Berhasilkah Misi Fuji?

1524 Kata
Bab 9 Berhasilkah Misi Fuji? Beberapa hari kemudian Fuji melancarkan kembali aksinya untuk mendapat hasil rekaman CCTV yang di hotel, karena yang di cafe gagal dia dapatkan. Fuji merasa Thoriq telah meremehkannya dan Fuji pun merasa tertantang!! "Dia kira gue ga bisa tau di mana keluarga istrinya. Jaman udah canggih sekarang coy. Kalau ga mau modal main cewek, harus siap rumah tangga lo rusak, cam kan itu." Fuji mengepalkan tangan ke udara pertanda geram. "Sekarang tinggal masalah foto foto dan video yang hilang dari galeri gue. Kalau Bang Al Ga bisa bantuin gue untuk mendapatkan foto foto dan video itu lagi, masih ada cara lain dengan hasil rekaman CCTV dari hotel." Fuji melangkah ke area pos scurity dengan penuh harap dan semangat. Sesampai di area pos scurity, Fuji tidak menemukan security yang di temui nya kemaren. "Yaaah elah, kenapa kemaren gue ga minta nomor ponselnya ya? Kemana aja fikiran gue. Sekarang harus cerita ulang lagi deh modus - modus kek kemaren sama scurity yang ini." Fuji mendongkol karena keteledorannya " Selamat Siang Bapak." Fuji tersenyum menyapa scurity yang sedang berjaga. "Siang Bu! Ada yang bisa saya bantu?!" Sahut scurity ramah. "Uhhhmmm... iya Pak. Saya ada sedikit keperluan beberapa hari lalu tentang hasil rekaman CCTV kedatangan saya tanggal tujuh bulan ini. Tapi karena pas saya datang sedang tanggal merah jadi belum bisa di bicarakan, dan saya di suruh datang lagi beberapa hari lagi. Ya makanya saya datang lagi ke sini sekarang." Jelas Fuji. Fuji pun menjelaskan lagi modus - modusnya untuk mendapatkan hasil rekaman CCTV dirinya dan Thoriq beberapa waktu lalu. Scurity yang ini menanggapi dengan agak banyak bicara, tak seperti security yang beberapa waktu lalu di temui Fuji. "Hmm, kebangetan juga ya Tantenya Mbak. Cuma masalah ga di bawain oleh oleh aja sampai segitunya." Security itu menanggapi sambil manggut - manggut. Dia tidak lagi memanggil Ibu pada Fuji tapi memanggil Mbak karena Fuji terlihat masih muda untuk di panggil Ibu. "Itu lah Bang. Gara gara saya suka bikin story di media sosial, kadang - kadang memang suka bikin orang salah faham. Apa lagi waktu itu saya posting story tanpa caption. Jadi Tante saya dan keluarga menyangka bahwa postingan itu terjadi pada hari itu." Dusta Fuji dengan akting sedih. Kepalanya terkulai ketika menceritakan hal dusta tersebut seolah kejadian itu benar - benar nyata. "Biasanya sih Mbak ya, agak sulit untuk mendapatkan rekaman CCTV hotel ini, tapi kalau hanya sebentar saja di bagian pas Mbak nya Check In atau di bagian baru datang, atau mungkin pas di lorong mau masuk ke kamar, mungkin bisa sih saya usahakan. Tapi ga janji ya Mbak." Scurity tersebut basa basi untuk membantu. "Iya Bang. Makasih banyak ya udah mau berusaha untuk bantu saya. Saya bingung banget sekarang Bang. Suami ke Jakarta mengurus usaha tekstil kami yang sedang berantakan. Waktu suami saya di sini juga keadaan kami sedang kacau, dan karena saya cuma menumpang di rumah Tante saya, makanya malam itu saya nginap di hotel karena kami kemalaman setelah menemui teman bisnis Abang di kampung. Segan dini hari pulang, mengganggu istirahat Tante dan keluarga." Dusta Fuji lancar. "Baiklah Mbak tunggu di sini sebentar. Saya menemui bagian Kepala atau resepsionis yang mungkin bisa membantu memberikan rekaman itu." Scurity tersebut berkata sambil bangkit dari duduk nya menuju lobby hotel. "Ga percuma juga gue waktu masih sekolah suka ikut latihan theater heheheh..." Fuji terkekeh ketika scurity tersebut sudah agak jauh dari nya. *** Tak lama scurity tersebut datang lagi sambil menggelengkan kepala. "Maaf Mbak, rekaman di hotel ini kalau sudah dua atau tiga hari terhapus dengan sendirinya. Maaf tidak bisa membantu." Scurity itu merentangkan tangan sambil memiringkan bibir pertanda usahanya telah gagal. "Ah, kasusnya sama kayak yang di cafe kemaren. Beberapa hari hilang rekaman nya." Desah fuji kecewa Tapi Fuji tak putus asa, tiba tiba dia mendapatkan ide untuk mendapatkan salinan formulir Check In dari bagian 'front office'. "Ya udah deh Pak. Kalau gitu saya pamit dulu. Mau ke resepsionis bentar. Ada perlu. Makasih ya bantuannya" Fuji tersenyum sambil menjabat tangan scurity tersebut sebagai ungkapan terima kasihnya. Fuji berjalan ke lobby hotel untuk bertemu dengan bagian 'front office'. Berharap bisa meminta salinan Form Check In pada tanggal 7 Oktober beberapa hari lalu. "Selamat siang Ibu. Ada yang bisa kami bantu?" Kedua resepsionis berdiri sambil menyatukan kedua tangan di d**a sebagai tanda menghormati "Hmmm iya.. Saya Check In bersama dengan suami saya tanggal tujuh kemaren. Karena barusan saya tidak bisa mendapat rekaman CCTV keberadaan saya di sini karena sudah hilang, saya mau minta salinan Form Check In kami waktu itu? Bisa?" Fuji tersenyum. "Sebentar Ibu. Untuk hal seperti itu kami harus menanyakan dahulu pada atasan kami." Resepsionis mengatakan. "Baiklah. Tolong bantu saya sebisa nya ya Mbak. Saya butuh banget soalnya untuk bukti pada keluarga saya, bahwa saya berada di sini pada tanggal tersebut. Karena tidak bisa membuktikan lewat CCTV ke Tante saya, mudah mudahan dengan bukti salinan form Check In itu, Tante saya bisa percaya bahwa saya di sini waktu itu dan gak ngediemin saya lagi." Fuji memohon. "Oh ya dengan Ibu siapa namanya?" Tanya resepsionis "Fuji Mbak." jawab fuji singkat. "Waktu check in tanggal berapa dan atas nama siapa?" Resepsionis bertanya sambil mencatat di sebuah kertas "Waktu Check In tanggal tujuh oktober sekitar jam 4 pagi, atas nama Thoriq Noviardi, di kamar 722." Fuji menyebutkan sedetail mungkin agar resepsionis tersebut percaya bahwa benar benar dia dan suami nya lah yang menginap di hotel waktu itu. "Baik, saya akan diskusikan dengan atasan saya dulu. Ibu silahkan menunggu di sofa." Resepsionis tersenyum sambil mengulurkan tangan untuk mempersilahkan menunggu di sofa yang telah di sediakan Resepsionis pun berlalu ke ruangan yang ada di samping 'front office' menemui atasannya dan Fuji pun duduk di sofa yang telah di sediakan di lobby hotel untuk menunggu. Fuji asyik memainkan ponselnya sambil menunggu, ketika kemudian nama nya di panggil oleh resepsionis "Yop, bagaimana Mbak?" Fuji harap harap cemas. "Semoga kali ini Dewi Fortuna berpihak sama gue. Bukan Donald Bebek terus yang selalu menghantui gue dengan kegagalan dan kegagalan." Fuji berharap "Silahkan Ibu berbicara dengan atasan saya di meja sebelah sana." Resepsionis menjulurkan tangan nya ke arah kanan, dimana di sana ada sebuah meja dengan dua buah kursi yang berhadap hadapan. "Wah, atasan nya ganteng juga nih. Bikin gue grogi dan tegang aja ih..." Rutuk Fuji menunduk sambil memilin tangan nya karena grogi "Silahkan duduk Bu Fuji." Laki laki berkemeja putih itu mempersilahkan dengan senyum ramah nya. "Aduh Maaaaak lumayan bisa cuci mata dan cuci otak, dari kemaren tegang terus nih otak gara gara bukti bukti hilang dan cari bukti baru lumayan banyak halangan." Fuji berkata dalam hati sambil tersenyum grogi "Eehhmmm, jadi bagaimana Pak, permohonan saya soal salinan form check in kami tanggal tujuh kemaren." Tanya Fuji kaku. "Adduuuuuhhh Ibu Fuji mohon maaf sekali yah tidak bisa memberikan rekaman CCTV karena rekaman di hotel ini dalam dua atau tiga hari akan terhapus dengan sendiri nya, terhimpit oleh rekaman yang baru." Kata lelaki berkemeja putih tersebut sambil menggelengkan kepala. "Tapi kalau untuk salinan Form, bisa kami bantu. Eeehmmm Ibu Fuji pada tanggal 7 oktober di kamar 722 bersama Bapak Thoriq Noviardi yah." Lanjut lelaki itu sambil membuka sebuah formulir. "Coba Ibu periksa dulu, apakah benar ini formulir yang Ibu inginkan? Apakah sudah sesuai nama dan nomor kamar? Kalau sudah, tolong tanda tangan di sini." Lelaki berkulit kuning langsat itu menunjuk ke bagian ujung kertas formulir. "Baik Pak. Terima kasih bantuan nya." Fuji tersenyum senang karena akhirnya dia mendapatkan bukti yang bisa dia berikan pada keluarga istrinya Thoriq, sebagai jawaban dari tantangan Thoriq terhadap nya." Sambil Fuji menanda tangani formulir tersebut, lelaki manis berkulit kuninh langsat itu bersimpati. "Ada ada saja ya Bu Fuji. Permasalahan sepele bisa jadi ke salah fahaman yang bisa menyebabkan kebencian di antara keluarga. Mudah mudahan setelah memberikan bukti berupa formulir check in ini, Tante nya Bu Fiji tidak akan mendiamkan Bu Fuji lagi dan bisa mengerti keadaan Bu Fuji pada saat itu." Lelaki tersebut berkata sambil menautkan ke dua tangan di depan wajah dan menggoyang goyang kursi tempat dia duduk. "Iya Pak. Begini lah nasib kalau kita sedang di bawah. Apa lagi hanya menumpang. Yang benar aja bisa jadi salah apa lagi yang salah." Fuji berusaha menarik simpati lelaki berkemeja putih nan tampan itu. Setelah melihat lihat formulir dan dia rasa benar, lalu Fuji menanda tangani di bagian bawah yang tadi sudah di beritahukan oleh lelaki di hadapannya. Lalu Fuji menyerahkan ballpoint kepada lelaki itu. "Terima kasih Pak atas bantuan nya. Saya tadi sampai memakai pakaian yang saya pakai waktu check in di sini, supaya fihak hotel bener bener percaya bahwa yang datang itu adalah saya dan saya juga yang meminta, bukan orang lain yang berpura pura jadi saya. Tapi ternyata rekaman sudah hilang. Untunglah Bapak bisa membantu saya melalui form ini. Sekali lagi terima kasih Pak dan maaf saya telah mengganggu waktu Bapak." Fuji berdiri menyalami laki laki itu. "Baik Bu Fuji. Kalau masih ada yang bisa di bantu silahkan hubungi kami kembali. Dan semoga puas dengan pelayanan kami." Lelaki itu menjabat tangan Fuji lalu menyatukan kedua tangan nya ke depan d**a sebagai tanda menghormati costumer. Fuji pun berlalu dan tak sabar rasanya ingin berjingkrak dan berteriak karena dia merasa bisa menjawab tantangan Thoriq.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN