“Frey, sayang, kamu harus bertahan ya ... Demi bayi kita .... Aku yakin kamu kuat sayang.” Ucapku memberikan kekuatan untuk ibu dari calon anakku itu. Aku mengenggam erat tangannya, juga menyalurkan semangat lewat kecupan hangat di keningnya. Freya tampak pucat dan lemah, hingga entah dengan kata apa aku harus mendeskripsikan. Dan genggaman tangan itu harus terlepas saat seorang perawat membawanya masuk ruang operasi. Di sini, aku hanya bisa menggumamkan doa untuk istriku itu. Berjuang melahirkan bayi kami yang—bisa dibilang ini bukanlah hal mudah untuk Freya. “Ada masjid, gih, tenangin dulu di sana. Neng itu orang kuat, percaya sama Abi.” Itu suara mertuaku. Terlihat tenang dan kalem sekalipun aku tahu, ada beribu cemas yang dipendamnya. Freya itu anak bungsu, emas, dan kesayang

