Di Interogasi Bang Atta

1918 Kata
Bab 11 Di Interogasi Bang Atta Thoriq masuk ke dalam rumah dengan hati semrawut. Dia ingin memberikan saja uang pada Fuji daripada pusing begini tapi gengsi nya juga tinggi karena kemaren sudah menolak bahkan menantang Fuji. Thoriq menjatuhkan tubuhnya di sofa sambil memijit mijit dahi karena pusing dengan permasalahan ini. Antara butuh dan gengsi terhadap Fuji. Tiba - tiba dia teringat akan pesan Fuji untuk menghubungi seseorang di kota ini yang bisa menyelesaikan masalah mereka dengan baik baik. Thoriq mengeluarkan ponselnya dari saku celana. "Aaargh ...... chat nya sudah ku hapus dan nomor orang tersebut belum aku save." Thoriq melempar ponsel tersebut ke sofa. Ya mana berani lah lempar ke lantai, pasti takut rusak ya kan? Thoriq ga mau rugi walau emosi. "Hhmmm nama nya siapa sih.. Kalau ga salah Atta. Coba dah gue tanya di tongkrongan, mana tau ada yang kenal dan ngasih tau di mana rumahnya. Soalnya nomor ponsel nya nggak ke save. Langsung gue sambangin aja ke rumahnya" Thoriq langsung melangkah keluar rumah dan mengunci pintu, karena tak ada siapapun lagi di rumah. Kosong!!! *** "Fais, lo pernah ada dengar nama Atta ga sih, dia seorang tent*ara?" Tanya Thoriq setelah sampai di toko Faisal temannya. "Oh ya maksud lo Pak Atta, suaminya Aurel? Kebetulan banget nih beberapa hari lalu Aurel istrinya Atta nanyain lo. Ada 'affair' apa lo di kampung kemaren? Sampai nangis nangis tuh cewek nanyain lo." Canda Faisal. "Itu lah Fais. Tu cewek kayaknya ada hati sama gue. Makanya gue ngasih seadanya aja dan dia nrimo. Tapi entah darimana dia tau kehidupan gue yang sebenarnya, dia merasa di manfaatkan dan neror gue minta bayaran sesuai tarif." Keluh Thoriq. "Hahaahaaa..... lagian lo mau enak tapi ga mau modal. Ya salah lo sendiri lah. Kalau mau ngasih hati siap siap rumah tangga lo di rusak. Tapi kalau lo dah bayar sesuai tarif, dia mau ancem mau neror lo lagi pun ga ada hak!!!" Faisal pun berkotek. "Iya gue juga ga nyangka dia bisa tau tempat tinggal gue, toko gue, istri gue, bahkan sampai nomor ponsel istri gue. Karena gue bilang kan gue tinggal di kampung gue sana, di Nareh, dekat ke kerjaan dia, makanya dia pasrah ama gue. Ga nyangka juga dia sampe nyelidikin gue." Thoriq geleng geleng mengingat kelakuan Fuji yang sampai nekat ke hotel segala meminta salinan form check in. "Ya lah Thor, namanya orang kalau udah kecewa, bisa nekat. Hati hati lo jangan sampai dapat yang psikopat, bisa gawat lo dan keluarga. Jangan asal mempermainkan cewe aja lo. Jangan meremehkan perasaan orang, apa lagi baru kenal, jangan sekali kali di anggap enteng." saran Faisal "Emang nya lo ga tau jaman sekarang ni ada aplikasi yang bisa melacak nomor ponsel. Jadi ketauan nomor spam dan gak nya dari sana. Orang - orang yang menulis nama lo dengan nama apa di ponsel dia, akan tertulis juga di aplikasi biru itu, aplikasi pelacak nomor ponsel. Jadi jangan lo anggap enteng ngasih ngasih nomor ponsel lo sama orang dan menipu tentang jati diri lo." Lanjut Faisal lagi "Iya Fais. Gue mana mikir sampai ke situ. Gue kira dia di Sumatra sana dan gue di Jakarta mana bisa dia nyusul atau ganggu rumah tangga gue. Ga sangka jadi runyam begini. Sekarang istri gue juga udah tau dan pergi dari rumah karena dia mengirim chat percakapan kami ke ponsel istri gue. Mau ga mau sekarang gue harus menuruti keinginan dia bayar sesuai tarif. Karena dia nuntut gue, ngasih hati dan cinta atau bayar sesuai tarif? Kalau ga, dia bakal laporin bukan cuma ke istri gue tapi juga ke seluruh keluarga istri gue." Keluh Thoriq lagi. "Thoriiiiq... Thoriq. Masih kurang jauh lo untuk selingkuh tanpa modal hahaaa. Jangankan mau kasih tau istri lo dan keluarga, ngasih tau seluruh dunia pun dia bisa. Sekarang jaman udah canggih men. Dia sebar melalui aplikasi biru dan aplikasi merah, ga cuma istri lo dan keluarganya aja yang bakal tau, tapi seluruh dunia!! Jangan main main lo dengan perasaan orang. Apa lagi tu dia kayak nya cewek cerdas dan luas pergaulan juga, sampai kenal Pak Atta dan Aurel di kota ini. Sekarang lo mau apa lagi. Udah lo hubungin dia dan bayar aja sesuai tarif biar lo aman." SARAN Faisal lagi. "Nah itu dia masalahnya Fais." Thoriq garuk garuk kepala. " Masalah apa lagi? Emang tarifnya berapa sampe lo puyeng dan mikir banget untuk bayar? Dua puluh juta? Depalan puluh juta? Seratus juta? Ya lo jangan pelit - pelit lah udah dapat kesenangan kok ga mao modal. Anggap aja lo bantuin orang. Daripada hidup lo di teror terus dan istri lo ngambek. Apa lagi kalau keluarga istri lo tau, bisa bisa nambah gawat. Toko lo kan sekarang lumayan laris, anggap aja rejeki dia ada di situ. Dan pelajaran ke depan jangan ulangin lagi." Faisal menepuk - nepuk pundak Thoriq sambil tersenyum miring. "Ya ga sebanyak itu juga sih? Emang dia siapa tarifnya semahal itu. Artis? Cuma orang kampung aja kok. Cuma masalah nya gue gengsi aja hubungin dia karena kemaren gue udah nolak mentah mentah bahkan nantangin dia untuk ngasih tau istri gue. Mana gue sangka dia bener bener bisa mendapatkan nomor ponsel istri gue Faiss. Makanya gue sekarang nyariin Bang Atta." Jelas Thoriq 'Tuh kan, lo masih aja nganggap remeh orang. Oke lah dia orang kampung atau serendah apapun itu tapi jangan memandang orang dengan terlalu rendah. Bukti nya dia bisa bikin lo kelabakan hahaa..." Ledek Faisal agak dongkol juga dengan kesombongan Thoriq "Huh, udah ah lo bikin kesel gue aja. Temen bukan belain malah mojokin gue terus. Udah mending sekarang lo kasih tau aja di mana rumah nya Bang Atta. Atau kalau ada nomor ponselnya sekalian lo kasih biar gue bisa nelpon dan langsung ngomong sama Bang Atta." Thoriq mulai dongkol merasa tidak mendapat pembelaan dari temannya. "Hey, lagi pada ngumpul ngumpul nih kayaknya. Ada acara apa nih." Tiba tiba orang yang sedang di bicarakan nongol di toko Faisal. "Nah ini dia Thor, yang lo cari. Pucuk di cinta Bang Atta pun tiba." Faisal berpantun ria walau pantunnya asal. "Eh Bang Atta." Thoriq menyalami. Karena Atta tidak memakai pakaian dinas dan tidak sedang berdinas, Faisal memanggil dengan sebutan Bang, bukan Pak. Dan Thoriq pun mengikuti panggilan Bang untuk Atta. "Duduk Bang." Faisal keluar dari balik timbunan bahan dasar di tokonya sambil membawa sebuah kursi kecil untuk Atta. "Iya Fais, Makasih." Bang Atta tersenyum penuh wibawa. Thoriq sedikit grogi untuk mengutarakan permasalahannya pada Bang Atta karena selain baru ketemu, Bang Atta juga terlihat penuh wibawa. Apalagi Thoriq juga menyadari sepenuhnya dalam hal ini dia berlaku sedikit curang pada Fuji. Dia takut akan mendapat kata kata yang yang tak di inginkan dari Bang Atta. Thoriq hanya duduk sambil tertunduk tanpa bicara apa apa. "Hei .. malah melamun lo Thooor Thooor. Tadi nanyain Bang Atta. Sekarang orang nya udah di sini malah diem." Faisal melambaikan tangannya ke wajah Thoriq yang sedang tertunduk bingung. "Duh, mau ngomongnya kayak gimana nih. Lagian mendadak aja dateng ni orang. Gue kan belum siapin bahan omongan biar ga keliatan banget kalau gue yang salah." Thoriq memang egois "Kenapa Thor?" Tanya Bang Atta pura - pura nggak tau. Padahal sebenarnya dia sudah mendapat info dari Fuji sendiri. Tapi Bang Atta pura pura tidak tau untuk mendapat juga keterangan dari Thoriq, yang versi Thoriq. Bukanlah dalam suatu permasalahan kita harus mendengarkan keterangan dari ke dua belah fihak? "Hmmm ... Abang kenal gak cewek di Padang yang namanya Fuji?" Thoriq balik bertanya. "Ya, kenal. Kenapa?" Bang Atta menjawab singkat. "Hmmm, gini nih Bang Atta. Kemaren saya pulang kampung ke Nareh dan sempat bertemu dan berkenalan dengan yang namanya Fuji." Thoriq menerangkan dengan gugup. "Ya, trus?" Jawab Atta sambil mengeluarkan r*kok dari saku celananya. "Huh, kaku banget sih ni orang. Pantasan aja Fuji nyuruh gue berurusan sama dia biar dapat keinginannya. Benar benar cerdik tuh cewek."Rutuk Thoriq yang di landa kegugupan dan sulit mengutarakan permasalahannya. "Ehm.. Sebenarnya ini sangat ga enak kalau sampai melibatkan Abang. Tapi Fuji meminta saya untuk membayar tarif dia melalui Abang. Maaf sebelumnya." Thoriq masih di landa kegugupan. "Tarif apa itu?" Atta mengernyitkan dahi pura - pura bingung. "Ih bener bener ni orang. Ngomong pelit banget, cuma tiga atau empat kata aja dari tadi. Kayak ngomong pakai biaya aja. Rese banget. Kalau ga menyangkut anak bini gue, mending gue cabut deh dari sini daripada ngomong sama orang pelit kata begini." Thoriq mengepalkan sebelah tangannya berbentuk tinju di dalam genggaman tangan lainnya supaya tak terlihat oleh Atta "Lagian masa Fuji ga cerita sih sama dia? Ga mungkin lah dia ga tau. Dasar!! Bikin malu gue aja cerita beginian sama Abang Abang tongkrongan gue. Mana tent*ra lagi." Tak hentinya bathin Thoriq merutuk keadaannya saat ini. "Ehmm... uhhhmm.. waktu saya pulang kampung beberapa waktu lalu, jujur saya ketemu Fuji dan menginap sama dia di hotel Bang. Dan saya belum bayar Full waktu itu" Jelas Thoriq takut - takut " Kenapa bisa gitu?" Tanya Bang Atta lagi sambil menghembuskan asap rok*knya dan memandang Thoriq penuh selidik. Thoriq benar benar merasa seperti pasakitan yang sedang di interogasi. "Eh ... uhmm, karena waktu itu Fuji ga bilang berapa tarifnya sama saya Bang. Jadi saya kira udah selesai sampai di situ aja." Thoriq menjelaskan seperti orang gagu "Lo sih pake mainin hati dia, maka nya dia ga ngomong tarif. Ga mau modal sih lo. Lagian tumben banget lo ga royal sama cewek sebaik itu sama lo. Biasanya juga lo royal. Tumben tumbenan lo ga mau modal." Faisal yang sedari tadi diam ikut menimpali. Thoriq gondok banget rasanya kepengen melempar asbak ke kepala Faisal. Udah tau temen lagi kebingungan bukan bantuin malah dari tadi mojokiiiiin terus. Untung aja di pojok ga ada bambu runcing kalau gak tamat dah tu riwayat Thoriq udah sampai di pojok banget saat ini, tak ada sela lagi untuk membela diri. "Kalau udah soal hati memang susah jadinya. Bagus kalau dia masih mau damai di selesaikan dengan uang. Kalau sampai ham*l dan nuntut itu lebih susah lagi." Bang Atta kembali menghisap rokok nya yang hampir habis. "Jadi sekarang gimana Bang. Kalau Fuji bilang dia suruh saya bayar melalui Abang. Apa benar begitu Bang? Apa Fuji sudah bilang? Soalnya saya takutnya Fuji belum bilang dan Abang jadi tersinggung saya libatkan dalam masalah ini. Tapi bener Bang. Ini kehendak dari Fuji untuk melibatkan Abang. Bukan kehendak saya. Sekali lagi saya minta maaf Bang." Thoriq berusaha tabahkan hati menghadapi ketidak pedulian Faisal pada dirinya. "Ya sudah nanti kamu datang saja ke rumah saya. Karena yang dekat dengan Fuji itu istri saya Aurel. Dan Aurel yang tau persis gimana kisah kalian itu." Bang Atta terlihat malas mengurusi. "Oh ya Fais, Bang, pamit ke warung kopi sebentar. Dari tadi ngobrol tapi belum minum. Abang mau minum apa Bang, biar sekalian saya pesenin. Lo juga apa Frans?" Thoriq berusaha melepas sesak sedikit dengan alasan ke warung memesan minum. Sekalian nanti ngobrol dengan minum juga biar ga terlalu nervous "Gue kopi item aja lah Thor. Abang minum apa Bang." Tanya Faisal pada Atta "Ngga lah. Abang mau balik Fais. Mau ujan nih kayaknya. Tadi Abang ke sini cuma pake motor takut kehujanan. Ntar Aurel ketiduran juga ga bisa jemput pake mobil." Atta pamit undur diri. "Thoriq juga malam ini mau ke rumah Abang untuk ketemu sama Abang dan Aurel juga gak apa. Kami tidur selalu larut malam." Undang Atta. "Oke Bang. Terima kasih banyak. Maaf merepotkan. Saya mau ngopi bentar sama Faisal." Thoriq pun menjabat tangan Atta yang sudah bangkit dari kubur... eh maaf sudah bangkit dari duduk maksudnya. Faisal berdiri di pintu toko mengantarkan Thoriq yang mau ke warung kopi dan Atta yang mau pulang ke rumah. .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN