Seorang perempuan dengan rambut berwarna cokelat terang tersenyum saat Vika sudah membuka pintu rumahnya.
"Can I leave my baby with you? New bride."
Vika menatap anak bayi yang masih berumur dua bulan yang ada di kereta bayi nya.
Vika mengerenyit karena tiba-tiba saja perempuan tersebut menitipkan bayi padanya. Walaupun Vika kenal perempuan itu yang tinggal di depan rumah Zio tetap saja ia bingung karena ini adalah yang pertama kalinya perempuan tersebut menitipkan bayi mungil kepadanya.
"Of course, I'll take care."
Perempuan tersebut tersenyum.
"Mommy must work, I'll pick it up tonight, okay?" Katanya pada bayi nya dimana bayi itu sedang menggeliat.
"I entrust him to my mother, but my mother is gone so I leave my child to you. When I get home from work I'll pick up my baby."
Vika tersenyum seraya mengambil dengan hati-hati bayi itu dari gendongan ibunya.
Perempuan tersebut menyerahkan sebuah tas yang berisikan perlengkapan sang bayi.
Sambil menggendong bayi dan membawa tas Vika masuk ke dalam rumah saat perempuan tadi sudah pergi.
Vika menaruh tas tersebut di sofa sambil sesekali melirik ke arah jendela untuk menunggu kepulangan Zio.
Vika pulang kuliah tidak bersama dengan Zio karena siang hari ia sudah keluar sedangkan Zio sore hari. Jadilah Vika pulang terlebih dahulu.
"Aku gak bisa rawat bayi. Aku belum punya bayi." Kata Vika sambil menatap bayi laki-laki yang sedang menghisap jempolnya.
Vika menoleh ke arah pintu karena mendengar pintu tersebut terbuka.
"Aku pulang." Zio masuk memperhatikan beberapa kantung plastik yang ia bawa.
Zio berdiri mematung di depan pintu yang baru saja ia tutup ketika melihat Vika sedang berdiri sambil menggendong bayi.
"Itu bayi siapa?" Zio melangkah mendekati Vika.
"Depan rumah kita, dia nitipin bayi nya ke aku. Pulang kerja nanti dia jemput bayi nya." Vika menatap jam dinding. "Ini aja udah sore, mau jam berapa dia jemput, tengah malem?"
"Biasanya dia pulang jam segitu." Zio berjalan ke arah dapur untuk meletakkan plastik makanan yang ia bawa.
️
Vika menghela napas melihat bayi yang tidak ia ketahui siapa namanya terus menangis. Vika benar-benar tidak bisa merawat bayi dan tiba-tiba saja ada orang yang menitipkan bayi kepadanya.
"Kenapa nangis terus?" Tanya Zio baru keluar dari kamar mandi.
"Gak tau. Udah aku kasih s**u tapi dia gak mau, nangis terus." Vika menunjukkan botol s**u yang ia pegang menatap bayi yang sekarang berbaring di tempat tidur sambil menangis.
Zio naik ke atas tempat tidur duduk di dekat kaki sang bayi.
"Bayi nangis bukan berarti dia haus, gak selalu kayak gitu. Mungkin aja dia lagi pipis, atau poop." Zio menunjuk bayi yang sedang menggoyangkan kaki dan tangannya sambil menangis.
Zio membuka celana si bayi dan mengecek popoknya.
"Nah bener, dia pipis. Popoknya udah kepenuhan." Ucap Zio setelah ia mengecek popok bayi tersebut.
"Kamu ambil popok nya biar aku yang gantiin."
"Emang kamu bisa?"
Zio tertawa, "bisa dong, aku pernah bantuin Mami aku ngurusin Aya waktu Aya baru lahir."
Vika langsung mengambil popok dari tas berwarna merah yang ia letak di dekat nakas.
"Kita ganti ya popoknya, jangan nangis lagi abis itu." Kata Zio sambil membuka popok si bayi.
Zio memberikan popok yang sudah ia buka pada Vika.
"Buang."
"Haaa?"
"Popoknya dibuang, masukin ke dalam plastik abis itu buang ke tong sampah depan."
Vika mengambil popok tersebut dengan ujung jarinya.
Melihat Vika seperti itu Zio malah tertawa.
Zio memakaikan popok yang baru pada bayi yang sekarang sudah tidak menangis lagi. Dengan hati-hati Zio memakaikan popok tersebut.
Setelah selesai Zio mengangkat tubuh sang bayi dengan perlahan. Zio beranjak dari tempat tidur berdiri di depan jendela sambil menggendong bayi.
Vika yang baru masuk ke kamar berniat untuk mencuci tangan malah mematung memperhatikan Zio yang sedang berbicara pada bayi sambil menggerakkan lembut tangan si bayi.
"Udah dibuang popoknya?"
Vika yang sedang melamun langsung tersadar.
"Udah. " Vika mengangguk dan berjalan ke kamar mandi.
️
Vika memperhatikan Zio yang sedang membuat bubur untuk bayi yang sekarang ada di gendongannya. Vika benar-benar tidak menyangka bahwa Zio dapat mengurus bayi dengan begitu baik, dari mulai menggantikan popok sampai membuat makanan bayi.
Sebelumnya bayi tersebut sudah diberi s**u namun sepertinya masih tetap lapar dengan ia terus menangis. Zio dan Vika sudah memeriksa apakah bayi tersebut pipis atau poop Dan ternyata tidak. Zio dan Vika pun memutuskan untuk membuat bubur bayi jika dengan minum s**u bayi tersebut masih merasa belum kenyang.
"Apa rasanya?" Tanya Vika ketika Zio menyodorkan sendok teh yang berisikan bubur.
"Enak."
Vika membuka mulutnya mengunyah bubur bayi yang sekarang ada di mulutnya.
"Aku gak suka."
Zio terkekeh mengambil mangkuk bubur yang sudah ia buat.
"Kita duduk di sana." Zio merangkul Vika menuju sofa.
"Mau kamu yang suapin?" Zio memberikan mangkuk bubur bayi.
Zio mengambil bayi yang ada di gendongan Vika karena ternyata Vika mau menyuapi si bayi.
"Dikit-dikit aja."
"Segini?"
Zio mengangguk.
Vika mendekatkan ujung sendok teh karena mereka tidak punya sendok khusus untuk bayi pada bayi yang sekarang sedang mengecap mulutnya ketika bubur itu sudah masuk ke dalam mulutnya.
Vika terlihat gemas saat bayi itu menggerakkan mulutnya dengan mata yang kedip secara perlahan sambil menatap Zio.
"Lagi ya." Vika kembali memberikan si bayi makanannya.
Untuk suapan yang ketiga, si bayi tidak mau membuka mulutnya dan malah menyembunyikan wajahnya di perut Zio.
"Dia kenapa?"
"Gak mau makan lagi."
Vika menaruh mangkuk yang ia pegang di meja.
"Terus, abis ini ngapain?"
"Tidur, anak bayi biasanya kan gitu. Abis makan tidur." Zio menyandarkan tubuhnya sambil memainkan bibir mungil si bayi.
"Mama nya belum jemput juga ya." Vika beranjak untuk menaruh mangkuk bubur di dapur.
"Masih jam delapan, kan Mama nya pulang tengah malem." Balas Zio tersenyum pada bayi yang sedang menatapnya.
"Bayi itu bakal terus dititipin ke kita?" Tanya Vika ketika sudah kembali dan duduk di sebelah Zio.
"Aku gak tau. Mungkin iya."
"Suaminya emang kemana?"
Zio menggeleng, "kayaknya gak ada, gak pernah ngeliat suaminya."
"Kasihan banget kalo emang gak ada Papa nya." Ucap Vika memperhatikan bayi yang kini berusaha untuk memakan tangannya yang tertutupi sarung tangan.
"Mau ada Papa nya atau enggak, semoga besarnya nanti bisa jadi orang sukses."
"Ayo ke kamar, bayi nya udah mau tidur kayaknya. Nguap terus dari tadi." Lanjut Zio sambil mengulurkan tangannya pada Vika.
️
Zio berjalan ke arah jendela membuka sedikit gorden yang menutupi jendela kamarnya untuk melihat rumah yang ada di depan rumahnya.
"Belum pulang juga, lampu rumahnya masih mati." Zio berjalan ke arah tempat tidur dimana ada Vika yang sedang berbaring dan si bayi yang sudah terlelap dengan posisi menyamping menghadap Vika yang juga menyamping.
Zio naik ke atas tempat tidur dan berbaring. Zio mengerenyit melihat Vika begitu serius memperhatikan si bayi.
Yang ada di kepala Vika saat melihat bayi yang sedang tidur itu adalah bagaimana jika bayi itu merupakan anaknya dan anak Zio. Vika berpikir pasti menyenangkan bisa memiliki bayi.
Vika tersenyum seraya mendekatkan wajahnya untuk lebih jelas lagi menatap si bayi.
Jemari lentik Vika mulai bergerak mengusap pipi chubby si bayi. Mengusapnya dengan gerakan sangat lembut.
Vika ingin sekali memeluk bayi tersebut tapi Vika takut jika si bayi terbangun dan menangis.
Vika menarik selimut khusus untuk bayi sampai ke lengan setelah sebelumnya hanya sampai batas pinggang.
Vika menatap Zio yang sedang memperhatikan.
"Aku jadi pengen hamil, pengen kita punya bayi." Katanya sambil tersenyum.