"apa maksud lo, ngatain gue kutil landak??"
DEG...!!
seketika Dara dan Chaca terdiam, waktu mereka berdua mengedarkan pandangannya ke asal suara. "mampus gue."
"woi...! orang nanya tuh jawab! jangan diem aja." Daren meninggikan nada bicaranya, membuat kedua gadis itu tersentak kaget, hingga akhirnya Dara mulai berdiri. tidak terima dengan bentakan cowok didepannya itu.
"ngomong biasa aja dong lo, nggak usah nge gas!" kata Dara dengan keberanian tinggi.
"Dara!! udah.. jangan diladenin!" Chaca menarik-narik tangan Dara, bermaksud menyudahi perdebatan antara mereka berdua. namun sayangnya, Dara sama sekali tidak mau mendengarkannya sedikitpun.
Daren menatap tajam cewek yang saat ini sedang berada di depannya, dengan tatapan mengintimidasi. anjiirr.. nih cewek berani juga ternyata. batin Daren tak percaya.
Dara juga sama dengan Daren, gadis itu bahkan sama sekali tidak mau mengalah sedikitpun. dia justru semakin menaikkan dagunya ke atas, seolah menantang Daren.
apa yang gue lakuin sih?! batin Dara, merutuki sikapnya kali ini.
dari dasar lubuk hatinya yang paling dalam, sebenarnya saat ini Dara hanya memiliki keberanian 30% untuk menantang Daren seperti ini. gadis itu hanya tidak terima jika dirinya di bentak oleh cowok semacam Daren.
harga dirinya serasa jatuh berkeping-keping jika membiarkan Daren bersikap semena-mena terhadapnya. yah. walaupun sebenarnya kali ini memang Dara lah yang salah. tapi tetap saja, gadis itu tidak akan pernah mau di persalahkan jika sudah menyangkut tentang Daren.
"yang buat gue ngomong ngegas gini juga karena elo! gue heran deh sama lo, kenapa lo itu selalu saja njutekin gue. padahal... hampir 90 persen cewek-cewek disekolah ini tuh semuanya pada teriak-teriak bilang cinta sama gue. sedangkan elo..." Daren memberi jeda pada kalimatnya "sikap lo ke gue justru berbeda 180 derajat dengan sikap cewek normal pada umumnya."
Daren memberi penekanan pada kalimat cewek normal, yang memang dia sengaja gunakan untuk menyindir Dara, dan berharap jika gadis itu akan kesal terhadap ucapannya ini.
ya, dan sepertinya hal itu berhasil.
"maksud lo apa? lo ngatain gue nggak normal gitu? iya??" kesal Dara pada Daren.
"perasaan tadi gue nggak bilang gitu. lo sendiri kan, barusan yang bilang?!"
Dara mendesis, "sama aja b**o!!"
"berasa paling pinter lo, ngatain gue b**o?"
"emang gue pinter. kenapa?? lo nggak terima? hmm.." Dara semakin meninggikan keberaniannya di depan Daren. dengan cara melipat kedua tangannya didepan d**a, memasang gaya angkuhnya.
"nih!! kerjain tugas gue, kalau lo emang pinter." Daren dengan angkuhnya menaruh buku miliknya di atas meja Dara dengan cara menggebraknya.
sebenarnya, niat awal Daren menghampiri meja dua gadis itu adalah, karena dia ingin meminta bantuan Chaca mengerjakan tugas miliknya itu. dan tentu saja Daren yakin jika Chaca tidak akan menolaknya. karena memang dia tau kalau Chaca sangat tergila-gila kepadanya.
namun semua itu ia urungkan saat lelaki itu yang tak sengaja justru mendengar obrolan mereka berdua yang tengah membicarakan dirinya. apa lagi waktu mendengar Dara yang mengatainya kutil landak. semakin membuat Daren kian kesal dibuatya.
"apa-apaan lo? seenaknya aja nyuruh gue buat ngerjain tugas punya lo. lo punya tangan kan?! kerjain aja sendiri!" ucap Dara, sambil mengambil buku milik Daren dan membuangnya begitu saja ke lantai, tanpa rasa bersalah sedikitpun.
membuat Daren semakin geram dengan sikap Dara, yang menurutnya sanggup membuat emosi yang sedari tadi ia tahan di kepala hampir meledak begitu saja. "elo.....!!" Daren mengepalkan kedua tangannya. berusaha sekuat tenaga menahan emosinya agar tidak sampai bersikap kasar pada Dara.
lagi, Dara dan Daren kembali beradu tatapan tajam dari kedua bola mata mereka masing-masing.
sementara Chaca yang melihat hal itu, tentu saja tidak bisa tinggal diam begitu saja, saat melihat sahabat dekat dan juga pangeran pujaan hatinya itu saling melempar tatapan kebencian satu sama lain.
Chaca dengan cepat berdiri, berlari kedepan mengambil buku milik Daren yang masih tetap tergeletak dilantai akibat Dara yang melemparnya tadi. kemudian gadis itu kembali berjalan cepat ke arah tempat duduknya. "udah-udah, nggak perlu berantem. Daren.. biar gue aja yang kerjain tugas lo. maafin Dara ya? temen gue ini mungkin otaknya lagi konslet. jadi maklumin aja ya?!" ucap Chaca yang di akhiri dengan senyum paksanya.
gadis itu sangat yakin, jika sebentar lagi Dara akan mengomelinya habis-habisan.
peduli setan, yang penting masalah ini nggak sampai berlarut-larut. batin Chaca berusaha mengabaikan apa yang terjadi nanti.
"ya, lo bener. otak temen lo ini perlu di ruqyah, kali aja banyak jin iprit yang bikin tenda buat tinggal disana." sinis Daren sambil melangkah pergi begitu saja meninggalkan tempat mereka berdua, berjalan keluar dari pintu kelas tersebut bersama ketiga temannya.
"WOI...! DASAR KUTIL LANDAK!! OTAK LO TU YANG PERLU DI---HMMMPPPP...!" belum sempat Dara menyelesaikan makiannya, tangan Chaca sudah lebih sigap membekap mulutnya. membuat teriakan Dara tertahan seketika.
Dara melepas paksa tangan Chaca yang membekap mulutnya. "lo kenapa sih??" tanyanya sinis kepada temannya itu.
"gue? gu-gue kenapa? gu-gue nggak ngerti maksud lo." ucap Chaca memasang wajah bodohnya.
Dara menghela napasnya berkali-kali, mencoba menetralisir kembali emosinya yang sempat meluap-luap tadi, akibat cowok seperti Daren. "ya, lo kenapa malah belain si kutil landak itu Cha? seharusnya kan elo belain gue. bukannya cowok PLAYER itu!!" ujar Dara yang ternyata tidak berhasil menurunkan amarahnya.
oke fix, nih kayaknya si Dara bakal beneran marah deh sama gue. batin Chaca yang mulai ketakutan jika sahabatnya itu akan kesal terhadapnya.
"gue nggak nyangka, cuman karena tampang cowok yang kayak kutil landak itu, lo tega ngehianatin sahabat lo sendiri Cha?!! sakit hati gue Cha, sakiiiitt...!" ujar Dara yang kian mendramatisir rasa kecewa terhadap sahabatnya itu, dengan menepuk-nepuk dadanya berulang kali.
membuat Chaca mengernyitkan dahinya heran. dara sebenarnya marah sama gue beneran apa enggak sih?!! batin Chaca bertanya kebingungan.
"Cha, kenapa lo diem aja? gue ini lagi kesel sama lo, elo malah nyuekin gue! dasar,sahabat nggak peka." Dara memasang wajah ngambeknya.
"eh, iya deh iya.. maaf. abisnya gue heran sama sikap lo itu. lo kan cewek Ra, nggak seharusnya lo nantangin Daren kayak tadi. dan seharusnya juga lo nggak perlu ngeladenin dia tadi." kata Chaca menasehati.
membuat kekesalan Dara semakin naik hingga hampir mendekati batas kesabarannya. "Cha, nggak tau kenapa, waktu dengerin ceramah lo barusan. gue jadi pengen nyekik orang ya Cha?"
"what?? gila ya lo?!"
"naah.. daripada lo ngeliat gue makin gila. mending kita pulang aja deh. terus traktir gue es krim rasa coklat buat menetralisir otak gue yang kata lo tadi lagi KONSLET itu hmm..?!" sindir Dara dengan tatapan seolah mengancam, yang berhasil membuat Chaca ketakutan setengah mati.
"o-okey."
"good girl."
*****
"lo tadi kenapa sih?!" tanya Farel pada Daren saat melakukan pemanasan. mereka saat ini sedang berada di lapangan basket, mereka tidak memutuskan pulang terlebih dahulu karena teman-teman satu kelasnya tadi mengajaknya bermain basket terlebih dahulu sebelum pulang sekolah.
"kenapa apanya?" tanya Daren yang memang tak mengerti perkataan temannya itu.
"maksud gue, lo kenapa tadi, waktu lagi nyamperin Dara sama Chaca? kalian berdua bertengkar lagi??" tebak Farel tepat sasaran.
Daren hanya menjawab dengan ekspresi wajahnya. membuat temannya itu terkekeh geli.
"ya ampun Dare, mau sampai kapan sih kalian berdua bakal bersikap kayak gini terus huh?!"
Daren hanya diam tak menjawab.
"lama-lama, bisa naksir loh entar." goda Farel, yang langsung di hadiahi sebuah jitakan cukup kencang dikepalanya. membuatnya memekik kesakitan sesaat.
"jangan pernah lo ngucapin kata menjijikkan itu sama gue! karena sampai kapanpun, gue nggak akan pernah suka sama cewek yang selalu ngatain gue kutil landak kayak si Dara." kecam Daren penuh ketegasan.
membuat Farel meringis paksa sambil menampilkan deretan giginya yang tersusun rapi. "iya iya dare, sorry..!!"
setelah pemanasan dirasa cukup, mereka akhirnya mulai bermain basket dengan teman-temannya yang lain.
saat Daren sedang fokus bermain basket, kedua bola matanya tidak sengaja tertuju ke arah dua orang cewek yang tengah berjalan beriringan di sekitar pinggiran lapangan tersebut.
dengan senyum devilnya sesaat, lelaki itu tanpa fikir panjang, langsung melempar bola basket tersebut tepat ke arah kepala salah satu gadis itu, dengan sengaja.
BRUGHH...!!
yes, tepat sasaran..! batin Daren bersorak kegirangan, saat melihat cewek itu sudah tersungkur jatuh ke tanah.
"Daren, lo gila ya?! kenapa lo lempar bolanya ke sana?? jelas-jelas keranjangnya ada di depan lo. gimana sih?!" ucap salah seorang teman Daren yang lainnya. namun Daren sama sekali tak menjawab. hatinya terlalu senang karena sudah berhasil memberi Dara pelajaran.
"eh, kayaknya pingsan deh tuh cewek." ujar Mario kepada Daren, saat dia melihat Chaca yang sudah menepuk-nepuk pipi Dara berulang kali, mencoba menyadarkannya.
"alah, palingan juga dia cuman pura-pura."
setelah Daren berkata seperti itu, tak lama kemudian beberapa cowok yang berada dilapangan tersebut, datang menghampiri Dara yang ternyata memang tengah pingsan dan masih tak sadarkan diri. mereka sedang mencoba untuk membantunya dan segera membawanya ke UKS.
"waduh, jadi tuh cewek pingsan beneran?!" batin Daren, lalu kemudian ikut mendekat juga berusaha mencari tahu.
BERSAMBUNG...