5

1768 Kata
"APA?? JADI LO UDAH JADIAN SAMA SI KUTIL LANDAK ITU? IYA??" teriak Dara terkejut dengan kedua bola mata yang membulat sempurna, saat dirinya sudah selesai membasuh wajahnya dengan air di kamar mandi sekolahnya. "ssstt... Ra, biasa aja dong, nggak perlu teriak gitu juga kali." kata Chaca memperingatkan. "nggak, gue nggak terima. gue nggak terima sahabat dekat gue nantinya disakiti sama si player cap kutil landak itu. gue harus ngasih dia pelajaran." ujar Dara dengan langkah kaki yang hendak keluar dari toilet untuk melabrak Daren. namun, Chaca berhasil menghentikan langkah kaki Dara dengan cara menahan lengan tangannya, agar gadis itu mengurungkan niatnya sekarang juga. "Ra, lo kenapa sih? kenapa lo selalu bersikap kayak gini sama Daren. emang dia salah apa sama lo, Ra? sehingga lo begitu membenci dia kayak gini." "kenapa lo masih nanya? bukannya lo udah tau alasan apa yang bisa membuat gue begitu sebenci ini sama dia?!" "tapi, orang pasti nggak akan selamanya kayak gini terus Ra. gue yakin kalau Daren pasti bisa berubah seiring berjalannya waktu. dan gue yakin kalau dia pasti nggak akan jadi playboy lagi setelah dia pacaran sama gue, Ra." ucap Chaca penuh keyakinan terhadap daren. membuat Dara tertawa sinis mendengar perkataan sahabatnya barusan, yang terdengar sangat jelas jika sahabatnya itu tengah membela Daren. lelaki yang sangat ia benci di sekolahnya. dan bahkan sekarang kebencian Dara kian semakin bertambah saat ia tahu jika Chaca, sahabat dekatnya itu tengah menjalin hubungan dengan lelaki itu. gadis itu hanya tidak mau jika Chaca menjadi korban yang kesekian kalinya dari cowok seperti Daren yang sudah membuat banyak cewek patah hati karena rayuan gombalnya. "jangan terlalu yakin dulu Cha, nggak semuanya yang lo harapin itu akan menjadi kenyataan. karena gue sangat yakin, kalau si b******k itu nggak akan pernah bisa semudah itu untuk berubah. lo tau kenapa??" Dara bertanya, memberi jeda pada kalimatnya. "karena dia dari dulu sampai sekarang, sudah terlahir sebagai cowok b******k! dan hal itu nggak akan pernah berubah sampai kapanpun juga. begitu juga rasa benci gue ke dia, yang nggak akan pernah berubah sampai kapanpun." ucap Dara penuh penekanan di setiap kalimat yang ia ucapkan. lalu kemudian Dara memutuskan pergi begitu saja meninggalkan Chaca yang sekarang hanya terdiam di tempat tanpa bisa berkata apapun. lidahnya seolah keluh saat ia mendengar kalimat panjang yang dilontarkan oleh sahabatnya barusan. Ra, maafin gue. karena untuk kali ini gue nggak bisa dengerin nasehat lo. karena bagi gue, perasaan gue saat ini jauh lebih penting. gue sayang sama daren Ra. maafin gue.. batin Chaca dengan air mata yang sudah menggenangi pelupuk matanya. **** BRAK...!! suara gebrakan meja. "apa-apaan lo? main nggebrak meja orang sembarangan." ujar Daren saat lelaki itu tengah mengobrol serius bersama salah satu temannya di dalam kelas. "gue, nggak peduli ya. selama ini lo pacaran sama siapapun juga, gue ngak peduli. tapi kenapa sekarang lo juga harus pacaran sama sahabat gue Chaca?? gue nggak suka!!" ujar Dara dengan suara yang sudah ia tinggikan. tanpa memperdulikan teman-teman satu kelasnya yang saat ini sudah memperhatikannya. Daren tertawa mengejek. "lah kenapa? apa urusannya sama lo??" tiba-tiba daren memasang wajah terkejutnya. "tunggu-tunggu, apa jangan-jangan lo cemburu karena gue lebih memilih jadian sama Chaca, ketimbang sama lo?? iya?" "jaga ucapan lo itu ya! ngapain juga gue cemburu nggak jelas sama kutil landak kayak lo. nggak level banget." "lah kalau nggak cemburu. kenapa lo nggak suka liat gue jadian sama Chaca??" "karena gue nggak mau kalau chaca lo sakitin kayak lo nyakitin Fika kemarin!!" ucap Dara dengan luapan emosi yang mulai meninggi. "cih, bisa aja ngelesnya." gumam Daren, yang masih bisa terdengar jelas oleh Dara. Dara dengan kesal menarik kerah baju Daren dengan kasar. "dengerin gue baik-baik. kalau sampai lo nyakitin temen gue Chaca, lo akan berurusan langsung sama gue. ngerti lo?!" kecamnya dengan tatapan tajam Dara yang seolah membunuh. lalu kemudian melepas begitu saja tangannya dari kerah baju Daren, dan berjalan menghampiri tempat duduknya dengan di selimuti perasaan kesal terhadap Daren. "gila tuh cewek. makin hari makin s***s aja sikapnya sama lo." ucap mario kepada Daren, dan daren hanya diam seolah tengah sibuk dengan fikirannya sendiri. Mario menatap Daren yang saat ini masih terdiam di sampingnya. "Dare, jadi.... Lo beneran udah jadian sama si Chaca itu?" "Hmm.." Daren menjawab cuek. "Kenapa?" tanya mario. "Kenapa apanya?" "Ya kenapa lo jadian sama Chaca? Lo suka sama dia?" Pertanyaan Mario barusan seketika membuat Daren tertawa dengan lepasnya. "Kenapa lo mikir kayak gitu? Lo kayak baru kenal gue aja." "Jadi lo--" "Gue cuman pengen nambah koleksi gue kayak biasanya lah. Lumayan kan, kalau gue pacaran sama Chaca, lo sama farel bisa nyontek tugas sekolah dari gue setiap hari. Secara kan, si Chaca anaknya lumayan pinter. Ya nggak?" "Wah.. Pinter juga lu Dare." kata Mario memuji Daren. "Jelaslah, gue..." Daren mengangkat kerah bajunya, berlagak sok keren. "Tapi kali ini ati-ati, jangan sampai si Chaca tau, kalau lo masih belum putus sama pacar-pacar lo yang lainnya." sahut Farel yang duduk di belakang mereka berdua. "Kalau soal itu mah, beres lah pokoknya." jawab Daren dengan santainya. Tak berapa lama kemudian, bel sekolah berbunyi. Menandakan pelajaran akan segera dimulai. Daren dan dua temannya yang lain menghentikan obrolan mereka, lalu mulai mengeluarkan buku miliknya. Bersiap dengan mata pelajaran pertamanya. **** "Ra, lo masih marah sama gue?" tanya Chaca saat pelajaran sudah berakhir. namun Dara yang ditanya bukannya menjawab, gadis itu justru diam dengan raut wajah yang masih terlihat kesal. sebenarnya dara sama sekali tidak mempermasalahkan Chaca mau berpacaran dengan siapapun asal tidak dengan Daren. karena menurut Dara lelaki itu benar-benar tidak memiliki perasaan sama sekali, dia hanya suka mempermainkan wanita dengan memacarinya, lalu membuangnya begitu saja. tanpa memperdulikan perasaan hati para wanita yang sudah pernah ia sakiti sedikitpun. "Ra, maafin gue dong. please.. jangan diemin gue kayak gini. kita kan udah sahabatan lama. masak cuman karena gue pacaran sama Daren, sikap lo jadi berubah dingin gini sih ke gue??" "....." "Ra, lo jangan egois gini dong. fikirin juga perasaan gue tuh kayak gimana ke Daren. lo sendiri kan juga tau, kalau gue selama ini suka banget sama dia, seharusnya lo juga ikut bahagia ngelihat gue udah jadian sama pangeran pujaan gue saat ini." "....." "Ra, ngomong dong. jangan diem aja!" Chaca mengguncang lengan Dara, berharap jika gadis itu akan mengerti dengan apa yang diucapkannya barusan. namun sepertinya hal itu hanya sia-sia saja. karena saat ini, Dara hanya diam sambil tetap setia memasang wajah kesalnya terhadap Chaca. membuat Chaca menjadi serba salah. "sayang, ke kantin yuk!" ajak Daren tiba-tiba, saat sudah berada di dekat meja mereka. "eh, ta-tapi, ajak Dara juga nggak papa kan?" "terserah kamu. tapi~ bukannya lebih baik kalau kita makannya cuman berdua aja ya?! kita kan baru jadian semalam, apa kamu nggak pengen kalau kita ngehabisin waktu berdua aja, tanpa ada pengganggu di antara kita beb.." kata Daren yang memang bermaksud menyindir Dara. Dara yang memang sedari tadi sudah merasa kesal itu, lantas seketika berdiri saat mendengar ocehan Daren yang justru semakin membuat moodnya menjadi hancur begitu mendengar lelaki itu berbicara. "kalian nggak perlu kuwatir gue ganggu. karena gue sama sekali nggak tertarik sedikitpun buat makan bareng satu meja bareng kalian!" ketusnya, lalu kemudian pergi begitu saja keluar dari kelas tersebut meninggalkan Daren dan Chaca. tanpa memperdulikan teriakan Chaca yang terus menerus memanggil-manggil Dara berulang kali. "kamu kenapa sih? kenapa kamu bersikap kayak gitu ke Dara?" tanya Chaca sedikit kesal kepada Daren. namun Daren hanya diam memasang wajah tak pedulinya. "kamu tau nggak?! sikap kamu yang kayak gini tuh, makin ngebuat Dara bisa jauh lebih benci sama kamu." "aku nggak peduli." "tapi aku peduli, Daren." sahut Chaca dengan cepat. "sayang, udah ya. jangan marah-marah lagi. kita ini kan baru jadian, masak udah marahan aja sih?! oh ya, nih aku punya sesuatu buat kamu." ujar Daren sambil mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya, dan memberikannya langsung pada Chaca. "coklat?" tanya Chaca saat memperhatikan sebungkus coklat yang sudah berada di tangannya. Daren mengangguk mengiyakan. "kemarin mama aku baru pulang dari luar negeri. terus aku nitip deh coklat terenak ke mamaku sebelum pulang. kamu cobain deh, aku jamin pasti kamu langsung suka." ujar Daren percaya diri, yang kemudian di turuti oleh Chaca. Chaca mulai menggigit ujung coklat tersebut dan mengunyahnya perlahan, merasakan sensasi rasa coklat yang begitu terasa di dalam mulutnya. "gimana? enak kan?" "iya, enak banget. makasih ya?! aku suka." ucap Chaca lalu mulai memeluk tubuh Daren begitu saja. dan Daren menyambut pelukan gadis itu dengan antusias. drrtt... drrttt... "eh, bentar ya, handphone aku bunyi." ujar Daren, lalu mulai mengangkat telfon tersebut dengan sedikit menjauh dari hadapan Chaca. kenapa pakek acara ngejauh segala sih? aneh banget. batin Chaca keheranan, dengan memperhatikan Daren yang saat ini sedang menelfon dari arah kejauhan. "halo sayang..." ujar Daren dengan lembut saat sudah mengangkat telfonnya. "sayang, kamu dimana sih? aku udah nungguin kamu dari tadi di kantin nih. kenapa kamu belum datang juga sih?" ucap salah seorang cewek di seberang telfon. waduh, mampus. gue hampir lupa kalau si nita lagi nungguin gue di kantin dari tadi. batin daren mulai panik. "sayang... kok diem aja sih?!" ucap gadis diujung telfon dengan nada manjanya. "eh, i--iya. duh.. sayang maaf ya, kayaknya aku nggak jadi ke kantin deh. aku lagi sakit perut banget soalnya. maaf ya yang..." dusta Daren, yang sebenarnya hanya tidak mau jika Chaca curiga terhadapnya, dan semuanya menjadi berantakan. "tapi kan yang---" "duh... halo, halo... apa? nggak kedengeran." Daren mulai beralasan agar segera bisa mematikan ponselnya. tut tut tut.... Daren memutus sepihak panggilannya. lelaki itu bernafas lega sesaat, saat dirinya sudah selesai memutus panggilan sepihaknya dari pacarnya yang lain. Daren lalu kembali melangkah mendekat ke arah Chaca. "siapa yang?" tanya Chaca kemudian. "bukan siapa-siapa kok. Cuman cewek halu yang masih suka ngaku-ngaku jadi pacarku. Ngeselin banget kan?!" "emang ada yang kayak gitu?" Chaca bertanya kembali, seolah tak percaya jika ada seorang cewek yang memiliki sifat seperti itu. "ada yang, malah ada yang lebih parah lagi." Jawab Daren semakin melebih-lebihkan. Membuat Chaca sedikit merasa ketakutan. Daren yang bisa melihat jika ada raut ketakutan di wajah Chaca itupun, mencoba menenangkan "udah, kamu nggak perlu takut gitu. Aku pasti selalu lindungi kamu, kalau sampai ada beberapa anak cewek di sekolah ini yang gangguin kamu. Ya?" Chaca menganggukkan kepalanya. "tapi, kamu juga harus percaya sama aku, kalau kamu ngedenger berita gosip nggak enak tentang aku bersama cewek lain, jangan percaya, biasanya mereka itu cuman iri sama kamu. Jadinya dia ngebikin berita hoak kayak gini. Padahal sebenarnya aku nggak separah apa yang mereka kira." Ujar Daren menjelaskan panjang lebar. "ya, aku juga pasti nggak akan percaya dengan kabar yang belum tentu kebenarannya." Daren tersenyum, dengan satu tangan yang sudah merangkul pundak Chaca. "nah, gitu dong. Baru cewek Daren." Ucapnya, yang hanya di balas Chaca dengan seulas senyum yang terukir indah di bibirnya. BERSAMBUNG....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN