7

1899 Kata
"eh, kak Niko, maaf ya. gara-gara keasyikan ngobrol, aku sampai lupa bikinin minum buat kakak." "nyantai aja kali Ra, nggak perlu repot-repot." "nggak repot kok kak. bentar ya.. biar aku minta tolong bibik buat bikinin minum dulu." ujar Dara, yang kemudian di angguki oleh Niko. gadis itu kemudian berjalan menuju dapur, untuk meminta tolong kepada pembantunya membuatkan minuman untuk Niko. "bik, bikinin minum dong bik, dua." "loh, non Dara pulangnya kapan? kok bibik nggak tau?" "baru aja kok bik. jangan lupa ya bik minumnya." kata Dara mengingatkan. "iya non beres.." Dara kemudian berjalan kembali ke ruang tamu, dimana disana masih ada Niko yang menunggunya. tapi tunggu dulu... langkah kaki Dara seketika memelan, saat ia tahu jika Niko sekarang tidak sendirian. lelaki itu saat ini tengah duduk bersama Chaca. sahabat dekat Dara, yang baru saja ia bicarakan dengan Niko barusan. "Chaca? ngapain lo ke sini??" ketus Dara yang masih berdiri, sambil menyilangkan kedua tangannya di bawah d**a. Chaca yang tadinya duduk, dengan cepat berdiri menghampiri Dara, lalu memeluknya dengan erat sambil menangis. "Ra, maafin gue. ternyata apa yang lo bilang selama ini ke gue tuh emang bener. gue minta maaf Ra, sama lo. maafin gue... gue mohon..." ucapnya dengan suara parau, akibat tangisnya yang pecah begitu saja. Dara yang tadinya hanya diam tanpa membalas pelukan dari sahabatnya itu, perlahan tangannya mulai terangkat naik untuk mengusap pelan punggung Chaca bermaksud menenangkan. "udah-udah.. jangan nangis lagi. gue nggak marah kok sama lo." sementara Niko yang melihat hal itu, hanya diam sambil menatap lurus ke arah mereka berdua. "kak, aku tinggal ke atas dulu ya.." ucap Dara kepada Niko, tanpa bersuara sedikitpun. sementara lelaki itu hanya mengangguk mengerti. Dara lalu mengajak Chaca yang masih memeluknya itu untuk ke atas, ke kamarnya. setelah sampai di dalam kamar Dara, barulah gadis itu mulai menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, hingga membuat temannya itu bisa sampai seperti ini. Chaca yang masih tetap menangis itu, akhirnya mulai menceritakan semuanya kepada Dara. tentang Daren dan dirinya waktu pergi ke mall tadi, hingga membuatnya dilabrak oleh salah seorang cewek yang mengaku sebagai pacar Daren. "APA??" Dara meninggikan suaranya dengan posisi tubuh yang sudah berdiri tegak dari duduknya. "emang kurang ajar ya tuh cowok! minta gue bikin jadi perkedel apa?!" kesal Dara, ikut terbawa emosi saat mendengar cerita dari sahabatnya itu. "elo sih Cha, dibilangin nggak percaya. sekarang udah kejadian kayak gini aja, baru deh lo nangis bombay di depan gue." ucap Dara dengan ekspresi wajah yang masih terlihat kesal. "iya gue ngerti gue salah. maafin gue ya Ra. please..." ucap Chaca dengan deraian air mata yang masih tetap membasahi kedua pipinya. melihat sahabat dekatnya yang tengah dalam kondisi serapuh ini, tentu saja membuat Dara menjadi tidak tega. "iya, gue maafin. tapi lo juga harus bisa lupain cowok buaya kayak dia. lo tuh bisa ngedapetin cowok yang lebih baik dari pada si kutil landak itu. ngerti?!" "iya Ra, makasih ya. lo emang sahabat terbaik gue." kata Chaca, lalu kemudian memeluk Dara kembali dengan erat. Chaca akhirnya memutuskan untuk menginap di rumah Dara malam ini. menghabiskan waktu bersama sahabat dekatnya itu, yang selama seminggu ini kedekatan mereka berdua sedikit merenggang, di karenakan cowok seperti Daren. **** disekolah, Dara mulai duduk berdua kembali bersama Chaca seperti dulu. hubungan pertemanan mereka berdua terlihat mulai membaik kembali. namun, Dara juga mengerti jika sahabatnya Chaca itu masih belum bisa sepenuhnya melupakan Daren. terbukti dengan ekspresi Chaca saat ini yang terkadang suka mencuri pandang ke arah Daren, melihat lelaki itu yang kini tengah memangku seorang wanita di kelasnya, tanpa rasa malu sedikitpun. "cih, dasar muka tembok nggak tau malu. jijik gue liatnya." gerutu Dara sambil melirik sinis ke arah Daren yang tengah bermanja-manja bersama gadis barunya. "Cha, lo kenapa?" tanya Dara waktu gadis itu melihat wajah murung temannya. Chaca hanya menggeleng sambil menundukkan kepalanya. menyembunyikan air matanya yang saat ini tengah terjatuh membasahi rok miliknya. "Cha, lo nangis??" tanya Dara, saat tangannya mengangkat dagu Chaca. "ngapain lo nangis Cha? dia itu nggak pantes lo tangisin tau nggak." "maafin gue Ra, padahal gue udah janji sama lo, kalau gue nggak bakal nangis lagi hanya karena cowok kayak Daren." ucap Chaca dengan suara paraunya. tangan Dara terkepal kuat, waktu dirinya melihat sahabatnya itu yang lagi-lagi menangis hanya karena lelaki itu. dengan emosi yang sudah menyelimuti kepalanya, Dara lantas berdiri menghampiri Daren dengan membawa segelas minuman kaleng miliknya, lalu menyiramkannya begitu saja ke wajah Daren, tanpa merasa bersalah sedikitpun. "woi, lo gila ya?? dateng-dateng main siram muka orang sembarangan." teriak Daren dengan emosi memuncak. tak terima mendapatkan perlakuan seperti ini dari Dara. Chaca yang mendengar teriakan mantannya itu, langsung menoleh ke asal keributan, lalu ikut berdiri menghampiri Dara. "Ra, lo apa-apaan sih?" ucap Chaca dengan sedikit berbisik. "gue cuman mau ngasih pelajaran sama dia Cha. karena dia udah nyakitin lo. gue nggak terima temen gue di sakiti sama playboy kutil landak kayak dia!" teriak Dara tanpa rasa takut sedikitpun pada Daren. "udah Ra, udah.. jangan bikin masalah lagi. gue nggak mau kalau lo sampai kenapa-napa." kata Chaca menasehati, dengan menarik-narik pelan tangan Dara, agar gadis itu mau segera kembali ke tempat duduknya. "gue nggak takut sama dia Cha." ucap Dara dengan masih tetap kekeh berdiri di depan Daren. menatapnya tajam. begitu juga dengan lelaki itu, yang juga memberikan tatapan tajamnya ke arah Dara. Daren berdiri, menyamai tubuh Dara. namun postur tinggi yang dimiliki oleh lelaki itu membuat tinggi mereka berdua terlihat tak seimbang. "jadi lo nggak takut sama gue?? besar juga ya nyali lo." ucap Daren dengan seringaiannya, lalu mulai mendekatkan wajahnya ke arah Dara dengan perlahan. membuat para murid lain yang menyaksikan terdiam seketika. mereka seolah tengah menunggu, apa yang akan dilakukan oleh Daren saat ini. hembusan napas Daren semakin terasa menyapu seluruh wajah Dara. bahkan gadis itu bisa merasakan aroma mint dari napas lelaki itu yang menyeruak masuk di indra penciumannya, akibat wajah Daren yang saat ini semakin dekat. membuat hidung mereka akan bersentuhan sebentar lagi. nih cowok ngapain sih?? batin Dara keheranan, saat jarak di antara mereka berdua semakin dekat. hingga akhirnya.. BUGH...!! satu tendangan dari lutut Dara, mengenai junior Daren dengan kencangnya. "watdaww.....!! masa depan gue!!" pekik Daren dengan memegangi miliknya yang sudah berdenyut nyeri. "cewek s***p!! gue bakal bales perbuatan lo ini. inget tuh!" ancam Daren dengan melihat ke arah Dara yang sudah menjauh bersama Chaca. Dara yang mendengar hal itu, langsung berbalik menoleh ke arah Daren, sambil menjulurkan lidahnya. bermaksud mengejek kondisinya saat ini. "rasain!! mampus lo!" ucap Dara, yang membuat kedua bola mata Daren membulat sempurna, saat lelaki itu melihat ejekan Dara yang di tujukan padanya. "dasar sial...!!" umpat Daren tak karuan. sementara kedua teman Daren, Farel dan Mario. hanya melihat ngilu ke arah Daren yang saat ini masih tetap memegangi miliknya dengan ekspresi kesakitan. "lo nggak papa kan Dare?" tanya Mario kepada Daren. "nggak papa pale lu. sakit nih... s****n emang tuh cewek!" **** tawa Dara lepas begitu saja saat ia mengingat kejadian dimana dirinya dengan kencangnya menendang junior Daren menggunakan lututnya. bahkan beberapa murid lain saat ini tengah berada di dalam kantin untuk mengisi perutnya, seketika mengarahkan pandangan mereka ke arah meja Dara yang tengah tertawa lepas di hadapan Chaca. Chaca yang mendapatkan tatapan semacam itu tentu saja merasa risih. sementara Dara justru tidak perduli dan malah semakin kencang mengeluarkan tawanya. "Ra, ketawanya jangan kenceng-kenceng napa. tuh anak-anak udah pada liatin kita. nggak malu lo." ujar Chaca mengingatkan. "bodo amat." jawab Dara tak peduli. "gue puas banget udah bisa ngasih pelajaran sama cowok b******k itu. tapi nih ya, kalau di fikir-fikir, kayaknya tadi gue nendangnya kurang kencengan dikit lagi deh." "ya ela Ra, yang tadi aja gue liatnya ngilu banget. masak lo nggak kasian sih sama dia. ampek kesakitan gitu loh anaknya." Dara menatap Chaca dengan tatapan tak percaya. "kasian?? hellooww... Cha, dia tuh udah nyakitin lo ya. buat apa lo masih aja nyimpen rasa kasian sama dia. nggak penting banget." Dara menenggak jus jeruk miliknya sesaat. lalu kemudian menaruh kembali gelas tersebut di atas meja. "nih ya Cha, gue kasih tau. si kutil landak itu nggak pantes buat di kasihani. lo harus bisa belajar buat lupain dia. kalau hal itu masih susah juga, ya lo inget-inget aja keburukan dia yang udah bikin lo sakit hati. pasti rasa kasian lo itu perlahan-lahan bisa ilang dengan sendirinya deh. gue jamin." sambung Dara memberi solusi, namun Chaca hanya diam tak menjawab. entahlah, walaupun Daren sudah sangat menyakiti hatinya, tapi kenapa rasa sayang dihati Chaca untuk lelaki itu masih saja ada? terkadang hal itu membuat Chaca menjadi bingung dengan dirinya sendiri. ingin rasanya Chaca menjadi seorang Dara yang sama sekali tidak memiliki perasaan apapun untuk Daren. mungkin dengan begitu, dirinya tidak akan merasakan sakit hati yang berkepanjangan seperti yang ia rasakan saat ini. "woi, Cha! jangan diem mulu. makan nih makanan lo, entar keburu dingin lagi. udah, jangan di fikirin terus si kutil landak itu, nggak penting dan nggak berfaedah sama sekali. buruan makan Cha!" ujar Dara dengan mengambil sendok makan milik Chaca, bermaksud akan menyuapinya. "apa perlu gue suapin nih? hmm?" "eh, oke-oke. gue bisa makan sendiri." jawab Chaca mengalah, lalu mengambil kembali sendoknya dari tangan Dara, dan mulai memakan makanannya sendiri. begitu juga dengan Dara yang juga mulai melanjutkan makannya yang hanya tersisa separuh itu. mereka berdua makan dengan lahapnya, tanpa tau jika Daren yang masih menyimpan rasa kesalnya terhadap Dara, karena kejadian waktu di kelas tadi, kini sudah berjalan mendekat ke arah samping meja mereka, dan dengan sengaja tangan lelaki itu menyenggol gelas minuman yang berada di meja Dara hingga membuatnya terguling tumpah membasahi rok milik Dara. "ups, sorry. nggak sengaja Ra." ucap Daren sambil nyengir menampilakan raut watadosnya. Dara seketika menghentikan aktifitasnya sejenak. begitu juga dengan Chaca. deru nafas di dadanya terlihat naik turun tak beraturan. Dara mulai berdiri. "elo!! gue tau lo sengaja. iya kan?!" "gue kan tadi udah bilang nggak sengaja, iya nggak guys?" ucap Daren, meminta pembenaran kepada sahabatnya Mario dan juga Farel. "nah, betul tuh." jawab Mario dengan santainya. "mungkin telinganya lagi bermasalah bro. mangkanya dia nggak denger ucapan lo barusan." sahut Farel, lalu kemudian mereka brtiga tertawa. "elo tuh ya, jadi cowok ngeselin banget!! pokoknya gue nggak mau tau, elo harus tanggung jawab karena udah ngebuat rok gue jadi basah kayak gini. atau gue bakal aduin lo ke guru" "enak aja lo. elo kan juga udah nyiram muka gue tadi, lo juga udah nendang masa depan gue. untung aja nggak kenapa-napa. kalau sampai kenapa-napa, lo mau tanggung jawab hah??" "alah, jadi cowok manja banget sih. punya masa depan kecil aja belagu." gumam Dara, yang ternyata masih bisa di dengar jelas oleh Daren. "apa lo bilang barusan? kecil??" tanya Daren tak terima. lalu kemudian lelaki itu mendekatkan wajahnya ke telinga Dara sambil membisikkan sesuatu. "kalau lo mau, gue bisa buktiin kalau punya gue diameternya bakal buat lo tercengang waktu ngeliatnya." bisik Daren tersenyum penuh arti. membuat Dara reflek mendorong tubuh lelaki itu menggunakan tangannya dengan kuat. "lo gila?" teriaknya, lalu kemudian Dara menarik tangan Chaca dengan cepat, untuk segera pergi dari hadapan cowok s***p macam Daren. sementara Daren, menatap kepergian Dara dengan tawa kemenangan. membuat kedua sahabatnya bertanya kebingungan. "lo tadi bisikan si Dara apaan sih? sampai tu anak pergi kayak gitu?" tanya Mario. "iya, gue jadi penasaran. biasanya kan tuh cewek nggak pernah mau ngalah kalau sudah berdebat sama lo. tapi kok, sekarang malah pergi gitu aja?" sahut Farel dengan wajah kebingungan. "kepo banget kalian. udah kayak emak-emak di kompleks gue." ujar Daren, lalu kemudian pergi begitu saja, meninggalkan kedua temannya yang masih keheranan.   BERSAMBUNG....                          
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN