Bab 4

1095 Kata
Aku masih membeku di tempatku saat ini, duduk di depan pemilik mata coklat terang yang sedang sibuk membersihkan sisa noda pada pakaiannya. Kulihat ia juga mengeluarkan isi dari dalam tasnya karna benda itu juga menjadi salah satu korban ulah tas songongku yang dengan tak sopannya menyenggol secangkir minuman panas tadi. Jangan-jangan sebenarnya tasku hanya ingin berkenalan dengan tas slempang itu sehingga membuat ulah seperti ini. Ah, pikiranku sepertinya mulai ngawur. Mas Satya berada di tengah kami, membantu Biru mengambil serbet yang ia gunakan untuk membersihkan dirinya. Dan aku hanya bisa melihat itu dengan cengo. Aku bisa apa bila tiap kali tanganku ingin membantunya ia akan mundur selangkah dan menghadiahiku tatapan tajam yang seolah siap mencabik-cabikku kapan saja. "Aku minta maaf ya, kamu nggak apa-apa, kan?" tanyaku cemas. "Nggak pa-pa," ucapnya tanpa menoleh ke arahku. "Eh beneran deh, jadi nggak enak. Aku bisa bantu apa?" Aku benar-benar khawatir sekarang, merasa tak enak. Aku tak pernah ingin membuat bermasalah dengan orang lain, terlebih orang ini.  "Aku bilang nggak pa-pa." Nada dingin menyeruak memasuki indera pendengaranku, memasuki relung hatiku, dan membuatku langsung bergeming. Ah, cowok ini benar-benar menyebalkan, tak bisakah berbicara lemah lembut kepada seorang wanita? Aku juga bukannya sengaja atau tidak mau bertanggunh jawab akan kecerobohanku, kan? Aku melengos dari arahnya dan mengalihkan pandangan pada Mas Satya. "Moccachino yang tumpah tadi aku aja yang bayar ya, Mas. Sekalian bayar Chocolate Lava Cake-nya, hehe ... " Mas Satya pun berganti menatapku. "Udah ketemu dompetnya to, Mbak?" Aku mengangguk. "Ternyata ada di saku celana. Kadang penyakit pikunku suka kambuh gak tahu sikon, Mas," kataku diselingi cengiran khas. Mas Satya tergelak. "Iya Mbak." "Jadi berapa total semuanya?" "Semuanya dua puluh---" Belum selesai Mas Satya mengeluarkan suaranya, Biru terlihat menggebrak pelan meja yang kami tempati, bukan menggebrak sih sebenarnya, dia menaruh selembar uang di balik tangannya pada meja itu. "Aku bisa bayar sendiri," katanya entah pada siapa, tetapi membuatku agak emosional juga. Lelaki ini benar-benar menyebalkan. Aku kan hanya niat membantu. Pagi-pagi sudah membuat orang  sebal saja. Oh, sudah berapa kali aku menyebutnya menyebalkan hari ini? "Ada jaket nggak, Mas? Boleh aku pinjem bentar, nanti sore aku balik sini lagi," katanya tanpa menganggapku ada. Ya, ya, terserahlah. Siapa juga yang mau dianggap oleh cowok kurang kehangatan seperti itu. "Oh iya, ada, Mas. Sebentar saya ambilkan." Mas Satya bangkit dari kursinya dan diikuti oleh lelaki menyebalkan itu. Setelah kepergiannya aku bersungut-sungut. Kenapa ada lelaki yang sangat dingin dan ketus seperti itu di dunia ini? Aku harus memasukkan dia pada list orang yang harus dihindari, agar kesabaran dan sifat lemah lembutku tetap terjaga. Hah, kenapa baru sekarang aku bertemu dengan orang yang bisa menguji rada sabarku dan membuat aku ingin mengumpat setiap kali melihat wajahnya.  Ekor mataku mendadak menangkap sebuah buku kecil bersampul warna hitam di atas meja, dan entah dorongan darimana aku dengan sengaja mengambilnya, merasa ingin tahu, membuka selembar kertas dan membacanya. Aku berada di dalam sekat Sekat yang belum  pernah kulihat Lalu cahaya samar-samar hilang begitu cepat Hitam dan gelap yang sekarang kudapat   Sebuah rasa sepi datang merambat Sepi, kosong, seakan menghimpitku rapat-rapat  Semua tak terasa lambat Bahkan menghindarpun aku tak sempat ~Biru yang tak pernah menyukai warna biru. Aku memandang buku itu dalam diam. Puisi siapa ini, Biru? Orang itu? Dia bisa bermanuver dengan kata seperti ini? Sepertinya itu mustahil sekali. Hatinya seperti batu yang beku, bukankah puisi ini terdengar mellow sekali, tidak sesuai dengan wataknya. Aku menengok ke arah dimana kedua lelaki tadi berada. Namun yang aku lihat hanya Mas Satya saja. Biru sudah menghilang bagai ditelan bumi, andai saja dia benar-benar bisa menghilang.  Kakiku menapak mendekati Mas Satya. "Lho? Cowok tadi kemana, Mas?" tanyaku cepat-cepat. "Maksud Mbak Cinta? Mas Biru?" "Iya, Biru-Biru itu dia dimana? Ini kayaknya bukunya ketinggalan." Aku mengangkat buku yang aku temukan di depan muka Mas Satya. "Baru saja keluar kok, Mbak. Mungkin belum jauh." "Oh iya, makasih, Mas." Aku hampir berbalik namun kepalaku memutar lagi. "Eh, ini uangnya buat cake tadi ya, Mas. Kembaliannya ambil aja." "Iya, Mbak." Samar-samar aku dengar suara Mas Satya karna aku sudah melesat keluar, mencari jejak langkah lelaki bernama Biru itu. Oh iya, haruskah aku berlari mengejarnya? Sepertinya buku ini cukup penting untuknya. Kakiku berayun sendiri mengejar sosok itu yang entah sudah raib kemana. Aku mengerem mendadak saat melihat ia tengah berdiri di depan dua pasang muda-mudi yang sepertinya tengah memadu asmara, karna bisa kulihat tangan mereka saling bertautan. Tanpa sadar mataku tak lepas memandangnya. "Kalian kakak-adik?" tanya Biru dengan nada dinginnya. Terlihat gelengan pelan dari kedua insan muda itu. "Suami-istri?" "Enggak, Mas. Kami masih pacaran," jawab sang perempuan yang mengenakan kerudung warna salem itu. "Tapi kalian muslim, kan?" Aku bisa mendengar nada sarkastik dari pertanyaan yang ia lontarkan? Sebenarnya lelaki itu mau apa? Gadis itu mengangguk. "Tentu saja, sudah terlihat kan dari hijab yang saya kenakan saat ini? Memangnya kenapa, Mas?" "Oh, syukur kalau sadar. Pasti pernah baca Al-qur'an kan?" Lelaki di samping wanita berhijab itu terlihat tak senang dengan kehadiran Biru. "Dalam Al-qur'an surat Al-Isra ayat 32, Allah SWT berfirman : Dan janganlah kalian mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang k**i dan jalan yang buruk. Nah, mendekati saja dilarang, apalagi melakukannya. Dengan berpegangan tangan seperti itu juga merupakan perbuatan yang tidak diperbolehkan agama kita, apalagi kalian belum muhrim." Aku menelan salivaku sendiri. Biru, lelaki itu sepertinya mau cari mati. Suka sekali mencampuri urusan orang lain. "Maaf ya, Mas. Dosa atau enggak itu juga bukan urusan Anda. Mending anda urus diri sendiri dulu, bisa jadi perbuatan Anda juga ada yang belum bener." Lelaki dengan perawakan tinggi itu membalas perkataan Biru dengan ketus. Biru tersenyum sinis. "Saya hanya mengingatkan saja, bukannya tugas sesama hamba Allah adalah saling mengingatkan saat ada kemungkaran?" Oke, lelaki ini aneh. Euumm aku bukannya tidak setuju dengan pendapatnya, aku sangat setuju. Tapi dengan mengingatkan orang secara terang-terangan seperti itu apa dia tak takut akan ada yang tak segan-segan memukul wajah manisnya karna tersinggung dengan ucapannya. Heemm ... apakah aku baru saja menyebut dia manis. Argh! Pikiranku sepertinya benar-benar perlu direparasi. Balik lagi ke persoalan tadi, dia, Biru, apa memang sangat suka mencari masalah dengan orang, ya? Lelaki tadi akhirnya menarik tangan pacarnya untuk menjauh, melewatiku. Dan aku hanya terbengong melihat mereka. "Apa?" Suara itu mendadak berada di sampingku, menginterupsiku untuk menoleh. Biru, ada dia di dekatku.  Jalannya cepat sekali hingga dalam hitungan detik sudah berada di tempatku berdiri. Aku mengangsurkan buku yang ada di tanganku. "Bukumu?" Ia melirik sekilas buku yang aku berikan dan segera merebutnya dariku. "Ya, makasih."  Apa baru saja dia bilang? Makasih? Orang seperti dia bisa mengucapkan terima kasih juga kepada seseorang? Sepertinya lelaki itu memang susah sekali ditebak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN