Bab 6

1181 Kata
Atmosfer suasana kampus FBS atau Fakultas Bahasa dan Seni sangat berbeda dengan fakultasku sendiri, FIP, yang notabene lebih hening. Fakultas ini mempunyai ukuran yang jauh lebih besar, di beberapa tempat ada sebuah gazebo yang biasa dibuat latihan atau kumpul-kumpul anak jurusan atau organisasi. Aku bisa melihat di pojok sana, ada beberapa anak tari berlenggak-lenggok dengan tariannya yang khas. Ada juga yang bergenjrang-genjreng ria dengan gitarnya, tergelak bersama-sama di sebuah kursi taman yang tak jauh dari tempat yang aku lewati. Ini bukan kali pertama aku kemari, Nadia sendiri adalah anak FBS, kan? Tetapi berkumpul dengan salah satu dari mereka baru dan akan kualami sebentar lagi. Langit mengajakku ke sebuah gazebo yang terbilang cukup luas, dengan atap dan tiang penyangga tanpa sekat apapun yang membatasinya dengan dunia luar, aku melihat beberapa orang membentuk lingkaran kecil, mendiskusikan sesuatu sepertinya. "Mas.... " Langit melambaikan tangannya dan tersenyum riang. Aku mengamati seseorang yang sedang Langit tatap saat ini. Seorang lelaki dengan pakaian yang terbilang cukup rapi, dengan kemeja biru muda yang dua kancing atasnya ia biarkan terbuka, memperlihat kaos dalamnya yang berwarna putih. Rambutnya sedikit acak-acakan. Tapi kesan macho justru nampak dari paras lelaki itu. Bisa dibilang dia adalah Langit tipe yang lebih dewasa. Mereka sama-sama mempunyai daya tarik dan terlihat lebih bersinar daripada orang lain. Ah, kenapa aku malah jadi minder begini.  "Hoi, Lang. Udah dateng?"  Lelaki itu mendekat ke arah kami, melirikku sekilas.  "Yo'i, Mas," jawab Langit. Mereka ber-tos ria ala anak muda jaman sekarang, dengan tangan yang bersalaman kemudian memutar seperti sedang bermain panco.  Lelaki itu memperhatikanku lagi, kali ini ia tak mengalihkan perhatian. "Ini yang katanya mau lo kenalin ke gue?" "Yups, kenalin, Mas, ini namanya Cinta. Cin, ini kakak gue namanya Mas Asa." Ia mengulurkan tangannya ke arahku dan aku menyambutnya. Aku memang belum bisa menjadi seorang ukhti yang tak bersinggungan dengan lawan jenis. Bisa dibilang aku masih sedikit liberal soal hal itu. Lagipula tidak enak kan rasanya tidak menyambut uluran tangan orang lain? Ah, sifat tidak enakanku ini memang terkadang menjadi kendala.  Bibirku tertarik ke atas, menyambut kakak Langit. "Cinta." "Angkasa," jawabnya.  Tawa kecilku muncul, dan membuat Angkasa atau biasa dipanggil Mas Asa itu menaikkan alisnya. "Ada yang lucu?" tanyanya heran. Aku gelagapan sendiri, bagaimana mungkin aku bertinglah tidak sopan dengan orang yang aku kenal.  "Nggak pa-pa, Mas. Maaf, tapi aku merasa nama kalian bagus. Langit dan Angkasa. Aku sama sekali nghal bermaksud apa-apa, lho," akuku jujur. "Keren, kah? Nama Ayah Galaksi Bimasakti," ujar Mas Asa dengan bangganya. Mataku kontan membulat. "Beneran?" Nama keluarha mereka unik. "Terus Ibu kita namanya Matahari ya, Mas. Hahahaha." Kali ini Langit menyahut dengan tawa indahnya. Aku menyipitkan mataku. "Ih, serius?" Aku benar-benat takjub.  "Becanda, Cin. Ah elah." Ck! Dasar Langit. Kapan dia bisa serius coba? Langit menepuk bahuku. "Eh, Mas Asa ini aslinya udah tua lho, tapi berasa kayak anak muda mulu." Aku memperhatikan Mas Asa dengan serius, melihat wajahnya. Aku ini memang di antara polos sama b**o. Segera kualihkan pandanganku.  "Heh! Tua apaan? Baru juga seperempat abad. Adik durhaka lo emang," jawab Mas Asa dengan wajah yang sok serius. "Sadar umur kenapa, bentar lagi juga mau nikah." Langit tidak mau kalah. "Mau nikah bukan berarti udah tua, kan?" Aku memandang takjub kakak beradik yang terlihat sangat akrab ini. Wajah dan sifat mereka hampir sama. "Eh kok jadi nyuekin si Cinta." Mas Asa menggaruk kepalanya yang aku yakin tidak gatal. "Oh iya, kata Langit kamu mau tanya soal cara nulis, kan?" "Yah bisa dibilang kayak gitu, Mas." "Kebetulan banget, ini lagi ada pertemuan komunitas nulis, Lingkar Aksara. Tuh mereka lagi diskusi buat cerita buat lomba 17an besok." Mas Asa menunjuk segerombolan orang-orang yang sedari tadi kuperhatikan dengan dagunya. "Tujuh belasan ada lomba nulisnya juga ya, Mas?" "Kita sendiri sih yang adain, biar anggota juga makin produktif. Mau gabung?" Aku mengangguk, mataku berbinar antusias. "Boleh-boleh." "Ayok," ajaknya sambil memberiku kode untuk mengikutinya. Sebenarnya aku excited sekaligus ragu. Bisa dipastikan akan ada beberapa orang yang berbakat menulis di sini. Sedangkan aku? Hanya pembaca biasa yang tidak tahu apa-apa tentang dunia merangkai kata itu. "Cin..." Mataku mengerjap saat Mas Asa berhenti di depan seorang lelaki yang membelakangi kami, punggung itu, kenapa rasanya tidak asing, ya? "Aku mau kenalin kamu sama ketua Lingkar Aksara ini." "Oh iya?"  Tangan Mas Asa menjulur menepuk pundak seseorang itu. "Ru ... ada anak baru nih." Perlahan tapi pasti lelaki itu menoleh dan seketika membuatku langsung tercengang. Kenapa lagi-lagi dia? Apa semesta sedang mempermainkanku? Aku tak bisa melihat perubahan raut wajahnya, apa dia tak mengingatku? Atau dia memang tercipta dengan muka datar minim ekspresi seperti itu? "Ini temennya adik gue, katanya mau ikut gabung di sini. Nggak apa-apa kan?" Hanya sebuah lirikan sekilas dari mata warna coklat terang lelaki itu, Biru. Ya, dia Biru, Biru yang dingin dan menyebalkan yang sering membuatku mati kutu. "Nggak pa-pa, Mas. Asal dia siap mental aja di sini," jawabnya. Siap mental? Memang aku mau diapain? "Ah elo, jangan terlalu sinis lah. Sekali-kali nyantai kayak di pantai." Biru tersenyum tipis. Sumpah! Baru sekali ini aku melihat dia tersenyum, sebuah lesung muncul dari pipi kanannya. "Ya udah kenalan dulu bisa aja, biar enak." Aku mencoba mengontrol emosiku dan mencoba tersenyum ke arahnya. Tanganku reflek menjulur. Meskipun aku masih kesal dengannya bukan berarti aku tak menghormati sesama manusia, kan? Ia tak membalas uluran tanganku, dan hanya meliriknya sekilas saja. Detik berikutnya tangannya bersidekap di depan d**a. Mas Asa menepuk dahinya sendiri. "Oh iya, Cin. Lupa ngasih tahu, Biru ini tipe ikhwan yang yang nggak mau bersentuhan sama lawan jenis." Tenggorokanku terasa tercekat, aku meneguk ludahku sendiri. Duh, muka ini bisa dilepas terus diumpetin kemana aja nggak, sih? Tanganku dengan lemas kembali ke tempat semula. "Dan juga jutek kalau sama cewek, makanya jomblo terus sampai sekarang. Iya nggak Mas Biru?" sahut Langit. Lagi dan lagi senyuman tipis terukir dari wajah Biru. Biru yang sekarang sedikit berbeda dengan Biru yang aku temui di kafe, senyumya lebih murah. "Di agama kita, status jomblo adalah yang paling mulia. Jomblo sampai halal." "Mulai ceramah deh." Mas Asa menyenggol lengan Biru pelan. "Oh iya, gimana lo siap ngajarin Cinta nulis. Gue sebenernya pengen ngajarin dia sendiri. Tapi lo tahu lah kesibukan gue." "Yakin anak ini bisa nulis?" tanyanya penuh dengan nada sinis. Aku memanyunkan bibirku saat mendengar hal itu. Lelaki ini? Kenapa selalu buat emosiku meledak-ledak? "Dia suka baca banyak buku, terutama novel, Mas. Itu sudah termasuk kunci utama seorang penulis kan? Rajin baca," sahut Langit, membelaku. "Nggak semua yang suka baca bisa nulis." Biru berkata mantap. Ada gejolak aneh yang muncul di hatiku, biasanya aku adalah orang yang sangat penyabar, tapi kenapa kalau berhadapan dengan lelaki ini emosiku seakan mau meledak. "Kalau menulis hanya untuk main-main, sebaiknya nggak usah," lanjutnya lagi. Oke, sepertinya aku tidak bisa diam diremehkan seperti ini. Aku menarik nafas dalam dan menahannya selama dua detik lalu menghembuskannya perlahan. "Aku bisa, aku yakin aku pasti bisa!" seruku tanpa ada keraguan sedikitpun. Entah mendapatkan kekuatan darimana aku saat ini. Alis Biru terangkat, ia menatapku sekilas. "Buktikan saja nanti, jangan banyak omong." Detik berikutnya ia melengos kembali ke gerombolannya. Oke, akan kubuktikan. Aku akan bikin kamu benar-benar mengakui kemampuanku, aku pastikan itu. Semangat Cinta!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN