Chapter 15

1357 Kata
"Morning." Sapa Zio melingkarkan tangan kirinya di perut Vika lalu mencium kepala Vika. Vika tersenyum. Vika memperhatikan Zio yang sudah masuk ke dalam ruangan tempat Zio menaruh peliharaannya, seperti kucing dan hamster. Itu adalah kebiasaan Zio di pagi hari, melihat hewan peliharaannya memberi makan kemudian ia sarapan. "Ular nya udah dijual?" Tanya Vika sambil mengaduk teh. "Udah." Zio mengangguk, fokus memperhatikan wadah kecil yang sedang ia isi air untuk minum sang hamster. Dua hari setelah mereka nikah Vika langsung menyuruh Zio untuk menjual hewan melata tersebut. Zio sempat tidak tega namun daripada Vika marah dan ia juga tahu bahwa istirnya itu sangat benci dengan hewan melata Zio terpaksa menjual ular nya, demi istri. Selesai membuat teh dan juga roti untuk sarapan Zio, Vika duduk memperhatikan Zio yang terlihat begitu sibuk memberi makan hewan-hewan peliharaannya. Untuk kucing Zio hanya memberikan makanannya di wadah dan dengan sendirinya si kucing akan makan, begitu juga untuk ikan koki Zio yang ada di akuarium. Namun untuk di genit Momo, Zio harus memberikan makan menggunakan tangannya langsung karena sudah beberapa hari ini Momo tidak mau makan jika tidak disuapi oleh pemiliknya. "Nanti aja dibersihin nya, sarapan dulu." Ucap Vika saat melihat Zio hendak membersihkan kandang kucing dan hamster. "Bersihin ini dulu." Zio menunjuk kandang kucing yang ada di tangannya. "Ini teh nya keburu dingin, udah aku bikinin lho." Zio pun meletakkan kandang kucingnya dan duduk di hadapan Vika. "Kamu udah sarapan?" Vika mengangguk memperhatikan Zio yang mulai makan. "Kamu mau kita punya asisten rumah?" Tanya Zio. "Gak usah. Ngapain pake asisten, aku bisa bersihin rumah." "Maksud aku biar kamu bisa santai-santai, yang ngurusin rumah biar asisten aja." Vika mengalihkan matanya ke sekelilingnya. "Kita tinggal cuma berdua, rumahnya juga gak pernah kotor kok. Lagian aku bisa nyapu, cuci piring, ngelap kaca." Zio mengambil tisu untuk mengelap tangannya karena ia sudah selesai makan. "Kita bersihin bareng-bareng aja. Setiap hari Minggu kita bersih-bersih rumah. Kita bagi tugas, aku yang ngelap kaca sama barang-barang rumah. Kamu yang nyapu." Zio tersenyum. "Yang cuci piring?" "Aku." "Yang ngepel?" "Aku." "Aku istri kamu, seharusnya aku yang ngerjain itu. Kamu yang ngelap kaca aja." Zio menatap telunjuk kanannya lalu telunjuk kirinya menyentuh telunjuk kanan. "Aku bisa nyapu," Zio beralih menunjuk jari tengah. "Bisa ngepel, bisa cuci piring, itu kerjaan aku setiap Minggu. Jadi aku aja." Zio mencubit gemas dagu Vika. "Bareng-bareng. Gak pengen denger apapun." Vika menutupi mulut Zio dengan tangan kanannya. "Ih Zio!" Vika mengusap-usap telapak tangannya pada tisu karena Zio menjilat telapak tangannya. "Kamu..." "Iya sayang kamu." Gerakan usapan tisu di telapak tangan Vika melambat menatap Zio yang sedang tersenyum menggodanya. ️ "Bed cover kamu dimana?" "Di lemari." Zio menunjuk lemari sambil membuka sarung bantal dan juga seprai. "Gak ada yang gambar bunga?" Zio tertawa, "aku laki-laki, gak mungkin bed cover aku gambar bunga." Setelah sarung bantal, guling dan seprai sudah dibuka Zio meletakkannya di keranjang khusus pakaian kotor. "Ya udah ini aja." Vika mengambil bed cover berwarna biru bercampur dengan warna putih bermotif garis-garis. "Ntar sore kita beli bed cover yang baru. Yang gambar bunga, ya." Ucap Zio sambil mengelus punggung Vika. Vika mengangguk diselingi dengan senyuman. "Berarti yang ini gak usah dipasang, kan ntar sore kita beli bed cover yang baru." Zio mengambil bed cover yang Vika pegang meletakkannya di dalam lemari. "Kita beres-beres ruang tamu." Zio menggenggam tangan Vika membawa gadis itu keluar dari kamar. Sesampainya di ruang tamu Vika menatap tangan Zio yang sedang memegang celemek. "Kenapa pake ini? Aku gak pernah pake soalnya." "Biar baju nya gak ikutan kotor, gak ikutan basah waktu kita cuci piring nanti." Ucap Zio sambil memasangkan celemek di tubuh Vika dari depan. Vika menjatuhkan dagunya di bahu Zio karena jarak tubuh mereka sangat dekat sekarang. Tak lama kedua tangan Vika melingkar di leher Zio. Zio yang sebenarnya sudah selesai mengikat celemek dibagian bekalang tubuh Vika membiarkan Vika memeluknya. "Kenapa jadi pelukan." Vika tertawa melepaskan pelukannya. "Oke, mari kita beres-beres." Zio mengambil pembersih kaca dan Vika mengambil sapu. Mereka mulai sibuk dengan tugas masing-masing. Vika yang masih menyapu sebagian rumah menoleh ke arah Zio yang sedang mengelap kaca bagian luar rumah. Di tambah matahari bersinar begitu terik, matahari pagi memang bagus namun jika terlalu terik dan lama-lama berhadapan langsung dengan sinar matahari membuat keringat mengucur deras. Tok, tok, tok. Zio yang sedang menyemprotkan pembersih kaca di kain menoleh mendapati Vika berdiri di hadapannya sambil menunjukkan pembersih kaca. Zio merapat ke kaca menempelkan keningnya di kaca karena mereka terhalangi oleh kaca. Zio berada di luar dan Vika berada di dalam. Vika juga ikut merapatkan tubuhnya. Zio menatap bibir Vika yang mengerucut. Sejujurnya Vika mengharapkan Zio melakukan hal yang sama, namun ternyata Zio malah menyentuh bibirnya melalui kaca. "Tadi malem udah, sampe gak kehitung." "Apa?" Tanya Vika dengan cukup kuat karena ia tidak dapat mendengar apa yang Zio katakan. Ditambah lagi suara Zio yang lembut. Zio menggeleng mengelap kaca dibagian wajah Vika membuat wajah Vika terlihat semakin jelas dan cantik di mata Zio. ️ "Tangkep lho aku." "Iya." "Tangannya jangan mundur-mundur." "Iya enggak." Zio tertawa melihat Vika takut-takut meraih tubuhnya. Vika berdiri di sofa setelah membenarkan posisi lukisan yang ada di ruang tamu. Dan saat ia hendak turun Zio menawarkan diri untuk menangkap tubuhnya. Vika ragu-ragu meraih tubuh Zio ketika melihat tangan Zio yang siap menangkap tubuhnya selalu mundur bersamaan dengan tubuh Zio. Vika memberanikan diri meraih tubuh Zio hingga ia memekik ketika merasakan tubuhnya melayang di udara. Zio menangkap tubuh Vika menggendongnya sambil sesekali mencium pipi Vika. Semua pekerjaan rumah sudah selesai mereka kerjakan, semuanya mereka kerjakan secara bersama-sama. "Capek?" Zio mengelap keringat Vika dengan tangannya. Vika mengangguk dengan mulut yang menggembung karena ia sedang minum. "Kan tadi aku udah bilang, AC rumah dihidupin aja biar gak panas." Kata Zio masih mengelap keringat Vika. "Tapi seru, mungkin karena beresin rumahnya bareng kamu." Zio tersenyum seraya menutup botol minum dan menaruhnya di kulkas. "Beli sekarang aja ya bed cover nya, biar kita sekalian makan siang di luar." Vika mengangguk. "Ayo ke kamar, mandi." Vika diam menatap Zio menunggu kelanjutan kalimat Zio. "Kamu dulu yang mandi atau aku?" "Terserah." Zio merangkul Vika. "Ya udah, bareng?" "Gak mau ah." Vika berjalan terlebih dahulu meninggalkan Zio yang sedang terkekeh. ️ "Kemaren kamu kebangun, kan? Jam berapa?" Tanya Zio sambil memberikan segelas air putih pada Vika. Sebelum tidur Vika memang selalu minum air putih. "Jam dua pagi." Jawab Vika sebelum ia minum. "Kok bisa bangun?" Tanya Zio lagi saat Vika sudah selesai minum. "Emm... Aku, mau pipis." "Mau pipis?" Vika mengangguk malu. "Terus?" "Ya, gak berani ke kamar mandi." Vika menatap Zio yang sedang tampak kebingungan. "Aku ini orangnya penakut banget. Di apartemen aku gak berani keluar kamar kalo tengah malem, kadang suka nahan pipis, kan kamar mandi di kamar aku rusak terpaksa pake kamar mandi yang diluar kamar. Aku kalo udah di kamar gak berani keluar, apalagi kalo tengah malem. Emm... Keinget Mama aku waktu aku buka pintu kamar dia." "Jadi tadi malem kamu mau pipis tapi kamu tahan?" Vika mengangguk kecil. "Kenapa gak bangunin aku?" Raut wajah bingung Zio berubah menjadi khawatir. "Gak baik ditahan-tahan." Lanjut Zio. "Kamar mandi kamu kan ada di kamar, ngapain aku bangunin kamu." "Tapi tetep kamu tahan, kan?" Vika diam tidak menjawab. "Jangan kayak gitu. Mau kamar mandi aku diluar atau di dalem kamar aku kalo kamu emang takut sendirian bangunin aku, aku udah bilang sama kamu kalo kamu gak sendirian lagi sekarang, ada aku." Zio yang sedang berdiri di depan Vika yang tengah duduk di tempat tidur merendahkan. "Aku udah bilang kalo mau apa-apa, butuh apa-apa bilang sama aku. Oke, sayang?" Suara Zio terdengar begitu lembut. Vika mengangguk dengan mata yang tertuju ke arah gelas yang masih ia pegang. "Sekarang mau pipis?" Vika menatap Zio lalu menggeleng. "Kadang kalo mau pipis tengah malem." Zio mengangguk seraya menegakkan tubuhnya. "Bangunin aku kalo mau pipis." Vika mengangguk, "iya." Zio mengambil gelas yang ada di tangan Vika menaruhnya di nakas karena air putih nya masih tersisa setengah. Vika berbaring saat Zio sudah naik ke tempat tidur dan ikut berbaring menghadapnya menarik tubuhnya untuk dipeluk. Vika membalas pelukan Zio dengan melingkarkan tangannya di leher Zio. "Sleep well." Bisik Zio sambil mencium lalu mengelus pipi Vika. Vika tersenyum seraya mengangguk dan mengeratkan pelukannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN