Chapter 17

873 Kata
Zio tersenyum seraya menerima buket bunga yang Vika berikan kepadanya. "Maaf ngasihnya waktu udah sampe di rumah. Aku juga gak bisa kasih kamu apa-apa." Zio tertawa. "Ini aja aku udah seneng kok. Makasih kamu udah mau dateng ke acara wisuda aku tadi." Kata Zio sambil memeluk Vika. Vika tersenyum membalas pelukan Zio. "Sekarang giliran kamu selesain kuliah kamu." Zio melepaskan pelukannya dengan satu tangan yang masih berada di punggung Vika. "Kita udah sepakat untuk nunda soal anak." Senyum Vika sedikit memudar. Vika mengangguk. Mengenai Vika mengatakan ia ingin hamil dan memiliki anak Zio membalas keinginannya dengan sebuah kalimat selesain dulu kuliah kamu. Dan dari situ Vika tidak pernah mengatakan apapun soal hamil apalagi soal anak. "Oke, malem ini kita makan malem di luar yuk." "Gak mau ah." Zio mengerenyit. "Kita makan malem di rumah aja, kita masak bareng-bareng. Kalo perlu kita barbeque berdua terus kita makan berdua di rumah." Usul Vika. "Nanti meja makannya kita hias ala-ala meja restoran. Gimana?" "Of course. Anything you want." Zio mencubit gemas dagu Vika. "Abis ini kamu kerjanya beneran di sini kan?" Zio berjalan sambil merangkul Vika melangkahkan kaki menuju kamar mereka. "Papi aku punya perusahaan di sini, ya aku kerjanya di perusahaan yang ada di sini. Lagian gak mungkin aku ninggalin kamu, kamu kan masih kuliah." "Jadi kalo aku udah gak kuliah kamu mau ninggalin aku?" "Kan ninggalin karena kerjaan, bukan karena perempuan lain." Vika sedikit memicingkan matanya. Sedangkan Zio tertawa sambil membuka pintu kamar. "Yang menarik kalah sama yang terbaik. Kamu yang terbaik." Zio mencium Vika sebelum ia masuk ke dalam kamar mandi. ️ "Aku cuma tau kamu bisa bikin nasi goreng sama mie instan. Aku gak tau kalo kamu bisa masak daging kayak gini." "Aku masak yang berat-berat gini cuma untuk aku sendiri." "Kenapa?" Tanya Vika. "Karena aku takut ntar rasa masakan aku gak enak buat kamu. Lebih bagus aku aja yang makan." "Tapi kali ini kamu masakin buat aku." Zio mengalihkan matanya dari penggorengan. "Buat kita." "Whatever." Kata Vika seraya mengambil piring. "Kenapa Papi Mami kamu langsung pulang tadi?" "Papi Mami kamu juga." Zio mencicipi masakannya yang siap untuk dipindahkan ke piring. "Papi aku ada urusan mendadak, soal kerjaan jadi mereka terpaksa pulang." Zio mengambil piring yang Vika sodorkan kepadanya. "Kapan mereka ke sini lagi?" "Minggu depan." Vika mengangguk berjalan di bekalang Zio menuju ke arah meja makan. Vika tersenyum saat Zio menarik kursi untuknya kemudian Zio duduk di depan Vika. Zio dan Vika saling tatap ketika tangan mereka sama-sama memegang sendok nasi. "Biar aku ambilin." "Aku bisa ambil sendiri." "Gak usah. Aku aja, Zio." Setelah sama-sama berebut mengenai sendok nasi Zio pun mengalah membiarkan Vika yang mengisi piringnya dengan nasi. "Kamu tadi sore belajar bikin kue, ya?" Tanya Zio karena ia sempat melihat tong sampah dipenuhi dengan bungkus tepung, margarin serta cangkang telur. Vika tersenyum malu seraya menaruh piring Zio. "Mana sekarang kue nya?" "Kenapa?" "Mau aku makan." Vika menggeleng. "Gak enak kue nya, gak usah." "Tapi aku bener-bener pengen makan. Kamu buat kue itu untuk siapa?" "Ya, untuk kamu." Balas Vika dengan pelan. "Ya udah aku pengen makan kue nya." "Gak enak tau." "Gak papa. Enak gak enak aku tetep pengen ngerasain kue yang udah kamu buat, apalagi kamu buat kue nya untuk aku." Zio tersenyum. Dengan perasaan tidak yakin Vika beranjak dari duduknya berjalan ke arah lemari untuk mengambil kue yang ia buat. "Gak enak loh." Kata Vika ketika sudah kembali memperhatikan Zio yang sedang menatap kue buatannya. Vika menatap dengan lekat wajah Zio saat laki-laki itu sudah memakan kue buatannya. "Gak enak kan?" Vika langsung mengambil kue yang dipegang Zio menarik piring kue nya dari hadapan Zio. "Enak kok." "Ih, enak dari mana. Keras gitu." "Yang makan kan aku." Vika menggeleng menjauhkan kue nya dari mereka. "Makan nasi aja." Vika memberikan makanan yang sudah dimasak oleh Zio ke piring Zio. Zio tertawa melihat ekspresi Vika yang bisa dibilang panik ketika ia sedang memakan kue buatan istrinya. "Pasti kalo ada orang baru di rumah ini seru, agak rame rumahnya." Zio hanya tersenyum mendengar ucapan Vika dan tahu maksud dari ucapan Vika. "Emang kamu gak ngerasa sunyi karena cuma ada kita berdua?" "Enggak." Jawab Zio sambil mengunyah makanan. "Aku ngerasa sunyi tau. Apalagi kamu udah mulai kerja, bener-bener kerja. Aku sendirian di rumah gak ada temennya." "Kamu bisa ikut aku ke kantor. Pulang kuliah kamu langsung ke kantor aku tapi kalo kamu lagi gak kuliah kamu bisa ikut aku." Vika tersenyum kecil. "Kamu ngerti gak maksud omongan aku?" Zio mengangguk tanpa menatap Vika. "Aku pengen kita punya anak." Zio menatap Vika. "Kamu..." "Iya aku tau belum lulus kuliah, tapi apa salahnya hamil sambil kuliah? Sebelum kita nikah aku emang takut banget kalo aku sampe hamil karena aku masih kuliah, tapi sekarang aku pengen kita punya orang baru di rumah ini." "Gak gampang hamil sambil kuliah, apalagi punya anak sambil kuliah. Waktu kamu jadi terbagi antara kuliah sama ngurus anak. Menurut aku kamu harus pilih satu, kuliah atau ngurus anak." "Dua-duanya." Kata Vika sudah lupa dengan makanannya sedangkan makanan Zio sudah mulai habis. Zio menggeleng. "Menurut aku kamu harus fokus selesain kuliah kamu." "Abis itu kita bisa punya anak?" Zio diam sesaat. Vika sama sekali tidak mengalihkan matanya dari wajah Zio tidak sabar menunggu jawaban Zio. "Aku gak mau kita punya anak."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN