Hah, cukup melelahkan sekali hari ini.
Dua operasi beruturut-turut yang berhasil menyekapku untuk tidak dapat beranjak barang sebentar saja dari ruang operasi.
Benar-benar melelahkan.
Ya walaupun aku tidak turut serta membedah pasien, tapi stand by berjam-jam di ruang operasi itu juga menguras energi lho. Apalagi jika terjadi kondisi tidak stabil pada pasien selama proses operasi berlangsung. Di situlah peranku dimainkan.
Tak jarang mereka para dokter bedah seenaknya menyalahkan kita para anesthesiologist karena kondisi pasien yang tetiba tidak stabil.
Damn you, kita itu satu tim, harusnya bekerja sama. Bukan karena mereka punya kuasa lebih tinggi trus seenaknya seperti itu.
Yakinlah kita sudah berusaha semampu mungkin untuk menjaga kestabilan pasien. Tapi yang namanya kondisi tidak terduga kan siapa yang tahu.
Well, kenapa aku jadi menggerutu sendiri?
Sudahlah, sebaiknya manfaatkan momen senggang ini untuk menghirup udara segar dan menjernihkan mata sebelum panggilan darurat tiba tiba datang.
Aku segera membereskan meja kerjaku kemudian melepas snelli-ku dan menggantungnya. Ya, aku akan pulang karena memang sebenarnya jadwalku telah selesai sejak tiga jam yang lalu. Hanya saja lagi-lagi panggilan darurat memaksaku untuk tetap bertahan di sini.
Demi keprofesionalitasan.
Haaah,
Tok .. tok ..
Siapa lagi?
Mendadak firasatku tak enak.
Aish, aku paling tidak suka seperti ini sebenarnya.
"Masuk"
Dan benar saja tampak Anita asistenku datang dengan tergopoh-gopoh dan memasang wajah tak enak.
Ada sesuatu pastinya.
"Ada apa?" tanyaku tanpa basa-basi lagi. Sudah keburu basi nanti.
"Ma-maaf dok apa dokter akan pulang?"
Aku yang sudah tanpa basi basi malah diberi pertanyaan pembuka yang bagiku klise sekali Anita.
Please, aku sudah ingin segera keluar dari sini.
"Ada apa? Katakan langsung" titahku sambil bersedekap memandang Anita dengan tajam.
"Ada pasein kecelakaan yang membutuhkan operasi darurat dok, tapi anesthesiologist yang tersedia hanya dokter"
Sudah kuduga. Hanya tinggal menjelaskan intinya apa susahnya sih. Toh aku sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini.
"Ya, saya bersiap sekarang"
"Ta-tapi dok?"
Anita memang seperti itu. Ya merasa tidak enak karena melihatku akan pulang misalnya.
Tapi mana mungkin aku bisa pulang dengan tenang kalau ternyata ada pasien yang membutuhkanku segera.
Aku tidak setega itu meski harusnya ini sudah bukan jadwalku.
Tanpa memperdulikan Anita yang masih sedikit ketakutan dan memasang wajah sungkan, aku segera bergegas untuk kembali berganti pakaian operasi meski ada sedikit perasaan dongkol menyelimuti.
>>>>haaah
Segera ku ambil posisi di atas kepala pasien dan segera memberikan anestesi setelah membaca sekilas status pasien yang dijelaskan oleh perawat bedah yang sedang mempersiapkan peralatan bedah tersebut. Tampak ada dokter Wika dari spesialis jantung yang juga turut dalam operasi darurat ini.
Pasien kecelakaan ini memang mengalami trauma pada jantung dan parunya yang saling tertindih sehingga menyebabkan kesulitan bernapas dan membuat fungsi jantung untuk memompa darah menjadi abnormal.
Baiklah lakukan yang terbaik untuk membuat pasien tersebut tidak merasakan sakit selama operasi Frey.
Beberapa saat kemudian, pintu ruang operasi kembali terbuka dan munculah seorang yang kuduga adalah dokter bedah.
Tapi dia siapa?
Perempuan, dan aku yakin dia bukan dokter Agnes karena nyatanya aku mengenal baik sosok dokter Agnes yang sudah acap kali satu tim operasi denganku.
"Perkenalkan saya dokter Shakiya, dokter BTKV baru, saya akan memimpin operasi ini"
Shakiya?
Seperti pernah dengar namanya.
Oh astaga, jadi ini?
"Oh jadi anda dokter Shakiya?" akupun secara spontan menanyakan hal itu.
Ya biarkan jika dia menganggap aku sok kenal. Memang nyatanya aku sudah terlanjur penasaran dengan orang yang menjadi bahan pembicaraan gaje kami bertiga kemarin.
Dia pun mengangguk sambil tersenyum dibalik maskernya membalasku
"Saya dokter Freya, anesthesiologist" aku pun memperkenalkan diri dan diikuti oleh dokter Wika dan juga Liana perawat bedah.
Baiklah, mari kita lihat bagaimana kinerja dokter baru ini yang menjadikan gedeg si Arga yang sombongnya minta ampun itu.
Sejauh ini sih, dia memang hebat, bahkan menurutku lebih hebat dia dari Arga. Kecepatan, ketrampilan, dan juga ketelitiannnya itu lho, beda sekali dengan dokter lain.
Ya, aku mengakui dia partner yang seimbang lah untukku. Menarik sepertinya jika aku mengenal lebih dokter Shakiya ini. Siapa tahu dia bisa menjadi teman kan?
Operasi pun berjalan lancar dan aku segera memindahkan pasien ke ICU.
Baru setelahnya aku menghampiri perempuan bernama Shakiya ini.
"Saya sangat salut dengan kinerja anda dok" ucapku sambil melepas headcapku dan mendekat kepadanya.
Tampak dia sedikit kaget dan memandangiku dengan lekat. Barlah sesaat kemudian dokter Shakiya membalasku.
"Ah anda terlalu berlebih, saya yang seharusnya mengatakan itu, senang bisa bekerjasama dengan anda"
Ya, dia tampak sempurna.
Tapi percakapanku hanya sampai di situ saja sampai orang yang katanya punya kuasa di rumah sakit ini datang dan menginterupsi kami berdua.
Ck, Arga memang benar-benar menjengkelkan.
"Dokter Shakiya saya tunggu anda di ruangan saya sekarang" titahnya kepada dokter Shakiya dengan sedikit nada tinggi yang kuyakini membuatnya kaget.
>>>>Please, ini harus diselesaikan.
Arga sungguh keterlaluan. Apa sih yang dilakukannya kepada dokter Shakiya sampai menjadikan dokter Shakiya menangis begitu?
Arga ...
Aaargh, aku bisa gila hanya karena memikirkanmu.
Belum juga tentang perasaan haram ini. Sekarang dengan tingkah lakunya yang seperti anak kecil. Main kekuasaan, sombong, sok bisa segala hal.
Dia pikir dia yang terbaik begitu?
Kenapa Arga jadi seperti itu sih, Ck !!
Sebaiknya memang aku harus meluruskan kembali jalan Arga agar tidak jauh lebih menyimpang. Ini demi dirinya, demi karirnya kedepannya. Karena aku mengkhawatirkannya, karena aku peduli dengannya.
Tok .. tok
Aku mengetuk pintu ruang kerjanya setelah mendapat konfirmasi dari Indah bahwa dia memang sedang tidak ada pasien.
"Masuk" ucapnya mempersilahkan.
"Gaa, gue boleh ganggu lo?" tanyaku sedikit basa basi melihatnya yang masih belum menyadari kehadiranku.
Sesaat setelahnya dia mendongak dan menatapku tajam.
Aish, pasti suasana hatinya sedang buruk.
"Apaan Frey?" tanyanya ketika aku langsung masuk begitu saja dan duduk di sofanya tanpa menunggu dia mempersilahkan.
Biarlah.
"Gue lagi bete, dan jujur gue males di ganggu"
Ck, benar kan? Arga menyebalkan.
"So, lo ngusir gue ceritanya?" aku tak ingin kalah.
Dia pikir dia saja yang suasana hatinya sedang buruk. Hei, aku juga. Aku lebih buruk karena melihat tingkahnya yang kekanakan sekali.
Ada jeda, diantaranya. Hening,
Demi ya, aku paling benci suasana seperti ini.
Okelah kalau memang itu yang dia mau. Aku pergi.
"Fine, gue pergi, sorry"
Persetan dengan Arga yang mematung seperti batu.
>>>Freya.Katty : iya gue dateng !!!
Aku membalas percakapan tidak bermutu antara dua dokter menyebalkan itu.
>>>"LO SUKA SAMA DOKTER SHAKIYA"
Apa benar yang dikatakan Fachry tadi?
Kenapa aku sesakit ini ketika mendengarnya?
Hanya sebuah kalimat yang dilontarkan Fachry tersebut nyatanya sukses membuat jantungku merasakan seperti tertusuk ribuan jarum.
Sakit !!!
Kalau memang begitu adanya, lalu aku harus bagaimana?
ARGA ??!!!
Kenapa dia harus kembali ke Jakarta sih?
Aku masih tergiang perkataan Fachry saat sesi curhat absurd di cafe tadi. Semua curhatan Arga tentang sebegitu bencinya seorang Arganata Reikhan kepada dokter Shakiya.
Kata orang dari benci bisa jadi cinta sih.
Dan aku takut jika Arga seperti itu pada akhirnya.
Sekarang saja kesempatanku untuk bisa bersamanya entah berapa persen. Tapi aku pesimis.
Aku takut kehilangan Arga. Aku takut menerima kenyataan, aku tidak siap untuk sakit.