9. Creeping in the Dark (3)

1176 Kata
Chapter 9 : Creeping in the Dark (3) ****** ZOYA tersentak. Tangannya terhenti di udara. Setelah itu, Jack pun melanjutkan, “Soalnya, aku melihat ada bayangan hitam yang terus bolak-balik di depan tenda kami.” Semua orang jadi keheranan. Zoya membulatkan mata. Itu pastinya bukan Zoya. Jack tidur di tenda yang sama dengan Elias dan Hayes, jadi jaraknya cukup jauh dari tenda Zoya. Beberapa orang yang ada di sana mulai keheranan. Saling bertanya. “Tidak, tidak ada yang keluar.” “Kau keluar?” “Tidak, aku sudah tidur.” “Iya, tidak ada yang keluar.” “Aku juga tidak keluar.” Keadaan mulai jadi sedikit ramai. Hayes lantas mengangkat alisnya. “Are you serious? I did not see that.” Jack spontan menatap Hayes dan mendengkus. “Dude. You were sleeping.” Eddie dan Miller jadi tertawa. Hayes langsung kesal; dia ikut-ikutan mendengkus. Namun, Elias, instead of laughing at Hayes, dia justru mengernyitkan dahi. Dia adalah tipe pemuda yang tak pernah menganggap enteng suatu masalah. Dia pun menatap Jack dengan saksama. Ingin tahu. Sama seperti kebanyakan orang yang ada di sana. “Apa yang bayangan hitam itu lakukan? Dia pria atau…wanita?” “I don’t know. Aku tak terlalu memperhatikannya,” jawab Jack. “Aku hanya tahu kalau dia bolak-balik di depan tenda kita.” “Oh my God,” ujar Sophia, gadis itu tiba-tiba menimbrung. Sophia menutup mulutnya dengan sebelah tangan. “Bu—bukankah itu…berbahaya?! Apakah ia ingin melakukan sesuatu pada kalian?!” Becca mengangkat sebelah alisnya. “Apakah dia berada di depan tenda kalian untuk waktu yang lama?” July pun menambahkan, “Kalian tidak apa-apa, ‘kan?” “Yes, we’re okay,” jawab Jack. “Dia tidak melakukan apa-apa selain berjalan bolak-balik, ke kanan dan ke kiri. Dia melakukan itu selama sekitar…satu menit. Aku hanya penasaran siapa orang itu kerena jujur saja itu cukup…mengganggu.” “Apakah itu warga sini?” ujar Miller, menebak-nebak. Eddie hanya minum, lalu mengedikkan bahu. “Ya, sepertinya begitu. Mungkin hanya warga yang sedikit aneh.” “Kau tidak seharusnya bersikap setenang itu, Eddie,” ujar Inez. “Lain kali, bawa pisau ke dalam tenda kalian,” ujar Sophia. Dia mulai mengusap kedua lengannya dan bergidik ngeri. “That’s creepy.” July langsung menatap Elias dan memberikan tatapan khawatir. “Elias, kau baik-baik saja, ‘kan? Hm?” Mendengar pertanyaan itu, semua laki-laki di sana langsung serentak berpikir: ‘Ah, beginilah perempuan. Yang dikhawatirkan pasti yang tampan saja.’ Namun, mengingat bagaimana kepribadian July, mereka semua tak ingin menyuarakan itu. Elias pun mengangguk dan tersenyum tipis, out of polite. “I’m okay.” July memiringkan kepala, lalu tersenyum lembut pada Elias. Lembut…tetapi tetap terlihat sedikit…menggoda. “Syukurlah.” Di sisi lain, Zoya tidak memperhatikan adegan antara July dan Elias itu. Dia sibuk memikirkan cerita Jack dan mencocokkan cerita itu dengan apa yang terjadi padanya semalam. Dahinya berkerut; ia meletakkan sendoknya di mangkuk sarapan itu. Berhenti makan. Apakah benar itu warga desa sini? Kapan kejadiannya? Apakah jarak waktu kejadiannya berbeda jauh dengan kejadian yang kualami? Lagi pula, mengapa warga desa sini keluar malam-malam begitu? Mereka tidak tidur? “Hei.” Zoya tersentak. Jantungnya hampir saja berhenti berdegup karena kaget. Matanya spontan membulat; ia langsung menoleh ke samping sebab suara itu adalah suara Inez; Inez menepuk pundaknya seraya menegurnya. Zoya meneguk ludah, mendadak gadis itu jadi gugup setengah mati. “Y—Yes?” Inez menatap Zoya dengan saksama. Alisnya nyaris menyatu. Hingga kemudian, dia menghela napas. “Sesuatu pasti telah terjadi padamu.” Tubuh Zoya mematung. Matanya kembali membulat. Tiba-tiba saja, ada bunyi ‘deg’ yang kencang, berasal dari jantungnya. Soalnya, lagi-lagi ia sadar bahwa… …ia tak bisa membohongi Inez. Inez tahu semua tentangnya: apa yang membuatnya lemah, bagaimana cara menyerangnya agar ia setuju, serta semua ekspresinya. Gadis satu itu paham betul soal siapa dirinya. Zoya menunduk. Inez kini benar-benar menghadap padanya. Gadis itu memiringkan kepala, lalu bertanya, “Ada apa? Katakan padaku.” Zoya diam sebentar. Dia sempat mengerutkan dahi, mengigit bibir, dan meremas tangannya sendiri karena merasa ragu. Dia bingung bagaimana caranya untuk menjelaskan semuanya kepada Inez. Namun, Inez tetap menunggu. Menatap Zoya dengan lekat. Fokus. Gadis itu tak peduli dengan pembahasan yang terjadi di belakangnya, yaitu pembahasan tentang tenda rombongan Jack. Zoya pun meneguk ludahnya. Dia akhirnya menatap Inez. “Aku…tadi malam aku keluar karena mau buang air kecil. Apa kau menyadarinya?” Inez mengernyitkan dahi. Gadis itu langsung menggeleng dan berkata, “Tidak. Benarkah? Aku bahkan tidak mendengar bunyi apa-apa.” Zoya mengangguk. “Aku buang air kecil semalam, ketika kalian tidur. Namun, ketika aku baru saja membuka ritsleting pintu tenda itu dan mengintip ke luar…” Inez menunggu dengan saksama. Perasaannya mulai tak enak. Zoya pun menghela napas. “…aku melihat Mr. Parker di dekat danau.” “Mr. Parker?” Alis Inez menyatu. Gadis itu menggeleng. “Kau…serius? Di danau? Apa yang Mr. Parker lakukan di sana?!” Zoya mengedikkan bahu dan mendengkus. “Aku juga tak tahu. Namun, saat aku mengintipnya…” Entah mengapa, Inez jadi panik. Dia gelisah sendiri. Jantungnya berdegup kencang. “A—Apa? Dia melakukan apa?” Zoya sedikit menunduk. Dia kembali mengingat kejadian semalam bagai me-replay sebuah video di dalam kepalanya. “D—Dia…” Zoya menggeleng. “Dia tiba-tiba melihat ke arahku.” Mata Inez membulat. Jantung Inez serasa berhenti berdegup. Ia menganga—tubuhnya mematung—dan sungguh, mendadak dia jadi gagap. Ia ingin berbicara, tetapi kata-kata yang ia keluarkan semuanya tidak terucap dengan baik. “Aku—kau—are you—” Zoya menghela napas. “Mungkin hanya perasaanku saja, Inez. Bisa jadi…dia hanya kebetulan melihat ke bagian belakang tenda kita. Tidak benar-benar melihat tepat ke arahku.” Inez menggeleng. “But—” “Aku…kaget, jadi aku berhenti mengintipnya dan menunggu sebentar. Beberapa saat kemudian, saat aku kembali mengintip ke luar, dia sudah tidak ada,” ujar Zoya. “Ke mana dia?” Alis Inez terangkat. Zoya mengedikkan bahu. “Aku tak tahu. Aku hanya langsung ke luar dan mencari tempat untuk buang air kecil. Namun, saat masih berjalan, tiba-tiba aku melihat siluet orang-orang di depan sana.” Zoya menunjuk ke tempat di mana siluet-siluet hitam itu muncul tadi malam. Inez melihat ke arah yang sama dan dahinya berkerut. “Orang-orang? Malam-malam begitu?! Berapa orang?!” Zoya menggeleng. “Aku tak sempat menghitungnya. Aku hanya melihat mereka berjalan dari sisi kanan…ke sisi kiri.” Mereka kembali bertatapan. Inez bertanya lagi, “Mengapa kau tak sempat menghitungnya? Apakah sesuatu—" “Mr. Parker tiba-tiba ada di belakangku dan menepuk pundakku,” potong Zoya. “Dia bertanya padaku apa yang sedang kulakukan di luar tenda.” Mata Inez membeliak. “HAH?! MENGAPA DIA—” “Inez!!” Zoya cepat-cepat menutup mulut Inez. “Banyak orang di sini!!” Inez langsung melepaskan tangan Zoya dari mulutnya—padahal orang-orang sudah sempat menatap mereka dan keheranan—lalu dia menggeleng. “No, no, no. Beri tahu aku sekarang. Beri tahu aku mengapa dia tiba-tiba ada di sana! Itu mengerikan!!” “Mengapa kau tidak memintaku untuk menemanimu, Zoe?” []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN