"b*****t!! nyari mati lo?! lawan gue sekarang juga!" tantang Daren dengan kilatan mata yang memerah.
"gue nggak takut sama pembunuh kayak lo!" ucap Raymon dengan langkah kaki yang mulai melangkah maju, begitu juga dengan Daren.
"gue bukan pembunuh, b******k!!"
daren yang mulai kesal, karena Ray yang lagi-lagi mengatainya sebagai pembunuh itupun, lantas hendak melayangkan satu pukulan tinjunya ke wajah Raymon.
namun tiba-tiba...
"apa-apaan ini? kalian mau berkelahi di sekolah?? iya??" tanya salah seorang guru laki-laki yang baru saja keluar dari gerbang sekolah menggunakan kendaraan roda duanya.
reflek, Daren langsung menghentikan pukulan tangannya itu tepat di depan mata Raymon.
"eh, bapak. enggak kok pak. kami cuman main-main doang pak. iya kan Dare?" ujar Farel cengengesan, berharap jika Daren akan segera menurunkan kepalan tangannya sekarang juga dari wajah Raymon.
Daren yang juga tidak ingin jika nanti dirinya mendapatkan hukuman dari sekolahnya karena masalah ini, lantas segera menurunkan tangannya dengan perasaan yang masih kesal. "iya pak. kami cuman main-mian doang. nggak perlu kuwatir." dustanya, membenarkan ucapan Farel barusan.
"kalian jangan coba-coba bohongin bapak ya?! kalau sampai bapak tau kalian seperti ini lagi, bapak akan langsung panggil orang tuan kalian ke sekolah." ucap guru tersebut dengan nada tegas. "faham kalian?"
"iya pak." sahut mereka berempat yang hampir terdengar bersamaan.
"ya sudah, tunggu apa lagi? bubar sekarang juga!!" perintah guru tersebut dengan nada tegasnya.
membuat Daren, Farel, dan Mario segera bergegas membubarkan diri untuk segera meninggalkan tempat itu sekarang juga.
terlihat Daren yang memberikan tatapan tajamnya ke arah Raymon, sebelum akhirnya dia benar-benar pergi meninggalkan tempat itu dengan kedua temannya menggunakan kendaraan bermotor yang selalu mereka gunakan ke sekolah.
"ngapain kamu masih di sini?" ucap guru tersebut sambil memberikan tatapan mengintimidasi kepada Raymon, karena melihat Ray yang juga belum beranjak pergi dari tempatnya.
"emm.. maaf pak. sebenarnya kedatangan saya ke sini itu mau menjemput adik saya Dara Fransiska. kelas 12 ips." ujar Ray menjelaskan dengan sopan.
"kamu nggak liat? kalau ini sudah lewat dari setengah jam para murid disini pulang sekolah?!"
"maaf pak, saya fikir adik saya Dara masih--" belum sempat Ray menyelesaikan ucapannya, guru tersebut sudah memotongnya duluan.
"nggak ada!! semua murid disini semuanya sudah pada pulang. jadi lebih baik, sekarang kamu juga pulang, sebelum saya suruh satpam disini buat usir kamu!! cepet!!" gertak guru tersebut mengusir Ray.
"i--iya pak." ucap Ray, lalu segera berjalan pergi ke arah dimana motornya tadi terparkir.
"elaahh.. galak banget sih tu guru. heran gue." gerutu Ray, lalu segera memakai helmnya dan melesat pergi meninggalkan tempat itu.
****
pukul 18.00
Ray terlihat tengah sibuk menghubungi ponsel adiknya Dara berulang kali, namun sayangnya hasilnya tetap sama, ponsel Dara masih tetap tak bisa di hubungi sama sekali. semakin membuat Ray kebingungan setengah mati, dia hanya takut jika terjadi sesuatu dengan adik perempuannya itu.
mengingat jika ayahnya sudah memberinya tanggung jawab penuh agar selalu menjaga Dara setiap saat.
"Ray, lo nggak capek apa, dari tadi mondar-mandir terus depan pintu?" ujar salah satu teman ray yang bernama Jerry, dengan duduk di sofa ruang tamu bersama Niko.
"gue masih belum bisa tenang kalau Dara belum pulang Jerr." jawab Ray dengan raut wajah khawatirnya.
"bentar lagi juga pasti pulang Ray, adek lo kan biasanya emang gitu."
"ya memang. tapi biasanya dia selalu ngehubungin gue dulu kalau mau pulang telat. nggak kayak sekarang. bikin gue kuatir aja tu anak. mana tadi pas gue jemput dia disekolah, gue hampir ribut lagi sama si Daren."
"serius lo?" sahut Niko.
"iya. tapi nggak jadi. gara-gara tadi ada salah satu guru yang nggak sengaja tau kalau gue sama Daren mau berantem." kata Ray menjelaskan. membuat kedua temannya itu mengangguk mengerti.
Ray berjalan menghampiri kedua temannya yang berada di sofa ruang tamunya, lalu ikut duduk bersama mereka. mengambil sebatang rokok dan menyulutnya dengan pemantik miliknya.
"apa lo mau, kalau gue yang nyari adek lo Ray?" kata Niko menawarkan.
"mau nyari ke mana?" tanya Ray pada Niko.
"ke mana aja. asal nggak hanya diam kayak gini. gue juga ikutan nggak tenang kalau gini."
Jerry terkekeh geli mendengar ucapan Niko barusan. "ya jelas lah lo nggak tenang. rasa suka lo sama Dara kan udah setinggi lang-- watdaww...! sakit bego." pekiknya saat merasakan kakinya diinjak dengan sangat kuat oleh Niko yang berada di sampingnya.
membuat Ray menatap kedua temannya itu dengan tatapan heran. "kalian berdua kenapa sih?!" ucapnya yang tidak mendengar dengan jelas apa yang tadi di katakan oleh Jerry.
"tau nih. lo kenapa sih? hmm??" ujar Niko dengan santainya, sambil menajamkan kedua bola matanya seolah berkata --jaga ucapan lo barusan--
"nggak papa. tadi kaki gue cuman digigit tikus." jawab Jerry beralasan.
"mana ada tikus di ruang tamu gue. aneh-aneh aja lo."
Jerry hanya mendengus kesal, sambil kembali memainkan game di ponselnya.
kedua teman Ray memang sangat sering berkunjung ataupun menginap bersama di rumahnya itu, mengingat jika Ray hanya tinggal bertiga bersama Dara dan juga pembantunya, karena ayahnya yang memang selama ini sibuk mengurusi bisnis miiknya diluar negeri, dan hanya pulang dua sampai tiga bulan sekali.
beberapa menit kemudian, terdengar suara kendaraan di luar rumah Ray yang membuat tiga lelaki itu saling berpandangan satu sama lain.
"itu pasti Ara." ujar Ray penuh keyakinan, lalu kemudian beranjak dari tempat duduknya, dan langsung berdiri melangkah keluar rumahnya. diikuti oleh Niko yang sudah mengekor dibelakangnya.
"Ra, kamu kenapa pulang jam segini sih? kamu tau nggak, kalau kak Ray kuwatir banget sama kamu. handphone kamu juga, kenapa nggak bisa di hubungin sih?!" tanya Ray saat sudah melihat Dara di depan pintu.
Dara nyengir sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "hehehe, maaf ya kak. tadi aku di traktir es krim sama Chaca sampai lupa waktu. terus, ponselku juga batrenya abis. jadi nggak bisa ngehubungin kakak deh. maaf..." ujar Dara dengan memasang wajah bersalahnya, agar Ray tidak memarahinya karena sudah pulang terlambat seperti ini.
"tapi, kamu kan bisa pinjem ponsel temen kamu Ra."
"tadi nggak kefikiran ke situ kak. maaf deh, lain kali nggak bakal aku ulangin lagi. janji."
Ray diam tak menjawab.
"udah Ray, maafin aja. adek lo kan udah minta maaf. dan yang penting kan dia sekarang nggak kenapa-kenapa." ujar Niko menasehati.
membuat Ray menghela napas sesaat. "ya sudah, kakak maafin. tapi lain kali jangan diulangin lagi. faham?"
"siap bos Ray." ucap Dara mengerti, sambil melakukan gerakan hormat menggunakan tangannya di depan Ray.
Ray mengacak rambut Dara sesaat. "ya udah. mandi dulu gih. bau banget nih."
"isshh... iya-iya."
Dara melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, sambil melirik ke arah Niko sambil mengucapkan terimakasih tanpa bersuara.
karena menurutnya, Niko telah membantunya terbebas dari kemarahan sang kakak, yang bisa dipastikan akan menceramahinya habis-habisan sebentar lagi.
"eeh.. ada kak Jerry juga ternyata. mau nginep lagi ya kak??" tanya Dara, saat sudah melihat Jerry yang tengah tiduran di kursi sofa sambil memainkan ponsel miliknya.
"iya nih Ra. sekalian juga pengen ketemu sama kamu. kangen soalnya. hehe.." ujar Jerry sambil nyengir menampilkan ekspresi watadosnya, yang kemudian di hadiahi Ray dengan sebuah lemparan bantal sofa yang mengarah tepat di wajahnya.
membuat Dara yang melihatnya hanya terkikik geli, lalu kemudian segera bergegas naik ke atas menuju kamarnya untuk segera membersihkan tubuhnya yang saat ini sudah terasa sangat lengket.
"adek gue tuh. jangan macam-macam lo!!" kata ray mengingatkan. lelaki itu sangat tidak menyukai jika ada yang menggoda adiknya walaupun orang tersebut adalah teman dekatnya sendiri.
"ya elah, becanda doang kali.. sewot bener lu jadi abang. pantes aja adek lo dari dulu sampai sekarang nggak pernah punya pacar. orang kelakuan abangnya aja kayak gini." ujar Jerry tanpa menatap lawan bicaranya.
"bodo."
****
"kak, laper..." rengek Dara sambil memegangi perutnya yang sudah keroncongan.
"ya makan Ra. tuh, di dapur ada ayam goreng kesukaan kamu. tadi bibik masakinnya emang khusus buat kamu, katanya." ujar Ray dengan tangan yang masih tetap memainkan stick ps nya, bersama Niko.
mereka berdua terlihat snagat serius.
"nggak mau kak. aku lagi pengen makan sate ayam yang deket kompleks kita itu loh..."
"elaah, makan aja milih Ra. udah, makan yang ada aja."
"nggak mau. pengennya sate ayam. titik."
"duh, ini lagi seru banget Ra."ucap Ray tanpa melihat ke arah Dara sedikitpun.
"ishh... kebiasaan banget." Dara lalu melihat ke arah Jerry, yang saat ini tengah memejamkan mata sambil menyumpal telinganya menggunakan earphone di sebuah sofa panjang dengan posisi tubuh terlentang.
"kak, anterin aku beli sate yuk, mau nggak?"
"ayuukk!!" ucapnya dengan mata yang terbuka sempurna dengan cepat, dan posisi tubuh yang saat ini sudah berubah duduk.
"eh, biar gue aja yang anterin!!" sahut Niko tiba-tiba, yang kemudian dia langsung berdiri dengan menaruh stick ps nya begitu saja.
"loh, gimana sih Nik, kita kan lagi main game bareng. kok lo main pergi aja?! nggak asik banget lo." protes Ray dengan kesal.
"udah, lo main sama Jerry aja. biar adek lo gue yang nganterin." ucap Niko cuek, sambil mengambil kunci motor miliknya yang tengah tergeletak di atas meja. "ayo Ra, biar gue yang anterin lo."
Dara mengangguk senang. lalu kemudian melirik ke arah kakaknya sekilas. "emang ya, kak Niko tuh yang paling ngertiin aku banget. nggak kayak kakak sendiri yang lebih mentingin game dari pada adeknya yang lagi kelaperan." ucapnya yang bermaksud menyindir Ray.
"bodo Ra, bodo.."
****
sementara itu di tempat lain saat ini...
Chaca dan Daren sedang asyik berbincang sambil menikmati makanannya di sebuah cafe yang letaknya tak jauh dari tempat kediaman gadis itu.
"gue seneng deh, ternyata lo datang juga Cha. gue fikir lo nggak bakalan dateng tadi." ujar Daren dengan menatap Chaca begitu lekat. membuat gadis itu menjadi sedikit salah tingkah di buatnya.
ya ampun Daren, lo ganteng banget sih. batin Chaca mengagumi tatapan mata yang diberikan Daren untuknya.
"nggak mungkin lah gue nggak dateng. apalagi lo ngajak ketemuannya di cafe yang letaknya nggak jauh dari rumah gue kayak gini." ucap Chaca, lalu mulai meminum milk shake miliknya.
"berarti, kalau gue ngajak ketemuannya jauh gitu, lo bakalan nggak dateng dong?"
uhuk.. chacha tersedak minumannya sendiri.
"eh, lo nggak papa kan? ampek keselek gitu minumnya." ujar Daren yang terlihat mulai khawatir.
"gue nggak papa kok." ucap Chaca dengan kikuk, sambil mengambil sehelai tisu diatas meja tersebut.
duh, b**o banget sih gue...! batin Chaca merutuki sikapnya saat ini.
Daren yang melihat sikap Chaca saat ini hanya tersenyum geli. lalu kemudian lelaki itu mulai menggenggam tangan Chaca yang berada di atas meja, dengan menatapnya tanpa berkedip sedikitpun.
membuat jantung Chaca semakin berdetak tak karuan, dengan wajah yang sudah mulai memerah seperti kepiting rebus.
"Cha, gue sebenarnya ngajakin lo ketemuan kayak gini, karena memang ada yang mau gue omongin sama lo." ucap Daren dengan wajah yang saat ini sudah mulai terlihat serius.
"a-apa?" Chaca bertanya dengan nada terbata. gadis itu sama sekali tidak bisa menyembunyikan perasaan gugupnya di depan Daren.
"sebenarnya, gue--"
deg deg....
deg deg...
irama degupan jantung Chaca terdengar semakin tak beraturan, dengan keringat dingin yang sudah mulai terasa membasahi pelipisnya.
"gue udah lama suka sama lo, Cha.." kata itu terucap jelas keluar dari mulut Daren dengan suara khas seraknya. membuat gadis yang saat ini berada di depannya seakan melayang tinggi hingga ke langit ke tujuh, saat Daren mengucapkan kalimat itu. kalimat yang selama ini tidak pernah ia sangka akan di ucapkan oleh Daren untuknya.
"lo mau nggak, jadi cewek gue??" lanjut daren kemudian.
membuat gadis itu hanya diam membeku, seolah yang ia dengar saat ini hanyalah sebuah mimpi yang menurutnya tidak nyata sama sekali.
merasa jika gadis di depannya hanya diam, membuat Daren sedikit merasa kebingungan. karena biasanya jika perempuan lain yang mendapatkan pernyataan cinta secara langsung dari Daren seperti ini, pasti sebagian mereka akan langsung menjawab Ya, tanpa berfikir lagi.
"Cha, kenapa lo diem aja? lo nggak mau ya, jadi cewek gue?" ucap Daren memasang wajah kecewanya.
"eh, bu-bukannya gitu, gu-gue-- gue mau kok Dare, gue mau jadi pacar lo."
"bener?"
Chaca dengan cepat mengangguk mengiyakan ucapan Daren barusan. "iya, bener. tadi aku cuman kaget aja. aku nggak nyangka kalau kamu bakalan nembak aku kayak gini." ucap Chaca dengan ekspresi bahagia yang terlihat begitu jelas di wajahnya.
Hingga membuatnya tanpa sadar sudah berbicara kepada Daren menggunakan kata 'aku, kamu'.
"jadi sekarang kita pacaran kan??" tanya Daren kemudian.
lagi-lagi Chaca mengangguk cepat dengan wajah malunya.
Daren berdiri dari kursinya, mencondongkan tubuhnya untuk mencium kening Chaca dengan lembut, yang lagi-lagi sanggup membuat Chaca akan pingsan saat ini juga. akibat menerima perlakuan sweet dari seseorang yang sangat ia cintai dan kagumi selama ini.
BERSAMBUNG..,