3

1734 Kata
"waduh, jadi tuh cewek pingsan beneran?!" batin Daren, lalu kemudian ikut mendekat juga berusaha mencari tahu. "Ra, bangun dong.. jangan bikin gue takut gini." ujar Chaca yang saat ini terlihat khawatir dengan kondisi Dara yang masih belum sadar juga. Chaca menatap kesal ke arah beberapa cowok yang sekarang sudah mengerumuninya. "siapa sih yang main lempar bola sembarangan ke kepala temen gue?!" sinisnya ingin tau. "bisa main basket nggak sih? masak bolanya bisa melayang kena kepala temen gue begini. tanggung jawab dong kalian!!" ujar Chaca meminta pertanggung jawaban. tiba-tiba Daren melangkah maju sambil berkata "em.. sorry, gue nggak sengaja Cha. biar gue yang bawa Dara ke UKS." ucap lelaki itu, lalu kemudian langsung berjongkok mengangkat tubuh dara dan segera membawanya ke UKS. setelah sampai di UKS, Chaca yang merasa tidak enak karena sudah marah-marah tidak jelas pada Daren. akhirnya meminta maaf. gadis itu sama sekali tidak tau kalau ternyata yang melempar bola tersebut adalah Daren. "emm.. Daren. maafin gue ya. gue nggak bermaksud buat ngatain lo nggak becus main basket." ujar Chaca saat melihat Daren yang sudah meletakkan tubuh Dara di sebuah tempat tidur berukuran kecil tersebut. "ya, nggak papa kok. justru disini gue yang salah. soalnya udah ngebuat temen lo jadi pingsan gini." ucap Daren, dengan sedikit rasa bersalah di hatinya. Chaca yang mendengar hal itu sedikit bisa bernafas lega. secara dia sangat menggilai sosok Daren. tentu saja gadis itu tidak mau jika Daren menganggapnya seperti cewek galak yang kasar dengannya. Chaca segera mengambil minyak kayu putih, membukanya, lalu mendekatkan bau dari minyak kayu putih tersebut kedekat hidung Dara, berharap jika teman dekatnya itu akan segera tersadar dari pingsannya. dan sepertinya itu berhasil. Dara mulai tersadar, dengan tangan yang sudah memegangi bagian kepalanya yang masih terasa nyeri. "gue dimana?" ucapnya, dengan memicingkan kedua bola matanya. "lo lagi di UKS Dar, lo nggak papa kan?" tanya Chaca dengan raut wajah kuwatirnya. sementara Daren sejenak menelan ludahnya kasar saat melihat Dara yang sudah mulai tersadar itu. dia sangat yakin sekali, jika Dara pasti akan memakinya habis-habisan setelah ini, karena sudah membuatnya pingsan seperti ini. "kepala gue sakit Cha.." rengek Dara, lalu mengedarkan pandangannya ke arah Daren. "si kutil landak? ngapain lo ke sini??" ucap Dara berubah sinis saat melihat Daren yang sudah berdiri di sampingnya. "emm... gu-gue-- gue--" Daren bingung harus menjelaskannya seperti apa. sementara Chaca yang tidak ingin jika Dara kembali bertengkar dengan pangeran pujaannya, dia langsung berinisiatif untuk membantu Daren menjelaskan dengan cara berbohong. "Ra, lo jangan marah-marah dulu sama Daren. dia ini tadi yang udah nolongin lo, ngegendong lo ke sini waktu kepala lo kena lemparan bola basket tadi" Dara mengernyitkan dahinya tak percaya. "si kutil landak nolongin gue?" tanya Dara memperjelas pendengarannya. dan di angguki oleh sahabatnya Chaca. Dara memperhatikan Daren yang kini terlihat menunduk. walaupun sedikit aneh mendengar penjelasan temannya tadi, namun kemudian Dara mencoba mempercayainya. "oh, thanks." ketusnya mengucapkan terimakasih pada Daren dengan terpaksa. "sama-sama." jawab Daren tanpa mengarahkan pandangannya ke arah Dara. Chaca yang melihat hal itu, akhirnya bisa tersenyum lega. karena ternyata Dara mempercayai perkataannya tadi. "sebenarnya, gue sedikit nggak suka aja, waktu tau kalau lo yang nolongin gue. takutnya, gue jadi punya hutang budi sama lo. dan lo akan memanfaatkan hal itu sama gue, dengan cara licik lo." kata Dara yang masih terbaring di atas tempat tidur tersebut. mendengar Dara berbicara seperti itu, membuat Daren memikirkan sesuatu. "tenang aja. gue nggak pernah punya fikiran sepicik itu sama lo. tapi.. kalau lo tetep merasa demikian, ya nggak papa. lo cuman tinggal bayar hutang lo itu dengan cara nggak manggil gue kutil landak lagi. gue tuh punya nama. Daren Bagaskara. inget tuh!!" Chaca yang sedari tadi mendengar langsung berusaha menahan tawanya yang sebentar lagi akan lepas begitu saja. Dara menaikkan sebelah alisnya, meremehkan. "sorry. tapi gue udah terlanjur terbiasa manggil lo dengan sebutan kutil landak. jadi nggak perlu protes, dan nikmatin aja!" Daren mendengus kesal. ternyata cewek yang kini sedang terbaring di hadapannya itu, memang benar-benar menyebalkan. lelaki itu menghela napas panjang. "terserah." ucapnya lalu kemudian pergi keluar dari UKS tersebut. terlalu lama di tempat itu, bisa membuatnya memiliki penyakit darah tinggi. "Ra, lo tuh keterlaluan banget sh?! dia kan tadi udah nolongin lo." ujar Chaca yang tidak menyukai sikap Dara saat ini. "gue kan nggak minta ditolongin sama dia, Cha." jawab Dara tanpa rasa bersalah sedikitpun. membuat Chaca mendengus kesal, lalu melangkah pergi mengejar Daren mencoba menjelaskan. "loh Cha, kok lo ninggalin gue sih?? Chacaaa...!!" teriak Dara memanggil sahabatnya itu, namun Chaca sama sekali tak menggubrisnya sedikitpun. *** "Daren, tunggu!!" Chaca menahan lengan Daren, agar berhenti melangkah. saat ini, mereka berdua sedang berada di sepanjang koridor yang mulai sepi, karena memang sebagian murid sudah banyak yang pulang ke rumahnya. Daren yang mendengar jika ada seseorang yang memanggil-manggil namanya itu, langsung menghentikan langkah kakinya, dan menoleh ke asal suara. "ada apa Cha?" "maafin temen gue ya Dare.. Dara emang gitu orangnya. gue jadi nggak enak sama lo." Chaca berbicara sambil menundukkan kepalanya malu, dia tidak sanggup menatap kedua mata Daren yang seolah memiliki sinar laser dan sanggup membuatnya meleleh di detik ini juga. "oh, gue fikir ada apa.?! tenang aja, gue udah biasa dapat perlakuan kayak gini dari temen resek lo itu kok. lagi pula, lo kenapa harus merasa nggak enak gitu sama gue? disini yang ngeselin kan emang si Dara, bukan elo." ucap Daren sambil mengangkat dagu Chaca agar pandangan matanya menatap ke arahnya. "kalau lagi ngomong jangan nunduk gitu." ucap Daren, dan membuat jantung Chaca semakin berdetak tak karuan. karena saat ini menurutnya, pangeran pujaannya itu sudah terlalu dekat dengan jarak wajah miliknya. "i--iya." jawab Chaca dengan gugup. "pipi lo kenapa merah gitu? lo sakit??" tanya Daren yang sebenarnya tau, jika gadis itu saat ini sedang malu, karena sudah di tatap oleh Daren dengan jarak sedekat ini. tangan daren terangkat naik, menyentuh kening Chaca, seolah tengah mengukur suhu tubuh gadis itu. lalu kemudian mulai turun ke area pipinya, menyentuhnya dengan sangat lembut. kalian tau?? saat ini Daren sedang mengeluarkan jurus rayuan mautnya yang biasa sering ia gunakan untuk merayu cewek-cewek di sekolah tersebut. "gu-gue... gu-gue nggak papa kok dare." ucap Chaca dengan perasaan gugup luar biasa. Daren lalu mulai mendekat ke telinga Chaca, membisikkan sesuatu di sana. yang membuat darah di tubuh Chaca berdesir hebat, karena bisa merasakan aroma napas berbau mint yang keluar dari mulut Daren. "nanti malam, pukul 8 di cafe deket rumah lo." setelah berkata seperti itu, lelaki itu lalu menjauhkan kembali wajahnya, "jangan sampai telat ya?!" ucap Daren, lalu bergegas pergi begitu saja, meninggalkan Chaca yang masih terdiam mematung dengan tatapan kosong. tidak percaya dengan apa yang ia dengar, jika Daren barusan sedang mengajaknya bertemu. "Cha, ngapain lo bengong begitu?" tanya Dara dengan menepuk punggungnya sekali. "hah?! enggak. gu-gue nggak papa kok Ra." ucapnya terkejut dengan kedatangan Dara yang sangat tiba-tiba itu. gadis itu hanya tidak mau jika Dara sampai tau kalau dirinya akan keluar bertemu dengan Daren nanti malam. bisa-bisa, Dara tidak akan membiarkannya. dan bisa dipastikan kalau Dara akan menjadi satpam dirumahnya, menunggunya sampai larut malam, dan memastikan sendiri jika dirirnya benar-benar tidak akan menemui Daren. "tapi kok, lo keliatannya kayak lagi---" "Ra, gue nggak papa, beneran. mending kita pulang aja yuk. katanya, lo pengen gue traktir es krim?" ujar Chaca berusaha mengalihkan dara. Dara menepuk keningnya pelan. "eh iya ya, gue hampir lupa. ya udah deh ayuk!!" **** seorang lelaki dengan memakai baju seragam lain, terlihat tengah menunggu seseorang di atas motornya dengan masih mengenakan helm dikepalanya. di depan sekolah Harapan Bangsa tersebut. "ara mana sih? kenapa tu anak belum keluar juga jam segini?!" ucapnya berbicara sendiri. karena sudah terlalu lama menunggu Dara yang sedari tadi belum terlihat di pintu gerbang. "mana gue nggak bawa ponsel lagi." gerutunya, dengan masih mengedarkan pandangan matanya ke sekitar gerbang sekolah trsebut, berharap jika orang yang dimaksud akan segera menampakkan batang hidungnya. "masak sih tu anak keluyuran dulu?!" "kalau gue nyari dia kedalam, yang ada gue malah disangka nyari ribut sama si Daren s****n itu." ya, Raymon Fidelyo. dia adalah kakak kandung Dara, yang saat ini memang tengah datang kesekolah adiknya itu untuk menjemputnya. "arrghh.. masa bodoh lah." akhirnya, Ray segera melepas helm dikepalanya, dan turun untuk menanyaka keberadaan adiknya Dara kepada salah satu murid yang masih terlihat disana. "sorry, gue mau nanya dong? kalian kenal dara anak kelas 12 ips nggak?" tanya Ray pada saat sudah mendatangi segerombolan murid perempuan yang tengah menunggu jemputan di sekitar pintu gerbang tersebut. bukannya menjawab, mereka justru sibuk mengagumi tampang Ray, yang memang sangat tampan itu. bisa dibilang, ketampanan Ray itu sebelas dua belas lah sama Daren. "duh kak, kok ganteng banget sih?" "dari sekolah mana kak? kenalan dong kak." "ya ampuunn... tinggi banget sumpah." "iya yah, mana macho banget lagi." "kak, nomer WA nya berapa kak?" "kalau Line punya nggak kak?? eh, instagramnya juga kak sekalian.." Ray mulai pusing dengan berbagai macam pertanyaan yang dilontarkan oleh para perempuan tersebut, yang justru benar-benar sangat membuatnya risih setengah mati. tanpa menjawab, lelaki itu akhirnya segera bergegas pergi menjauh meninggalkan mereka, tanpa memperdulikannya sedikitpun. "gila ya mereka, udah kayak wartawan aja. nanya nya banyak banget." "ck, si Dara mana sih? awas aja kalau pulang, gue bakal ceramahin habis-habisan." kesalnya, karena sudah membuatnya diganggu oleh beberapa anak perempuan di sekolah tersebut. jika biasanya lelaki yang selama ini mengganggu wanita, ini malah kebalikannya. "Dara... lo ke mana sih?!" ucapnya kebingungan, dengan masih berdiri didepan sekolah tersebut, yang saat ini jaraknya sudah menjauh dari cewek-cewek tadi. "ngapain lo, celingukan di depan sekolah gue??" ujar Daren dengan ekspresi tidak suka, saat melihat musuh bebuyutannya itu tiba-tiba sudah berada disana. Ray masih diam, dia sama sekali tidak menyangka jika akan bertemu Daren dengan cara seperti ini. masalahnya, Ray memang dari dulu selalu mengantar jemput adiknya itu di tempat yang tidak terlalu dekat dengan gerbang sekolahnya. dan pada saat melakukan hal itu, dia juga tidak pernah melepaskan helm yang menutupi kepalanya. dia hanya takut jika Daren mengetahui Dara adalah adiknya, Daren akan menyakitinya dengan alasan karena Dara adalah adik dari musuhnya. tentu saja, Ray tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. "woi..!! ngapain lo diem aja? udah bisu lo?? apa telinga lo itu lagi rusak, jadi lo nggak bisa denger pertanyaan gue barusan?!" "mungkin dua-duanya Dare." sahut Mario, kemudian dibalas Farel dengan seringaiannya. "cuih." Ray meludah. "bukan urusan lo!" "b*****t!! nyari mati lo?! lawan gue sekarang juga!" tantang Daren dengan kilatan mata yang memerah. "gue nggak takut sama pembunuh kayak lo!" ucap Raymon dengan langkah kaki yang mulai melangkah maju, begitu juga dengan Daren.   BERSAMBUNG..                        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN