Gifta kembali melihat mata hitam itu. Mata yang pernah ia temui beberapa tahun silam, mata yang benar-benar mirip dengan milik istrinya. Sejenak ia terhipnotis dengan mata tersebut. Seolah tersadar wanita itu dengan cepat mengalihkan pandangannya, dadanya berdegub sangat kencang ia berharap laki-laki yang kini masih menatapnya tak mengenalinya. "Mata itu," batin Gifta. Wanita berjilbab lebar dengan masker yang menutupi setengah wajahnya membuat Gifta penasaran. "Silahkan mas," lamunan Gifta buyar saat abang-abang penjual sate datang membawa pesanannya "Minumnya apa mas?" "Es teh manis saja pak," Gifta hampir lupa untuk memesan minum. Sedangkan Pelangi semakin gelisah karena sate yang ia pesan belum juga selesai, ia merasakan keringatnya yang mulai mengucur di punggungnya. "Bunda," pa

