Chapter 20

1601 Kata
Dua bulan berlalu... Vika benar-benar dibuat cemas karena sudah dua bulan berlalu dirinya tidak kunjung hamil. Merasa ada yang tidak beres pada dirinya Vika berinisiatif untuk menemui dokter ingin mempertanyakan mengenai kesehatannya dan dokter mengatakan jika tubuh Vika sama sekali tidak ada yang bermasalah. Vika datang sendirian, tanpa Zio. Vika datang sendirian karena ia yakin jika Zio tidak akan mau ikut pergi, apalagi jika menyangkut soal masalah hamil dan anak. Vika sedikit terkejut saat bahunya tiba-tiba saja disentuh. "Kok kamu melamun sih?" Vika menggeleng. "Kamu baru aja pulang." "Hmm," Zio mengangguk sambil melepaskan kancing bagian tangan kemejanya dan menggulungnya sampai siku. "Kamu udah makan?" Zio dan Vika terdiam karena baru saja mereka bertanya secara bersamaan. Zio tersenyum, "kamu udah makan?" "Udah, kalo kamu?" "Udah, tadi waktu ketemu sama klien." Zio mengambil gelas dan mengisinya dengan air putih. Vika memainkan jemarinya karena ingin sekali mengatakan soal keinginannya untuk hamil. Tapi Vika langsung teringat dengan perjanjian yang Zio buat secara sepihak. "Ke kamar yuk." Vika tersadar dari lamunannya. Vika beranjak berdiri ketika Zio menarik lembut tangannya untuk naik ke lantai atas menuju kamar mereka. ️ Zio yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk menatap Vika yang terlihat begitu serius memperhatikan ponselnya. "Serius..." Zio berhenti berbicara ketika melihat Vika terlonjak kaget dengan layar ponsel yang langsung dimatikan. "Ya ampun aku kaget." Vika tertawa kecil sambil mengelus dadanya. Zio tersenyum dibalik rasa penasarannya. "Emang tadi kamu abis liat apa? Serius banget." Zio berjalan ke arah kamar mandi untuk menaruh handuknya. "Liat berita." Vika langsung menaruh ponselnya. "Besok-besok aja liat beritanya, sekarang kamu tidur." "Kamu gak tidur?" Zio menggeleng sambil berbaring di sebelah Vika. "Mau lanjut kerja nanti." "Terus kenapa kamu tiduran?" Tanya Vika berbaring menghadap Zio. "Mau nemenin kamu tidur dulu." Zio menarik Vika ke dalam pelukannya. Vika balas memeluk Zio menyandarkan pipinya di d**a Zio. Setengah jam berlalu Vika belum bisa tertidur karena dirinya sedang bimbang antara ingin berbicara pada Zio atau sebaiknya diam saja mengenai dirinya yang belum juga hamil. "Kamu belum tidur?" Vika mendongak untuk menatap Zio. "Emm..." "Ada yang mau kamu bilang?" "Aku mau..." Zio menaikkan alisnya. "Mau apa?" Vika memainkan jemarinya kakinya sambil berpikir apakah ia harus berbicara atau tidak. Vika takut, bukan takut jika Zio marah. Melainkan takut jika hatinya kembali sakit mendengar Zio tidak ingin memiliki anak. "Aku mau, tidur." Vika tersenyum kembali menyandarkan pipinya di d**a Zio. Zio tertawa. "Kirain mau ngomong apa. Ya udah tidur, aku temenin." Zio mencium puncak kepala Vika lalu mengelus-elus punggung Vika. Vika mengigit bibir bawahnya karena ternyata ia tidak bisa berbicara kepada Zio. Beberapa saat kemudian, Zio melepaskan pelukannya ketika yakin jika Vika sudah tertidur dengan pulas. Zio duduk di tepi tempat tidur mengambil ponsel Vika. Tanpa perlu mencari aplikasi apa yang sempat dibuka oleh Vika, Zio langsung membuka google. Dan benar saja ada beberapa pencarian terakhir dengan topik yang selalu sama. Mengenai kehamilan. Zio kembali meletak ponsel Vika menarik selimut sampai menutupi d**a Vika dan keluar dari kamar untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. ️ "Jangan jemput aku nanti, ya." "Kenapa?" "Emm... Aku ada tugas kelompok." "Selesai kuliah nanti?" Vika mengangguk. "Emang kamu pulang jam berapa?" Tanya Zio. "Malem, kamu juga pulangnya malem kan? Tapi ntar aku duluan kok yang pulang, aku masih bisa nungguin kamu pulang di rumah." "Oke," balas Zio sambil melepas safety belt milik Vika. "Aku pergi." Pamit Vika tidak lupa mencium tangan Zio. "Kalo sempet aku bakal jemput kamu." "Iya!" Seru Vika ketika sudah keluar dari mobil. Vika berdiri di dekat mobil Zio melambaikan tangannya ketika mobil Zio sudah melaju. Vika tersenyum memperhatikan mobil Zio yang sudah menjauh lalu melihat jam tangannya. ️ Pukul 10.15 Dengan begitu berani Vika meninggalkan kelas yang seharusnya selesai pukul 12 siang nanti. Dengan menggunakan transportasi umum Vika pergi ke suatu tempat. Vika berdiri menatap sebuah alamat yang ada di ponselnya lalu beralih menatap alamat yang tertera di bagian atas tempat yang ia datangi. Vika masuk ke tempat itu. Ketika sudah masuk Vika diarahkan ke sebuah ruangan oleh seorang wanita. Vika duduk di sebelah wanita yang sedang membaca sebuah buku. Menyadari kehadiran Vika wanita itu menyapanya dengan tersenyum dan langsung dibalas senyuman oleh Vika. "Sendirian aja?" Melihat wajah bingung Vika wanita itu menunjuk name tag yang tergantung di leher Vika dimana ada nama lengkap Vika juga ada asal negara Vika. Vika tidak selalu memakainya, hanya hari ini saja karena memang diharuskan untuk memakai name tag tersebut. "Oh, iya." Vika langsung melepas name tag nya dan menyimpannya di dalam tas. "Kamu juga sendirian?" Tanya Vika tanpa memakai embel 'mbak' atau 'kak' karena jika dilihat-lihat mereka memiliki umur yang sama. "Iya, tadi sih mau sama suami saya cuma suami saya ada urusan." Vika mengangguk sambil tersenyum. "Nama saya Rachel, kalau kamu?" "Vika," "Kamu tinggal di sini, ya?" "Iya, saya kuliah. Kalau kamu?" "Tinggal di Indonesia, ke sini cuma mau ikut seminarnya doang. Katanya seminar di sini bagus untuk ibu-ibu yang pengen hamil atau yang udah hamil." "Status kamu ada dua berarti?" Lanjut wanita itu. "Iya, mahasiswi sekaligus istri." Rachel tersenyum. "Suami kamu udah kerja atau masih kuliah juga?" "Udah kerja, baru aja sih." Rachel mengangguk. "Kamu udah berapa lama nikah?" Gantian Vika yang bertanya. "Kurang lebih satu tahun, belum punya anak juga. Kamu udah berapa lama?" "Bentar lagi jalan enam bulan." "Semoga kita bisa punya anak secepetnya." Kata Rachel. "Amin." Balas Vika dengan cepat. Vika dan Rachel berhenti bertanya dan berbicara ketika seminar yang mereka datangi sudah akan dimulai. ️ Vika berhenti berjalan dengan jantung yang berdegup ketika melihat mobil Zio ada di depan rumah. Vika langsung menatap jam tangannya yang menunjukkan pukul delapan. Vika pun bergegas masuk ke rumah. Ketika baru membuka pintu Vika melihat Zio yang sedang duduk di depan televisi dengan pakaian kerja yang masih melekat ditubuh. "Kamu udah lama pulang atau baru aja?" Vika menaruh tas nya di sofa dan duduk di sebelah Zio. "Baru aja. Kamu kenapa baru pulang?" "Iya, baru selesai sekarang tugasnya." "Bukannya kamu bolos karena ikut seminar?" Vika yang sedang menyisir rambutnya dengan tangan langsung terhenti sambil melirik Zio. "Haa? Enggak kok." Vika tertawa. "Jangan bohong." Zio menatap Vika dengan kedua tangan yang saling bertautan. Vika berhenti tertawa seraya memperhatikan vas bunga yang ada di depannya. "Maaf," kata Vika dengan lirih. "Kenapa kamu bohong?" "Kalo aku jujur kamu pasti gak bakal izinin aku." Zio menghela napas sambil menyandarkan tubuhnya. "Kamu gak harus bolos cuma karena seminar kayak gitu." "Aku juga gak bakal bolos kalo kamu gak jahat." Zio menatap Vika. "Kamu gak mau punya anak, apa itu gak jahat namanya?" "Aku males bahas soal itu, lagian kita udah bikin perjanjian." Zio beranjak dari duduknya dan pergi. "Perjanjian kamu, bukan perjanjian kita! Aku sama sekali gak ada bilang setuju soal perjanjian sepihak kamu itu." Zio berhenti melangkah berbalik menatap Vika yang sedang berdiri menghadapnya. "Kamu mau punya anak, tapi aku enggak. Gimana ceritanya kamu bisa punya anak sedangkan aku gak mau." Ucap Zio tanpa menaikkan nada suaranya sedikitpun. Vika membuang wajahnya dengan mata yang berkaca-kaca. Hatinya kembali sakit. Zio melangkah mendekati Vika ketika melihat mata Vika berkaca-kaca. "Kalo emang kayak gini gak seharusnya kita nikah." Zio berhenti melangkah dengan jarak kurang satu meter dari tempat Vika berdiri. Vika mengambil tas nya dan berjalan dengan cepat ke arah tangga menuju kamar. ️ Dua hari berlalu Vika lebih banyak mendiamkan Zio sedangkan Zio nya selalu berusaha untuk berbicara pada Vika. Vika mau berbicara walaupun hanya sekedar menjawab pertanyaannya dengan singkat. Selain itu Vika juga tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang istri dengan menyiapkan baju Zio dan membuatkan Zio sarapan. "Aku pulang cepet hari ini, kamu mau gak jalan-jalan?" Vika menggeleng sambil mencuci piring. "Kenapa? Kan mumpung aku pulang cepet. Jarang-jarang aku pulang cepet." "Gak usah." Zio pun memilih untuk diam sambil memperhatikan Vika. "Aku pergi dulu, ya." Pamit Zio mencium seraya mengelus kepala Vika. Vika mengangguk. Setelah Zio pergi Vika duduk di kursi mini bar seraya menuang air putih dan menenggak nya sampai habis. Vika mengelap keringatnya dengan punggung tangan dengan perasaan yang masih sangat kesal dengan Zio mengenai ucapan Zio beberapa hari yang lalu. Vika menyentuh perutnya saat tiba-tiba saja merasakan sesuatu yang aneh. Tak lama Vika berlari menuju wastafel memuntahkan cairan yang ada di dalam mulutnya. Vika memegang erat tepi meja dapur karena tubuhnya terasa sangat lemas. Vika beralih menyentuh perutnya. "Apa iya?" Gumam Vika. "Ntar kalo di cek lagi ternyata enggak." Vika teringat mengenai dirinya yang sempat mengecek apakah ia hamil atau tidak dengan alat testpack dan ternyata hasilnya negatif. Vika sudah tahu banyak mengenai tanda-tanda kehamilan, salah satunya mual, kepala pusing, dan badan terasa lemas. Sekarang Vika tengah merasakan itu. Dengan badan yang masih lemas Vika berjalan menuju kamar. Sesampainya di kamar Vika membuka lemari pakaiannya mengambil sesuatu yang ia simpan diantara lipatan bajunya. Testpack. Dengan jantung yang berdebar-debar Vika masuk ke kamar mandi. Selesai mengecek apakah dirinya memang positif hamil atau tidak Vika menutupi bagian testpack yang akan memberikan dua pernyataan; pregnant or not pregnant. Sangking takutnya jika harapannya kembali pupus Vika memejamkan mata. Secara perlahan Vika menjauhkan tangannya yang menutupi bagian hasil dari testpack tersebut. Dan dengan perlahan Vika membuka kedua matanya. Pregnant. Vika langsung menutupi mulutnya yang terbuka lebar melihat hasil testpack yang menyatakan bahwa dirinya positif hamil. Vika memegang testpack dengan kedua tangan membiarkan air matanya keluar membasahi pipi. Vika keluar dari kamar mengambil ponselnya yang terletak di tempat tidur, Vika berniat untuk menghubungi Zio. Namun Vika langsung mengurungkan niatnya ketika mengingat ucapan Zio dua hari yang lalu. Vika duduk di tepi tempat tidur dengan tangan masing-masing memegang handphone dan testpack nya. Dengan gerakan begitu lembut dan halus Vika mengelus perutnya. "You're here, right? Daddy will know about your presence soon, stay healthy, okay?" Kata Vika dengan lembut sambil terus mengelus perutnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN