Tatapan Pelangi jatuh di selembar foto yang masih bertengger di pojok meja belajarnya, sosok anak kecil perempuan dengan rambut kepang dua tersenyum manis menatap kamera, di sebelahnya ada seorang laki-laki dan perempuan kompak mencium pipinya. Ah iya Pelangi masih ingat kapan kejadian foto itu diambil. Matanya berair, Pelangi tak bisa pungkiri bahwa ia merindukan sosok ayah yang hilang sejak ia berumur 9 tahun. Mengingatnya kembali membuat dadanya sesak. Kenangan-kenangan manis bersama sang ayah masih terekam jelas di ingatan wanita tersebut, hal-hal kecil yang membuatnya tidak ingin lepas dari dekapan sang ayah. Pelangi membenarkan soal anak perempuan yang lebih dekat dengan sang ayah karena itu pun yang wanita itu rasakan dulu. Memori itu sekarang menjadi memori usang yang tersimpan

