Chapter 14

1501 Kata
Zio menghela napas panjang dimana tangannya terasa begitu dingin serta dirinya yang tengah gugup manakala orang yang ada di depannya mulai mengucapkan kalimat sakral. "Saya terima nikah dan kawinnya Havika Claresta..." Sekarang giliran Zio yang mengucapkan kalimat sakral sehidup semati dengan sekali tarikan napas. "...dibayar tunai." Selesai Zio berucap sang penghulu langsung bertanya kepada para saksi yang langsung disambut dengan kata 'sah.' Vika yang duduk di sebelah Zio bernapas lega, diam-diam mata Vika menitikkan air mata akibat rasa sedih dan haru yang ia rasakan. Vika sedih karena kedua orang tuanya tidak ada, dan Vika juga merasakan haru saat mendengar Zio mengucapkan kalimat Ijab Kabul dengan begitu fasih dan lancar. Walaupun Ayah nya tidak ada setidaknya Vika merasa lega karena ternyata adik Ayah nya yang menetap di negeri Paman Sam tersebut dapat menjadi wali nya. Vika sudah sah menjadi seorang istri dan memiliki suami sekarang. "Silahkan cincinnya dipakaikan." Ujar sang penghulu yang memang didatangkan langsung dari Indonesia dan juga penghulu tersebut merupakan teman orang kenalan Nevan. Zio pun mulai memasangkan cincin di jari manis Vika, begitupun dengan Vika. Setelah itu keduanya saling tatap dimana Zio melemparkan senyum dan diikuti dengan Vika. Vika mengambil tangan Zio dan mencium dan gantian Zio yang mencium kening Vika dengan penuh kasih sayang. ️ "Senyum, biasain senyum mulai dari sekarang untuk orang lain." Bisik Zio mengingat Vika tidak pernah menunjukkan senyumnya kepada orang lain. "Aku gak bisa." "Ini yang dateng cuma orang-orang yang kita kenal, belum nanti pas resepsi kita, ada banyak orang yang dateng." "Zio..." "Kan ada aku, ayo kita samperin mereka." Zio merangkul Vika membawa gadis yang bukan lagi kekasih melainkan istrinya kepada teman-teman Zio yang memang sengaja Zio undang, termasuk Maura. "Hello." Sapa Zio pada teman-temannya yang berasal dari negara bagian barat. "Congratulations for your wedding. I can't believe this." Balas teman perempuan Zio sambil tertawa dan sesekali melirik Vika yang hanya diam saja. Zio tersenyum, "thank you for coming." Teman-teman Zio mengangguk sambil tersenyum. "We have to meet others. Enjoy the food and drink. Excuse us." Kata Zio. Zio menatap Vika. Vika dapat mengerti arti dari tatapan Zio. Dengan ragu-ragu Vika menyunggingkan senyum pada teman-teman Zio. Vika sedikit merasa tersinggung melihat ada yang tidak membalas senyumannya dan ada yang membalasnya dengan senyuman terpaksa. Namun Vika merasa lega kala dua orang perempuan yang berdiri di belakang membalas senyuman Vika dengan tulus. Lima orang yang sedang berbincang mendadak berhenti ketika menyadari kehadiran Zio dan Vika. "Kalian udah lama di sini?" Tanya Zio. "Sekitar 20 menit." Jawab seorang laki-laki. "Oh iya, congrats ya. Lo berdua udah nikah." Zio mengangguk sambil tersenyum sedangkan Vika hanya diam sambil sesekali melirik Maura yang sedang menatapnya dengan penuh kekesalan. "Samawa ya. Inget udah nikah bukan pacaran lagi. Waktu pacaran bisa bilang putus, udah nikah jangan sampe ngomong cerai." Celetuk seorang perempuan yang merupakan teman dekat Maura sambil tertawa. Maura tertawa puas mendengar ucapannya temannya. Zio tersenyum. "Gak akan pernah ada kata cerai selama masih saling cinta. Kunci untuk jaga rasa cinta itu gampang, saling percaya." Bibir Maura dan temannya yang tengah tersenyum perlahan memudar mendengar ucapan Zio. "Kita tinggal dulu ya, mau ketemu sama yang lain. Puas-puasin makan sama minumnya." Zio merengkuh pinggang Vika. "Makasih udah dateng, permisi." Kata Vika diselingi dengan senyuman tipis. Bagaimana ia ingin menunjukkan senyuman yang biasa ia tunjukkan pada Zio ataupun keluarga Zio sedangkan teman-teman Zio terlihat jelas sangat tidak menyukai dirinya. Dirinya yang dulu selalu melarang Zio untuk berkumpul bersama teman-temannya, dirinya yang suka menyendiri saat tidak ada Zio dan lain sebagainya. ️ "Saya bener-bener gak nyangka kalau Papa nya tega gak mau dateng." Nevan dan Reya menatap laki-laki yang ada di depan mereka. "Maaf, Anda adik dari Papa nya Vika. Selama ini Anda kemana?" Tanya Reya. "Saya di Amerika. Terakhir saya ketemu sama Vika itu waktu Vika masih umur 12 tahun. Setahun saya di Amerika saya sama Abang saya lost contact. Saya pulang ke Indonesia untuk temuin mereka ternyata mereka gak ada, rumah mereka juga udah di jual, mereka hilang gitu aja. Sampe akhirnya saya ketemu sama Vika dua hari yang lalu waktu saya jalan-jalan sama istri dan anak saya di Orchard, di situ Vika ceritain semuanya. Mama nya udah meninggal, Papa nya pergi ninggalin dia sama perempuan lain." Laki-laki itu terlihat menghela napas panjang. "Denger dari cerita Vika malah buat saya benci sama Abang saya sendiri." Katanya sambil tertawa kecil. Nevan dan Reya diam mendengarkan ucapan laki-laki itu. "Kalau tau kayak gitu saya pasti udah bawa Vika pergi sama saya. Tapi, untung aja sekarang ada orang yang bakal jagain Vika, kasih perhatian lebih dan kasih sayang untuk Vika. Makasih." "Saya juga senang akhirnya Vika bisa ketemu sama Anda." Ucap Nevan. "Saya titip Vika." Nevan dan Reya langsung mengangguk. ️ "Resepsi nya mau kapan?" Tanya Nevan sambil makan kacang. Malam hari sekitar pukul delapan dimana para tamu yang diundang secara tertentu sudah pulang mereka duduk di gazebo. Lengkap, ada Nevan, Reya, Nia, Fazra, Aya dan juga Zio Vika. "Nanti kalo Vika udah selesain kuliahnya." Jawab Zio. "Kenapa gak sekarang? Kalo nanti-nanti keburu niat nya ilang lho." Zio menggeleng. "Niat pasti ada, Pi. Abang belum kerja, nanti kalo udah kerja Vika juga udah selesai kuliah baru resepsi." "Kenapa harus nunggu Abang kerja?" Tanya Reya sembari mengikat dua rambut Aya. "Kan di situ Abang udah punya penghasilan. Uang tabungan Abang untuk biayai kebutuhan Abang sama Vika. Abang sama Vika juga sama-sama setuju soal resepsi diadain waktu Abang udah punya penghasilan terus Vika selesai kuliah." "Kan bisa pake uang Papi." Kata Nevan. Zio langsung menggeleng. "Yang mau ngadain resepsi Abang, yang nikah Vika sama Abang. Kenapa Papi yang ngeluarin uang, Zio sama Vika udah sepakat Pi, Mi mau ngadain resepsi nya nanti-nanti aja." Nevan tersenyum, "good boy." Zio tertawa saat Nevan mengacungkan jempol untuknya. "Aya boleh bobok sama kakak?" Aya mendekati Vika duduk di pangkuan Vika. Suara Aya yang kecil serta tiga orang dewasa yang sedang berbincang tentu tidak mendengar ucapan si kecil. "Kenapa Aya mau bobok sama kakak?" Tanya Vika balik. "Aya belum pelnah bobok sama kakak." Vika tersenyum. "Iya nanti bobok nya sama kakak." "Sama Abang juga?" Aya menunjuk Zio yang tengah berbicara. Vika mengangguk. Aya tersenyum duduk di pangkuan Vika menghadap ke arah orang tuanya dengan kepala yang ia sandarkan pada d**a Vika. ️ "Gula mana?" Vika yang sedang membuat teh terlonjak kaget saat mendengar suara yang datang secara tiba-tiba. Vika berbalik dan tercengang melihat Nia berdiri dan menatapnya. "Gula?" Nia mengangguk. Vika langsung mengambil gula yang ada di dekat gelas teh nya dan memberikannya pada Nia. Tanpa mengucapkan apapun Nia berjalan ke arah kulkas untuk mengambil es batu. "Jangan minum teh manis dingin terus, kak. Gak baik, apalagi malem-malem gini." Reya datang sambil membawa gelas. "Aus, Mi." "Kan bisa minum air putih." "Gak enak, gak ada rasanya." Reya menggeleng melangkah menuju wastafel. "Vika buat apa?" Vika yang sedang memperhatikan Nia beralih menatap Reya yang tengah mencuci gelas. "Oh, ini, teh buat Zio." Reya mengangguk diselingi dengan senyuman. Vika pun permisi pergi dari dapur sambil membawa teh yang sudah ia buat. Ketika sampai di kamar Vika mendapati Zio yang sedang memegang beberapa lembar kertas. Zio mengalihkan tatapannya dari kertas pada Vika yang sedang berdiri di dekatnya. "Ini teh nya." Vika menaruhnya di nakas. Zio menatap gelas teh yang Vika bawa kemudian menatap Vika. "Padahal aku cuma bilang pengen teh, bukan minta dibikinin." Zio terkekeh memasukkan lembaran kertas yang ia pegang ke dalam map. "Ya... Itu sama aja kode minta dibikinin." Bibir Zio yang sudah menyentuh pinggiran gelas mendadak menjauh. Zio tertawa, "gitu?" Vika mengangguk tanpa menatap Zio. Zio meletakkan gelas teh nya di nakas menarik lembut tangan Vika menuntunnya untuk duduk di pangkuannya. "Jadi kalo aku bilang pengen punya anak, itu artinya kode aku minta anak?" Tanya Zio melingkarkan kedua tangannya di pinggang Vika. "Gak semuanya kode." "Jadi apa dong?" Vika menatap ke arah lukisan yang ada di atas kepala ranjang sambil memikirkan jawaban apa yang cocok untuk ia keluarkan. "Lagian soal anak kan kita sepakat mau tunda." Zio mengangguk, "emang." "Ya... Udah." Balas Vika tanpa menatap Zio. Zio tertawa dan mengeratkan pelukannya. "Sekarang kamu gak perlu takut apapun, ada aku. Kamu tidur ada aku, kamu bangun tidur juga ada aku. Gak ada yang kamu pikirin lagi sekarang, apalagi soal biaya kuliah kamu. Udah aku semua yang nanggung, kalo butuh apa-apa bilang ke aku. Aku bukan pacar kamu lagi, aku suami kamu. Udah seharusnya aku kasih nafkah untuk kamu, wajib." Vika tersenyum haru menatap Zio selama laki-laki itu berbicara. "Makasih." Balas Vika dengan lirih menahan air matanya untuk tidak keluar. Zio tersenyum dan mengangguk. Tangan Zio beralih mengelus-elus tangan dan punggung Vika dengan lembut. Vika terbelalak lebar saat sesuatu yang kenyal menyentuh bibirnya. Zio menjauhkan wajahnya dari wajah Vika dan tertawa melihat ekspresi Vika. "Udah halal." Dibalik jemarinya yang sedang menutupi bibirnya Vika tersenyum. "Kamu juga harus mulai terbiasa, biar gak terus-terusan kaget." Bisik Zio. "Kamu apaan sih." Vika melingkarkan kedua tangannya di leher Zio menenggelamkan wajahnya di leher Zio. Zio tersenyum menjatuhkan dagunya di bahu Vika menggoyangkan tubuhnya dan tubuh Vika ke kanan dan kiri sambil tangan kanan Zio mengelus punggung Vika.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN