Bab 7

1096 Kata
Menulis ternyata bukanlah perkara mudah. Aku harus menghabiskan beberapa kertas hanya untuk membuat premis dan kerangkanya saja. Bayangkan, hanya sebuah premis dan kerangka. Oke memang bukan "hanya", dua hal itu adalah inti dari sebuah cerita, konsep cerita, yang menentukan bagus atau berkesannya cerita kamu nantinya. Itu baru rancangan kasar, belum lagi saat aku harus menuangkan segala ide dan imajinasi yang bersarang di kepala dalam sebuah rangkaian kata. Sekali mood turun, otak tak akan bisa berpikir, hasilnya amburadul. Setelah berhari-hari berkutat dengan tulisan itu akhirnya jadi juga. Enam lembar kertas polio sudah berada di tanganku, aku membulatkan tekad untuk mengajukannya pada Mas Biru hari ini. Oh iya, aku memang mengubah panggilanku untuknya, ternyata dia dua tahun di atasku, jadi aku harus memanggilnya dengan panggilan untuk orang yang lebih tua. "Kenapa gue harus ikut sih, Cin?" Langit memberengut kesal dan aku hanya cengengesan di depannya.  "Emang lo segitu takutnya ya sama Mas Biru?" Aku mengendikkan bahuku dalam satu kali hentakan. "Terus ini kita mau kemana?" "Kafe." Langit mengerem langkahnya dan menatapku dengan aneh. "Kok kafe? Nggak ke FBS?" "Jam segini biasanya orang itu ada di kafe,"jawabku yakin. Mata Langit menyipit mengintimidasiku, seolah bertanya, 'kok lo tahu?' "Aku sama dia satu tempat langganan," jawabku lagi. "Oh, jadi lo udah kenal sama Mas Biru sebelum gue kenalin sama lo, ya?" "Dibilang kenal sih nggak juga, cuma pernah sedikit ngobrol, enggak ngobrol juga sih, ya gitulah." Aku bingung harus bagaimana menjelaskannya ke Langit. Kakiku akhirnya tiba di kafe itu, aroma kopi menyeruak dalam indra penciumanku. Mas Satya yang melintas di depanku berhenti sejenak. "Lho Mbak Cinta, tumben udah dateng," sapanya dengan senyum ramah. "Cuma sebentar mas, aku nggak mesen dulu ya, lagi ada urusan." Mas Satya mengenyitkan dahinya, "Urusan sama siapa kalau boleh tahu?" "Mas Biru ada?" tanya to the point. "Oh... Mas Biru, itu duduk di sana." Mas Satya menunjuk sebuah meja yang ada di pojok ruangan dengan dagunya, dan aku bisa melihat orang itu ada di sana, sedang menyesap kopi hitamnya dengan nikmat. "Oke, makasih ya, Mas." "Sama-sama, Mbak," jawab Mas Satya sambil melangkahkan kaki pergi meninggalkan kami. Aku melirik Langit dan memandangnya dengan tatapan memelas. "Apa?" tanyanya sok bodoh. "Kamu yang ke situ dulu, please." "Hish, Mas Biru itu manusia kok bukan hantu, segitu takutnya sih. Ayo!" ajaknya kemudian. Aku berjalan mengekori Langit. "Hei, Mas," sapanya saat sudah berada di dekat meja lelaki dingin itu. Mas Biru mendongak menatap Langit dengan senyum simpul, lalu bergantian menatapku dengan muka datarnya. Ah, sepertinya cowok ini memang benar-benar anti cewek.  "Ada apa?" "Ini si Cinta mau ngasih cerpen buatan dia, Mas. Bisa minta tolong direview?" tanya Langit mewakiliku. You are the Best, Lang! Aku menyodorkan kertas yang sudah aku staples menjadi satu ke hadapan Mas Biru. Orang itu melihat sekilas cerpen yang kubuat, dan dengan enaknya langsung berkata, "Nggak bagus. Buat lagi." Aku mendelik kesal. Dia bahkan belum membaca cerpen yang sudah kutulis berhari-hari itu, dia hanya meliriknya saja, kalian bisa bayangkan? CUMA MELIRIK! Aku mengatur ritme nafasku, menenangkan diri. "Euumm... tapi Mas Biru kan belom bac---" "Dalam satu kalimat saja kamu sudah melakukan banyak kesalahan," ucapnya dingin memotong apa yang akan keluar dari bibirku tadi. "Setidaknya kasih tahu, letak kesalahannya di mana? Solusinya kayak apa?" tanyaku masih mencoba bersabar. Ia diam, bergeming, sibuk dengan pikirannya sendiri. "Niat ngajarin nggak sih, Mas?" Nada bicaraku sudah mulai meninggi, entah kenapa berhadapan dengan lelaki ini selalu membuat emosi meletup-letup. "Siapa yang nyanggupin buat ngajarin kamu?" tanyanya yang langsung membuat otakku mendidih, kalau di visualisasikan dalam sebuah komik mungkin saat ini mukaku sudah semerah tomat dan keluar asap dari kedua telingaku. "Ya udah lah, Mas. Cuma sekali ini aja ngajarin cewek." Langit menyahut. "Kata Mas Biru kan berhubungan dengan akhwat atas dasar pendidikan diperbolehkan," katanya lagi, membuat emosiku sedikit mereda dengan perkataannya yang tenang. Biru melirikku sekilas, lalu ia kembali mengambil cerpenku yang tergeletak tak berdaya di hadapannya. Tangannya mencorat-coret kertas sambil terus bergumam. "Tanda baca masih banyak kesalahan, dialog tag amburadul, jangan pernah menyingkat kata, ini bukan ngetik sms. Dan banyak kata-kata yang tidak sesuai dengan artinya.... " Ia menatapku lagi, dan aku menelan salivaku dengan susah payah. "Aku mengacuhkannya dan pergi." Dia membaca satu kalimat yang ada di cerpenku. "Acuh artinya peduli, acuh tak acuh artinya tidak peduli, mengacuhkan artinya memperdulikan, jadi apa kalimat ini tepat?" Aku menggeleng lemah. "Kamu harus banyak-banyak baca KBBI," pungkasnya sambil meletakkan kembali tumpukan kertas itu. "Ya, masa' iya aku harus ngafalin seluruh kata di KBBI, Mas," protesku. "Kalau nggak mau belajar, mending nyerah aja jadi penulis," jawabnya acuh tak acuh. "Iya, aku bakal baca KBBI." Dia benar, dan akhirnya aku harus mengalah, euumm kalah telak malah. Tangan Langit menepuk pundakku pelan. "Semangat, Cinta! Kamu pasti bisa!" Aku mencoba tersenyum dengan semangat yang diberikan Langit. Aku memalingkan wajahku ke arah Mas Biru lagi, dia terlihat menatap tajam tangan Langit yang ada di pundakku. Apa yang salah? Dia cemburukah? Oh... aku sudah mulai berimajinasi terlalu liar, itu tidak mungkin. "Wanita yang berhijab harusnya menjaga kehormatannya dengan tidak sembarang mau disentuh oleh pria yang bukan mahramnya." Ia berkata santai tanpa menatapku sedikitpun, tapi aku tahu sekali bahwa kalimat sindiran itu memang buatku.  Hatiku mencelos, sakit. Kata-katanya memang benar dan aku memang masih belum bisa menjadi seorang muslimah sempurna, tapi tak bisakah dia menasehati orang dengan baik? Tidak mempermalukannya seperti ini? Bahkan ada Langit di sampingku, yang dengan sadar langsung mengangkat tangannya dari bahuku.  Al Hafizh Ibnu Rajab berkata: "Apabila para salaf hendak memberikan nasehat kepada seseorang, maka mereka menasehatinya secara rahasia... Barangsiapa yang menasehati saudaranya berduaan saja maka itulah nasehat. Dan barangsiapa yang menasehatinya di depan orang banyak maka sebenarnya dia mempermalukannya." (Jami' Al 'Ulum wa Al Hikam, halaman 77)   Ah... sudahlah, Biru memang seperti ini, seharusnya aku sudah tidak kaget lagi. "Makasih atas sindirannya. Assalamu'alaikum." Aku menghentakkan kakiku kesal, dan segera meraih kertas cerpen yang ada di tangannya lalu melangkah keluar, dan kudengar tapak kaki mengejarku, tentu saja itu Langit tak mungkin itu si muka datar Biru. Astaghfirullahaladzim, kalau mengumpat tidak berdosa, mungkin sudah banyak u*****n yang aku keluarkan sekarang. "Lo marah ya, Cin?" "Enggak, ngapain harus marah?" tanyaku yang berbanding terbalik dengan intonasi dan wajahku yang mengatakan sebaliknya. "Mas Biru emang gitu, dia agak anti cewek. Dia itu udah temenan lama sama Mas Asa jadi gue tahu banget sifat dia. Tapi dia punya alasan kok, yang gue nggak bisa kasih tahu ke elo karena ini menyangkut aib seseorang." Aku mengangkat alisku. Alasan? Aib? Ada satu sisi dalam hatiku yang ingin tahu akan hal yang berhubungan dengan Biru, tapi ada sisi lain yang tidak ingin mengenalnya lebih jauh lagi. Oke, sebaiknya aku harus memilih opsi yang kedua saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN