Satu minggu telah berlalu, selama itu juga Chaca telah menjalin hubungan dengan Daren. Dan tentu saja hubungannya dengan Dara semakin kian merenggang. Walaupun Chaca sudah melakukan segala hal untuk meminta maaf kepada Dara, namun sepertinya semua yang ia lakukan itu tidak ada gunanya.
Dara justru semakin menjauh darinya. Gadis itu sepertinya sudah angkat tangan untuk tidak mencampuri urusan pribadi Chaca,
Walaupun begitu, Dara hanya bisa berharap semoga Daren tidak akan pernah melukai perasaan sahabatnya itu dengan cara menghianati cinta tulus Chaca yang diberikan untuk lelaki semacam Daren.
Dara melangkahkan kakinya berjalan menuju perpustakaan sekolahnya. Gadis itu saat ini sedang ingin mencari ketenangan di tempat itu.
Gadis itu mengambil salah satu buku yang berjajar rapi di deretan rak dengan asal. Dia memang sedang tidak ingin berniat benar-benar membacanya, dia hanya ingin memejamkan kedua mata sayunya sejenak, untuk menghilangkan rasa kantuk akibat semalaman ia telah begadang hingga larut bersama teman-teman dari kakaknya.
Dara mengedarkan pandangannya di perpustakaan yang lumayan luas itu. Ia lalu berjalan, memilih tempat yang letaknya di pojokan, agar bisa tertidur dengan pulas.
Saat ia akan menduduki tempat itu, tak sengaja ia melihat sosok lelaki yang sangat ia kenal dan benci.
Ya, lelaki itu tidak lain adalah Daren.
Dara bisa melihat dengan jelas apa yang di lakukan cowok itu. Bahkan kini kedua bola matanya seketika membulat sempurna saat ia melihat Daren yang ternyata sedang melakukan sebuah ciuman dengan adik kelasnya.
Kesal, ya itulah yang saat ini sedang di rasakan oleh Dara. Gadis itu sangat tidak terima jika sahabatnya Chaca itu di khianati dengan cara seperti ini oleh Daren.
Tanpa berfikir banyak, Dara dengan cepat menarik kasar pundak Daren yang masih tetap melakukan ciuman panasnya dengan gadis lain, lalu dengan cepat melayangkan satu buah tamparan di pipi kiri Daren cukup keras, hingga membuat wajah lelaki itu menoleh ke samping.
Plakk
Daren memegangi pipinya yang saat ini sudah berdenyut nyeri. Dengan menatap tajam Dara penuh kilatan emosi dan amarah yang begitu tinggi.
"itu buat temen gue Chaca, karena lo udah main di belakang dia dengan cewek lain. Dasar cowok buaya!!" ucap Dara dengan menatap tajam Daren, tanpa rasa takut sedikitpun.
"elo---" belum sempat Daren mengeluarkan perkataannya. Salah seorang guru penjaga perpus tersebut datang menghampiri keributan yang disebabkan oleh mereka berdua.
"ada apa ini? kenapa kalian ribut di dalam perpustakaan?"
"ma-maaf bu, kami akan segera keluar. maafkan kami." ucap Daren, sambil menarik kasar tangan Dara untuk segera keluar dari perpustakaan tersebut, diikuti oleh perempuan yang tadi melakukan ciuman bersama Daren.
"sayang, kok kamu malah narik tangan dia sih?" protes cewek tersebut dengan ekspresi kesal pada Daren.
"nanti aku jelasin. sekarang kamu ke kelas aja dulu ya, nggak papa kan?" kata Daren dengan begitu lembut. dan akhirnya gadis itu mau menurut juga. walaupun kelihatannya terpaksa.
"lepasin tangan gue!!" bentak Dara sedikit meronta, meminta agar tangannya dilepaskan dari cengkraman tangan Daren.
dan Daren menurutinya, lelaki itu melepas kasar tangan Dara begitu saja.
gadis itu bisa merasakan tangannya yang saat ini sudah terasa nyeri akibat sikap kasar Daren padanya.
"apa maksud lo nampar gue kayak tadi? hmm?"
"lo emang pantes ngedapetin itu."
Daren mencengkram kuat rahang Dara, menekannya dengan kuku miliknya. "jangan kira karena lo cewek, gue jadi nggak berani buat nyakitin lo. asal lo tau, gue bisa matahin tangan lo sekarang juga kalau gue mau. jadi.. nggak usah ikut campur apa yang jadi urusan gue."
Dara menginjak kuat kaki Daren menggunakan kakinya dengan kencang. membuat lelaki itu memekik kesakitan, dengan berbagai u*****n yang begitu saja lolos dari mulutnya.
"selama hal itu ada hubungannya dengan Chaca. gue nggak akan pernah tinggal diam." ujar Dara, lalu kemudian beranjak pergi meninggalkan Daren yang masih merasa sakit dibagian kakinya.
****
Dara melangkahkan kakinya dengan terburu-buru, untuk menemui Chacha di kelasnya. ia sangat berharap jika temannya itu saat ini berada di sana.
karena Dara ingin memberitahukan semua apa yang baru saja ia lihat saat di perpus tadi.
"Cha, ada yang mau gue ceritain ke elo." ucap Dara dengan deru nafas tersengal naik turun.
"lo habis ngapain Ra? kok ngos-ngosan gitu?" tanya Chaca yang tengah duduk di bangkunya sambil menghentikan aktifitasnya yang tadinya tengah menulis sesuatu di bukunya.
"itu, si kutil landak pacar lo.." lagi, Dara berusaha menjelaskan dengan nafas yang masih tak beraturan.
"maksud lo Daren??"
Dara mengangguk cepat.
"kenapa emang?"
"dia ada main di belakang lo, Cha."
Chaca tersenyum tak percaya. "Ra, gue tau kalau lo emang membenci Daren. tapi seharusnya lo nggak gini juga ngarang cerita, pakek acara Daren ada main lah di belakang gue. bulshit tau nggak?!"
"jadi maksud lo, lo nggak percaya sama gue?"
"sorry Ra, tapi gue yakin kalau yang lo lihat itu bukan Daren. karena gue tau, kalau Daren itu sangat mencintai gue. dia nggak mungkin ada main di belakang gue, Ra."
mendengar ucapan Chaca barusan, semakin membuat Dara terperangah tak percaya. "gue nggak nyangka, ternyata cinta udah ngebuat lo menjadi buta."
setelah berkata seperti itu, Dara langsung mengambil tas miliknya untuk berpindah tempat duduk yang letaknya sedikit menjauh dari Chaca.
menurut Dara, sesuatu yang menyakitkan dalam pertemanan adalah, ketika sahabatmu sudah tidak lagi mempercayaimu seperti dulu. dan lebih parahnya lagi, hal yang menjadi penyebabnya hanyalah karena seorang cowok b******k seperti Daren.
****
jam terakhir pelajaran sudah usai, kini saatnya para siswa dan siswi di SMA Harapan Bangsa untuk pulang ke rumahnya masing-masing.
Daren terlihat berjalan mendekat ke arah tempat duduk Chaca. "sayang, aku anterin pulang yuk!"
"emang, kamu hari ini nggak ada janji lagi sama temen-temen kamu?"
"nggak ada, tenang aja."
"ya udah kalau gitu, sekalian anterin aku ke mall ya, buat beli peralatan make up sama beberapa baju. kamu mau kan?"
mampus. pasti belanjanya lama banget ini. mana gue lagi ada janji sama si Nita lagi hari ini. batin Daren yang mulai terlihat was-was.
pasalnya lelaki itu sangat tidak suka jika pacar-pacarnya sudah mulai mengajak pergi ke mall untuk berbelanja.
berkaca dari pengalaman sebelumnya, jika Daren pernah hampir pingsan gara-gara di ajak salah seorang mantannya untuk berbelanja baju yang waktu itu memang lagi diskon besar-besaran.
dan hingga saat ini, terkadang Daren masih merasa trauma jika ada salah seorang dari pacarnya yang mengajaknya belanja seperti ini.
"sayang.. kok kamu diem aja sih? kamu nggak mau ya nganterin aku ke mall??"
"eh, ma-mau kok yang. tapi jangan lama-lama ya, soalnya aku paling nggak bisa jalan berjam-jam apalagi di mall yang tempatnya emang luas banget." ujar Daren berkata jujur.
"okey, aku ngerti kok."
Chaca akhirnya mulai menyandang tas miliknya, lalu berjalan keluar dengan bergandengan tangan bersama Daren.
sementara itu di dalam kelas saat ini, Dara menatap kepergian mereka berdua dengan tatapan acuh tak peduli.
menurutnya, jika Chaca sudah lebih memilih untuk mempercayai Daren, maka gadis itu tidak akan pernah mencampuri urusan mereka berdua lagi.
Dara menghela napas panjang, lalu mulai menyandang tas miliknya juga. berdiri dan mulai berjalan keluar meninggalkan kelasnya diikuti oleh kedua teman Daren. Farel dan Mario, yang saat ini sudah berada di belakangnya.
"gue denger, lo habis nampar Daren ya tadi, pas waktu jam istirahat?" tanya Mario kepada Dara. namun gadis itu hanya diam tak menjawab dengan langkah kaki yang terus berjalan, mencoba tidak memperdulikan mereka berdua saat ini.
"jawab dong, jangan diem aja. bisu lo?!" ujar Mario, dengan menahan lengan Dara. membuat gadis itu terpaksa menghentikan langkah kakinya.
"bukan urusan lo! dan lepasin tangan gue!!" kecam Dara dengan menatap nyalang mereka berdua.
"ck, galak banget sih lo jadi cewek." Mario melepaskan cekalan tangannya. "gue ini, cuman mau ngingetin lo, agar lo nggak usah ikut campur sama apa yang menjadi urusan Daren, temen kita."
"betul, lagian gue heran deh sama lo, elo itu kan cewek. kenapa lo segitu bencinya sama Daren?" tanya Farel kemudian.
"emang kenapa?? kutil landak kayak dia emang pantes buat di benci."
Farel tersenyum mengejek ke arah Dara. "gue jadi curiga, jangan-jangan elo tu cewek nggak normal ya?"
sesaat perkataan Farel barusan membuat emosi Dara naik begitu saja. namun gadis itu dengan cepat meredamnya.
sabar Dara, sabar. orang sabar cepet dapat jodohnya.
"terserah lo mau bilang apa tentang gue. gue nggak peduli. bye!" ucap Dara, lalu kemudian pergi begitu saja meninggalakan mereka berdua.
****
"Ra, disini...!!"
Dara sedikit kebingungan saat gadis itu melihat ada seorang lelaki yang masih memakai helm tengah melambaikan tangan ke arahnya.
dengan ragu, akhirnya Dara berjalan menghampirinya. "siapa sih?"
lelaki itu membuka kaca helmnya, saat melihat Dara yang saat ini sudah berada tepat di depannya. "Ra, ini gue Niko."
"kak niko? kok kakak yang jemput aku? kak Ray mana?" tanya Dara keheranan. karena tidak biasanya kakaknya itu menyuruh temennya untuk menjemputya seperti ini.
"Ray tadi di ajak Jerry buat nemenin dia beli sepatu dulu. mangkanya gue yang disuruh buat jemput lo."
"hmm... maaf ya kak, kalau aku jadi ngerepotin kakak."
Niko mengacak gemas rambut Dara. "enggak kok, sama sekali nggak ngerepotin. gue malah seneng."
"seneng?? seneng kenapa??"
tanpa menjawab pertanyaan Dara barusan, Niko mengalihkan pembicaraan mereka berdua begitu saja. "Ra, pulang sekarang yuk! panas nih."
"eh, iya kak."
"lo nggak pengen mampir ke mana dulu gitu?"
"ke mana kak?"
"ya ke mall mungkin, atau ke kafe?" kata Niko menawarkan.
"emm.. kayaknya nggak usah deh. mending langsung pulang aja."
"oh, ya udah kalau gitu. nih helmnya pakai dulu." Niko memberikan sebuah helm ke Dara. dan gadis itupun memakainya.
setelah mereka berdua naik, motor tersebut akhirnya melesat pergi menuju rumah Dara.
setelah beberapa menit, barulah mereka sampai di tempat kediaman rumah Dara dengan selamat.
Dara turun dari motor tersebut, dan melepas helm miliknya. "mampir dulu kak?"
"nggak papa nih?"
"nggak papa. sekalian aku pengen curhat sesuatu ke kakak. itupun kalau kak Niko nggak keberatan." ucap Dara, lalu mulai melangkah masuk ke dalam. diikuti oleh Niko.
"eh, nggak keberatan kok Ra. gue siap ndengerin curhatan lo." ucap Niko, sambil tetap berjalan mengekor di belakang Dara, yang saat ini mulai duduk di sofa ruang tamunya sambil melepas tas miliknya.
Dara memasang wajah sendunya, yang masih bisa dilihat dengan jelas oleh Niko. "kenapa Ra?"
"kak, menurut kakak aku tuh egois nggak sih? kalau aku nggak suka temen deketku pacaran sama cowok pilihannya saat ini?" tanya Dara meminta pendapat pada Niko.
"alasan lo nggak suka kenapa? apa karena lo itu juga nyimpen rasa sama pacar temen lo itu?"
"hah?! ya enggak lah kak. idih.. amit-amit banget. seujung kuku pun aku sama sekali nggak suka sama si playboy kutil landak itu." ucap Dara dengan memasang wajah eneknya.
"kutil landak?" ulang Niko memastikan pendengarannya.
"iya, si kutil landak. dia itu cowok playboy nyebelin yang sekelas sama aku kak. orangnya tuh songong, sok kecakepan juga. padahal tampangnya aja bikin aku pengen muntah tiap hari waktu ngeliatnya. sekarang dia malah pacaran sama temen aku, Chaca."
"ya, emangnya kenapa kalau dia pacaran sama temen kamu, hmm?" Niko bertanya dengan sebelah tangannya yang membelai lembut rambut Dara.
walaupun begitu, Dara tentu hanya merasa biasa saja di perlakukan seperti itu oleh Niko. mengingat hal itu memang sudah biasa untuknya. karena Niko sendiri sudah Dara anggap sebagai kakak kedua setelah Raymon.
"aku cuman nggak terima aja kalau nanti si kutil landak itu nyakitin Chaca. apalagi tadi waktu di perpus, aku sempet liat dia ciuman sama adek kelasku, ishh.... jijik banget liatnya. nggak nyangka, selain playboy ternyata dia m***m juga. parah emang."
"ya kamu bilang dong sama temen kamu itu, tentang yang kamu liat tadi.."
"udah kak, tapi temen aku sama sekali nggak percaya sedikitpun. kesel kan jadinya." ujar Dara, dengan memasang wajah cemberutnya.
membuat Niko yang melihatnya pun menjadi gemas setengah mati.
Ra, kapan lo bisa nyadar, kalau gue nyimpen rasa sayang yang lebih buat lo selama ini.
BERSAMBUNG.....