"Mbak emangnya gak ada niatan mau bercerai dari Kang Dadang?"
"Ada dong," jawabku secepat kilat. Pemuda itu tertawa sambil memegang perutnya. Aku pun ikut tertawa, tetapi biasa saja.
"Willy, aku mau tanya, kalau daftar gugatan cerai ke pengadilan agama itu bisa pakai kartu BPJS gak?" tanyaku polos. Pemuda itu kembali tertawa dan aku sungguh tidak tahu lucunya ada di mana.
"Saya gak pernah telat bayar loh," sambung ku lagi berharap tawanya reda, tetapi ia masih terus saja tertawa. Aku hanya bisa menggelengkan kepala tidak paham, lalu memutuskan untuk mengambil sapu. Membersihkan lantai dua lebih bermanfaat daripada menonton pemuda tertawa tiada henti.
"Mbak, mana bisa daftar gugatan cerai pakai BPJS. Daftarnya langsung ke pengadilan agama, biayanya kalau tidak salah saya sembilan ratus ribuan. Apa Mbak mau minjem uang saya? Boleh sih, tapi nanti kalau udah cerai, Mbak jadi istri saya ya?" gagang sapu terlepas dari tanganku. Sebentar aku tertutup untuk mencerna ucapan Willy, tetapi tetap saja otakku tidak bisa diajak bekerja sama. Aku memang mendekat pada pemuda itu, lalu menempelkan punggung tangan di keningnya.
Ku tempelkan balik ke keningku, tetapi keningku tidak sehangat kening Willy. Apa pemuda ini sakit?
"Kamu sakit?" tanyaku dengan tatapan serius.
"Tidak saya sehat, he he he... yang saya bilang tadi bukan bercanda ya. Saya akan pinjamkan uang untuk mengurus perceraian, tetapi setelah masa indah nanti selesai, Mbak harus mau jadi istri saya." Willy berbisik di telingaku. Napas yang keluar dari mulutnya terasa begitu hangat membuat bulu-bulu ini meremang. Tak terkecuali bulu yang tertutup kain segitiga.
Ya ampun, aku merasa malu sendiri. Sudah berapa lama aku tidak b******u dengan Kang Dadang, sehingga baru dibisiki saja darahku bagaikan tersengat listrik.
"Saya anggap kamu bercanda," balasku sambil memungut sapu yang masih tergeletak di lantai. Kegiatan menyapu aku lanjutkan, agar rona merah di pipi ini segera menghilang. Willy sudah kembali fokus pada laptopnya, walau sesekali melirikku. Ya ampun, mimpi apa aku, seorang pemuda tampan, kaya, berpendidikan, malah memintaku jadi istrinya?
"Dih, senyam-senyum sama ubin, bilang aja GR!" Ledek Willy tiba-tiba tanpa menoleh padaku. Sontak aku mencebik, tidak cukup keberanian ini membalas ucapan Willy lagi, khawatir ia benar-benar serius dan aku yang nantinya repot sendiri.
"Willy, udah boleh selesai gak? Saya mau mandi," tanyaku setelah aku selesai menyapu bersih semua lantai, berikut mengepelnya.
"Boleh, ah, iya, sebentar." Pemuda itu menghentikan langkahku. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam ranselnya. Sebuah paper bag berwarna kuning, berukuran cukup besar.
"Ini, saya punya hadiah buat Mbak Nura. Saya rasa, ini pantas Mbak kenakan. Jangan khawatir, saya tidak akan hitung potong gaji. Saya memang membelikannya untuk Mbak Nura. Saya dengar, tas pakaian Mbak tertukar dengan pakaian Kang Dadang ya?" Aku mengangguk mengiyakan, karena memang benar adanya seperti itu.
Paper bag itu aku terima dengan wajah sumringah. Willy pun tersenyum begitu manis saat aku menerima pemberiannya.
"Mbak, jika kita ingin pisah dengan seseorang, terutama suami, pakaian, baik kaus, atau celana panjang, apalagi celana dalamnya, tidak boleh kita pakai, pamali, karena nanti tidak jadi cerai. Jadi, saran saya, daripada pakaian Kang Dadang dibuang, lebih baik diberikan pada korban banjir. Gimana?"
"Wah, ide kamu benar juga, Willy, daripada saya simpan aja, malah apek, lebih baik diberikan pada yang membutuhkan ya. Eh, tapi kalau Kang Dadang suatu hari nanya, bagaimana saya jawabnya?" tanyaku bingung. Ide Willy memang brilian, tetapi mulut Kang Dadang itu platinum, sehingga aku harus kuat dan tahan baday jika ia marah dan tidak terima dengan yang aku lakukan.
"Bilang saja sudah disumbangkan untuk membersihkan dosa-dosa Kang Dadang pada istri. Lagian Kang Dadang gak bakal nyariin pakaiannya, Mbak, dia pasti udah beli lagi. Saya yakin, di balik gayanya yang sederhana, tabungan Kang Dadang itu banyak." Aku menghela napas gamang. Namun akhirnya aku setuju pada Willy. Lekas aku keluarkan tas pakaian Kang Dadang untuk aku berikan pada pemuda itu.
"Nanti saya bawa ke kampus, Mbak, lagi ada bansos untuk korban banjir. Pasti manfaat dan Mbak Nura serta Kang Dadang dapat pahalanya. Dah, sana mandi dulu biar segar!" Pemuda itu memberi kode dengan gerakan dagunya agar aku segera masuk ke dalam kamar mandi.
Aku menurut, berjalan masuk ke dalam kamar, lalu keluar kembali dengan membawa handuk serta paper bag pemberian Willy.
Mandi air shower hangat membuat tubuh ini rileks. Sabun cair yang masih terisi penuh dalam wadah botol besar, terasa segar dan wangi saat kusabuni di tubuhku. Saat di kontrakan, sabun batangan terus saja aku gunakan sampai tersisa sepanjang jari kelingkingku. Tidak jarang bau badan ini masih terasa, tetapi mau bagaimana lagi, lagi suamiku yang membeli kebutuhan dapur, termasuk kamar mandi.
Sabun batangan yang kecil harus cukup satu untuk satu bulan, jika tidak cukup, maka ia tidak mau membelikan sabun baru. Ah, Kang Dadang, aku bingung mau mencari kebaikannya dari sebelah mana. Paling senjatanya saja yang oke, tapi itu juga sebenarnya biasa saja, karena senjata Kang Dadang pendek.
Mikir apa aku? Kepala ini kembali ku guyur air shower hangat, agar ingatan tentang Kang Dadang segera hilang.
Selesai mengeringkan tubuh dengan handuk, aku pun mengeluarkan satu per satu pakaian yang ada dalam paper bag. Bukan hanya pakaian luar, ada juga pakaian dalam cantik berwarna biru dan abu-abu, berikut bra dengan warna yang sama. Ya ampun, pakaian dalam terbagus selama aku hidup.
Aku kembali semua pakaian yang diberikan padaku dan aromanya persis dengan parfum laundry di toko. Kapan ia mencuci lalu menyetrikanya? Tak sabar rasanya, segera saja kupakai piyama cantik berwarna kuning, dengan model atas lengan panjangpanjang dan bawahannya celana panjang.
Aku menatap meja laptop yang sudah kosong. Ternyata Willy sudah pulang. Aku menghela napas lega, lalu segera masuk ke dalam kamar.
Malam ini aku tidak bisa memejamkan mata, karena terus memikirkan ucapan Willy. Apakah pemuda itu serius atau bercanda?
Ponsel yang sudah kuganti dengan nomor baru itu berdenting. Tanda pesan SMS masuk.
0812123xxxxx
Aku mengerutkan kening saat tidak kenal dengan nomor yang tertera. Pasti dari pinjaman online atau ajakan judi online
Mbak Nura sedang apa? Sudah tidur belum? Saya Willy.
Aku tersenyum membaca pesan yang ternyata dari Willy. Sayang sekali aku tidak bisa membalasnya karena aku tidak punya pulsa. Satu bulan hanya satu kali aku diisikan pulsa oleh Kang Dadang. Paket data dua puluh ribu untuk satu minggu.
Mbak Nura gak punya pulsa ya? Tunggu, saya isikan pulsa ya.
Aku ingin sekali membalas tidak usah, karena Willy terlalu baik padaku.
Ting
Pesan dari seluler yang memberitahu bahwa pulsa sebesar seratus ribu baru saja masuk. Aku bahkan menggosok mata ini dengan kuat agar mataku tidak salah lihat nominal. Benar sekali, pulsa terakhirku sebesar seratus ribu, dua ratus rupiah.
Willy, pulsanya banyak sekali. Terima kasih ya, maaf sudah merepotkan kamu. Saya jadi tidak enak.
Send
Sama-sama, Mbak, gak papa, saya ikhlas kok mengisikan pulsanya. Tapi pulsa itu tidak boleh Mbak Nura gunakan untuk mengirim pesan pada Kang Dadang ya.