bc

DENDAM ARWAH MATI TAK WAJAR

book_age12+
3
IKUTI
1K
BACA
mystery
crime
virgin
like
intro-logo
Uraian

Puri pergi ke Kota besar untuk memenuhi permintaan terakhir Ibunya mencari sang Kakak. Di dalam perjalanan dia bertemu sosok wanita misterius yang mengarahkannya pada sebuah mall tua yang sudah puluhan tahun terbengkalai. Dengan bantuan Ryan, dia memecahkan misteri kisah tragis masa lalu p*********n gadis muda di mall tersebut oleh beberapa pria. Setelah itu, kemampuan indigo Puri semakin kuat dan satu persatu kasus kematian dalam lingkaran keluarganyapun mulai terungkap dan saling berhubungan satu sama lain.

chap-preview
Pratinjau gratis
Petunjuk
Puri berusaha menahan air mata yang akan jatuh ke pipinya saat melihat jenazah sang Ibu dimasukkan ke liang lahat. Angin yang berhembus kencang menerbangkan daun-daun kering di sekitar makam Diah Binti Ryan. "Kami permisi dulu Neng." Penggali kubur mohon izin pada perempuan muda berkacamata hitam tersebut. Puri mengangguk. "Makasih Kang." Ucapnya. Tinggallah Puri seorang diri di sana, padahal langit sudah gelap dan sepertinya akan turun hujan. Puri memegang nisan tersebut. "Buk, Puri akan mencari Kakak Puri. Do'akan Puri ya." Dia melepas kacamatanya. Matanya nampak sembam. Malam itu angin masih saja berhembus kencang, serasa pohonpun akan ikut tumbang. Puri sendirian di rumahnya. Suara hentaman keras terdengar dari kamar Ibunya. Puri yang baru saja selesai sholat menuju ke sana untuk memeriksa. Ternyata dia lupa menutup jendela kamar Ibunya. Puripun langsung menutup jendela. Namun saat dia menoleh, dia melihat sosok Ibunya duduk di atas tempat tidur. Tentu saja Puri merasa terkejut. "Ibuk?" Dia menyebut namanya. Wanita itu duduk terdiam di atas tempat tidur dengan pandangan lurus ke arah cermin. Puri memberanikan diri melangkahkan kakinya menuju kepada Ibunya. Wajah Ibunya nampak pucat. "Buk, ada apa gerangan Ibuk masih di sini?" Rupanya Puri sadar betul kalau itu adalah jin qorin yang menyerupai Ibunya. Perlahan Ibunya mengangkat tangan kirinya dan menunjuk ke arah cermin dengan pandangan yang menakutkan. Perlahan Puri menengok ke arah cermin, betapa terkejutnya dia melihat sosok hantu wanita dengan gaun berwarna hitam berdiri di belakang Ibunya lalu wanita dengan wajah seram dan rambut berantakan itu memegang kepala Ibunya dan memutarnya ke belakang. "Argh...! Ibuk...!" Puri menjadi histeris. "Puri, bangun." Suara seorang perempuan membangunkan dirinya dari mimpi buruk. Puri masih terlihat begitu ketakutan. "Kamu mimpi buruk?" Tanya perempuan muda itu padanya. Puri tak bisa menceritakan mimpinya itu, dnafasnya masih terengah-engah. "Ayo bangun, kita sarapan." Ajak perempuan tadi. Kini Puri tinggal bersama Paman dan Bibinya yang juga memiliki seorang putri seusia dirinya. "Paman tidak setuju kamu pergi ke Kota." Kata Pamannya yang sedang menaruh nasi ke dalam piring. "Bibi juga tidak senang kamu ke Kota. Di Kota semua serba mahal, kata orang, Ibu Kota lebih kejam dari Ibu tiri." Lanjut Bibinya. "Tapi kalau Puri ke Kota, Seril ikut ya Pak, Buk. Seril pengen ke mall." Gumam sepupunya. "Alah, mall cuma keren sebutannya saja. Di sini juga banyak toko-toko yang menjual barang-barang bagus, bahkan barang dari luar Negeri, ya kan Pak?" Bantah Ibu Seril. Anak itupun hanya bisa pasrah. "Puri harus ke Kota Paman, Bibi. Karena itu adalah pesan terakhir Ibuk." Jelas Puri. Tak ada pilihan lain selain merelakan kepergian gadis cantik yang pendiam itu. Paman sendiri yang mengantarnya ke stasiun. "Puri berangkat dulu Paman." Puri mencium tangan Pamannya. Meski berat hati, Paman Puri mengikhlaskannya. "Kalau sudah sampai di sana, kabari Paman." Pintanya. Puripun menganggukkan kepalanya. Puri naik ke kereta, Paman menunggunya di depan gerbong. Saat kereta berangkat, Paman melambaikan tangan dan Puri membalasnya lewat jendela. Puri merasa bosan karena dia duduk sendirian, matanya juga merasa ngantuk. "Kamu sendirian?" Tanya seorang wanita cantik berambut panjang. Puri terkejut karena tiba-tiba wanita itu duduk di hadapannya. "Iya." Jawabnya singkat. Wanita dengan rambut hitam lurus itupun antusias, sepertinya dia sangat senang mendapatkan teman seperjalanan. "Kamu mau ke Kota kan?" Tebak wanita itu. Puri mengangguk, dia cuek saja pada wanita yang tak dikenalnya itu. "Aku juga mau ke Kota, di Kota pasti sangat menyenangkan. Kamu lihat baju aku?" Wanita itu berdiri di hadapan Puri. Puripun melihat wanita itu memakai mini dress berwarna hitam tanpa lengan dengan panjang rok di atas lutut. "Apa itu tidak terlalu terbuka?" Puri memberi komentar. Wanita tadi cemberut, dia duduk kembali di hadapan Puri. "Kata Ibu aku, ini gaya anak-anak di Kota." Dia membela diri. Puripun memilih untuk diam. Perjalanan masih terus berlanjut, keduanya hanya diam. Kemudian wanita tadi kembali bertanya. "Kamu tak takut pergi sendirian ke Kota?" Puri hanya menjawabnya dengan gelengan kepala. "Aku takut sendirian. Selama ini aku sendirian dan tak tau kemana jalan pulang." Wanita itu murung. Puri menjadi iba padanya. "Jadi kamu tersesat?" Tanyanya. "Iya, aku tersesat. Aku harus ke toko sepatu ini, tas Ibu tertinggal di sana." Wanita itu memberikan secarik kertas bertuliskan nama sebuah toko sepatu yang cukup populer pada Puri. "Galery Shoes?" Puri membacanya. "Namanya tidak asing, tapi dimana toko ini?" Saat Puri mengangkat kepalanya, wanita itu sudah menghilang. "Hei?!" Puri mencoba mencarinya. "Kemana dia?" Namun wanita itu tak ada di sekitar sana. Puri melihat kembali sobekan kertas di tangannya. "Galery shoes..." Dia menjadi amat penasaran. Sore itu Puri sampai di Kota besar yang dikenal sangat ramai akan penduduknya tersebut. "Taxi Mbak?" Seorang pria menghampirinya. "Tidak, terimakasih." Puri mengabaikannya. Dia berjalan kaki mencari toilet umum. Puri membasuh wajahnya dengan air agar merasa segar kembali. Kemudian dia menelpon Pamannya. "Puri, kamu sudah sampai?" Kebetulan Bibi yang menjawab panggilan darinya. "Iya Bi, sekarang Puri mau mencari penginapan dulu." Jawab Puri sambil tersenyum. "Yasudah, kamu hati-hati ya. Jangan sampai terkecoh sama orang-orang di sana." Bibi memberi nasehat. "Iya Bi. Nanti Puri kabari lagi kalau sudah sampai di penginapan." Jawab Puri. Puri bertemu lagi dengan Sopir taxi tadi. "Taxi Pak?" Kali ini Puri yang menyapanya. Pria berumur 42 tahun itu agak kesal dengan perlakuannya tadi. "Pasti dari desa kan?" Tebaknya. Puri mengangguk. "Pantas, kamu pasti mengira semua orang Kota itu jahat. Padahal mah tidak." Tangkas Pria itu. Puripun tersenyum. "Maaf Pak. Bisa tolong antarkan saya ke sini." Puri menunjukkan alamat di kertas tadi. "Galery shoes. Toko sepatu yang terkenal itu kan?" Tanya Sopir taxi itu. "Saya kurang tau Pak. Namanya memang tidak asing, karena sering dipromosikan di radio." Gumam Puri. "Iya, tapi itu kan toko lama. Apa masih buka?" Sopir taxi itu merasa ragu. "Mungkin masih buka Pak. Toko se-terkenal itu tidak mungkin bangkrut kan?" Puri sedikit bergurau. "Kalau begitu, ayo kita periksa." Ajak Sopir taxi. Puri naik taxi bersama Sopir tadi. Tak ada ketakutan sama sekali dari diri perempuan berkerudung tersebut. "Saya sudah lama tidak ke area mall itu lagi Mbak. Selain jaraknya jauh dari stasiun, banyak orang bilang, di sana angker." Sopir bernama Ardi itu mulai bercerita. "Angker kenapa Pak?" Puri menjadi penasaran. "Dulu Mall itu kebakaran, tapi ada 1 lantai yang tidak dilalap api, konon katanya karena ada penunggunya di sana." Jawab Pak Ardi. "Penunggu?" Puri masih belum memahaminya. "Iya, arwah penasaran. Serem Mbak. Dia suka menganggu para lelaki." Bulu kuduknya merinding seketika, Pak Ardi mengusapnya. Azan magrib sudah berkumandang. "Kita mampir di Mesjid depan itu ya Pak." Perintah Puri. "Baik Mbak." Sopir itu menyalakan lampu send dan berbelok ke Mesjid tersebut. "Saya mau sholat magrib dulu ya Pak." Tutur Puri. "Iya Mbak." Jawab Pak Ardi. Baru beberapa langkah Puri menaiki anak tangga, dia berbalik lagi dan menemui Pak Ardi yang hendak memejamkan mata untuk tidur sejenak. "Pak." Panggilnya. "Eh. Kok balik lagi?" Pak Ardi terkejut. "Maaf, apa Bapak muslim?" Tanya Puri. "Iya. Memangnya kenapa?" Pak Ardi balik bertanya. Puri malah tersenyum. "Ayo kita sholat dulu Pak. Mudah-mudahan Allah melindungi kita saat ke sana nanti." Entah kenapa Puri berkata seperti itu. Pak Ardi merasa takut. "Iya Mbak." Diapun memilih ikit dengan Puri masuk ke pekarangan Mesjid. Saat taxi ditinggalkan, Ada bayangan hitam yang muncul dan duduk di bangku depan. Puri dan Pak Ardi sholat berjamaah di Mesjid tersebut dengan khusyuk. Selesai sholat, mereka bertemu lagi di luar Mesjid. "Bapak sudah makan?" Tanya Puri. "Belum Mbak." Dengan malu-malu Pak Ardi menjawabnya. "Kita makan dulu ya Pak. Saya yang traktir." Puri berbaik hati pada Pak Ardi. "Ayo." Pak Ardi menjadi bersemangat kembali. Mereka memilih makan malam sederhana di sebuah warung pinggir jalan. "Di sini warung langganannya Bapak Mbak." Pak Ardi mengajak Puri masuk ke sana. "Eh, Mas Ardi, mau pesan apa?" Seorang pelayan wanita memghampiri mereka. "Nasi komplit plus teh panas ya." Jawab Pak Ardi. "Seperti biasa toh Mas?" Sepertinya pelayan itu sudah kenal betul dengan Pak Ardi. "Ngomong-ngomong, ini siapa, cantik sekali." Puji pelayan tersebut. "Ini keponakanku dari Desa." Pak Ardi memilih berbohong. "Oalah... Pak Le mu tidak pernah cerita kalau punya keponakan cantik seperti kamu. Tau begini kan bisa saya jodohkan sama anak saya." Pelayan itu merasa senang bertemu dengan Puri. Puri mencoba tersenyum ramah padanya. "Kamu pesan apa Ndo?" Tanyanya kemudian. "Sama seperti Pak Le saja Buk." Puri cepat mengerti dan dia mengikuti rencana Pak Ardi saja. "Tunggu sebentar ya." Saat pelayan wanita itu pergi menyiapkan makanan, Pak Ardi berterimakasih padanya. "Makasih ya Mbak? Dan maaf saya harus bohong karena tidak mau orang-orang salah paham." Puri tersenyum kepadanya. "Tidak masalah Pak. Terimakasih sudah mau mengantarkan saya." Ucap Puri. "Oh ya, Mbak yakin mau lanjut ke toko itu? Ini sudah malam loh." Pak Ardi memastikannya sekali lagi. Sementara pelayan wanita tadi sedang memanggil anak lelakinya yang sedang menonton siaran bola di televisi. "Oper, oper. Aduh, gimana sih." Sampai-sampai tak menyadari kehadiran Ibunya. "Hei, bantuin Ibuk, cepat!" Pelayan itu menarik tangan anaknya. "Apaan sih Buk, lagi seru ini." Protesnya. "Pokoknya antarkan makanan ini ke meja depan sana." Tegas Ibunya. Meski berat hati, pemuda itupun menurut. "Ini pesanannya." Dia menyajikan makanan di atas meja. "Makasih ya Ryan." Ucap Pak Ardi. Melihat Puri yang cantik, Ryan malah terkesima. "Ryan, teh nya." Panggil Ibunya dari arah dapur. "Iya Buk." Pemuda tersipu malu di hadapan Puri. Pemuda bernama Ryan itupun segera menemui Ibunya. "Buk, itu siapanya Pak Ardi?" Dia mulai menggali informasi dari Ibunya. "Keponakannya. Cantik kan? Makanya Ibu minta kamu ke sana." Jelas Ibunya. "Kenapa tidak terus terang saja. Ryan kan tidak akan menolak." Protes Ryan. "Dasar!" Sang Ibu dibuat kesal. Ryan kembali lagi untuk membawakan 2 gelas teh. Tak sengaja dia mendengar percakapan Puri dan Pak Ardi. "Jujur, saya tidak berani ke mall itu malam-malam. Lebih baik besok saja Mbak." Par Ardi memberi saran. "Tapi saya harus ke sana malam ini juga Pak. Saya penasaran kenapa wanita di kereta api itu memberikan saya alamat ini. Ini seperti sebuah petunjuk." Puri bersikeras. "Bagaimana kalau saya saja yang mengantarkan kamu ke sana." Ryan malah ikut-ikutan bicara. Puri dan Pak Ardipun heran. "Kamu serius?" Tanya Pak Ardi. "Iya. Kemanapun Mbak pergi, Ryan akan setia menemani dan mengantarkan dengan selamat." Ryan begitu percaya diri. "Memangnya kamu tau saya mau kemana?" Tanya Puri. "Mall kan?" Tebak Ryan. "Galery shoes." Jawab Puri. Kini mata Ryan melotot. "Galery shoes, mall itu?" Dia merinding seketika. Pak Ardipun menertawainya. "Katanya kemanapun akan ditemani, diantarkan, dijaga." Ejeknya. Ryan mulai merasa bimbang dan ragu, tetapi dia sangat ingin bisa berkenalan dengan Puri. "Ayo." Jadi keputusannyapun memilih setuju. Pak Ardi menjadi batuk. "Tapi tolong jangan bilang ke Ibuk ya Pak?" Hanya itulah syarat darinya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Patah Hati Terindah

read
82.9K
bc

Pulau Bertatahkan Hasrat

read
640.0K
bc

Marriage Aggreement

read
87.0K
bc

Scandal Para Ipar

read
707.9K
bc

Life of An (Completed)

read
1.1M
bc

JANUARI

read
48.9K
bc

Life of Mi (Completed)

read
1.0M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook