mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN