Gelisah

1330 Kata
Kaylana dengan gelisah duduk di mejanya menunggu kedatangan Karel. Entah kenapa ia merasa gelisah bagaimana reaksi pria itu setelah kejadian semalam. Ia sudah terbiasa dengan sikap kasar Liam namun Karel.. semakin memikirkannnya semakin membuat ia gelisah. Ia melihat waktu pada jam tangannya, ini terlalu pagi sebenarnya kalau sesuai jam masuk kantor itu 20 menit lagi. Ia memang sengaja datang lebih awal hari ini karena untuk memastikan reaksi dari pria itu setelah kejadian tadi malam. Jauh di dalam hatinya, ia merasa perlu menjelaskan itu pada Karel. Entahlah, ia memikirkan perasaan pria itu. Karena terlalu fokus dengan pikirannya hingga tidak menyadari kedatangan Karel yang memasuki ruangan, pria itu dengan gagah duduk di kursi kerjanya. Sebenarnya Karel heran dengan kehadiran gadis itu saat ia baru saja memasuki ruangan. Sebenarnya jam berapa gadis itu datang. Karel membuka beberapa berkas yang ada di mejanya sesekali memeriksa Kaylana yang masih menelungkupkan kepalanya di atas meja. Ia menyergit karena tingkah gadis itu, dan sedikit khawatir. Hanya sedikit. Namun setelah beberapa saat posisi gadis itu masih sama hingga membuat Karel tidak tahan hingga ia memilih mendekat pada meja Kaylana. Ia berdiri di samping kursi gadis itu dan berkata, “Sampai kapan kau akan seperti itu?” Kaylana yang tadi masih bergulat dengan pikiranya tersentak kaget dan refleks mengangkat kepanya hingga hampir terbentur pada sandaran kursi yang ia duduki, namun refleks tangan Karel yang menahannya. “Leon.” lirih Kaylana pelan. Entahlah nama itu refleks keluar dari mulutnya, nama panggilan sayang yang ia berikan pada Karel dulu. Kaylana menatap Karel kaget, sekaligus gugup karena jarak wajah mereka yang sangat dekat. Karel yang mendengar itu membeku, hatinya menghangat, dan telinganya memerah. Karel menatap Kaylana dalam dengan penuh kerinduan, perasaan yang ia miliki pada gadis ini masih sama seperti dulu. Karel dengan cepat menguasi dirinya dan melepaskan tangannya. Kaylanya yang tersadar dengan tindakannya menunduk tersipu malu. Dalam diam ia meredakan jantungnya yang berdegub kencang saat ia menatap mata indah kesukaannya dulu. Kaylana berdehem pelan dan matanya bergulir memandang ke segala arah. Lalu ia menatap Karel ragu, “Maaf Pak, ada yang bisa saya bantu?” Karel mengangguk pelan. Suasana mendadak canggung. “Apa jadwal saya hari ini?” tanya pria itu dengan suara baritonnya. Setidaknya pertanyaan ini dapat menjadi alasan untuknya menemui gadis itu. Kaylana gelagapan dan membuka catatan kecilnya, setelah menemukannya ia berkata, “Hari ini ada meeting bersama pak Danu dari PT Cahya pada pukul 10 pagi. Lalu dilanjutkan dengan pukul 3 sore bersama bapak Yamada. Terakhir pukul 8 malam ada makan malam bersama bapak Arianto Mahesa.” “Batalkan jadwal makan malam.” perintah Karel. Ia sangat tahu maksud keluarga Mahesa mengundangnya makan malam untuk memperkenalkan putri bungsunya. Ia sungguh tidak tertarik pada perempuan itu. “Baik pak.” kali ini Kaylana mengangguk patuh tidak lagi protes seperti kemarin. Setelahnya Karel beranjak pergi, namun baru beberapa langkah ia berjalan terhenti dengan panggilan dari gadis itu. "Tunggu Pak Karel, hm” Kaylana mendadak gugup untuk melanjutkan ucapannya. Apakah tidak apa-apa membahas ini di jam kerja. Namun jika ia tidak berbicara sekarang akan semakin membuatnya tertekan memikirkan itu. Karel berbalik dan menunggu gadis itu melanjutkan ucapannya, “Kenapa?” ucapnya. Kaylana menatap Karel dengan gugup berkata, “Te-tentang tadi malam, terima kasih pak.” Karel mengangguk pelan, “Itu saja?” “Hah?” kaylana terdiam, apa pria itu tidak ingin mengatakan sesuatu. Apakah pria itu tidak merasa terganggu dengan ia yang telah memiliki pacar baru? Kaylana menelan ludah pahit, ternyata pria itu tidak perduli sama sekali. Sudah terlihat jelas dengan reaksinya yang bersikap santai. Jadi, ia hanya membuang-buang waktu dari tadi memikirkan pria itu. “Ya, hanya itu saja.” ucap Kaylana pelan. “Hm.” Albert mengangguk dan berbalik menuju meja kerjanya. Kaylana menunduk sedih, ia sadar hubungan mereka benar-benar telah jauh berbeda. Tidak salah jika pria itu tidak lagi perduli padanya, namun tetap saja ia merasakan sakit didadanya. Kaylana segera menepis pikiran konyolnya dan memilih fokus memeriksa berkas-berkas yang ada di mejanya. Tanpa ia sadari, Karel mengamatinya dengan pandangan yang sulit diartikan. ** Di tempat lain terdapat dua orang yang sedang berdebat. Seorang wanita cantik merasa kesal pada suaminya karena pria itu tidak jujur padanya. Jika saja tempo hari ia tidak bertemu dengan gadis itu mungkin sampai saat ini ia tidak akan tahu satu hal pun tentang masalah ini. Sebenarnya ia telah lama mencari keberadaan gadis itu namun hebatnya jejak gadis itu tidak dapat ia lacak sama sekali. Selain itu, ruang aktivitasnya dalam menemukan gadis itu terbatas karena larangan dari ayah nya. Hal ini lah yang membuat usahanya tidak berhasil selama bertahun-tahun. Ia merasa bersyukur telah menemukan keberadaan gadis itu meskipun hanya kebetulan, dan itu juga berkat tidak sengaja hilangnya Ele. Di saat itu ia merasa panik dengan hilangnya putri kesayangannya, Ele. Namun di sisi lain ia bersyukur karena kejadian itu ia dapat bertemu dengan Kaylana, gadis yang telah lama ia cari-cari. Saat ini ia merasa kesal pada suaminya ternyata diam-diam pria itu tahu keberadaan Kaylana dan ia dengan tega menyembunyikan hal itu darinya. Ia kesal karena harusnya ia juga dilibatkan dalam rencana ini. Ia membuang muka saat pria itu menatapnya dengan wajah bersalah. “Sayang maafkan aku. Percayalah, dia yang memintaku untuk merahasiakan ini dari siapa pun.” ucap pria itu sungguh-sungguh. “Apa kau tidak percaya padaku? Kau bisa mengatakannya dengan diam-diam tanpa sepengetahuannya.” “Oke aku yang salah. Aku hanya tidak ingin membuat masalah semakin rumit, Sherly. Aku bahkan sudah berusaha keras menutupi ini juga dari ayahmu. Selain itu, aku sudah cukup berusaha keras untuk mendapat restu darinya pada pernikahan kita dan itu sudah berhasil. Aku tidak ingin ia kembali tidak menyukaiku karena masalah ini, sayang.” Sherly tersentuh dengan alasan pria itu. Benar, restu yang paling sulit mereka dapatkan saat ingin menikah hanya dari orang itu, yaitu saudara laki-lakinya. Ia pria yang keras dan sangat overprotektif padanya. Ya, ia paham karena pria itu hanya ingin melindunginya. Sherly menatap pria itu dan menghela nafas pelan. Ia sebenarnya tidak benar-benar marah padanya karena ia tahu pria ini pasti memiliki alasan yang baik untuk merahasiakannya. “Ya aku paham. Dia memang sulit dipahami, aku saja sebagai saudara satu-satunya tidak dapat memahaminya sepenuhnya. Aku kasihan padanya, di luar ia terlihat keras dan dingin namun ia sebenarnya hancur. Ia telah kehilangan dirinya sendiri sejak dulu.” ucap wanita lirih, ia menatap pria di depannya dengan sendu. Pria itu memeluk istrinya dengan sayang, ia berharap semua ini dapat diselesaikan. “Percaya padanya, ia pasti bisa melewati ini. Ia perlu mengalami semua kesakitan itu agar menjadi kuat dan dapat melawan otoriter ayah mu." ucap pria itu pelan. Wanita dalam pelukannya mengangguk pelan. "Ad, apa cara ini akan berhasil?” tanya gadis itu ragu. Pria menghela nafas pelan, “Entahlah, tapi saat ini hanya gadis itu satu-satunya harapan kita. Sejujurnya aku juga merasa bersalah padanya, ia hanya gadis lugu yang tidak tahu apa-apa tentang permasalahan ini.” Ucapnya pelan. “Ya, aku takut saat ia tahu nanti dan akan membenci kita.” ucap wanita itu sedih. Wanita itu melepaskan pelukannya, “Ad, apa ada yang bisa aku bantu untuk itu?” Pria itu menggeleng. “Aku rasa kita jangan bergerak terlebih dahulu. Biarkan dia yang melakukannya, lagipula ayah mu akan curiga jika kita terlalu jauh terlibat pada permasalahan ini. Jika memang ada yang perlu dibantu aku yakin dia akan menghubungi kita.” Sherly mengangguk pelan setuju “Baiklah.” “Namun aku mencari tahu tentang gadis itu dan ia memiliki pacar seorang aktor namanya Liam, jika suatu hari nanti pria itu berulah kau dapat mengurusnya.” timpal pria itu. “Aku tahu dia, 2 hari yang lalu casting film untuk project film ku selanjutnya. Aku akan mengurus pria itu, itu hal yang mudah." ucapnya tersenyum remeh. “Ya, aku percaya padamu Sherly Bramantya.” Pria itu tersenyum dan kembali memeluk istrinya dengan sayang. Ia akan berusaha membantu istrinya untuk menyelesaikan masalah ini. Namun jauh dilubuk hatinya ia terus dihantui rasa bersalah pada gadis yang ia libatkan padahal tidak tahu apa-apa tentang masalah ini. ‘Ku harap dia tidak melukaimu’ **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN