Bekerja Bersama

1062 Kata
“Kau satu ruangan denganku.” Kalimat yang diucapkan oleh Karelion 30 menit yang lalu. Kaylana dibuat bingung dan kesal dengan pria itu, pasalnya ia mengatakan itu dengan dalih agar dapat memastikan dirinya tidak bersantai di saat jam kerja. ‘Ayolah, aku telah bekerja 2 tahun di Bramantya Group dan semuanya baik-baik saja, ia tidak pernah menerima surat peringatan atau semacamnya. Lagi pula jika pria itu meragukannya kenapa tidak menolak saja pada saat tandatanggan kontrak.’ pikirnya kesal. Kaylana tidak habis fikir dengan pria itu, pasalnya dari masing-masing meja kerja mereka dapat melihat satu sama lain, nyaris berhadap-hadapan dan itu membuat ia tidak fokus bekerja. Lalu yang membuat ia semakin kesal adalah dirinya tidak diberi kesempatan untuk berbicara. Ternyata pria itu masih sama keras kepala, jika sudah membuat keputusan tidak ada yang bisa menghentikannya. Kaylana menghela nafas kesal sembari menyusun beberapa dokumen penting. Ingat, Kaylana adalah orang yang perasa dan nyaris tidak dapat menyembunyikan perasaannya entah itu baik ataupun buruk. Perasaan gadis itu mudah ditebak hanya dengan melihat ekspresi yang ia tampilkan. “Ada apa?” tanya Karel datar. Pria itu menatap Kaylana lekat hingga membuat gadis itu tersentak. Setelah 30 menit berada di ruangan yang hening, tiba-tiba saja suara bariton pria itu memenuhi ruangan. Kaylana yang tadinya sedang fokus menyusun berkas di mejanya segera mendongkak melihat Karel dengan bingung dan sedikit canggung saat mata mereka bersitatap, “Maaf, bagaimana pak?” “Kau terus saja mendengus dari tadi.” ucapnya. Kaylana terbelalak, bagaimana pria itu bisa tau? Apa pria itu memperhatikannya? Kaylana berdehem kecil dan sejenak menatap ke arah lain lalu kembali memusatkan pandangannya pada Karel, “Maaf. Saya tidak akan melakukannya lagi.” ucapnya gugup. Karel menatap dalam gadis itu, tingkahnya sama seperti dulu. Saat mata mereka bertemu pandang ia segera mengalihkan pandangannya dan memutuskan kembali fokus pada pekerjaannya. Kaylana yang melihat itu juga kembali melanjutkan pekerjaannya dengan hati yang masih kesal. Rring..Rring…Rring… Dering telepon kantor di meja Kaylana mengalihkan fokus gadis itu, ia dengan cekatan mengangkatnya. Kaylana tersenyum ramah meski tidak orang di sebelah sana tidak melihatnya, namun cara ini dilakukan agar suara yang keluar juga akan terdengar lebih ramah. “Selamat siang, saya Kaylana dari Mercues Company, ada yang bisa saya bantu?” Gadis itu menempelkan gagang telepon di telinganya dan mendengarkan dengan saksama apa yang disampaikan oleh orang itu. Saat ia menemukan informasi yang penting tangannya dengan gesit mengambil pulpen dan menulis point penting yang ia dengarkan. Kaylana menghentikan kegiatannya lalu menjawab, “Baik Pak, terima kasih. Akan saya sampaikan kepada beliau.” Lalu ia kembali mendengarkan, dan tersenyum ramah, “Baik, selamat siang.” Ucapnya mengakhiri panggilan. Kaylana beranjak dari kursinya ke arah meja Karel dengan memegang buku kecil catatannya. Hingga tepat di depan Karel, Kaylana tersenyum ramah, “Permisi Pak, saya ingin menyampaikan pesan dari Pak Broto Sanjaya.” Karel mendongkak dan mengangguk pelan, mendengarkan. “Pak Broto meminta maaf tidak dapat hadir dipertemuan besok pukul 3 sore. Beliau ingin mengajukan jadwal ulang pertemuan menjadi besok lusa pukul 9 pagi. Alasan beliau karena baru bisa tiba di Indonesia besok pukul 12 malam.” Ucapnya. Karel terlihat tidak suka dan menjawab, “Batalkan saja. Saya tidak menyukai orang yang seenaknya mengubah jadwal.” Kaylana tidak setuju dengan alasan itu, baginya setiap orang mempunyai hak untuk bernegosiasi karena mungkin saja ada hal urgent yang membuat orang tersebut tiba-tiba mengubah jadwal. “Maaf pak, apa tidak ingin dipikirkan dahulu? Maksud saya mungkin saja pak Broto ada masalah urgent dan kita bisa bernegosiasi kembali untuk memilih waktu yang cocok.” Karel terdiam sejenak, ini pertama kalinya gadis itu membantah perintahnya. Saat mereka pacarana dulu, gadis ini sangat lugu dan patuh. Melihat keberanian Kaylana membuat ia semangat menjawab, “Saya rasa dengan sikapnya yang membatalkan janji satu hari sebelum pertemuan itu tindakan tidak professional. Jika memang memiliki hal urgent dapat disampaikan paling lambat 3 hari sebelum pertemuan. Orang-orang seperti itu hanya memandang remeh sebuah janji dan dengan mudah membatalkannya. Lalu yang lebih parah tidak datang saat waktu yang ditentukan tanpa pemberitahuan sama sekali.” pertama kali untuk Karel berbicara panjang seperti ini sejak 4 tahun yang lalu. Kaylana terdiam mendengar jawaban itu, entah kenapa ia merasa jawaban itu disampaikan untuknya. ‘Kalimat terakhir itu bukan untuk menyindirnya di masa lalu bukan?’ pikir Kaylana ragu. Kaylana berdehem sebentar dan menjawab, “Memang tindakan itu tidak dibenarkan namun kita perlu melihat dari sisi alasan orang yang bersangkutan. Apabila masuk akal masih dapat ditoleransi dan mencari solusi bersama.” ucapnya, terlihat sangat berani. Karel terkekeh pelan dan menatap Kaylana tajam, “lalu bagaimaan menurutmu tentang orang yang membatalkan janjinya dan tidak menjelaskan sama sekali alasannya hingga saat ini. Bukankah itu perilaku yang tidak pantas?” Kaylana menelan ludahnya dengan gugup. Ia merasa takut dengan tatapan tajam yang pria itu layangkan, dan tanpa disadai tubuhnya keringat dingin. Karel seperti orang yang berbeda dan ia tidak mengenal versi yang pria itu tampilkan. Selain itu ia merasa pembicaraan ini bukan membahas tentang Pak Broto dan ini seperti membahas tentang….. Kaylana lagi-lagi berdehem pelan menghilangkan gugupnya, “Ya, i-itu benar. Sa-saya akan menyampaikannya pada Pak Broto.” ucapnya terbata-bata. Hanya melihat tatapan tajam itu dapat membuat Kaylana yang tadinya berani menciut. ‘Sebenarnya apa yang terjadi pada pria ini kenapa ia terlihat begitu berbeda.’pikirnya. “Bagus.” ucap Karel dingin. “Baik Pak, saya permisi kembali ke meja saya.” Karel tidak menjawab dan kembali fokus pada pekerjaannya yang sempat terhenti. Kaylana melihat itu menunduk sedih. Ia akui hubungan mereka dulu berakhir tidak baik dan itu akibat kesalahannya. Namun ia mempunyai alasan telah melakukan itu, ia tidak yakin untuk menjelaskan hal itu pada Karel saat ini karena hubungan mereka bukan lagi sepasang kekasih. Baginya yang terpenting sekarang adalah menjalankan pekerjaannya dengan baik dan professional. ‘Maka semuanya akan berjalan dengan mudah, kan?’ pikirnya ragu. Saat hendak kembali ke mejanya ia terhenti dengan titah Karel, “Selesaikan proposal ini, hari ini juga.” Memberikan dua map berkas pada Kaylana. Kaylana segera mengambilnya, “Baik pak.” ucapnya patuh. Karel mengangguk pelan namun masih dengan tatapan yang datar. Kaylana kembali beranjak ke mejanya. Diam-diam ia merasa kesal dan juga ingin menangis melihat dua proposal yang ada di tangannya. Ini Namanya kerja paksa, baru di hari pertama kerja telah mempunyai pekerjaan menumpuk. Belum lagi ditambah berkas yang ada di atas mejanya yang belum selesai ia periksa semua. ‘Apa aku akan lembur hari ini’ pikirnya sedih. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN