Chapter 18

1357 Kata
"Aku gak mau kita punya anak." Vika terkejut mendengar pernyataan Zio. Bagaimana mungkin Zio yang sangat suka dengan anak kecil dapat mengatakan hal seperti itu. "Kamu bercanda, kan?" Vika tertawa kecil. "Aku gak mau kita punya anak. Tanpa ada anak hidup kita udah berwarna kok." "Kenapa kamu malah bilang kayak gitu? Justru setiap pasangan yang baru aja nikah pengen punya anak, kenapa kamu enggak?" Zio memilih untuk bungkam. "Aku mau kita punya anak." Kata Vika dengan lirih. "Kita bisa adopsi anak." Vika menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi menatap Zio dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Apa yang kamu pikirin? Kenapa kamu bisa bilang kayak gitu? Gak mau punya anak, adopsi anak. Kamu tau gak sih rasanya bener-bener beda kalo kita punya anak hasil adopsi. Pasangan yang milih untuk adopsi anak karena mereka bener-bener gak mampu untuk punya anak. Sedangkan kita, aku yakin kita mampu punya anak." Zio tidak membalas ucapan Vika dengan mata yang tertuju ke arah piring kosong miliknya. "Jadi apa tujuan kita nikah kalo gak mau punya anak? Rasanya gak lengkap kalo belum punya anak setelah nikah." "Alasan aku gak mau punya anak karena aku gak mau nasib kamu sama kayak Mama aku." Zio beranjak dari kursi sambil membawa piring kotor miliknya. Vika memperhatikan Zio dengan mata yang dipenuhi cairan bening. Vika mengalihkan perhatian dengan kedua mata yang terpejam sejenak menghirup udara sebanyak-banyaknya. ️ Pagi harinya, Vika terbangun terlebih dahulu dengan tubuh yang masih berbaring di tempat tidur serta mata yang tertuju ke arah jendela kamar. Vika merasakan pergerakan tepat di sebelahnya dan tidak membuat Vika merubah sedikitpun posisinya. Vika sedikit mendorong tubuh Zio agar menjauh darinya karena tubuh Zio terlalu menempel kepadanya. Vika masih kesal dengan Zio soal pembicaraan mereka kemarin malam. Selesai mereka berbicara Vika langsung pergi ke kamar dan tidur. "Morning." Sapa Zio tepat di dekat telinga Vika. Vika tidak menjawab melainkan menarik selimutnya. "Udah bangun dari tadi?" Vika mengangguk. "Jangan kenceng-kenceng." Vika merasa sesak saat tangan Zio yang melingkar di perutnya memeluknya dengan erat. Vika menjauhkan tangan Zio dari perutnya. Zio berbaring terlentang seraya mengecek ponselnya yang ada di nakas. "Aku hari ini ke kantor, mau liat-liat dulu." "Hmm." "Kamu mau ikut aku?" Vika menggeleng. Zio menoleh memperhatikan Vika yang tengah berbaring membelakanginya. "Kamu lagi ngambek ya sama aku?" Zio sedikit menegakkan tubuhnya untuk menatap wajah Vika. "Ngambek soal tadi malem?" Zio menarik lembut Vika agar berbaring menghadapnya. "Kan aku udah kasih tau kamu alasannya." Lanjut Zio ketika dirinya bukan saling tatap. "Gak mungkin kita gak punya anak." Kata Vika seraya menjauhkan tangan Zio yang ada di pipinya. "Percuma nikah kalo gak punya anak." "Gak ada kata percuma." "Kamu bayangin hidup kita gini-gini aja, gak ada anak cuma kita berdua. Bisa bayangin gak kamu?" "Aku udah kasih kamu solusi soal anak." "Aku gak mau adopsi anak!" Vika langsung beranjak dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi. Zio duduk di tempat tidur sambil memperhatikan pintu kamar mandi yang sudah tertutup dengan rapat. ️ "Kak Vika!" Vika tersenyum seraya menyentuh kedua bahu Aya dimana Aya tengah memeluk kakinya. "Mami sama Papi mau minum?" Vika menggendong Aya berjalan ke arah ruang tamu. "Ya ampun kayak sama siapa aja nawarin minum, Mami Papi bukan tamu lho yang harus ditawarin minum segala." Kata Reya sambil menaruh tas nya di meja. "Zio nya dimana? Tadi Papi udah telfon tapi gak diangkat." Kata Nevan. "Lagi di kantor, Pi. Paling bentar lagi pulang." "Udah kerja?" Vika menggeleng, "mau liat-liat dulu katanya." Nevan mengangguk kemudian menjatuhkan kepalanya di atas sandaran sofa. "Nia sama Fazra kok gak ikut?" "Mereka kan sekolah, lagian besok Mami sama Papi udah pulang kok. Gak lama-lama di sini, takut ganggu." Vika tertawa mendengar ucapan Reya. "Abaaanggg!" Pekik Aya berlari ke arah Zio yang baru saja tiba di rumah. Vika memperhatikan Zio yang sedang menggendong Aya sambil mencium anak kecil itu. "Abang pikir Minggu depan baru dateng. Mami Papi udah lama sampe?" Tanya Zio duduk di sebelah Vika. "Baru aja. Tadi Papi udah telfon Abang tapi gak Abang angkat." Balas Reya. "Handphone Abang lowbat, Mi." "Ya udah deh, Mami mau ke dapur dulu." Reya beranjak diikuti dengan Vika. "Aya mau sama Abang atau ikut Mami?" "Sama Abang." Kata Aya sambil memeluk leher Zio. ️ "Kamu sama Zio lagi berantem?" "Enggak, Mi." Vika tersenyum. "Tapi kalian keliatan gak kayak biasanya. Biasanya kan ngomong terus, Zio ajak kamu ngomong terus." Vika hanya tersenyum seraya memindahkan kue yang dibawa oleh Reya ke toples. "Kalo emang lagi berantem gak boleh lho sampe diem-dieman gitu." "Vika sama Zio gak diem-dieman kok." Reya sedikit merendahkan kepalanya hingga bibirnya sejajar dengan kuping Vika. "Apa kalian udah... Gituan?" Brak. Toples plastik yang kosong tidak ada isinya yang ada di tangan Vika terjatuh di lantai ketika mendengar pertanyaan Reya. Reya dan Vika refleks sama-sama mengambil toples plastik tersebut. Apalagi Zio dan Nevan tengah memperhatikan keduanya. "Aduh, sampe kaget." Reya tertawa dan berbicara dengan pelan. Vika ikut tertawa kembali duduk tanpa menoleh ke arah Nevan dan Zio. "Kaget ya denger pertanyaan Mami?" Tanya Reya dengan pelan. "Dikit." Reya tersenyum. "Kan siapa tau udah, kalo udah berarti Mami Papi bakal punya cucu dong." Wajah Reya terlihat begitu senang dan antusias. Vika hanya bisa tersenyum. "Semoga Zio sama Vika bisa punya anak secepetnya." "Amin." Reya langsung mengaminkan ucapan Vika. Malam harinya, di kamar yang biasanya hanya ada dua orang bertambah menjadi tiga dengan kehadiran Aya bersama Zio dan Vika. Mereka bertiga tidak bermain bersama, hanya Aya dan Vika sajalah yang bermain sedangkan Zio sibuk dengan laptopnya. "Aya bobok sini boleh?" Tanya Aya melingkarkan tangannya di pinggang Vika. "Boleh dong." "Selamanya?" Vika tertawa. "Mau tidur selamanya di sini?" Aya langsung mengangguk sambil tersenyum. "Boleh-boleh aja. Sekalian jadi anak kakak, ya?" Aya mengangguk membuat Vika tertawa karena ucapannya candaannya benar-benar direspon oleh Aya. Vika melirik Zio yang terlihat tidak terusik sedikitpun. "Aya mau main game atau nonton TV?" "Game!" Vika mengambil ponselnya mencari game yang cocok untuk Aya lalu memberikan ponselnya. "Kaka Vika suka main ini?" Tanya Aya sambil bersandar di d**a Vika. "Suka. Aya suka?" Aya mengangguk. "Kita sama." Vika tersenyum menjatuhkan dagunya di atas kepala Aya memperhatikan Aya yang sudah bermain game. ️ "Udah makan?" Zio mengusap sejenak rambut Vika. Vika menggeleng sambil menyesap cokelat panas yang baru ia buat. "Kok belum? Udah jam delapan lho." "Nanti." "Mau aku ambilin?" Vika menggeleng mengaduk-aduk cokelat panasnya. "Kamu belum ada makan." "Udah, sore tadi." "Itu kan waktu nganter Mami Papi ke bandara. Malem ini kamu belum ada makan." Vika diam. "Aku ambilin makan, ya?" "Gak mau." "Jadi mau nya apa?" Vika kembali diam. "Mau anak?" Tanya Zio. Vika menoleh. "Dari kemaren pembahasan kita soal itu mulu, jujur aku gak suka." Zio tertawa kecil. "Kamu gak mau punya anak, sedangkan aku mau punya anak. Apa aku punya anak dari laki-laki lain aja?" Keduanya diam saling tatap. "Gak semua perempuan pasti meninggal habis melahirkan, enggak." "Tapi banyak kejadiannya." "Gak semuanya." Ucap Vika. Vika mengalihkan tatapannya seraya menghela napas. "Seenggaknya kita coba dulu." Lanjut Vika dengan nada bergetar. "Kita udah coba. Tapi mana hasilnya? Kamu gak hamil. Dua bulan yang lalu, sampe sekarang gak ada tanda-tanda kalo kamu bakal hamil, iya kan?" "Ya kita berusaha lagi!" "Mau berusaha kayak mana? Kalo emang gak bisa ya udah, kita gak bisa maksa." "Bukan gak bisa. Kita pasti bisa! Emang kamu aja yang gak mau berusaha!" Mata Vika sudah berair. "Kenapa gak kita coba lagi?" Vika menarik ujung baru Zio dengan mata yang berkaca-kaca. "Aku udah bilang gak mau..." "Aku mau!" "Gimana kalo nasib kamu..." "Gak akan!" Zio menghela napas. "Aku gak bisa." Vika meremas ujung baju Zio dengan mata yang semakin berair. "Demi aku, please." Kata Vika benar-benar memohon. Zio menggeleng. "Please. Aku pengen banget liat gimana muka anak kita nanti." Zio menjauhkan tangan Vika yang masih memegangi ujung bajunya. "Kalo kali ini kamu gak hamil juga. Jangan bahas soal anak lagi, apalagi kamu sampe bilang mau punya anak. Itu perjanjian kita." Zio pergi dari dapur meninggalkan Vika sendirian. Ditinggal sendirian oleh Zio Vika tidak merasa sedih apalagi sakit hati. Justru ia senang, senang karena ia yakin sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang ibu. Vika menyentuh perutnya dengan perasaan yang campur aduk, di dalam hati Vika mulai berdoa agar keinginannya untuk segera punya anak dapat terkabulkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN