Pria itu menghentikan aksinya. Seketika badannya bergetar antara kangen dan benci. Kangen karena bisa bertemu dengan kedua orang tuanya. Benci karena mereka telah menelantarkannya. Sudah beberapa tahun Marven mencari-cari keberadaan kedua orang tuanya. Berbagai daerah telah dia lewati. Namun hasilnya nihil. Hanya ada di hati kecilnya yang selalu menyimpan kangen dan benci. "Kenapa kamu jadi seperti ini? Siapa yang mengajarimu?" tanya wanita itu. Marven tersenyum getir. Jika dia perempuan mungkin sudah menangis. "Kau bilang siapa?" Marven menarik nafas kasar. "Hanya anak jalanan yang selalu dianggap rendah oleh kaum atas." Mamanya semakin menangis. Keadaan semakin tegang. Marven ingin sekali merasakan kehangatan ibunya. Hati kecilnya mengatakan bahwa dia dibuang keluarganya. "Apa kali

