"Mas Mahesa?" Bibir Anandira bergetar seketika saat melihat siapa yang muncul di depan pintu. Antara rasa kaget dan heran bercampur menjadi satu di kepalanya. Wajar saja Anindira heran karena dirinya tidak mengabarkan pada Mahesa kalau dirinya ada di rumah sakit ini. Arga yang tahu Mahesa menaruh hati pada Anindira dan selama ini berusaha memenangkan hatinya, terlihat salah tingkah dan kaget juga. Tapi sebagai pria dan bawahan, Arga tetap menyambut bos di perusahaannya tetap tenang dan sopan. "Masuklah, Mas." Anindira meminta Mahesa masuk. Sementara Arga segera bangkit dari duduknya dan mempersilahkan Mahesa duduk. Di ruang perawatan ini memang ada satu buah sofa yang biasa digunakan penunggu untuk duduk atau bisa juga dipakai tidur saat malam hari. Di pojok lain juga terlihat satu

