Reyhan terdiam, menunggu Deeva yang tengah menangis hebat di dalam mobil. Tubuhnya bersandar di sandaran pintu mobil melirik ke arah kaca mobil. Isakan-isakan yang Deeva keluarkan menyakiti hatinya. Dia tidak sengaja mendengar bagaimana buruknya perlakuan rekan kerja gadis itu saat ingin menjemputnya tadi. Entah bagaimana benang takdir seolah membawanya untuk mendengarkan semua hal yang terjadi. Padahal biasanya dia bisa bersabar dan menunggu di mobil. Tapi tadi entah mengapa rasanya dia berjalan masuk ke dalam ruang UGD dan akhirnya mendengarkan semua pembicaraan Deeva dan orang-oran itu dari awal. Dia menarik napas dalam mendengar bagaimana fitnah kejam yang dilontarkan oleh rekan kerjanya. Dan lebih mirisnya adalah fitnah-fitnah itu dilontarkan oleh mereka-mereka yang mempunyai pend

