"Kamu bukannya yang sering jalan sama Kak Iko ya?" tanya perempuan yang duduk di samping Tifa. Mereka tengah menjalani kegiatan latihan protokoler. Tifa hanya mengerutkan kening. "Aku kan, satu pangkalan sama Kak Iko, tenda kita juga tetanggaan," lanjutnya lagi. Tifa jadi sedikit malu-malu ada yang memperhatikan dirinya sering berdua dengan teman perempuan tersebut. "Kalian pacaran ya?" Tifa menggeleng lemah. "Nggak lah, cuma kebetulan waktu bina desa kami satu tempat jadinya dekat," sangkal Tifa. "Oh, kirain. Soalnya Kak Iko jarang dan hampir tidak pernah dekat dengan perempuan kalau di kampus, kecuali kak Emil. Mereka berdua mirip lem, ke mana-mana selalu berdua," jelas si perempuan. Emil. "Ehm, Emil itu siapanya Iko ya, kalau boleh tahu?" Tifa memberanikan diri bertanya. Meski Iko

