Lelaki sempurna yang kuimpikan, adalah seseorang yang menenangkan jiwa
Lelaki sempurna seperti dia, punya segala sifat indah tanpa cela
Lelaki sempurna berkiblat surga, menyejukkan hati dengan akhlak mulia
Lelaki sempurna seperti dia, menjadi penuntun dunia dan akhirat
Lelaki impianku, Al Amin jujur amanah dipercaya
Fathonah cerdas serta tepati janji. Tawadhu rendah hati
Amiru berbuat baik, Shiddiq benar, Zuhud bukan duniawi
Amat dermawan, tawakal, sabar hati
Istiqomah berada dijalan lurus, itulah sifat rasul
Sifat sifat sempurna, sifat lelaki dambaan kita semua
Suara salah satu lagu dari Gita gutawa yang baru aku beli di minimarket dekat rumah mengisi ruang kamarku. Ya, seharusnya seperti itulah sosok laki-laki sempurna, sosok manusia yang patut untuk dijadikan idola nomer satu, Nabi Muhammad SAW. Apa mungkin ada lelaki seperti itu di dunia modern seperti ini? Lelaki sempurna yang menjadi banggaan semua orang.
Memang mungkin tak ada yang lebih hebat dari idolaku itu, tapi setidaknya, aku ingin mendapatkan secuil sifat terpuji yang dimiliki Rasulullah untuk menjadi calon suamiku kelak.
Sekelebat bayangan seseorang terlintas di benakku. Namun aku segera menggeleng cepat dan menepisnya.
Ah, kenapa aku bisa memikirkannya? Ingat fokus kamu saat ini bukan lelaki, Cin.
Aku membuka kembali buku novel di atas nakas, sepertinya aku harus mengalihkan perhatianku sekarang.
Cklek
Mendadak pintu kamar yang memang tidak terkunci terbuka, dan sesaat kemudian spring bed yang sedang aku tempati berkedut, menandakan seseorang tengah duduk di atasnya.
"Hish!" Nadia memukul pelan spring bed-ku, dan membuatku mengangkat sebelah alisku karenanya. Kenapa anak ini? Dateng-dateng kok bawaannya emosi.
Aku yang awalnya tidur tengkurap beralih menjadi posisi duduk menghadapnya.
"Kenapa sih?"
Sekali lagi gadis itu memukul springbed dengan keras. Kenapa lagi nih anak.
"Siapa sih temen lo itu? Langit? Nyebelin banget orangnya."
Owalah, dia kayak gini gara-gara Langit. Aku mengulum senyumku dan berniat menggodanya. "Kenapa Langit? Ganteng kan?"
Mata Di membulat. "Ganteng? Kayak gitu dibilang ganteng? Gantengan bocor kali ah!"
Aku tergelak. "Ati-ati, jangan suka nyela orang sembarangan, nanti suka lho," godaku.
"Suka? Hanya orang bodoh ada yang suka sama cowok kayak gitu."
Glek.
Aku menelan salivaku, entah kenapa aku merasa tersindir dengan omongan Nadia tadi. Aku mungkin memang sedikit menyukai Langit. Aku suka cara ia meramaikan suasana, atau bagaimana ia tersenyum. Jadi apakah akunjuga orang yang bodoh. Ah, tidak boleh. Sekali lagi aku harus mengenyahkan segala pemikiran soal lelaki. Astaghfirullah, jaga hatiku hanya untuk dia yang kau takdirkan untukku.
"Kenapa lo?" Di menyipitkan matanya ke arahku. "Jangan-jangan lo yang suka sama dia ya? Hayo ngaku...."
Jarinya menunjuk-nunjuk ke arahku membuatku terintimidasi.
Aku menurunkan jari telunjuknya dari depan mukaku. "Ih apaan sih, Di. Enggak." Aku mencoba menyangkal.
Kepala Nadia naik turun, seringai kecil muncul dari bibirnya. "Oh iya, elo kan masih kepikiran cowok dingin di kafe itu ya?"
"Ih! Apalagi itu, gak usah ngawur."
"Tahu salah satu ciri-ciri orang munafik kan, Cin. Apabila berkata dia bohong. Lo nggak mau kayak gitu kan?" godanya.
Kenapa malah s*****a makan tuan begini, bukannya giliranku yang harus mengusilinya hari ini.
Aku melengos. Menghentakkan tubuhku sambil bersidekap. Dan Nadia hanya bisa tertawa melihat kelakuanku.
"Udah ketemu sama dia lagi?" tanyanya akhirnya, mengalihkan pembicaraan. Huh, akhirnya. Tapi sebentar, kenapa dia malah bertanya tentang lelaki itu?
"Hei!" Nadia mengibaskan tangannya di depan wajahku. "Malah ngelamun, gimana?"
"Udah, tadi siang abis kamu pergi," jawabku akhirnya.
Nadia berdecak kecewa. "Wah... sayang banget dong, gue nggak bisa lihat pertunjukan menarik. Yah... nyesel deh gue."
Aku memutar bola mataku. "Nggak usah norak deh. Kamu sendiri tadi diapain sama Langit sampai bisa manyun kayak gitu."
"Ah elah, pake diingetin lagi." Nadia terlihat malas membahasnya, tapi entah kenapa aku suka menggoda sepupuku ini. Wajahnya yang seperti itu sangat lucu.
"Ceritain dong, Di." Aku menggoyang-goyangkan lengannya.
"Kelakuannya norak!" serunya. "Tahu nggak yang dia lakuin tadi?"
Aku menggeleng sambil menahan senyumku.
"Dia ngikutin aku sampai studio tempat biasa temen-temen gue kumpul. Dan dia ngerayu gue di depan temen-temen gue."
"Masa?"
"Iya, mana gombalannya sok pake puisi Kahlil Gibran atau siapalah, lupa gue."
"Dia hafal puisi Kahlil Gibran?" Aku gagal fokus, mataku berbinar. Aku tak menyangka seorang Langit yang slengekam seperti itu bisa romantis juga. Jadi kebayang dibuatin puisi juga sama suami.
"Iyeee...," ucap Nadia sambil menoyor dahiku, membuyarkan lamunanku, lagi. "Biasa aja keles matanya sampai mau keluar gitu." Decihan pelan keluar dari bibir mungilnya.
"Lagian lo kenal makhluk aneh itu dari mana sih?" tanyanya lagi, terlihat jelas raut emosi dari wajah gadis cantik itu.
"Nemu di lampu merah, karena ganteng gue bawa ke kafe aja, hahaha...." Tawaku keluar begitu saja.
"Pantes emang kalau nemu dari sono. Kelihatan berandalan gitu." cibir Nadia.
Aku memukul lengannya pelan. " Hush, kalau ngomong. Dia itu baik banget kok orangnya, pinter, supel---"
"Kalau gitu lo aja sono yang pacaran sama dia," sahutnya.
"Aku kan nggak mau pacaran, Nadia!" tegasku.
"Ya udah, kalau gitu nggak usah baik-baikin dia di depan gue, nanti gue malah ngira lo lagi yang suka sama dia.
Tenggorokanku terasa tercekat dan aku mencoba membasahinya dengan salivaku sendiri.
"Pokoknya sampein sama dia ya, gue nggak mau lihat batang hidung dia di hadapan gue lagi," ucapnya mantap dan pergi dari kamarku.
***
Langit siang ini begitu cerah, cahaya matahari yang menyilaukan mata pun tak membuatku mengalihkan pandangan dari objek semula. Warna biru terbentang luas beserta arakan awan putih bagai kapas yang diterbangkan oleh angin. Indah.
"Suka sama langit, ya?" Suara seorang laki-laki yang sudah mulai kuhafal berada di sampingku, duduk persis di sana.
Aku tersenyum ke arahnya. "Kata-kata kamu ambigu."
Langit tertawa mendengar jawabanku. "Langit dalam artian sebenarnya, bukan Langit gue."
"Heemmm ... iya, aku suka."
"Suka sama langit itu? Atau Langit ini?" ucapnya sambil menunjuk langit di atas dan dirinya sendiri secara bergantian.
"Suka sama anugerah Tuhan Yang Maha Esa," jawabku mencari aman.
Langit tertawa lagi, salah satu yang kusukai darinya memang sikapnya yang tak pernah melunturkan tawa. Bahkan aku belum pernah lihat dia marah atau bersedih sebelumnya.
Mata Langit tertunduk dan fokus pada buku yang ada di sisiku.
"Buku novel apa lagi?" Ia membaca judul buku dan menjawab sendiri pertanyaannya. "Novel Negeri 5 Menara, heem ... keren. Gue belum baca sih, tapi kakak gue udah sedikit cerita."
"Aku baru baca setengahnya, belum selesai. Istirahatin mata dulu."
"Oh iya, gue kan janji ngenalin kakak gue ke elo ya? Mau nggak?"
Aku mengangguk antusias. "Mau"
"Oke, nanti sepulang kuliahnya Pak Rasyid kita ke FBS, kebetulan dia nanti ke sana."
"Oke, siap!"