Bab 7 Rahasia Gelap Tobias

1849 Kata
Isabella membenarkan letak tas di bahunya. Kakinya melangkah cepat menyusul Tobias yang kini sudah melangkah jauh begitu mereka keluar lift. Pria itu berjalan tenang menuju lobi kantor. Isabella baru bisa bernapas lega saat ia dan Tobias akhirnya keluar dari tempat itu. Disambut oleh udara dingin malam Kota Madrid. Ya, benar. Spanyol! Belum sampai satu bulan ia bekerja, kini Isabella sudah sampai melangkah ke Madrid. Gila! “Claire!” Panggilan tegas Tobias membuat Isabella berlari menghampiri pria itu, agak merasa bersalah karena kini Tobias tampak mengamati lekat-lekat setiap orang di sekelilingnya. Meski ekspresinya masih datar, sirat kebingungan di sana membuat Isabella merasa … agak cemas. “Di sini, Pak.” Isabella refleks meraih tangan pria itu, membimbingnya menuju mobil yang sudah menunggu mereka—ia cukup bangga karena sudah menyiapkan segalanya dengan sangat baik untuk perjalanan bisnis ini. Tobias tidak mengatakan apa pun. Meski kini ia dapat berada di depan mobil karena bimbingan gadis itu. “Lepaskan. Aku ini tidak buta.” Pria itu berkata dingin sambil menarik lepas tangannya. Tobias masuk ke kursi penumpang di belakang. Sementara Isabella mengitari mobil lalu duduk di balik kemudi. Isabella menarik napas panjang. Melirik sekilas ke bangku belakang melalui spion tengah mobil. Tahu bahwa pria itu mengabaikannya dan lebih memilih memandangi iPad membuat Isabella lagi-lagi menarik napas panjang. Gadis itu akhirnya mulai melajukan kendaraan. Informasi dari Daniel beberapa hari lalu membuat Isabella jadi kebingungan. Baginya, keadaan Tobias kini termasuk mengkhawatirkan. Ia benar-benar ingin membantu pria itu—kekesalannya benar-benar terjun bebas hingga hampir seluruhnya menjadi simpati. Namun, sikap pria itu sama sekali tidak berubah. Dingin, angkuh, tak segan bersikap kasar, dan seolah tidak membutuhkan orang lain sama sekali. Sulit untuk memercayai bahwa pria itu ternyata berada dalam kondisi sangat rentan. Bagaimana bisa kau menjalani hari dan berurusan dengan begitu banyak orang saat kau bahkan tidak bisa mengenali wajah mereka? Membayangkannya saja Isabella tidak bisa. “Bagaimana dengan makan malam, Pak? Apakah Anda ingin saya pesankan sesuatu?” Isabella bertanya saat mereka sudah memasuki kamar hotel VP Plaza Espana Design. Tobias menyampirkan jasnya ke lengan sofa lalu merebahkan diri di sana. Ia belum bicara sepatah pun sejak mereka masuk ke mobil tadi. Isabella lagi-lagi rikuh bagaimana harus bersikap. “Pesankan saja lewat telepon. Minta mereka antar ke sini,” jawabnya tenang dengan mata terpejam. Isabella mengangguk patuh. Ia segera memesan—satu paket lengkap menu makan malam terbaik—melalui telepon kamar. Setelahnya, gadis itu buru-buru bangkit dan membereskan barang Tobias. “Saya akan siapkan air hangat.” Tanpa banyak bicara lagi, Isabella segera melesat ke kamar mandi. Berjalan tanpa suara karena takut mengganggu atasannya. *** Isabella duduk sambil melipat lutut di atas permadani kamar, di depan ranjang. Ia benar-benar tak habis pikir. Bagaimana bisa Tobias menolak usulannya untuk memesan dua buah kamar jika pada akhirnya pria itu hanya menyuruhnya tidur di lantai. Tobias bahkan tidak mengatakan ‘ya’ saat Isabella bertanya apakah ia bisa menggunakan sofa. “Tidakkah kau mengerti? Itu kulakukan agar nanti jika terjadi sesuatu maka kaulah yang akan menjadi target pertama sebelum orang itu mencelakaiku.” Alasan itulah yang ia terima ketika ia bertanya apa gunanya ia tidur di lantai. Hah! Pria itu menjadikannya sebagai pasukan pengaman lini pertama? Bisa-bisanya! Memangnya makhluk gila dari mana yang berniat mencelakai pria gila sepertinya itu. Isabella menoleh, memandangi punggung Tobias yang bergerak pelan karena irama napas. Ia meletakkan iPad ke sebelah bantal. Benda yang sudah ia pegang sejak tadi. Ia baru saja me-review ingatannya mengenai daftar orang-orang yang bermasalah dengan Tobias Oliveros. Bersyukur karena telah mengingat hampir 90% dari keseluruhan. Karena merasa punggungnya kaku, Isabella kembali meregangkan tubuh sambil menguap lebar. Malam semakin larut. Tobias duduk di sofa tunggal kamar di dekat jendela lebar. Tak jauh darinya, seorang gadis sedang terlelap. Pria itu menatap sekilas pemandangan malam Kota Madrid. Mengembuskan napas lelah. Seperti malam-malam biasanya, ia terbangun dini hari dan tidak bisa tidur lagi tanpa bermimpi buruk. Waktu terlama Tobias tidur nyenyak di malam hari hanyalah dua jam. Meskipun sudah menghabiskan waktu hampir satu jam duduk di sini, ia sama sekali tidak mengantuk lagi. Ia menoleh, kini berganti menatap Isabella. Sekretarisnya yang tadi ia suruh tidur di lantai. Tobias menajamkan pandangan. Berusaha menilik wajah lelap itu, tetapi tidak bisa menangkap apa pun. Belum apa-apa kepalanya sudah sakit. Tidak ada yang istimewa tentang Isabella. Ia memang punya kecerdasan yang baik dan refleks tubuh yang bagus, tetapi bukan berarti hal itu istimewa. Ia yakin bisa menemukan banyak gadis di Italia dengan kemampuan serupa. Namun, ada hal lain yang membuatnya bersedia menerima gadis itu. Sesuatu yang lebih … rumit. Dengan langkah pelan, Tobias mendekati Isabella. Ia berjongkok di sampingnya. Baju Isabella sedikit tersibak hingga menunjukkan sisi perutnya, memperlihatkan luka goresan yang kini sudah mengering. Tobias mengernyit samar. Pria itu kembali menilik wajah Isabella, seolah sedang mencari jawaban pertanyaan sulit. Namun, ia tidak bisa mendapat apa pun. Ia menarik napas dalam. Mengernyit lagi saat hidungnya membaui aroma yang sangat mengusik. Persis seperti kejadian malam itu saat ia mengoyak perut Isabella. Aroma tubuh gadis ini adalah poin tersulit yang ia hadapi. Bau yang mengusik sisi hatinya yang mati rasa. Membuatnya terjebak dalam ingatan yang menyakitkan. Tobias memalingkan wajah dan bangkit. Ia sudah melangkah, tetapi akhirnya kembali, hanya untuk menggeser sedikit selimut darurat yang gadis itu pakai agar bisa menutupi perutnya, lalu kembali ke kasur. Ia mengambil iPad sambil separuh berbaring. Jika tidak bisa tidur setidaknya ia harus melakukan sesuatu. *** Isabella bangun kepagian karena terlalu tegang akibat takut terlambat. Mereka akan kembali ke Roma pagi ini. Jadi, Isabella harus memastikan semua persiapan telah selesai. Ia sudah mengonfirmasi bahwa jet pribadi Tobias akan berangkat pukul sepuluh pagi. Kini, masalahnya hanya satu. Membangunkan Tobias. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan, tapi Tobias masih tertidur lelap seperti bayi. Isabella akhirnya bangkit. Merapikan tempat ia tidur lalu berjalan mendekati Tobias. Dengan agak gemetar, ia menarik napas dalam. Tangannya terulur, menepuk lengan pria itu. “Pak … Pak Tobias …,” panggilnya pelan. Hening. Hanya dibalas oleh dengkuran halus Tobias. “Pak Tobias … bangun, Pak.” Isabella kembali berusaha. Kali ini Tobias bergerak. Melenguh pelan, lalu meregangkan tubuh. Ia mengerjap-ngerjapkan mata. Berusaha melihat sosok yang kini berdiri membungkuk di atasnya. Penglihatannya fokus di satu titik, kaca mata. “Sudah pukul delapan, Pak. Kita akan kembali ke Roma pagi ini,” ujar Isabella lagi dengan pelan. Tobias menggeram pelan, berganti posisi tubuh. “Air …,” katanya dengan agak serak. Isabella refleks menuangkan segelas air ke cawan mengilat lalu memberikannya pada Tobias. Pria itu duduk sebentar untuk minum. Meneguknya hingga habis sambil masih separuh terpejam. Begitu cawan sudah tandas, ia kembali berbaring. Isabella masih menunggu instruksi selanjutnya. Sebelum kemudian tahu bahwa Tobias rupanya tidak kunjung bangun. Pria itu malah kembali tidur dengan lelap. Apa-apaan! “Pak Tobias … kita harus segera bersiap.” Hening sejenak. Isabella hampir mengguncang tubuhnya lagi sebelum Tobias menyela. “Bangunkan aku satu jam lagi.” Hanya satu kalimat. Lalu pria itu kembali tidur. Sambil memaksa diri untuk berani, Isabella kembali membangunkan. “Tapi, Pak ….” “Satu jam lagi, Claire.” Nada itu lagi. Meski ia menyuarakan perintah itu dengan keadaan separuh sadar, tapi intimidasinya masih membuat jantung Isabella gemetaran. Entah apakah Tobias melihat bahwa Isabella masih belum beranjak ataukah ia hanya mengigau. Namun, Isabella yakin kalimat tajam itu pasti bukan ucapan kosong. “Kalau kau memang sebegitu inginnya pulang, maka terbanglah sendirian dan pulanglah duluan ke Roma.” Napas Isabella tercekat. Matanya menatap Tobias yang masih bergeming dengan tatapan kaget bercampur takut. Ia bahkan tidak ingin repot-repot menatapnya saat memerintah Isabella. Akhirnya, dengan gerak perlahan, Isabella mengangguk dan menjauh. “Baik, Pak. Saya akan membangunkan Anda satu jam lagi.” Detik selanjutnya kamar kembali hening. Diisi oleh dengkuran halus Tobias yang kadang terdengar amat samar. Dengan langkah lambat, Isabella kembali bergelung ke tempat tidurnya, karpet hotel. Menahan diri untuk tidak mengutuki atasannya yang benar-benar keterlaluan. *** Pagi itu akhirnya mereka baru bisa sarapan pukul setengah sebelas siang—Isabella bahkan tidak yakin ini bisa disebut sarapan. Setelah hampir puluhan makian terucap di benak Isabella, Tobias akhirnya bangun. Pria itu menawar lagi untuk membangunkan satu jam kemudian begitu Isabella sudah membiarkannya untuk tidur satu jam lebih lama. Saat itulah Isabella sadar bahwa bisa-bisa mereka akan kembali ke Roma sore hari jika keadaan itu dibiarkan. “Apa jadwal kita hari ini?” tanya Tobias sambil menikmati secangkir kopi dan menandaskan sarapannya. Isabella mengelap sudut bibir, masih mengernyit karena sensasi makanan yang hampir membuat mulutnya memaki. Karena Tobias meminta satu paket lengkap sarapan terbaik hotel, maka Isabella akhirnya juga menyantap makanan itu. Alhasil, ia tidak bisa makan. Semua makanan terasa asing. Ia hanya bisa menghabiskan satu menu berbahan dasar roti yang paling bisa diterima dari segala pilihan yang ada. Isabella diam-diam bersyukur bahwa hari ini mereka pulang. Ia benar-benar tidak bisa mengerti selera orang kaya. “Malam nanti Anda akan menghadiri makan malam dengan kolega perusahaan Lion Company. Besok Anda juga akan menghadiri dua pertemuan di kantor. Sore harinya kita akan pergi untuk meninjau langsung sebelum launching produk terbaru anak perusahaan Olympus, Hephaestus Creation Company.” Isabella meletakkan iPad ke meja setelah selesai memberikan gambaran jelas atas segala jadwal sibuk mereka ke depan. Memutuskan untuk menenggak minumnya hingga habis karena merasa agak haus—dan lapar. Ia masih menunggu Tobias yang kini sedang mengecek sesuatu di ponsel. Isabella memaksa matanya untuk hanya memandang wajah pria itu. Namun, kondisi Tobias yang kini sedang menikmati sarapan dengan hanya terbalut jubah mandi di hadapannya benar-benar membuatnya … gerah. Tanpa diperintahkan matanya sudah lebih dulu menjelajah ke mana-mana. Padahal ia sudah menyiapkan pakaian ganti untuknya, tapi Tobias tak peduli dan masih asyik menyantap makanan. Saat itu juga tiba-tiba tatapan Tobias menanjak. Iris abu-abu itu menatap Isabella lekat-lekat. Punggung Isabella menegak seketika. “Bersiaplah. Kita akan berangkat,” titah pria itu kemudian. Isabella mengernyit dan memandangi penampilannya. Ia sudah siap sejak satu jam lalu. Ia merasa tidak ada yang salah dengan setelan kerjanya hari ini—blazer dan rok berwarna abu-abu. Lalu di mana masalahnya? “Maaf, Pak? Saya sudah siap.” Tobias balas memandang dengan tajam. Seolah jawaban itu benar-benar kesalahan fatal. “Tidak dengan setelan itu, Claire. Ganti dan pakailah setelan kasual.” “Maaf, Pak?” Isabella membeo lagi. Sementara Tobias sudah bangkit, ingin berpakaian. “Oh, dan undur semua jadwal yang tadi kau sebutkan. Kita akan pulang ke Italia besok. Aku ada rencana hari ini.” Isabella bangkit dari duduk dengan agak rusuh. “Pak Tobias, saya pikir … itu tindakan yang kurang bijak. Akan sulit untuk melakukan itu. Salah satu janji temu bahkan sudah diatur sejak dua minggu lalu. Perusahaan tidak—” Kalimat Isabella berhenti begitu saja ketika Tobias tiba-tiba berbalik. “Lalu bagaimana kalau kau saja yang datang ke pertemuan itu?” Sarkasme derajat tinggi. Isabella menenggak ludah, tangannya menggenggam erat. “Baik, Pak. Saya akan mengatur ulang jadwal Anda,” balas Isabella kemudian sambil menunduk dan menahan suaranya agar tak terdengar gemetar. Tobias berbalik lagi. “Silakan bersiap.” Tanpa perlu diperintah dua kali, Isabella mengambil tasnya dan masuk ke kamar mandi. Kepalanya sudah pusing memikirkan pengaturan ulang jadwal atasannya itu. Ia bahkan sudah membereskan schedule pria itu untuk beberapa hari ke depan. Atasannya itu benar-benar ….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN