Bab 18

1484 Kata

Hujan semakin lebat mengguyur bumi, bau tanah terasa sekali dalam indera penciumanku, pandanganku menatap nanar ke jendela mobil dan melihat pemandangan di luar sana. "Diem aja, Cin? Sariawan?" Kalimat pertama Langit membuatku berjingkat kaget. "Oh, enggak kok, Lang. Cuma lagi bingung ngomongin apa." "Eummm ... pengen ngomongin sesuatu, ya?" Mata Langit naik ke atas, kemudian senyum kecil muncul dari bibirnya. "Ngomongin Mas Biru gimana?" "Kenapa, harus ngomongin dia? Nggak baik lho ngomongin orang."  Langit tertawa kecil, matanya mengerling nakal ke arahku. Oh perasaanku benar-benar tidak enak. "Kayaknya tadi Mas Biru cemburu, deh," ucapnya yang langsung kujawab dengan mata yang bertambah membulat.  "Kamu kalau ngomong suka ngawur, ya gak mungkin lah," jawabku, sembari menetralkan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN