Suasana lapangan utama malam itu begitu meriah. Sorak sorai histeris serta dentuman musik terdengar hingga seluruh penjuru bumi perkamahan. Tak terkecuali di telinga Iko dan Tifa yang sedang duduk di atas batang kayu yang tumbang di belakang tenda Tifa. "Kamu yang masak?" tanya Iko begitu tangannya menerima sepiring nasi dengan sayur ikan asin dari Tifa. "Iya, ini resep mamaku," bangga Tifa. "Boleh dimakan sekarang?" "Ya boleh lah, Ko, masa dilihatin aja kapan kenyangnya?" Iko mulai menyendok nasi dan potongan ikan asin yang sudah berlumur bumbu. "Kok asin, Tif, kamu kebelet dilamar orang ya?" ledek Iko begitu sendoknya sudah masuk bersentuhan dengan lidah di dalam mulut. Rasa pertama yang ia kenal adalah asam dan asin. "Namanya juga ikan asin, wajar kalau rasanya asin. Memangnya ad

