Empat tahun lalu.
Pelataran kampus pagi itu terlihat lebih ramai dari hari biasanya. Bukan karena kegiatan perkuliahan dengan wara-wiri mahasiswa yang sibuk mencari kelas atau bergerombol membahas tugas.
Pagi ini Iko diantar Sila, kakak perempuan satu-satunya bersama suami. Mereka tiba lebih dulu, kemudian diikuti beberapa teman seangakatan yang datang sambil membawa tas ransel serta keperluan masing-masing. Iko dibantu Tania, sesama KDR memeriksa kelengkapan anggota, karena sudah tugasnya sebagai Ketua Dewan Racana (KDR) memastikan semua sudah siap.
Dua jam lagi mereka akan berangkat menuju Jambi, guna mengikuti kegiatan Perkemahan Wirakarya Nasional yang diikuti oleh tingkatan Penegak dan Pandega seluruh Indonesia. Dari kampus Iko mengirimkan dua regu, putra dan putri. Setiap regu terdiri dari sepuluh anggota, dua orang KDR dan dua orang Pemangku Adat. Total ada dua puluh empat orang yang berangkat.
Bus yang mereka gunakan untuk perjalanan ke Jambi tiba juga. Selain semua anggota, beberapa teman lain ikut membantu memasukkan barang bawaan mereka. Selesai dengan barang dan mengecek, semua anggota berkumpul sejenak untuk berdoa kemudian berpamitan pada teman atau keluarga yang kebetulan mengantar.
"Aku berangkat, Mbak," pamit Iko pada Sila sambil mencium punggung tangan kanan kakaknya.
"Hati-hati di sana. Jangan lupa mandi," pesan Sila yang membuatnya berdecak kesal.
"Kabari kami kalau sudah sampai sana." Iko menangguk.
"Salam buat si kembar." Giliran Sila yang mengangguk. Si kembar adalah keponakan Iko yang sudah berusia dua tahun setengah. Sengaja Sila tinggalkan bersama neneknya karena tengah terlelap.
Bus berjalan meninggalkan pelataran kampus. Salam perpisahan dengan lambaian tangan mengantar kedua puluh empat anggota yang akan mengemban tugas perwakilan kampus dalam kegiatan nasional.
♡♡♡
"Tifa, ini peta perkemahan kita." Linda, salah satu anggota dan juga teman sekelas Tifa menyerahkan lembaran kertas denah posisi tenda setiap regu / perguruan tinggi lengkap dengan pembagian kelurahan, letak kabupaten dan di mana seluruh peserta akan berkumpul.
Tifa sebagai KDR putri melihat dengan saksama mencari letak tenda regunya yang ditandai dengan papan nama perguruan tinggi masing-masing. Setelah menemukan letak tendanya akan berdiri, ia lantas melihat letak tenda regu putra yang memang dipisah.
Ternyata letak tenda Tifa dan regunya berada pada jejeran belakang, berbatasan dengan rimbunan hutan. Kedua regu pun segera berjalan menuju lokasi yang ditentukan. Hari semakin gelap karena memang mereka sampai di lokasi perkemahan sudah sore.
Tampak beberapa tenda sudah berdiri. Sebagian besar memang daerah terdekat seperti Padang, Solok, Kerinci dan lainnya. Bersama seluruh regu, Tifa mendirikan tenda dibantu oleh teman-teman putra. Hari semakin gelap dan mereka butuh istirahat untuk melepas lelah dari perjalanan panjang Samarinda - Jambi.
"Sepertinya akan turun hujan, sebaiknya kita pasang terpal di atas tenda dan bagian bawah tenda kita alasi ranting-ranting. Lainnya buat parit!" perintah Tifa. Beberapa anggota segera bertindak mencari ranting yang masih berdaun dari pohon-pohon sekitar tenda. Posisi tenda mereka yang paling belakang dan keadaan tanah yang sedikit miring memungkinkan air akan langsung menembus alas terpal jika terjadi hujan, karena tenda mereka akan lebih dulu mendapat serangan longsoran air. Berdiri, Romi, KDR putra berpamitan pergi untuk mendirikan tenda mereka sendiri.
"Karena jadwal kurve belum bisa ditentukan, kita masak bersama. Aku akan bertugas di dapur dan sebagian lain membersihkan tenda." Setelah membagi tugas, Tifa segera mengambil timba untuk mencari air. Semua memiliki tugas yang sama, meski tidak harus diberitahu secara terperinci. Setidaknya usia mereka yang sudah kepala dua tentu lebih memahami tanpa harus berdebat terlebih dahulu.
Jalanan menuju kamar mandi lumayan jauh dan menurun. Beberapa kran air sengaja dipasang untuk kegiatan ini, pun dengan kamar mandi berbentuk persegi panjang tanpa sekat dan atap juga sengaja dibangun untuk menampung tiga puluhan orang lebih. Tentu saja untuk mandi bersama mengitari bak. Bayangkan saja mandi dengan saling berdampingan dan berhadapan tanpa ada alas yang menutupi kegiatan mereka.
Antrian panjang orang yang mengambil air dari kran sudah mulai berkurang. Tifa berdiri dengan timba di sebelahnya. "Maaf, Kak. Timbanya ketuker." Suara seseorang dari arah belakang memanggil Tifa diikuti sebuah tepukan di pundak.
Tifa memutar kepala ke belakang. Seorang laki-laki masih mengenakan seragam coklat polisi yang sedikit basah---mungkin karena ia berkeringat seperti dirinya---memasang senyum ramah. Iko mengisyaratkan dengan gerakan mata ke arah bawah samping kakinya.
Timba.
Ya, timba mereka tertukar. Karena posisi tenda mereka berdampingan, dan barang-barang masih berserakan. Mungkin Tifa tidak sengaja membawa timba tetangganya. Bentuk dan warna memang sama-sama hitam, hanya saja tidak ada tanda cat putih pada pegangannya.
"Tadi saya cari-cari ternyata kebawa sama Kakak. Soalnya saya mau jemur celana dalam yang ada di timba saya." Tifa memelototkan mata pada laki-laki di belakangnya. Seketika ia mengalihkan pandangan ke arah timba di samping.
O ... ow....
Timba yang sedari tadi ikut mengantri air ternyata berisi kain hitam yang basah. Sudah jelas itu adalah segitiga pengaman milik laki-laki yang kini meraih timba dan segera berpamitan pergi. Meninggalkan Tifa yang berdiri mematung menahan pipinya yang tiba-tiba panas.
■■■■
Tiang bendera membuat masalah. Tifa tak bisa membiarkannya. Bagaimana pun juga Tifa masih dibuat repot karena ulah adiknya yang sudah setinggi tiang bendera tersebut.
Untuk ke sekian kalinya, Tifa harus menunggu. Dalam keadaan hujan dan sendirian pula. Satpam sekolah sudah pulang dari tadi. Tapi hidung adiknya tak juga tampak. Bukankah hal ini amat menyebalkan? Terlebih Malik juga tidak bisa menjemputnya. Adiknya biang terlambat dan Malik biang sibuk. Dua laki-laki yang tak berperi kemanusiaan sekali pada Tifa saat ini.
Deruman motor yang beradu dengan deras hujan akhirnya dapat terdengar di telinga Tifa. Sang adik segera turun dari motor sambil membawakan jas hujan pada kakaknya yang mirip gembel kecebur empang. Kusam, basah dan mengenaskan.
"Lama amat sih!" kesal Tifa seraya menyambar jas hujan di tangan adiknya kemudian memakaikan di tubuh. Jas hujan model terpisah baju dan celana. Bukan yang dipakai adiknya, bentuk kelelawar.
"Banjir. Mana bisa ngebut. Udah, buruan."
♡♡♡
Malik menepati janjinya untuk datang tepat waktu. Tifa sudah siap dengan tas selempangnya. Berpamitan pada kedua embek, Tifa segera melesat menemui Malik yang sudah sampai di depan rumah.
"Tumben cepet. Kirain bakal nunggu kamu pakai bedak lapis tujuh dulu," ledek Malik. Tifa melayangkan cubitan di pinggang Malik hingga laki-laki itu mengaduh. Cubitan Tifa sudah seperti neraka bagi kulit siapapun.
"Aku nggak dandan ih ... main fitnah. Bedak juga cuma selapis doang. Menghina banget kayaknya kamu tuh. Iya ... iya aku emang nggak bisa dandan. Salah sendiri mau sama aku," cibir Tifa pura-pura kesal. Kalau sudah begini, Malik akan mengeluarkan jurus andalannya.
"Soalnya cuma kamu aja yang peduli sama anak-anakku. Biar nggak bisa dandan, tapi kamu tetep cantik kok."
Baiklah. Tifa mengatur napas agar amarah pura-puranya mereda. Iyalah, cuma Tifa yang peduli pada anak-anak Malik. Dan anak-anak Malik juga sudah terlanjur jatuh cinta pada sosok Tifa.
"Udah ya ngambeknya. Kita jalan sekarang, boleh?" Tifa mengangguk. Malik mengusap sayang pucuk kepala Tifa sebelum tangannya mengemudikan mobil menuju sebuah pusat belanja grosir. Tujuan tiap sebulan sekali datang ke sana adalah, membeli kebutuhan anak-anak Malik untuk sebulan ke depannya. Tifa yang memilih dan Malik tinggal membayar saja. Mudah kan?
Sejak kecelakaan yang membuat Tifa mengalami amnesia, Malik selalu ada di sampingnya. Menggenggam tangannya dan membantu mengenal sekelilingnya. Tifa yang harusnya bisa lulus satu semester lagi, harus mundur setahun untuk pemulihan. Tidak masalah. Yang penting kondisinya sudah jauh lebih baik berkat dukungan orang-orang terdekatnya. Perlahan-lahan ia mengingat sedikit demi sedikit apa yang terlupakan.
Tapi tidak semua ingatan itu kembali. Ada hal penting yang Tifa lupakan. Bukan karena ia tidak ingin atau karena keluarganya tak mengizinkan. Hanya saja ... tidak ada yang tahu persis sedalam dan seindah apa kenangan Tifa yang hilang itu. Ingatan akan seseorang. Yang jauh di sana. Yang terus menempeli hari-harinya tanpa tahu bagaimana kabarnya.
♡♡♡
"Semuanya sudah siap, Pak." Salah seorang siswa melaporkan pada Iko, bahwa persiapan kemah hari ini hingga esok pagi sudah siap. Semua peralatan sudah siap, tinggal menunggu peserta berkumpul. Setiap minggu ketiga, akan diadakan perkemahan rutin. Selain latihan berupa materi dan prkatek di hari kamis sore. Kemah bulan ini diadakan di lapangan sekolah. Nanti, tiga bulan sekali baru keluar dari sekolah.
"Baik. Bapak akan segera ke sana." Sebelum siswa yang diketahui bernama Ade tersebut undur diri, Iko menghentikan langkah Ade dengan pertanyaan, "Jadwal penempuhan sudah kamu rencanakan?" Ade mengangguk. "Sudah. Sebagian masih rancangan kasar saja." Iko tampak mengangguk-anggukkan kepala.
Ade sudah keluar, meninggalkan Iko sendirian lagi di ruangan guru. Usai jam KBM siang tadi memang ia tidak pulang dulu seperti beberapa guru yang akan ikut mengawasi kegiatan perkenamahan nanti. Iko memilih tetap di sekolah. Baju ganti sudah ia bawa sejak berangkat pagi.
Iko meraih topi berwarna hitam miliknya dengan jahitan PEMBINA di samping kanan dan memakainya seraya berjalan keluar dari ruangan menuju lapangan.
Beberapa tenda sudah berdiri di lapangan. Kegiatan perkemahan memilih lapangan di belakang sekolah. Alasannya karena masih ada tanah dan rumput yang bisa digunakan menancapkan pancang. Jika memakai lapangan basket, tentu tidak akan mungkin. Tampak panitia sedang wara-wiri menyiapkan perlengkapan. Iko berjalan mendekati gapura yang dirancang dari beberapa tongkat dan disambung dengan tali. Tampak rapi dan kokoh. Kemampuan pionering anak didiknya memang tidak diragukan lagi.
"Ada kendala apa, Pak?" Iko membalikkan badannya mendapati kepala sekolah tempat ia mengajar tengah berjalan ke arahnya.
"Tidak ada masalah, Pak. Tinggal menyiapkan beberapa barang saja," jawab Iko menunjuk pada beberapa siswa yang tengah mengangkat kursi dari ruang OSIS. Sebagian lagi ada yang sedang menyambungkan kabel untuk penerangan malam ini.
"Pematerinya sudah?" Iko mengangguk. "Sudah saya pastikan kehadirannya. Kebetulan beliau kenalan saya di Kwarcab." Pak Ramli Husnera tampak mengangguk-anggukkan kepala.
"Baiklah, kalau begitu saya tinggal dulu." Kepala sekolah pamit meninggalkan Iko di lapangan. Selepaa kepergian Pak Ramli, Iko memutuskan mendekat ke tenda-tenda yang sudag berdiri. Meneliti kekohannya dengan menyentuh lilitan simpul, kemudian menyibak tenda guna melihat isi di dalamnya. Beberapa sudah mengisi tenda dengan barang-barang yang diperlukan, sebagian lagi masih berserakan di sekitar tenda. Pandangannya beralih pada seorang siswi yang tengah membentangkan tikar dan menata keperluan memasak; kompor, panci, penggorengan. Tangannya yang lihai tanpa ragu menempatkan barang-barang tersebut.
"Nad, bikin es teh. Haus nih anak-anak. Aku beliin es batunya, kamu yang bikin." Siswi tadi mengangguk. Teman lainnya memang tengah sibuk mendirikan tenda. Segera ia raih teko tak jauh dari jangkaunnya. Perlahan mengisi dengan air galon yang tinggal setengah. Melihat coretannya, Iko tahu galon tersebut milik inventaris kelas.
______________Next_______