Quality Time – Demiko Bisri

1354 Kata
"Mik, terima kasih ya" ucap perempuan di sebelahku yang terlihat sangat bahagia. Sorot matanya menunjukkan bahagia luar biasa. Dengan tangan terlentang dan menghirup dalam udara di sekitaran kemudian menghempaskan pelan. Ah dia memang sedang menikmati hawa sejuk daerah puncak ini. "Gimana? Kamu suka?" tanyaku yang ikut berdiri di sebelahnya mensejejarkan tubuhku disampingnya. Sambil terus memandangi wajahnya. Aku berharap perasaanku ini sedikit saja bisa melunak dan dengan ajaibnya bisa tumbuh benih-benih cinta untuk membalas perempuan ini. Dia mengangguk dengan matanya yang masih terpejam dan kedua tangan terlentang. Sepertinya Vika memang benar-benar lelah dengan segala rutinitas yang menderanya. Lelah psikis juga fisik. Dia perempuan hebat ketiga yang pernah ku kenal setelah bunda dan Valerie tentunya. "Kalau aku off bisa kapan saja ikut kamu ke sini kan?" tanyanya yang kini menyusulku yang telah lebih dulu duduk di saung. "Tentu, kenapa tidak?" sekalipun ada sedikit keberatan dengan jawaban yang kuucapkan. Tapi nyatanya, entahlah. "Kita sama sama sibuk jadi jarang banget bisa kayak gini" gumamnya sambil kini menyenderkan kepalanya di pundakku. Uuh, Vika please aku belum senyaman itu untuk kamu bisa seenaknya seperti ini. Tapi lagi-lagi aku juga tak mungkin setega itu untuk menolaknya. Poor me. "Kamu saja yang sibuk, aku sibuk apa sih? ya disini-sini aja kan?" jawabku menimpali pernyataannya itu. Memang pada kenyataannya Vika lebih sibuk dibandingkan aku. Aku mah apa? Jaga di klinik hewan juga part time saja. Selebihnya aku lebih banyak menghabiskan waktuku di perkebunan dan kantor kecil yang terletak di samping kebunku ini. Ya sejak ayah sakit tempo hari itu, aku sudah mentasbihkan diriku untuk mengambil alih sepenuhnya mengelola kuda-kuda yang dimiliki ayahku ini. Tentu aku harus sepenuh hati mengelolanya. Pasalnya peternakan kuda ayahku ini bukan Cuma satu dua atau belasan kuda saja, tapi entahlah bisa mencapai angka ratusan dan itu aku juga tak pernah menghitung hanya berdasarkan data yang dimiliki mandor yang kutugaskan sebagai asistenku. Perkebunan ini memang tak seluas kebun teh yang tanahnya terhampar dari ujung kecamatan hingga sampai kecamatan lainnya terkadang. Tidak sebegitunya kok. Ya memang cukup luas, tapi lumayan lah jika harus berkeliling menyusuri peternakan kuda dan perkebunannya sekaligus. Lumayan capek maksudnya. Hahaha Tanaman yang tumbuh dikebunku ini bukan teh, melainkan beragam sayuran organik yang sengaja aku budidayakan sendiri. Ini hasil inovasiku setelah aset ini ku ambil alih. Ada bawang merah, kol, cabai, tomat, dan beragam sayuran yang lainnya. Semuanya organik, dan tentu pangsa pasarnya juga khusus kan? Selain itu ada juga kebun bunga matahari yang menjadi spot favorit para wisatawan ketika mereka berkunjung ke sini. Tempat berselfie ria yang sedang nge­hits di kalangan anak muda jaman sekarang. Dan aku belum terlalu tua kan untuk bisa mengikuti selera mereka? Dari sekian banyak bunga yang bisa ku tanam untuk perkebunanku ini, kenapa pilihanku jatuh pada sunflower? Ya bunga matahari bukan mawar atau lainnya. Bukankah tanah di sini lebih banyak untuk di tanami rose? Ah, aku tidak peduli dengan yang lebih banyak Karena yang sedikit itu yang lebih istimewa, lebih menarik perhatian, bukan begitu? Seperti perempuan yang ku temui di kota beberapa waktu lalu. Dia cantik, dan dia berbeda. Kapan kita bisa bertemu lagi? Akankah ada takdir yang mempertemukan kita kembali? Freya Katyaluna, dialah yang menurutku istimewa. Dan aku harap ada takdir di antara ku dengannya. "Mik aku kangen" ucap Vika ditengah lamunan masing-masing. Shiiit !!!! Bisa-bisanya aku memikirkan perempuan lain yang entah dia masih mengingatku aku tidak padahal aku sedang bersama dengan perempuan yang begitu menaruhkan hatinya untukku. Masih dengan kepalanya yang bersender di bahuku. Aku merasakan begitu rindunya Vika kepadaku. Ya aku bisa merasakannya, tapi bukan berarti aku merindukannya pula. Lagi lagi entahlah. "Lah ini kan kita lagi bersama" "Aku kangen kita, kapan lagi kita bisa seperti ini" kini dia telah berhenti dari aksinya menyender dan kembali duduk tegak menatapku. Terlihat sekali dari matanya yang berkaca-kacanya. Aku tak tega melihatnya rapuh seperti ini. Vika yang aku kenal adalah perempuan tangguh dan bukan perempuan cengeng yang menye-menye. Saking apanya sampai Vika berekspresi seperti ini? Apa dia benar-benar lelah dengan semuanya. Aku membalas tatapannya. Posisiku dan dia kini sudah berhadapan. Kurapikan rambut-rambut kecil di sekitar dahinya. Sambil terus memandangnya dan berharap ada sedikit kekuatan yang kusalurkan. "Aku belum pernah foto di bunga matahari itu lho, gimana kalau kita foto di sana" aku tahu dia berusaha mengalihkan. Ya lucu saja, seorang Devika yang sangat tak menyukai mengabadikan momen di tempat umum kini mengajakku berfoto. Baiklah, untuknya. Untuk sedikit kebahagiannya di tengah kejenuhan yang mungkin sedang dia alami. Apa yang salah dengan membuat orang bahagia? Itu termasuk ibadah bukan? "Satu .. dua ... tiga, cheeer" dan begitulah aksi kami yang tak ubahnya seperti remaja alay lainnya. Ya aku sering mengatai mereka para pengunjung kebun bunga matahariku yang kebanyakan adalah anak SMA atau anak kuliahan semester awal yang merupakan pendatang baru di kota ini. Well, tau kan pepatah jawa 'wong alok bakal melok' yang artinya orang yang suka mengatai orang, berkomentar dengan apa yang dilakukan orang lain suatu saat nanti pasti akan mengikutinya. Dan terbukti sekarang aku mengikuti mereka. "Om tolong fotoin kita dong" ya aku tak salah dengar. Mereka segerombolan anak perempuan yang kuperkirakan anak SMA itu tetiba saja menghampiriku yang tengah asyik berfoto dengan Vika. Mereka mengira kita juga salah satu pengunjung di sini mungkin ya. Oh bahkan mereka tidak mengetahuiku. Baiklah memang seharusnya seperti itu kan. Dan sebagai owner yang baik aku harus menjamu para tamuku ini bukan? "Tante, suaminya kami pinjam dulu ya" Oh demi Tuhan, setua itukah aku dan Vika. Hei kita masih 27 bocah gendeng. Astaga, terlihat seperti om-om dan tante-tante kah? Padahal aku sedang geram dengan mereka tapi ternyata aksi para bocah alay ini seperti menjadi pengibur bagi Vika. Dengan lolosnya Vika tertawa yang tak sungkan untuk dikeluarkan begitu saja. Oh, haruskah aku bahagia dikatai om-om untuk membuat Vika bisa tertawa lepas seperti ini? Atau aku memang sudah layak disebut om-om? Ya ya ya terselah kalian sajalah bocah cilik. >>>ranch gate. "Kan ada aku" Dan benar saja yang tadinya ekspresinya takut kini berubah menjadi binar. Setelah bersiap memakai perlengkapan berkuda kini aku dan Vika sudah ada dipacuan. He're we go !!! >>> yang kuulurkan padanya. Kemudian membuka tutupnya dan menegaknya hingga tersisa separuhnya. Dia benar benar capek. "Tapi aku seneng banget, makasih ya Mik" "My pleasure Vik" jawabku sambil mengacak rambutnya itu. Ya jujur aku bahagia melihatnya bahagia seperti ini. Aku jujur dan aku tak berbohong. Aku memang tidak tahu bagaimana pastinya perasaanku kepadanya saat ini. Tapi satu yang jelas, aku tak setega itu untuk membuatnya sakit hati atau terluka dan sejenisnya. Aku menyanyangi dari dulu. Tapi untuk cinta, mungkin tunggu, atau mungkin entahlah. "Mik, lucu gak sih anak-anak SMA tadi ngira kita udah menikah, apa memang harusnya kita udah menikah? Gimana menurutmu?" pernyataan atau entah pertanyaan dari Vika tersebut agaknya membuatku sedikit tertohok Menikah? Bahkan itu belum terlintas dipikiranku. Selama ini hubungan kita baik-baik saja tanpa membicarakan pernikahan bukan? Kenapa sekarang? Ambisi sekaligus passion di antara kita yang terlalu besar yang masih menginginkan untuk mengejar karir masing-masing itulah mengapa tidak pernah ada pembahasan macam ini. Selain karena memang aku masih ragu dan takut dengan perasaanku yang masih ngglambyar ini. Karena itu pula aku juga rela dilangkahi oleh adikku demi kebahagiannya, karena menungguku sama dengan entah kapan Valerie akan menikah. Aku tak setega itu. Dan sekarang, sial !!! Gara-gara abege labil macam mereka tadi, Vika menjadi sedikit banyak terpengaruh oleh kata-kata yang secara tidak langsung menusuk sanubari hati dan jiwa Vika, Ck !! "Kita pulang yuk, sudah sore, kamu juga sudah capek kan?" Ya aku berusaha mengalihkan sekalipun dia kembali menampilkan ekspresi cemberutnya itu. Sungguh Vik, mungkin lain kali. Oh tidak, mungkin ya nanti lah Vik. Tidak sekarang pokoknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN