Mengusahakan Barang Bukti

1166 Kata
Bab 8 Mengusahakan Barang Bukti Fuji memesan kendaraan on line menuju hotel tempat dia pernah memadu kasih bersama Thoriq. Sesampainya di hotel, Fuji turun dan menuju pos scurity. "Pasti lebih gampang bujukin cowok untuk minta hasil rekaman itu, dari pada sama cewek cewek di resepsionis." Fikir Fuji. Fuji pun melangkah dengan penuh harapan dan percaya diri bahwa dia pasti akan bisa mendapatkan hasil rekaman CCTV itu. "Permisi. Bang, maaf aku bisa minta tolong?" Fuji tersenyum manis mau melancarkan rayuan maut nya untuk mendapat hasil rekaman CCTV "Ya ada yang bisa saya bantu Ibu?" tanya scurity yang sedang berjaga. "Gini Bang. Bisa gak aku minta hasil rekaman CCTV diri aku sendiri. Tanggal tujuh bulan ini, sebelum subuh aku ke sini sama suamiku. Tapi keluargaku nggak percaya kalau aku dan suamiku ke sini. Karena aku up load story WA sedang di Jakarta saat itu. Padahal aku up load story itu karena kangen aja sebab dulu kan aku memang tinggal di Jakarta dengan suamiku. Tapi sekarang usaha suamiku mengalami sedikit bangkrut dan aku terpaksa tinggal di kota ini menumpang sama adik Mama ku." Fuji berakting dengan wajah murung. "Sekarang aku di diamkan sama tanteku karena dia mengira aku ke Jakarta gak bilang bilang, dan tidak juga membawa oleh oleh untuk keluarga. Dia bilang aku menumpang dan gak tau diri, gak pandai berbasa basi, pulang dari bersenang senang gak bawa oleh oleh, bahkan pergi gak bilang - bilang. Namanya kita menumpang kan ga enak kalau di diemin Bang" Fuji menunduk sambil memelintir jarinya pura pura gelisah. "Hmm, tapi biasanya rekaman CCTV hotel gak bisa di berikan pada sembarang orang Bu. Kalau pun ada suatu kejadian yang memerlukan hasil rekaman tersebut, itupun biasanya harus memakai surat keterangan dari kantor polisi untuk memberikannya." Jelas Security tersebut. "Iya saya mengerti Bang. Tapi kan yang aku minta rekaman CCTV diri aku sendiri. Aku videoin sedikit aja dengan hape aku, sedikiiit aja pas check in atau pas masuk kamar, dan liatin tanggal nya sekalian." Bujuk Fuji sambil mengecilkan matanya dan membuat bulatan kecil dengan tangannya pertanda meminta sedikit saja untuk bukti ke keluarganya. "Tolong lah Bang. Aku sebatang kara, orang tuaku udah ga ada. Suami aku di Jakarta sedang mengurusi bisnisnya yang berantakan. Aku sendiri di sini menumpang, kadang mau makan takut karena di diemin sama tante aku" Fuji menghiba lagi. Sang scurity tersebut nampak berfikir. Entah karena kasian atau karena pusing di desak terus oleh Fuji. "Baiklah, saya coba rundingkan dulu dengan atasan dan rekan rekan kerja." Scurity tersebut menghela nafas panjang. Mungkin merasa risih karena di desak oleh Fuji, atau bisa jadi juga karena kasian. "Iya Bang. Mudah mudahan bisa ya Bang." Fuji menghiba. Fuji menanti dengan harap cemas. *** Tak lama scurity tersebut kembali lagi dan Fuji tak sabar mendapat kabar tentang hasil rekaman CCTV itu. "Gimana Bang? Bisakan?" Harap Fuji. "Sekarang tanggal merah Bu. Bagian kantor yang memegang urusan itu sedang libur. Beberapa hari ini tanggal merah karena lebaran Haji Bu." Jawab scurity. "Yaaaah." Fuji mendesah kecewa. "Mungkin Ibu bisa kembali lagi besok atau lusa." Saran scurity tersebut. "Baik lah kalau begitu saya permisi dulu." Pamit Fuji memiringkan bibirnya karena kecewa. Fuji tak kehilangan ide karena semangat nya begitu tinggi untuk membalas tantangan Thoriq. Gagal mendapat hasil rekaman CCTV di hotel, Fuji pergi ke cafe tempat mereka karaoke dan berusaha meminta hasil rekaman CCTV di sana dengan modus yang sama. Tapi keberuntungan memang belum berpihak pada Fuji. Rekaman CCTV di cafe tersebut akan hilang dengan sendiri nya setelah tiga hari, kata pegawai di sana Entah kenapa Fuji selalu bernasib seperti Donald Bebek yang selalu sial dalam setiap misinya. Fuji lemas dan memesan kendaraan on line dengan kesal. "Untuk hari ini gue stop dulu, tapi bukan berarti gue menyerah ya Thoriq" Fuji mengepalkan tangannya dan segera naik ke kendaraan on line yang dia pesan. *** Sampai di mess Fuji melewati kantin mess yang berada ke arah tangga kamarnya. "Dih kenapa muke lu kusut banget kayak baju ga di strika. Kriting!!" Becca berkata heran melihat Fuji pulang dengan wajah kusut. "Huh, iya nih Bec. Gue ga sadar kalau sekarang tanggal merah saking nafsunya. Dapet cape doang deh gue ke hotel karena bagian kantornya libur dan gue belum dapat hasil rekaman CCTV nya." Fuji mencibir kesal. "Udeh mending lo minum dulu biar seger, makan biar otak bisa bekerja lagi bagaimana baiknya nanti. Tekan dulu emosi lo, ntar darah tinggi lo. Yang sabar." Becca menggosok gosok punggung Fuji. "Iya dah. Biasa lah gue pesen jahe anget dan mie goreng aja seperti biasa. Telornya mata sapi dan kuningnya di matengin." Fuji melempar tasnya ke meja kantin. "Syeeeet dah cantik cantik galak amat. Sampai lempar lempar tas segala. Ntar Bang Thoriq nambah kabur loh." Goda Becca. "Bodo." Fuji masih jengkel aja. "Bang, jahe anget sama mie goreng satu. Buat Fuji. Udah tau kan Fuji telornya di mata sapiin dan kuningnya di matengin. Awas jangan sampai salah. Nanti bisa gempa bumi nih kalau sampai salah bikinin. Orangnya lagi kebakaran jenggot tuh gara - gara patah hati" Becca meledek Fuji pada suaminya. "Mana ada jenggot gue secantik ini ah.. elo.. lagi sebel tauuuu.". Sungut Fuji. "Iya iya adek Abang yang cantik manis putih berseri seputih melati seindah pelangi di pagi hari." Fadly meledek sambil tertawa. "Udah jangan manyun manyun lagi. Ntar di gigit kambing ompong loh. Abang masakin dulu mie kesukaannya biar kenyang dan gak manyun manyun lagi." Kata Fadly sambil mengedipkan mata menenangkan teman istrinya tersebut "Kenapa ya Bec, gue selalu aja di permainkan lelaki. Padahal walau pun gue kerja kayak gini tapi gue gak pernah menj*al diri, tapi tetap aja di anggap rendah." Fuji menggumam sedih sambil mengaduk aduk jahe anget yang sudah di antarkan Fadly ke mejanya. "Sabar ji. Kalau gue boleh berpendapat, kalau emang lo masih pengen punya pasangan, sebaiknya lo keluar dari dunia yang lo jalanin sekarang. Karena sebaik baik hati kita, kalau kita masih berada di dunia itu, udah hukum sosial di masyarakat untuk tidak menganggap pekerjaan tersebut sebagai pekerjaan yang harus di hormati. Hanya Allah yang tau persis gimana gimana nya kita. Sedangkan manusia kan gak bisa menembus isi hati manusia lain maka nya manusia hanya bisa memandang dari tampak luarnya saja." Saran Becca. "Hmmm.. stelah kejadian ini, selugu dan sesederhana apapun seorang laki laki, gue ga akan pernah percaya lagi. Cukuplah sisa hidup gue ini untuk membahagiakan anak anak gue. Kebahagiaan hidup gue kayaknya udah ga penting, karena sulit untuk di raih dengan keadaan gue yang sekarang." Keluh Fuji. "Ya tapi lo ga boleh putus asa gitu juga dong. Kalau memang itu yang terbaik rasa nya buat lo, ya jalanin lah seperti itu. Tapi sebagai temen gue masih mengharap lo mendapat pasangan yang setia dan hidup lebih baik." Becca tersenyum iba menatap Fuji yang muram penuh dengan derita dan beban hidup. "Makasih Bec." Fuji tersenyum hambar. "Nah gitu dong. Kan cakep kalau senyum gitu. Jangan darah tinggi melulu, pada takut cowok. Ntar jodoh nya jauh." Fadly pun ikut candain sambil menatap iba. "Iyaaa iyaaaa, bawel ih botak mah." Rungut Fuji pada suami temannya si pemilik kantin di mess tersebut .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN