Bab 10
Thoriq Ketakutan
Fuji pulang dengan hati bahagia. Tak lupa sebelum masuk kamar dia mampir di kantin menemui Becca untuk curhat soal keberhasilannya mendapatkan bukti bukti.
"Wah ada pelangi bersinar nih di wajah lo. Pasti abis menang lotre lo ya. Dapet dolar lo ya.. Bagi dong bagi bagi..." Cecar Becca melihat Fuji datang sambil bersenandung
"Kaga siiiist. Lo tau gak kenapa gue seneng banget hari ini?" Fuji mengipas ngipaskan kertas formulir bukti check in dia dan Thoriq baru baru ini.
"Wah, kertas apa itu say. Lo abis dapet cek ya." Mata Becca membulat
"Ya ya yaaaa.." Fuji berkata pakai nada.
"Lebih dari sekedar..... cek." Fuji memberi tekanan pada kalimat terakhir.
"Sini, pinjam dulu gue hape lo." Fuji langsung aja menyambar hape Becca yang tergeletak di meja hadapannya.
Dia memotret formulir itu dan mengirimkan melalui aplikasi hijau ke sebuah nomor, dan langsung memblokir nomor tersebut dari hape Becca.
"Gluduk gluduk ga ujan ujan." Fadly nyeletuk karena lagi sepi pengunjung di kantin.
"Apaan tuh!! Mana ada gluduk panas terik begini." Tukas Fuji.
"Duduk duduuuuuk ga jajan jajan hahahahaa." Fadly terbahak, sepertinya lagi gabut jadi mengganggu Fuji dan istri nya yang sedang curhat curhatan.
"Ya udah seperti biasa lah jahe anget." Fuji memesan dengan malas.
"Jahe anget mulu buat angetin badannya. Cari dong jahe idup hahahaa."Goda Fadly.
"Gue sodok pake bambu runcing lo ye, godain gue mulu. Gue lagi srius nih." Fuji melotot.
"Iya bos.. iii iiya iya.." Fadly memasang gaya pelayan yang lagi ketakutan sambil tertawa geli.
"Udah sono cepetan bikin jahe nya. Mau tau aja urusan mak mak rempong." Usir Fuji.
"Ni orang dua kalau ketemu kaga ribut sekali kali napa yak. Kayak ada perang dunia mulu." Becca menimpali.
"Nah trus .... trus gimana kertas yang tadi lo bilang lebih dari sekedar cek." Becca penasaran setelah suaminya beranjak membuatkan jahe anget untuk Fuji.
"Bentar Bos. Tenaaaaang tenaaaang. Pancingan baru di makan nih sama ikan hiu hahahaaa." Fuji mengangkat tangan nya meminta Becca untuk diam sesaat karena ponsel nya berdering.
Fuji mengangkat ponselnya..
"{Halo selamat siang, dengan siapa saya bicara.}" Fuji menjawab telepon dengan nada yang di buat buat sok formal.
"{Heh, lo bener bener ya, ga kapok kapok nya mau ngerusak rumah tangga gue.}" Seru suara dari seberang sana.
"{Apa maksud lo mengirim formulir check in kita ini ke hape gue?}" Suara di seberang sana terdengar geram
"{Santay Bang santaaaay. Ini ada apa dengan siapa? Tiba tiba nelfon kok langsung marah marah. Ga dapat jatah dari bini ya hahahaa}" Fuji tertawa senang.
"Pancingan gue berhasil." soraknya dalam hati
"{Gue cuma mau ngingetin sama lo, jangan coba coba ngerusak rumah tangga gue dengan bukti bukti yang lo punya. Karena gue bisa saja melaporkan semua ini pada yang berwajib sebagai perbuatan tidak menyenangkan.}" Suara dari seberang telepon terdengar penuh penekanan.
"{Hohohoooo.. Ternyata Anda Tuan Thoriq yang terhormat. Saya kira nomor saya mau di blokir permanen. Eh masih di buka lagi cuma buat ngancem ala ala laki laki hidung belang kejepit pintu.... Hahahaa}" Ejek Fuji. Fuji yakin Thoriq pasti sudah kelabakan karena Fuji bisa mengetahui tempat tinggal Thoriq yang sebenarnya, bisa mengetahui nama istri nya. Dan yang lebih gawat lagi sekarang Fuji bisa bisa nya mendapatkan salinan form mereka pada saat Check In dengan sangat lengkap!!
Fuji di lawan hahahaaa......
"Ni cewek sebenarnya dukun apa Intel sih." Thoriq ketakutan dalam hati.
"Kok dia ga ada takut takut nya gue ancem lapor ke polisi. Jangan jangan dia polwan atau intel yang menyamar, atau dukun? Ah.." Thoriq mengacak rambutnya gusar karena Fuji malah terkekeh ketika di ancam.
"{Ya udah kalau lo mau laporin gue sama polisi silahkan!! Gue akan datang di persidangan, sekalian bawa wartawan. Biar semua orang tau kasus kita. Kalau gue ini apalah, mau sebaik malaikat pun akan tetap di anggap hina. Beda dengan Anda Tuan Thoriq yang terhormat. Kalau anda ingin kita sama sama terhina di persidangan nanti hayook..}" tantang Fuji.
"Mang lo doang yang bisa ngancem! Gue juga bisa keles. Gini gini juga otak gue lebih encer dari s**u kental manis hahahaaaa..." Fuji tertawa dalam hati mendengar Thoriq yang mengancam dirinya karena panik dan takut.
"{Percuma lo ngancem gue. Sepeserpun gue ga akan memberi lo uang. Ingat itu. Dasar pemeras!!!}" Thoriq langsung memutuskan sambungan telepon.
"Lihat saja nanti, jangan sampai minta ampun sama gue, heheee...." Fuji cengar cengir
"Lo kenapa lagi sih say. Kalau dia ga mau ngalah ya udah lah. Lo aja yang ngalah. Gue ngeri lo kenapa kenapa doang say. Lo kan cewek, tetep akan kalah kalau ngelawan cowok." Becca terlihat lumayan ngeri melihat cara bicara Fuji yang lebih ke arah psikopat.
"Iya sayang. Kalau berantem fisik ya jelas kita yang kalah lah. Maka nya pakai oooo.... tak..." Kata Fuji sambil menunjuk kepalanya.
"Kalau dia bisa licik kenapa gue enggak. Ye kan? Tenang tenang. Dia harus minta ampun sama gue karena udah nantang seorang Fuji Sutan Malenggang!!" Raut wajah Fuji benar benar seperti seorang psikopat.
Dia meraih lagi ponsel nya dan memilih mana percakapan dia di chat dengan Thoriq yang akan di 'screenshoot' dan di kirim pada istri Thoriq.
{Untuk apa kamu ngadu sana sini tentang hubungan kita? Sebelum telanj*ng di hotel, kenapa lo gak bilang tarif lo sama gua?}
{Emang kita pernah telanj*ng?} Fuji memberi emot kaget.
{Susah ngomong sama orang pikun.} Balas Thoriq jengkel.
{Oh, kirain kamu yang pikun. Nantang nantang aku ngadu sama istri nya abis tu aku yang dituduh neror. Padahal kamu yang nantang, aku sih tinggal jalanin}
Setelah menemukan percakapan yang dia inginkan, Fuji pun segera mengusap layar ponsel nya dan mengirim pada istri Thoriq di aplikasi hijau. Fuji mendapatkan nomor istri Thoriq dari aplikasi merah setelah sebelumnya dia cek di aplikasi biru pelacak nomor ponsel
"Kenapa sih play boy cap bayem itu marah marah lagi sama lo? Bikin tingkah apa lagi lo?" Tanya Becca.
"Gue kan di blokir ama dia kemaren kemaren karena gue suruh untuk menghubungi suami temen gue yang pejabat negara di Jakarta, untuk menyelesaikan masalah kita baek baek. Tapi dia ogah dan nantangin gue, maka nya gue nekat nyari bukti bukti. Bukti apa kek, kalau ga hasil rekaman CCTV ya formulir check in ini." Sahut Fuji.
"Oh jadi kemaren kemaren lo di blok ama dia? Trus gimana cara lo ngirim bukti bukti itu ke dia?" Becca bingung.
"Pake hape lo kan tadi?" Fuji menjawab santai sambil mengaduk aduk jahe anget nya yang sudah hampir habis.
"Busyeeeet dah lo. Jadi tadi lo make hape gue untuk ngirim bukti bukti? Gile lo ye, ntr malah gue yang di teror." Rungut Becca.
"Ya ela tenang aja. Ga bakal. Dia tau dengan siapa dia bermasalah. Bukti nya dia buka blok gue dia kebakaran jenggot sama gue barusan." Jawab Fuji enteng
"Nekat juga lo ye." Becca geleng geleng melihat tingkah Fuji.
***
Sementara itu di lain tempat gempa bumi lokal melanda rumah Thoriq.
"Praaaaaang... praaaaang..." Barang barang pecah belah melayang layang seolah menari dangdut di udara dan terhempas dengan bunyi yang memekakkan telinga. Siapa lagi kalau bukan Chika si gendut istri Thoriq yang mengamuk mendapat kiriman 'screenshot' percakapan tentang suami nya Thoriq di hotel bersama perempuan dari Fuji barusan.
"Tenang sayang... perempuan itu saja yang mengejar ngejar Ayah dan menjebak Ayah. Percaya deh sama Ayah. Kalau Ayah emang ga mencintai Bunda lagi dan anak anak kita, ga mungkin Ayah selalu pulang ke rumah." Bujuk Thoriq panik
"Kalau emang sayang dan cinta sama Bunda, ga mungkin Ayah bisa tel*njang sama perempuan lain di hotel." Chika berteriak dengan penuh amarah yang sudah tak terkendali.
Gala dan Rafathar anak anak mereka yang masih lima tahun dan tiga tahun menangis ketakutan melihat pecah belah menari dangdut di udara di lempar oleh Bunda mereka.
"Itu cuma chat yang di buat buat aja. Dia pakai foto profil Ayah biar Bunda percaya. Nama nya juga perempuan licik bisa merekayasa apa saja untuk mendapatkan keinginan nya." Kilah Thoriq
"Apa nya yang rekayasa. Coba Ayah liat lagi barusan kan sudah Bunda kirim ke hape Ayah. Jelas jelas di sana nomor Ayah terpampang dengan sangat jelas dan lengkap. Karena dia tidak menamai Ayah di kontak nua jadi nomor Ayah terlihat jelas. Ayah mau berkilah apa lagi. Dari nomor Ayah sendiri yang mengetik di sana bahwa Ayah menanyakan tarif sama dia sebelum kalian tel*njang di hotel!!!" Chika menunjuk nunjuk muka Thoriq dengan kesal
Thoriq menggaruk garuk kepala bingung. Tak bisa berkilah lagi. Ternyata Fuji benar benar mendapatkan nomor istri nya dan mengirimkan chat mereka berdua. Mau berkilah lagi, Fuji masih punya bukti salinan form check in waktu mereka menginap bersama di hotel. Ini baru episode pertama, baru kirim chat mereka. Belum kalau nanti Fuji nekat mengirimkan bukti salinan check in itu pada chika
"Ternyata tu cewek bener bener intel juga otak nya. Baru kenal semalam tapi dia bisa tau semua tentang keluarga gue, toko gue bahkan nomor ponsel istri gue. Kayaknya emang ga bisa di remehkan juga ni cewek. Tapi mau damai gengsi juga." Thoriq dongkol terjepit situasi.
Chika masuk ke kamar sambil menggendong Gala dan membimbing Rafathar. Dia membereskan pakaian pakaian mereka ke koper dengan asal.
"Mau ngapain kamu?" Tanya Thoriq semakin panik
"Pulang ke rumah keluarga Bunda. Buat apa Bunda di sini kalau suami udah ga setia." Chika menghentak kesal sambil melempar baju baju nya dan baju anak mereka ke koper.
"Bundaaaa... Bundaaa.. jangan ambil keputusan saat emosi. Tolong dengarkan Ayah dulu." Thoriq berkata lembut sambil mengeluarkan lagi pakaian pakaian yang sudah di lempar ke dalam koper. Sementara itu Rafathar dan Gala sudah mulai mereda tangis nya dan keluar dari kamar ke ruang tengah untuk bermain
"Udah ga usah sok sok baik. Di hati mes*m liat cewek bening. Mentang mentang sekarang tubuh Bunda ga selangsing dulu waktu masih gadis. Tapi tubuh Bunda begini juga karena melahirkan anak anak Ayah." Chika mulai terisak di antara amarah nya yang meledak ledak.
"Bundaaaa. Ayah minta maaf kalau emang Ayah salah. Ayah khilaf waktu itu.Karena Ayah ke kampung tanpa Bunda jadi Ayah khilaf. Kalau ada Bunda gak mungkin Ayah melakukan itu dengan yang lain." Tanpa sadar Thoriq mengaku juga akhirnya
"Ooo jadi benar kan Ayah telah melakukan itu di belakang Bunda? Berarti begitu kelakuan Ayah kalau di belakang Bunda?" Chika mengamuk lagi dan melempar pakaian yang di keluarkan Thoriq dari koper ke wajah Thoriq.
Untung lah anak anak bermain di ruang tengah jadi ga mendengar pertengkaran mereka di kamar. Chika memasukkan kembali pakaian yang sudah berantakan dia lemparkan ke Thoriq. Lalu dia keluar menggendong Gala dan membimbing Rafathar. Segera Chika memesan kendaraan on line.
"Buuuun, dengar Ayah dlu Bun.. waktu itu ayah cuma iseng. Ayah ga selingkuh hati dan perasaan." Thoriq masih berusaha membela diri.
"Jadi perempuan Ayah jadikan hanya untuk iseng? Pelampiasan sesaat? Di mana hati dan perasaan Ayah? Istri mu perempuan, Ibu mu juga perempuan. Apa perempuan kamu anggap hanya sebagai objek? Kalau begitu sama saja Bunda kamu anggap juga sebagai objek." Sentak Chika
"Itu beda Bunda. Maka nya jangan ambil keputusan cepat begini dong. Dengar dulu penjelasan Ayah. Kita duduk sama sama dan kita bicarakan dengan kepala dingin." Thoriq masih berusaha membujuk.
"Sudahlah. Bagi Bunda pengkhianatan itu walaupun bisa di maafkan tapi ga bisa lagi untuk percaya. Akan selalu ada keraguan di hati Bunda yang membuat hidup Bunda ga bisa tenang." Chika tetap bersikeras ingin pulang ke rumah orang tua nya.
Segera dia gendong Gala sambil menyerahkan koper pada supir kendaraan on line. Lalu dia membimbing Rafafhar untuk masuk ke dalam mobil. Thoriq menarik tangan Rafathar.
"Kalau kamu mau pulang, silahkan pulang tapi jangan bawa anak anak." Thoriq mulai emosi karena Chika tidak bisa di bujuk.
"Ga usah kamu menghalangiku dan anak anak. Selama ini aku yang mengurus mereka. Sekarang bagaimana kamu bisa mengurus mereka sementara kamu harus mengurus toko dan mengurus selangk*nganmu yang tak puas dengan satu wanita itu." Chika pun mulai keras melawan. Tak ada lagi kata kata Ayah Bunda dari bibir mereka.
Chika melepaskan genggaman Thoriq di tangan Rafathar, dan dengan segera masuk ke dalam mobil dan menguncinya.
"Jalan Pak." Seru Chika cepat tanpa mempedulikan Thoriq yang mengetuk ngetuk kaca mobil memohon Chika untuk jangan pergi.
Mobil melesat dengan cepat meninggalkan Thoriq yang termangu menatap kepergian anak dan istri nya.
"Aaaargh.. Dia menghantam kan kaki nya ke tanah dengan sangat geram