11. Mulai Bekerja

1029 Kata
Pekerjaan di laundry sebenarnya sangat mudah, hanya dibutuhkan kecepatan dan ketelitian saja. Apalagi aku hanya bertugas mencatat barang masuk, pendapatan, dan juga packing. Udin juga mau membantuku untuk packing pakaian agar lebih rapi. Aku nyaman dengan lingkungan laundry milik Willy. Semoga saja, saat aku nanti mau tidak mau harus kembali ke rumah, aku tetap bisa bekerja di sini. "Mbak Nura sudah menikah belum?" tanya Udin padaku. Kami tengah packing pakaian milik keluarga Pak Sarmilih. "Tebak, saya sudah menikah atau belum?" tanyaku balik sambil menahan tawa. "Kayaknya sih belum, masih muda sekali." "Salah, Din, saya udah nikah sama pawang buaya," jawabku sambil sedikit berbisik. "Apa? Pawang buaya? Beneran? Wah, keren banget Mbak Nura. Terus, Mbak Nura suka diajak ketemu sama buayanya gak?" Udin mendadak antusias. Solasi besar untuk membungkus plastik ia taruh begitu saja, dengan wajah penasaran menatapku. "Setiap hari saya ketemu. Mana gede banget mangapnya, makannya juga banyak. Boroslah pokoknya." "Namanya buayanya siapa, Mbak?" tanya Udin lagi. "Lucinta Dadang," jawabku asal sambil menahan tawa. "Memang ada buaya alemong?" tanya Udin dengan kening mengerut. Aku terbahak melihat ekspresinya yang keheranan. "Entah juga, tapi namanya itu. Oh, iya, kamu tahu dukun santet yang terkenal di sini gak?" tanyaku pada Udin. "Wah, gak boleh main dukun, Mbak! Dosa syirik adanya di neraka paling bawah." "Dih, itukan kalau nyantet manusia, saya mau nyantet buayanya." Sebuah ide muncul di kepalaku. Udin tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya. "Emang mau ngapain santet buaya? Ya ampun, Mbak Nura, lucu banget sih." "Din, kemarin laki saya digigit tangannya doang. Kurang tepat atuh, harusnya kepalanya sekalian." Ha ha ha ha Apa yang lucu sih? Aku menggelengkan kepala melihat Udin masih terus terpingkal karena ucapanku. "Mana ada dukun bisa nyantet buaya," balas Udin lagi. "Pasti ada, Din, coba kamu tanya informasi ke orang-orang. InsyaAllah saya yakin, pasti gak bakalan dosa kalau saya nyantet buaya. Biar dia lebih mahir kalau mau menggigit gitu, jangan setengah-setengah." Udin tidak menjawab lagi, ia kembali sibuk menggunakan solasi untuk membungkus pakaian. Entah ia setuju dengan ideku atau tidak, yang jelas Kang Dadang memang harus diberi pelajaran sedikit. Jika dukun tidak bisa, maka aku akan ke kebun binatang untuk bicara langsung sama buaya itu. "Mbak Nura, Udin, ini makan sorenya di bawah ya!" Seru Bu Septi dari bawah. "Iya, Bu, nanti kami turun," jawab Udin yang baru selesai merapikan tumpukan packingan yang siap antar. "Udin, kalau makan sore emangnya disediakan ya? Tadi siang juga saya dapat makan siang. Enak sekali kerjanya bisa makan gratis," komentarku senang. Bagaimana tidak senang, tadi pagi aku sarapan enak, tadi siang makan nasi padang dengan lauk rendang dan perkedel. Entah dengan menu sore ini, semoga saja enak lagi. Alhamdulillah, walau tidak ada uang, aku masih bisa makan tiga kali sehari. "Iya, Mbak, dapat makan siang dan sore saja. Menu warteg dan padang yang serba sepuluh ribu. Lumayan daripada keluar dari dompet sendiri. Gaji jadi utuh, Mbak. Enak deh kerja di sini, Mas Willy dan Bu Widya baik sekali." "Benar, aku aja sudah ditolong oleh ibu dan anak itu. Ya sudah, ayo kita turun dan makan!" Tanpa menunggu jawaban dari Udin, aku buru-buru turun sembari meluruskan pinggang yang lumayan pegal. Biasanya aku selalu gesit mengerjakan pekerjaan rumah tangga, wara-wiri ke sana-kemari, kini bekerja lebih banyak duduk, membuat pinggang ini belum bisa beradaptasi. Ternyata semangkuk baso sudah tersedia di atas meja. Langsung aku menelan air liur karena begitu terpesona sekaligus ngiler dengan makanan berkuah itu. Terakhir makan baso di acara pernikahan anak Bu Soleh dan rasanya sangat enak. "Makan Mbak Nura, sebelum dingin," tegur Bu Septi yang baru saja mengangkat mangkuk basonya yang telah kosong. "Iya, Bu, ini saya mau makan." Dengan penuh semangat, aku menikmati suapan demi suapan makanan yang menurutku sangat enak dan juga segar. Kepala yang sedikit berat perlahan lebih ringan karena tubuh ini berkeringat karena kuah baso yang pedas. Selesai makan, aku pun melanjutkan packing sendirian karena Udin sudah berangkat mengantar barang. Sesekali aku teringat akan Kang Dadang yang saat ini pasti sedang bersantai di rumah tanpa hadirnya aku. Pasti ia merasa bebas karena tidak harus memberiku makan. Bukankah sudah kewajiban suami memberi nafkah lahir dan batin pada istrinya. Percuma kalau batin saja yang terpenuhi tetapi perut istri dalam keadaan lapar. Capek mendesah, setelahnya hanya minum air putih saja, sedangkan ia pasti langsung minta dibuatkan mi rebus dan ia selalu makan sendiri tanpa menawariku. Hati ini seperti kembali diremas bila mengingat Kang Dadang. Suami yang aku cintai dan hormati di awal pernikahan sampai dua tahun belakangan ini, tetapi semakin ke sini semakin tampak tabiat aslinya. "Melamun apa?" aku menoleh kaget saat melihat Willy sudah berada di belakangku. "Ya ampun, mengagetkan saya saja, Wil." Aku mengusap d**a ini dengan perlahan. "Baru pulang kuliah?" tanyaku pada Willy yang tengah menggantung tasnya di gantungan dekat tangga. "Apakah saya terlihat baru pulang perang? He he he.... " Aku pun ikut tertawa pendek. Bocah ini ingin melucu, tapi kurang pas. Ia seharusnya belajar pada Kak Diganti terlebih dahulu. "Nggaklah, kalau perang mah, kudu bawa bambu runcing, kalau Mas Willy mah bambu nya tumpul." Aku langsung menutup mulut yang tidak sopan ini. Sifat sedikit mesumku ini sangat susah dihilangkan. "Maaf, maksud saya kalau perang bawa bambu tumpul gak bisa, eh ... pistol maksudnya, bukan bambu. Duh, jadi ngomong apaan ini ya." Langsung saja aku berpura-pura sibuk karena sudah terlanjur malu pada Willy. Pemuda itu menggaruk rambutnya yang tidak gatal, tetapi wajahnya merona. Tidak mungkin Willy tidak paham maksudku. "Mbak Nura sudah packing hari ini?" tanyanya mengalihkan tema bambu tersebut. "Sudah, saya dibantu Udin packing banyak baju. Udah bisa sedikit-sedikit alhamdulillah." "Sudah dicatat pemasukan barang dan uang hari ini?" tanyanya lagi sambil duduk di depan laptop yang tadi aku gunakan. "Sudah, coba kamu cek saja." Willy mengangguk paham, lalu tatapannya fokus pada layar monitor, sedangkan aku kembali melanjutkan aktivitas packing yang tinggal sedikit lagi. Willy masih berada di depan laptop saat pekerjaanku selesai. Aku menyapu dan membersihkan plastik packing, ditaruh di tempat yang sudah disediakan. "Mbak Nura punya rencana berapa lama menginap di sini?" Aku menghentikan aksi menyapuku, lalu menoleh pada Willy yang ternyata masih fokus pada laptopnya. "Sampai kesal saya sama Kang Dadang hilang, boleh gak?" jawabku dengan tidak enak hati. Willy menoleh, lalu tersenyum. "Mbak emangnya gak ada niatan mau bercerai dari Kang Dadang?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN